ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Mendapat keringanan


__ADS_3

Setelah Dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap kandungan Aira, kemudian Dokter menyarankan agar Aira tidak boleh terlalu lelah, mengingat kondisi kehamilannya yang masih di trimester pertama, sangat rentan diusia kandungan seperti itu, mual muntah akan sering muncul pada periode awal-awal bulan. Dokter menyarankan agar Aira istirahat dengan cukup. Dan satu lagi Dokter menyarankan agar sang suami bisa mendampingi kehamilan istrinya dengan baik. Dokter pun menyarankan untuk tidak melakukan hubungan badan terlebih dahulu hingga kehamilan menginjak trimester kedua, ini untuk menjaga kondisi kandungan Aira yang sedikit lemah.


"Apa Dok? Saya harus puasa dulu?" Martin seketika membuka matanya lebar-lebar, bagaimana bisa Dokter setega itu mengatakan hal itu kepadanya, apa Dokter tidak merasa kasihan kepadanya.


"Iya, Pak Martin! Dalam waktu sekitar 3 bulan, Pak Martin harus menjauhi Nyonya Aira, ini semua juga demi anak kalian," jawab sang Dokter. Martin pun terlihat lesu dan tidak bergairah saat Dokter bilang dia harus menahan keinginannya selama 3 bulan, padahal dirinya baru saja menjadi pengantin baru, masih hangat-hangatnya bersama sang Istri.


Aira menatap wajah suaminya dengan tersenyum, Ia pun mencoba menenangkan sang suami dengan berkata sesuatu kepada Martin. "Kamu jangan sedih gitu dong, Mas! Cuma tiga bulan kok, nggak lama. Setelah itu kamu akan bebas melakukan apapun."


"Iya, Sayang! Aku tahu. Tapi bagiku sehari saja seperti seminggu, lah ini Aku harus diem selama tiga bulan, coba kalikan sehari bagai seminggu, jika 90 hari? Udah berapa Minggu yang ku lewati tanpa dirimu!" jawabnya dengan wajah yang memelas. Aira tersenyum tipis mendengar pengakuan dari suaminya.

__ADS_1


"Ya Allah, Mas! Kamu pikir memangnya Aku lagi kemana? Tentunya Aku di rumah terus, apalagi Aku sedang hamil, pasti Aku tidak akan pergi kemana-mana!" jawab polos Aira.


"Aduh! Bukan itu maksud ku Sayang! Duh gimana Aku ngomong nya." jawab Martin sembari garuk-garuk kepalanya. Sang Dokter yang melihat tingkah Martin terlihat ikut tersenyum kecil. Sementara Aira tampak masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya.


Kemudian Dokter menuliskan resep vitamin untuk bumil Aira. "Ini resep obat untuk Nyonya Aira! Semoga bisa membantu untuk mengurangi rasa mual dan muntah nya." ucap Sang dokter sembari memberikan resep obat itu kepada Martin.


"Maksud Pak Martin? Apa Pak Martin juga mengeluhkan sakit seperti Nyonya Aira?" tanya Dokter.


"Hehehe ... apa saya juga tidak membutuhkan vitamin biar kuat menahan rasa saat sedang berduaan dengan istri saya, Dok! Jika tiba-tiba Saya pingin, gimana dong, Dok! Maaf loh Dok! Bukannya Saya nggak tahu malu mengatakan hal ini, mumpung Saya bertemu dengan dokter ahlinya, apa salahnya Saya mengutarakan perasaan sebagian pria di luaran sana yang nasibnya sama seperti saya?" ungkap Martin sembari melirik ke arah istrinya.

__ADS_1


"Astagfirullah, Mas! Kamu ini!" Aira mencubit tangan Martin, membuat pria itu tersenyum menahan malu pada istrinya.


"Baiklah Pak Martin! Jika Anda merasa keberatan dengan itu, Saya bisa memberikan keringanan, Pak Martin bisa melakukannya tiga hari sekali, dan itupun maaf jangan terlalu keras dan di usahakan jangan dibuang di dalam ya, Pak! Takutnya usia kandungan masih begitu muda, sehingga kami khawatir jika terjadi kontraksi rahim sebelum waktunya, dan itu bisa berakibat fatal." jelas sang dokter yang membuat Martin sedikit lega.


"Alhamdulillah! Akhirnya dapat keringanan. Terima kasih banyak, Dokter! Atas sarannya. Setidaknya Saya tidak pusing lagi saat rasa itu tiba-tiba datang." balas Martin dengan wajah yang bersinar.


Aira hanya bisa memutar bola matanya, benar-benar suaminya ini tidak bisa berpisah sedikit saja darinya.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2