ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Halalkan aku


__ADS_3

Sementara di rumah sakit, hari ini adalah hari terakhir Lita dirawat, Isti dan Prapto menyiapkan segala sesuatunya untuk kepulangan Lita, keadaan Lita sudah sangat membaik, tapi ada satu hal yang membuat Lita masih bersalah, yaitu tentang kenyataan jika Aira adalah kakak kandungnya.


Tirta yang selalu mendampingi Lita selalu memberikan semangat kepada gadis itu.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tirta berkata sembari menatap wajah Lita yang kini mengenakan hijab berwarna maroon itu.


"Aku tidak tahu apa yang akan Aku katakan kepada Kakak nanti, Mas? Terlalu banyak dosa yang Aku lakukan padanya, apa mungkin dia mau memaafkan kesalahan ku padanya? Aku sudah sangat bersalah padanya." sesal Lita yang begitu terlihat dari gurat wajah nya.


"Aku rasa Aira bukan lah wanita yang tega melihat kesedihan seseorang, Aku yakin dia pasti memaafkan mu, percaya lah!" ucap Tirta meyakinkan Lita.


"Terima kasih, Mas! Selama ini kamu selalu memberikan Aku support, Aku juga minta maaf padamu, jika selama ini Aku sudah melukai perasaan mu, Aku sudah tidak sopan saat itu, terima kasih atas hadiah yang kamu berikan." Lita pun mulai bisa menerima kehadiran Tirta yang selama ini dirinya tidak memperdulikan kehadiran Tirta, saat dirinya masih dikuasai oleh nafsu amarah dan dendam.


Tirta tersenyum dan berkata, "Sudahlah! Lupakan semua, Aku tidak pernah tersinggung dengan apa yang kamu lakukan, dan Aku pun sudah melupakannya." balasnya sembari menatap bola mata indah Lita.


Sejenak Tirta merasakan ada sesuatu yang membuat dirinya tertarik untuk mendekati Lita, tidak ada manusia yang sempurna, Lita memang pernah berbuat dosa, tapi dengan keyakinan hatinya dan penyesalan nya, Lita kini berubah menjadi sosok wanita muslimah, gadis yang biasa tampil dengan baju mini itu kini Ia merubah identitas nya sebagai muslimah sejati. Dan itu yang membuat Tirta kagum dengan sosok Lita..


"MasyaAllah! Betapa cantiknya gadis di depan ku ini, kenapa Aku merasa jika dirinya akan mengisi hari-hari ku kemudian, Astaghfirullah! Tidak-tidak, terlalu jauh Aku bermimpi, Lita tidak mungkin mau dengan laki-laki seperti ku, dia berpendidikan tinggi dan lulusan LA, hmm entahlah aku ragu." batin Tirta sembari menghela nafasnya.


Begitu juga dengan Lita yang saat itu masih menatap wajah Tirta.


"Ya Allah, kenapa perasaan ku sangat aneh saat Aku menatap Mas Tirta, mungkin kah ini jawaban atas segala pertanyaan ku, tentang pria yang akan datang memberi cinta yang tulus untukku? Ah Lita, jangan terlalu ke PD an kamu, Mas Tirta memang perhatian, tapi belum tentu juga dia memiliki perasaan padamu, hmm." batin Lita sembari menundukkan wajahnya.


"Lita!"

__ADS_1


"Mas ..."


Keduanya tiba-tiba memanggil nama secara bersamaan, sehingga keduanya terlihat saling melempar senyuman, Lita tampak malu-malu dengan memalingkan wajahnya, sementara Tirta juga tersenyum malu, tatkala mereka berdua bersamaan memanggil nama masing-masing.


"Kamu mau ngomong apa, Mas?" tanya Lita memberanikan diri.


"Oh nggak, kamu dulu, kamu mau ngomong apa?" sahut Tirta balik bertanya.


Lita tersenyum dan berkata, "Oke, Aku minta maaf sama kamu, Mas!"


"Minta maaf? Bukannya tadi udah?" Tirta tampak mengerutkan keningnya.


"Hmm iya sih, tapi ini soal yang lainnya." sambung Lita dengan wajah yang gugup.


"Emm ... Aku minta maaf jika Aku pernah merendahkan mu, Mas! Sungguh apa yang Aku lakukan itu sangatlah tidak terpuji, Aku sudah menganggap diriku paling baik dari dirimu, padahal sejatinya kamu lebih lah yang lebih baik dari pada Aku." ungkap Lita


"Kenapa kamu berfikiran seperti itu?" Tirta membalasnya sembari melipat kedua tangannya.


"Iya, karena Aku tidak mampu mengendalikan emosi ku sendiri, Aku selalu terbawa emosi dan kecemburuan, sedangkan kamu selalu bersabar dan tidak pernah menyerah padahal Aku sudah menyakitimu dengan kata-kata yang tak pantas yang pernah Aku katakan padamu, meskipun begitu Kamu tetap mau menolong ku, kalau bukan karena mu mungkin sekarang Aku sudah bertemu dengan malaikat Munkar dan Nakir." ungkap Lita yang diiringi tawa kecil Tirta.


"Astagfirullah Lita, sampai sejauh itu kamu berfikir tentang Aku! Aku ikhlas menolong mu, sesama manusia bukannya harus saling tolong menolong, Aku tidak perduli kamu pernah berkata buruk tentang diriku, Aku sudah memaafkan mu sebelum Kamu minta maaf padaku, sudahlah sudah Aku bilang setiap manusia pasti punya kekhilafan, dan Aku sudah tidak memperdulikan akan hal itu, yang penting bagiku sekarang adalah sosok Lita yang kini sedang berdiri di depan ku, jujur sudah membuat hatiku tergelitik, Aku kagum padamu Lita, lebih baik menjadi seorang pendosa tapi dia bertaubat sungguh-sungguh, daripada menjadi orang suci tapi mulutnya tidak pernah mengatakan istighfar."


Lita tersenyum mendengar penuturan dari Tirta, sungguh pria di depannya itu semakin membuat Lita menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Kamu cantik!" seketika Lita terkejut saat Tirta berkata demikian.


"Apa, Mas!" Lita terlihat penasaran kenapa tiba-tiba Tirta mengatakan hal itu.


"Astagfirullah! Maafkan Aku Lita, tak seharusnya Aku menatap wajah mu terlalu lama, Aku harus menunduk kan pandanganku dari wanita yang mampu menggoda imanku." ucapan Tirta sontak semakin membuat Lita tertawa. Sementara Tirta terlihat malu-malu dan salah tingkah.


"Kok kamu malah ketawa sih!"


Sejenak Lita berhenti dan mengatur nafasnya, kemudian Ia mendekati Tirta dan mencoba untuk menatap wajah Tirta yang terlihat memerah karena malu.


"Jika Aku membuat mu tergoda iman, dan takut akan menimbulkan dosa, jangan dipandang saja, halalkan jika Mas Tirta bersedia, Aku ikhlas."


Seketika ekspresi Tirta berubah menjadi bahagia, sungguh tidak bisa diduga, ternyata Lita memberikan lampu hijau untuknya, pucuk dicinta ulam pun tiba.


"Kamu nggak main-main kan dengan ucapan mu, Lita?" tanya Tirta untuk meyakinkan dirinya sekali lagi.


"Apa Aku terlihat bercanda, Mas! Jika kamu tidak ingin pandangan mata itu membuat mu berdosa, untuk apa kamu tahan-tahan, kamu tahu di mana rumahku, dan kamu juga tahu siapa orang tuaku, rumah ku akan terbuka lebar menyambut kedatangan mu untuk datang kepada kedua orang tua ku," ucap Lita sembari menundukkan wajahnya.


"Maaf kan Aku, Mas! Aku juga tidak memaksamu untuk melakukan hal ini, Aku tahu betul siapa diriku, Aku tidak sebanding dengan dirimu yang seorang lulusan Kairo, ilmu agama mu lebih besar dari pada diriku, Aku ini hanya wanita biasa yang masih mencari keridhaan Allah, yang selama ini sudah ku tinggalkan ajaran-ajaran agama, Aku yang selama ini tertipu dengan tipuan dunia, Aku ingin menjadi muslimah seutuhnya, sebelum semuanya terlambat dan sebelum jasad ini terkubur dalam bumi." seketika Tirta semakin mantap dan yakin bahwa Lita adalah gadis yang selama ini Ia cari.


"Jikalau kamu merasa seperti itu, maka izinkanlah Aku untuk menjadi imam untuk mu, agar Aku bisa menuntun mu untuk meraih keridhaan Nya, Aku akan datang ke rumah mu dan Aku akan meminta izin kepada Mama dan Papa mu untuk mengizinkan putrinya Aku persunting sebagai isteri ku."


Seketika air mata itu tak bisa terbendung lagi dari sudut mata Lita, Ia sangat terharu, ternyata masih ada pria yang baik yang mau menerima segala kekurangan nya sebagai wanita yang pernah berdosa.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2