ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Pernikahan Tirta dan Lita


__ADS_3

Setelah dua bulan berlalu semenjak Aira melahirkan bayi kembar mereka, hari ini kediaman keluarga Suherman dipenuhi oleh banyak tamu undangan, hari pernikahan Lita dan Tirta akan digelar pagi ini. Tentu saja Aira beserta keluarga dari sang suami, turut menyaksikan acara sakral sang Adik dengan Putra pengusaha kaya Pak Hamid, Tirta yang seorang sarjana dari Kairo, sedangkan Lita lulusan dari LA. Sungguh pasangan yang ideal.


Lita menatap wajah nya pada sebuah cermin, Ia tidak menyangka jika hari ini adalah hari yang begitu Ia nantikan, setelah dirinya sempat mengalami kegagalan dalam bercinta, kini dirinya mendapatkan pengganti yang tentu saja sangat baik dan penyabar, selalu mendengarkan keluh kesah Lita, selalu menghadapi sifat cerewet Lita, iya .. dia adalah Tirta.


Aira, sang kakak menghampiri Kita sebelum Tirta mengucapkan akad nikah di depan Prapto dan tentu saja para saksi yang akan menyaksikan Pernikahan mereka.


"Subhanallah! Kamu cantik sekali, Adikku! Seolah bidadari surga sedang berdiri di depan ku!" seru Aira sembari memegang dagu sang Adik yang terlihat begitu anggun hari ini, dengan balutan kebaya pengantin muslim yang dilengkapi dengan hijab ala-ala pengantin, membuat penampilan Lita begitu anggun dan sangat mempesona.


"Kakak! Bisa aja, Lita deg-degan banget, Kak!"ucap Lita dengan tangan yang teraba begitu dingin. Ia benar-benar sangat gugup dan panik, bagaimana nanti dirinya saat bertemu dengan Tirta, mereka akan melakukan akad nikah di tempat yang berbeda, Tirta di depan sementara Lita berada di dalam kamar, dan mereka akan segera dipertemukan saat keduanya sudah resmi menjadi suami istri.


"Nggak usah gugup, santai saja! Harusnya kamu bahagia dong! Sebentar lagi kamu akan melepaskan masa lajang mu, dan menemani Tirta seumur hidupnya."


"Inshallah, Lita sudah ikhlas untuk menjadi istri Mas Tirta, Lita akan mengabdi kepada suami Lita sepenuhnya, Karena sekarang surga Lita telah berada pada keridhaan suami, Inshallah Lita akan menemukan kebahagiaan bersama Mas Tirta." setelah Lita mengatakan hal tersebut, tiba-tiba saja seorang pelayan melihat jika Tirta sudah sampai di depan rumah.


"Non Aira, Non Lita! Rupanya calon mempelai pria sudah datang." ujar sang pelayan tersebut kepada keduanya.

__ADS_1


Tirta yang didampingi oleh sang Ayah dan keluarga dekatnya, hari itu telah memantapka hati nya untuk menikahi Lita.


"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan kawinkan Engkau Tirta Permana dengan putriku yang bernama Lita binti Prapto Suherman dengan maskawin seperangkat alat sholat dan emas seberat lima puluh gram dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Lita binti Prapto Suherman dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"


"Saaahhhhh."


Seketika Lita menangis bahagia saat mendengar Tirta dengan satu tarikan nafas, langsung membawa Lita untuk menjadi istrinya, Lita saat ini sedang berada di dalam kamar.


"Alhamdulillah! Akhirnya sah juga. Selamat ya Adikku!" ucap Aira sembari memeluk Lita dengan bahagia.


Perlahan, Lita berjalan menghampiri Tirta, dengan wajah yang malu dan tertunduk, Lita pun mulai menghadap Tirta untuk kali pertamanya sebagai sepasang suami istri.


Lita mencium tangan Tirta, dan setelah itu mereka berdua tukar cincin, seketika seluruh undangan yang hadir ikut bahagia melihat pasangan pengantin baru itu.

__ADS_1


"Subhanallah! Kamu benar-benar cantik hari ini, kali ini mataku tidak bisa beralih lagi, Aku ingin sekali menatap wajah istri ku!" seru Tirta saat Lita menatap wajah nya.


"Sekarang kamu sudah bebas melakukan apa saja kepada ku, tanpa harus kamu takut berdosa, justru Mas Tirta akan mendapatkan pahala." ucap Lita yang membuat Tirta tersenyum malu.


Sementara itu Martin yang ikut berbahagia dengan pernikahan Lita dan Tirta, Ia pun berbisik pada telinga sang istri.


"MasyaAllah! Mereka begitu bahagia kan, Sayang! Sama seperti kita dulu!" mendengar penuturan dari sang suami, seketika Aira menatap wajah Martin dengan ekspresi yang lucu.


"Apa, Mas? Bahagia seperti kita?" tanya Aira dan tentu saja Martin begitu gemas melihat ekspresi wajah sang istri.


"Hmm ... dibilangin emang gitu, kan?" ucapnya sembari mencubit pipi Aira gemas..


"Aduh Mas Martin! Sakit tahu!" Aira tampak memegang hidung nya yang terkena cubitan dari Martin.


"Emang Mas Martin dulu bahagia saat menikah dengan Aku? Perasaan Mas Martin marah-marah mulu sama Aku."

__ADS_1


"Sssttt! Jangan bicara seperti itu, itu dulu. Sekarang semuanya sudah berubah, Aku sangat bersyukur memiliki seorang istri seperti mu, benar-benar anugerah yang luar biasa, apalagi sekarang ada si kembar, bertamah sudah kebahagiaan kita, Aku berharap Farhan dan Farhanna, bisa segera punya Adik lagi, biar rumah kita semakin ramai dengan celoteh anak-anak!"


"Apa, Mas? Punya Adik lagi?" Aira tampak membulatkan matanya saat mendengar penuturan sang suami yang menginginkan anak lagi darinya.


__ADS_2