
Martin melihat sang istri yang sedang berlari masuk ke kamar mandi, Ia pun segera mengikutinya, kenapa istrinya tiba-tiba berlari begitu saja, karena khawatir Martin pun menghampiri sang istri karena dari tadi pagi, Aira sudah tidak enak badan.
Aira masuk ke dalam kamar mandi diikuti oleh Martin yang begitu cemas dengan keadaan istrinya, Martin pun melihat Aira tampak muntah-muntah, Martin berusaha membantu istrinya, Ia buka hijab Aira agar sang istri terasa sedikit nyaman.
Setelah Aira memuntahkan semua isi dalam perutnya, Ia lanjutkan dengan mencuci muka. Setelah itu Martin tampak memberikan minyak kayu putih kepada istrinya.
"Kamu pasti masuk angin, sudah kubilang lebih baik kamu istirahat saja di rumah, kamu masih sangat pucat, Sayang!" Martin berkata sembari mengoleskan minyak itu pada leher dan perut istrinya. Aira tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, Mas! Sekarang udah mendingan. Nggak tahu kenapa beberapa hari ini Aku sering mengalami hal ini." ucapnya mengeluhkan perutnya yang sering mual-mual.
"Nanti kita ke dokter!"
"Nggak usah, Mas!"
"Sudah! Kamu tidak boleh menolaknya, Kamu tahu nggak sih, Aku tuh khawatir sekali sama Kamu, Aku nggak mau ya istriku sakit, kalau istriku sakit, siapa dong yang melayaniku, yang mijitin kepalaku, yang menemani ku begadang ...!" ucap Martin sembari memasangkan hijab Aira kembali, pria itu tampak telaten memasangkan hijab panjang istrinya, rupanya Martin sekarang sudah biasa dan pandai memasangkan hijab pada wajah Aira.
__ADS_1
"Nah! Sekarang kamu sudah rapi, istriku ini memang benar-benar cantik, untung saja Allah tidak terlambat membuka mata hatiku, jika Aku tetap menolakmu, mungkin penyesalan akan datang menghantuiku selama hidup." Aira tersenyum mendengar penuturan dari sang suami.
"Kamu bisa aja deh, Mas! Mulai pintar ngerayu ya sekarang!" balas Aira yang tampak tersipu malu.
"Ya sudah kita ke luar." Martin mengajak Aira untuk keluar dari kamar mandi, setelah keadaan Aira terasa lebih baik.
Tiba-tiba saja Aira melihat sebuah bungkusan plastik yang mencurigakan, bungkusan itu tergeletak begitu saja di bawah lantai, Aira mengambil bungkusan itu dan mencoba melihatnya.
"Kamu kenapa sih, Sayang! Ngapain juga kamu ambil sampah plastik itu?" tanya Martin sembari memperhatikan Aira yang sibuk membaca tulisan yang ada pada bungkusan plastik itu.
Sejenak Aira berpikir sesuatu, sepertinya ada yang tidak beres dengan bungkusan yang Ia temukan.
"Mas! Coba lihat deh! Ini aneh banget, dalam kemasan ini terlihat ada kandungan bahan kimia yang berbahaya, tapi Aku tidak tahu persis kandungan nya apa?" ucap Aira tampak mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Bahan kimia? Tapi, bagaimana bisa ada di tempat seperti ini, jika bahan-bahan ini terkena makanan, itu pasti membuat makanan menjadi terkontaminasi."
"Hmm ... dan pastinya cepat membusuk!" sahut Aira yang mulai dimengerti oleh Martin.
"Astaghfirullah! Jangan-jangan, memang ada yang sengaja ingin membuat restoran kita bangkrut!" imbuh Martin sembari menatap wajah sang istri.
"Kita cari buktinya dulu, Mas! Setidaknya kita harus berhati-hati, supaya orang-orang yang sengaja ingin membuat mu hancur tidak curiga dengan tindakan kita." Aira berkata sembari menoleh ke kanan dan kiri, berharap tidak ada yang mendengar perbincangan mereka berdua.
"Iya, kamu benar! Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Martin serius.
"Aku punya ide!" Aira terlihat memikirkan sesuatu yang bisa menangkap basah siapa yang sudah membuat rugi restoran selama ini.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1