
"Maaf Tante! Mungkin Saya terlalu berlebihan, Saya jadi mewek." kata Aira saat melepaskan pelukannya, Ia merasa sungkan karena dia bukanlah siapa-siapa Isti, anak bukan, saudara bukan.
"Kenapa musti sungkan, Kamu gadis yang baik. Jujur saja, saat pertama kali Aku bertemu dengan mu, Aku merasa jika Aku sedang melihat putriku sendiri, kakaknya Lita yang hilang belasan tahun yang lalu, saat itu usianya masih tiga tahun, dia masih sangat kecil. Ada orang yang membawanya pergi, tapi kami tidak bisa mencari keberadaan orang itu. Dan semua itu karena kelalaian kami berdua, kami tidak bisa menjaganya dengan baik, sampai dia pergi dari tangan kami." sesal Isti saat mengingat kejadian di pasar malam itu.
"MasyaAllah! Lita mempunyai kakak Tante?" tanya Aira penasaran. Isti pun mengangguk dan mengiyakan pertanyaan Aira.
"Iya! Namanya Alesha, dia putri pertama kami, mungkin sekarang usianya sama seperti mu, Nak! Sampai sekarang Tante tidak bisa menemukan dimana keberadaan anak perempuan pertama kami, Alesha Az-Zahra. Dia gadis yang cantik, saat Aku melihat wajah mu, entah kenapa Aku teringat dengan wajah putriku, kalian berdua sangat mirip, dan yang tidak bisa dibedakan dari kalian berdua adalah lesung pipi itu, kamu mirip sekali dengan wajah putriku." ungkap Isti sambil mengusap lembut wajah Aira.
__ADS_1
"Mama!"
"Deg."
Sebuah kata yang terucap dari bibir Aira, Ia memanggil Isti dengan sebutan Mama, tentu saja Isti sangat bahagia, seolah-olah putrinya sendiri yang menyebut nama dirinya.
"Kamu bilang apa, Nak? Mama?" kata Isti dengan mata yang berkaca-kaca. Aira tersenyum dan berkata, "Maafkan Saya, Tante! Saya tidak bermaksud seperti itu, hmm jika di bolehkah, apa Saya boleh memanggil Tante dengan Mama?" sontak apa yang dikatakan oleh Aira membuat Isti kian terharu, sungguh Ia merasa jika putrinya Alesha telah hadir di hadapannya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Tante! Nggak tahu kenapa tiba-tiba saja Saya rindu dengan Ibu Saya, sekian tahun Saya tidak pernah lagi berjumpa dengan mereka, kedua orang tua Saya." ucap Aira sembari mengusap setitik air mata yang keluar dari sudut matanya.
Martin dan Tirta yang berada di tempat itu merasa ikut terharu melihat Isti dan Aira, hingga akhirnya dokter keluar dari ruangan Lita dan mengabarkan bahwa proses transfusi darah Lita telah selesai. Dan kini Lita dalam masa pemulihan.
"Kondisi Mbak Lita sudah sedikit membaik, meskipun beliau masih belum sadar, tapi setidaknya Mbak Lita sudah melewati masa-masa kritis, dan Alhamdulillah kondisi Pak Prapto juga sangat mendukung untuk melakukan transfusi darah. Jika saja Pak Prapto tidak ada, maka kemungkinan Mbak Lita sulit tertolong karena tipe darah Mbak Lita terbilang sangat langka yaitu AB-." jelas sang dokter yang membuat Aira mulai teringat jika dirinya juga memiliki jenis darah yang sama, Aira mengetahui jenis darahnya saat dirinya baru saja melakukan test kandungan hb kehamilan yang baru saja Ia lakukan oleh dokter kandungannya. Sang Dokter kandungan mengungkapkan jika jenis darahnya termasuk langka, sehingga dokter memberi tahukan kepada pasangan itu untuk mempersiapkan menjelang persalinan nanti jika memungkinkan untuk melakukan transfusi, Dokter berharap kehamilan Aira lancar dan tidak ada kendala apapun.
"Kok golongan darah Lita, sama dengan golongan darah ku? Itu berarti Aku dan keluarga Om Prapto memiliki golongan darah yang sama? Kok bisa, ya! Padahal kata dokter golongan darah itu sangat langka dan jarang yang memiliki golongan darah tersebut." batin Aira sembari menatap wajah suaminya dengan gelisah. Martin pun menangkap ekspresi wajah sang istri dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Apa Aira berpikiran sama sepertiku? Golongan darah mereka sama." pikir Martin.
...BERSAMBUNG...