
Hari telah berganti, Aira dan Martin memutuskan untuk kembali pulang, mereka berpamitan kepada Bu Fatimah sebelum akhirnya Aira dan Martin masuk ke dalam mobil.
"Bu Fatimah! Saya pulang, Bu. Terima kasih banyak atas semua jasa-jasa Ibu selama ini, Aira sangat berhutang budi kepada Bu Fatimah." Aira terlihat memeluk Bu Fatimah penuh haru.
"Aira! Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan, sayang! Ketulusan hati mu yang membawamu dalam kebahagiaan, pulang lah! Kedua orang tua mu pasti sudah menunggu kedatangan putri mereka, doa Ibu selalu bersamamu, Nak! Inshaallah Allah akan senantiasa melindungi kalian semua dan juga bayi dalam kandungan mu, jaga dirimu baik-baik, Nak!" Bu Fatimah terlihat menitikkan air matanya sebelum kepergian Aira.
"Terima kasih banyak Bu Fatimah! Saya Sayang Ibu!" pelukan Bu Fatimah untuk Aira seketika membuat Martin ikut terharu, rupanya istrinya dikelilingi oleh orang-orang baik dan banyak yang menyayanginya, termasuk dirinya sendiri yang sekarang begitu menyayangi Aira segenap jiwa.
Setelah Aira berpamitan dengan Bu Fatimah, kemudian giliran Martin yang berpamitan kepada Bu Fatimah.
"Kami pulang dulu, Bu! Maafkan jika kami sudah mereposisi Ibu dan adik-adik." seru Martin.
"Nak Martin! Sungguh Aku seperti melihat Nak Panji dalam dirimu, Nak Panji memang sudah tiada, tapi aura Nak Panji seperti melekat dalam adiknya, tolong jaga putri Ibu, Aira sangat membutuhkan mu Nak Martin, jangan biarkan Aira menderita, Ia sudah cukup menderita selama ini, ketidak hadiran kedua orang tuanya dan juga kematian suaminya, tentu itu tidak mudah untuk Aira jalani, Inshallah kamu akan menjadi imam yang baik untuk Aira." ungkap Bu Fatimah kepada Martin yang tampak menundukkan wajahnya.
"Bu Fatimah tidak perlu khawatir, Saya akan selalu menjaga Aira, karena nya Saya bisa mengerti apa itu keikhlasan dan cinta, karena nya Saya tahu hakikat Pernikahan itu seperti apa, karena dia saya bisa memahami apa itu arti cinta, Saya adalah laki-laki yang beruntung telah memiliki perempuan shalihah seperti nya." ucap Martin sembari merangkul sang istri dan mencium keningnya.
"Alhamdulillah! Ibu sangat senang sekali melihat semua ini, berbahagia lah kalian berdua!"
Setelah itu Martin maupun Aira pulang dan melambaikan tangan kepada Bu Fatimah dan adik-adik panti nya. Dalam perjalanan Martin selalu memegang tangan sang Istri, seolah-olah dirinya tidak mau lepas dari istrinya sedetikpun. Sesekali Martin menatap wajah Aira yang kian hari kian cantik. Sehingga apa yang dilakukan oleh Martin membuat Aira salah tingkah.
"Kamu kenapa sih Mas! Lihatin Aku kayak gitu?" Aira berkata sembari menatap wajah sang suami yang tampak tak mau lepas sedikit pun dari nya.
"Tahu nggak sih, Aku tuh nggak ada bosannya loh lihatin wajah kamu, Sayang! Aku lihat istriku semakin hari semakin cantik saja, indah dipandang mata, Subhanallah! Sungguh indah ciptaan-MU ini ya Allah, hmm pingin Aku ... ah sudahlah Aku harus konsentrasi nyetir dulu." jawab Martin yang seketika membuat Aira tertawa kecil.
__ADS_1
"Ya Allah Mas, kamu tuh lucu banget tahu nggak, ada-ada saja!" Aira pun menggelengkan kepalanya melihat sikap sang suami yang begitu bucin kepada nya.
Melihat Aira menertawakan nya, seketika Martin menghentikan mobil dan menepikan nya, dan tentu saja Aira pasti bingung dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Loh kok kita berhenti, Mas!"
"Iya, Mas capek nyetir nih. Mas mau istirahat sebentar." ucap Martin sembari menepikan mobilnya.
"Mas mau minum, biar Aku ambilkan." seru Aira sembari mengambil air minum di dalam tas.
"Enggak enggak, Aku nggak butuh minum." balas Martin menggelengkan kepala.
"Terus! Mas minta apa nanti Aira ambil kan, Mas mau jeruk, atau roti, permen barangkali?"
Seketika Martin meraih tangan sang istri dan menatapnya dalam-dalam.
"Halah gombal! Kaum Adam itu pintar banget merayu, bilang aja kalau kamu mau ciuman dariku, iya kan?" Aira berkata sembari memalingkan wajahnya. Karena Ia tahu pasti Suaminya minta dicium oleh nya.
"Nah tuh tahu, sekarang cium dong biar tenaga Mas pulih kembali, Mas lemes banget kalau ndak kamu cium, apa jangan-jangan Mas sudah kecanduan bibir cantik ini!" Martin berkata sembari mengusap bibir mungil sang istri.
"Tuh kan, Aku bilang juga apa, pasti ujung-ujungnya minta cium." jawab Aira sembari memutar bola matanya. Seketika Martin langsung mendaratkan ciumannya pada bibir sang istri, Ia sudah tidak sabar ingin menyentuh bibir manis itu dan tentu saja Aira sangat terkejut dengan perlakuan Martin yang tiba-tiba.
"Mmmmmppptttthh."
__ADS_1
Aira tidak bisa berbuat banyak, karena Martin pintar sekali membuat Aira tidak berkutik. Setelah puas Martin mencium istrinya, Ia pun melepaskan ciuman itu dengan wajah yang berseri-seri.
"Astagfirullah, Mas! Kamu tuh ngagetin aja deh, untung nggak ada orang lewat."
"Memangnya kenapa kalau ada orang lewat, toh kamu adalah istriku, belahan jiwaku, dan sekarang Aku sudah bisa mengemudi lagi, hahh setidaknya rasa capek ini terobati dengan ciuman itu, iya kan Sayang! Anak Papa, sehat-sehat terus ya Sayang di dalam perut Mama, Papa sudah tak sabar lagi ingin melihat mu lahir ke dunia ini, pastinya kamu nanti bakal mirip dengan Papa, harus itu!" seru Martin sembari mengelus perut Aira yang masih rata.
Seketika Aira protes dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. "Nggak bisa dong, Mas! Anak ini juga harus mirip dengan ku." protes Aira.
"Nggak bisa, anak kita pasti mirip sama Aku, Aku yakin sekali dia pasti mirip dengan ku, orang Aku yang nanam benihnya." ujar Martin yang terus menerus menggoda istrinya.
"Ihh Mas Martin ini loh, masa Aku nggak kebagian sih, Mas! Aku yang mengandung dan yang akan melahirkan nya kelak." protes Aira sembari mengerucutkan bibirnya. Sementara itu Martin terlihat tertawa kecil melihat ekspresi wajah sang istri yang teramat menggemaskan baginya. Sontak Martin menangkup wajah Aira sembari berkata, "Anak kita akan tetap mirip dengan ku. Tapi, ada satu kelebihan dari sang Ibu yang akan diwariskan kepada anak-anak kita, yaitu Akhlakul Karimah, anak kita akan memiliki kepribadian seperti Ibunya, jika dia laki-laki, dia akan menjadi laki-laki yang lembut dan penyabar. Namun, jika dia perempuan, dia akan mewarisi tak hanya kecantikan wajah tapi juga hatinya, seperti dirimu Sayang!" ucapan Martin seketika membuat Aira malu.
"Maka dari itu, Aku ingin kita nanti memiliki banyak anak, bukan hanya satu, tapi dua, tiga atau dua belas sekaligus, gimana Sayang? Kamu setuju kan?" tanya Martin yang membuat Aira menepuk jidatnya.
"Astaghfirullah, Mas! Itu mau bikin anak apa bikin kesebelasan? Au ah pusing." Martin tertawa melihat ekspresi wajah sang istri saat dirinya menginginkan banyak anak.
...BERSAMBUNG...
*
*
*
__ADS_1
Mampir dulu yuk punya karya Kak Ayi yang berjudul SENYUM SHANUM Yuk segera KEPOIN 🏃🏃