ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Belum sholat Isya


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, keduanya tiba di rumah setelah semua orang terlelap dalam tidurnya. Rumah terlihat sepi, sepertinya Burhan dan Asri sudah berada di peraduannya.


"Sepi, Mas! Apa Mama dan Papa udah pada tidur, ya!" Aira berkata sembari memperhatikan sekeliling yang tampak lengang.


"Hmm sepertinya begitu, ya sudah kita tidur saja." ajak Martin tersenyum sembari merangkul pundak istrinya untuk naik ke kamar mereka.


Aira pun membalas senyum kepada Suaminya, Ia pun mengikuti perintah Martin dengan malu-malu.


"Aku ada kejutan untuk mu!" Aira menatap wajah Martin dan berkata, "Kejutan? Kejutan apa, Mas?"


"Seperti yang pernah Aku bilang tadi, kamu harus menjadi model dadakan untukku, Aku sudah mempersiapkan semuanya di kamar."


"Kamu jangan aneh-aneh lagi deh, Mas!"


"Ngapain juga Aku aneh-aneh, nggak lah! Aku hanya ingin melihat dirimu dari sisi yang berbeda, di luar kamu adalah wanita yang tertutup sempurna dari pandangan laki-laki bukan mahram, tapi di depanku, kamu harus menunjukkan semuanya."


"Begitu, ya!" Aira tersenyum dengan tatapan yang nakal. Mereka berdua pun segera masuk ke dalam kamar. Aroma wangi yang semerbak dari kamar tidur mereka, membuat Aira tampak menikmatinya, Ia terlihat suka dengan aromaterapi dari pewangi ruangan itu.


"Wangi banget, Mas! Perasaan tadi saat kita pergi belum ada wangi ini dalam kamar kita?" Aira menghampiri suaminya yang sedang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Aku menyuruh pelayan untuk memasangnya setelah kita pergi, apa Kamu suka dengan harumnya?" Aira mengangguk senang, Ia benar-benar menyukai wangi kalem blossom, Aira tampak menghirup aroma itu dalam-dalam, hingga tanpa sadar kedua tangan Martin melingkar di pinggang kecilnya. Pundak Aira menopang dagu sang suami, sementara Martin tampak mencium pipi Aira dengan lembut.


Aira terlihat menghindari kejailan suaminya, Ia pun memalingkan wajahnya karena malu, sementara Martin tampak sedikit kesal dengan penolakan dari sang istri. Ia pun melepaskan tangannya dari pinggang Aira dan pamit masuk ke dalam kamar mandi.


"Ya sudah! Aku ke kamar mandi dulu," Aira melihat Martin yang tiba-tiba pergi ke kamar mandi dengan wajah yang cemberut.


"Mas Martin kenapa? Kok cemberut gitu? Apa karena Aku tidak mau dicium?" batinnya sembari beranjak duduk di atas tempat tidur. Sejenak Ia menghela nafasnya dan berharap Martin tidak akan lama-lama marah kepadanya. Ia pun mulai beranjak melepaskan hijabnya dan setelah itu Ia meletakkannya pada keranjang baju. Tak sengaja Aira melihat sebuah kotak yang terletak di atas meja riasnya, kotak berwarna putih itu membuatnya penasaran.


"Kotak apa itu? Perasaan tadi tidak ada." Aira mencoba mengambilnya dan kemudian membuka kotak itu perlahan. Setelah kotak itu terbuka, Aira dibuat tercengang dengan isi dari kotak tersebut, dengan sangat pelan Aira mengambil isi kotak itu, sebuah lingerie berwarna merah maroon dengan hiasan renda bunga di sekeliling nya.


"Baju apa ini? Buat apa Mas Martin membeli baju haram ini? Astaghfirullah!" ucapnya yang masih belum di fahami. Aira melihat-lihat model baju itu, tentu saja tidak ada lengan dan pastinya panjangnya hanya sekitar lima puluh centi meter. Aira menempelkan lingerie itu pada tubuhnya. Kemudian Ia bergerak ke kanan dan ke kiri.


Sejenak Ia berpikir apa jadinya jika dirinya memakai baju itu, pastinya kemolekan tubuhnya akan terlihat secara sempurna, apalagi kain yang sangat tipis menerawang. Tentu saja semua bagian lekuk tubuh gadis itu akan terlihat dengan jelas.


Setelah berpikir cukup lama, Aira pun mencoba untuk memakai baju berbahan sifon sutra itu, yang tentunya sangat lembut dan menjuntai. Aira masuk ke dalam ruang ganti, perlahan Ia melepaskan gamis panjangnya, gamis yang menutupi seluruh keindahan tubuh Aira itu, Ia letakkan gamis itu di atas lantai. Kemudian Ia mulai memasukkan gaun tipis itu pada tubuhnya.


"Astaghfirullah! Kok jadi begini sih! Kalau begini caranya bisa lari Kemana-mana ini!" ucapnya sembari merapikan area dadanya. yang tentunya gaun dengan kerah Sabrina itu terlihat begitu rendah sehingga terlihat belahan dadanya yang cukup besar.


"MasyaAllah! Kalau Mas Martin lihat, dia nggak akan mau ngelepasin Aku, mana pantat kelihatan bulat lagi, aduh ... lepas aja deh! Nggak nyaman!" ucap Aira sembari mencoba melepaskan lingerie itu dari tubuhnya. Namun, tiba-tiba terdengar suara yang membuat Aira mendekap area dadanya yang menonjol itu.

__ADS_1


"Nggak usah di lepas!" spontan Aira membalikkan badannya dan Ia sangat terkejut tiba-tiba saja Martin berdiri di belakangnya.


"Hehehe ... M-Mas Martin! Udah selesai mandinya?" Aira tampak basa-basi saat sang suami memergokinya tengah memakai gaun haram itu. Tentu saja Martin mulai berjalan mendekati Aira dengan tatapan yang tak pernah lepas dari istrinya.


"M-Mas Martin disitu saja, Aku gugup, Mas!" ucapnya sembari terus berjalan mundur. Bagaimana pun Aira mencoba menghindari suaminya, tapi tetap saja Martin terus mendekatinya, hingga tubuh Aira bersandar pada dinding kamar itu.


"Mas Martin!"


Martin meletakkan kedua tangannya pada dinding kamar itu, sehingga membuat Aira tidak bisa pergi kemana-mana, degup jantung Aira begitu terdengar sangat keras, ingin sekali dirinya pergi dari hadapan Martin, karena dirinya begitu malu saat memakai gaun haram itu.


"Kamu sangat cantik sekali, sangat menggoda." Martin berkata sembari melepaskan ikatan rambut Aira, sehingga rambut panjangnya tampak terurai indah menambah kecantikan alami gadis itu.


"Subhanallah! Maha suci Allah, telah menciptakan makhluk secantik ini, kamu benar-benar membuatku terpukau, Sayang!" Martin pun berkata sembari mencium bibir Aira. Aira menerimanya dan Ia tidak bisa berbuat apa-apa kala Martin sudah menyentuh raganya.


Cukup lama mereka bermesraan, cukup sudah Martin tidak bisa mengontrol hasratnya untuk bersama dengan sang istri. Tiba-tiba saja Aira mendorong tubuh suaminya dan berkata. "Kita belum sholat Isya, Mas! Aku tidak mau Syaitan melemahkan iman kita dengan lupa untuk bersujud kepada-NYA karena godaan hasrat ini, meskipun ini adalah sesuatu yang halal. Jika kita belum melaksanakan kewajiban kepada Allah, kita termasuk orang-orang yang merugi. Maafkan aku, Mas! Kita segerakan perintah Allah dulu, kita sholat berjamaah." ucapan Aira membuat Martin menghela nafas panjang sekali.


Kemudian Ia mengacak-acak rambutnya sendiri, bagaimana bisa dirinya lupa kalau belum melaksanakan sholat Isya.


"Astaghfirullah! Bagaimana bisa Aku lupa, wanita benar benar-benar sangat luar biasa kekuatannya, karena mereka lah bisa membuat kita khilaf, Maafkan, Aku! Mungkin Aku terlalu terpesona melihat dirimu seperti ini, Aku benar-benar tidak bisa menahannya." balas pria itu.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, Mas! Kamu pasti akan mendapatkannya malam ini, sekarang kita ambil air wudhu dulu, Aku ingin suamiku bukan hanya pintar merayuku, tapi Aku ingin dia juga pintar merayu Rabb-nya, agar kita bisa segera dihadirkan bayi dalam rahim ini lewat doa yang kamu panjatkan kepada-NYA, Aku sudah sangat siap menjadi Ibu dari anak-anak mu, Mas!" Martin memeluk Aira, kemudian mereka pun beranjak untuk mengambil air wudhu untuk sholat Isya berjamaah terlebih dahulu.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2