
Martin menghampiri Istrinya dan merangkul pundaknya, sementara itu sang Dokter sudah mengizinkan keluarga untuk melihat kondisi Lita yang mulai membaik.
"Dokter! Apa boleh kami melihat keadaan Putri Saya?" tanya Isti penuh harap. Sang Dokter pun menjawab, "Tentu saja Nyonya! Silahkan, tapi sebaiknya satu-satu saja dulu, mengingat Mbak Lita masih membutuhkan istirahat yang cukup."
Mendengar penuturan dari sang Dokter, Isti pun terlihat senang, akhirnya ia bisa bertemu dengan putrinya. Martin dan Aira pun ikut tersenyum bahagia.
"Kalau begitu Saya permisi dulu, mari!" pamit sang Dokter.
*
*
*
__ADS_1
Dalam sebuah kamar rumah sakit, terlihat seorang wanita yang sedang berbaring lemah tak berdaya, matanya masih terpejam dengan perban yang ada di pergelangan tangannya, akibat sayatan beling kaca yang hampir saja memutus urat nadinya.
Isti masuk ke dalam ruangan dimana Lita dirawat, wanita paruh baya itu melihat kondisi putrinya yang menyedihkan. Wajahnya terlihat sedih dan masih pucat, sementara pergelangan tangannya terlihat masih diperban.
"Lita sayang! Kenapa kamu harus melakukan semua ini, Nak! Istighfar Lita, semuanya pasti ada jalan keluarnya, Mama tidak mau kehilangan putri Mama lagi." Isti tampak menangis di samping putrinya yang terbaring lemah itu.
Hingga tiba-tiba saja terdengar suara lirih dari bibir Lita yang memanggil nama sang Ibunda.
"Mama!" spontan Isti terkejut saat mendengar suara sang putri yang tiba-tiba memanggil namanya.
"Mama! Aku dimana?" Lita mencoba mengingat kembali kejadian sebelum dirinya berada di tempat itu.
"Kamu ada di rumah sakit, Nak!" jawab sang Mama sembari mengusap lembut rambut sang putri.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Aku ada di sini, Ma?" rupanya Lita masih belum sadar sepenuhnya, mungkin efek obat bius yang masih tersisa dalam tubuhnya membuat Lita lupa jika dirinya telah melakukan percobaan bunuh diri.
"Kamu mencoba mencelakai dirimu sendiri, Nak! Dengan memotong pergelangan tangan mu dengan pecahan beling, beruntung Nak Tirta datang tepat dan Ia yang membawamu ke rumah sakit dengan segera, Alhamdulillah Allah masih memberikan keselamatan untuk mu." ungkap Isti yang membuat Lita sedikit mengingat kejadian dirinya sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, spontan Ia pun menangis histeris, Lita masih tak percaya kenapa dirinya masih bisa hidup, kenapa dirinya tidak mati saja sekalian, agar tidak bisa melihat Martin dan Aira lagi.
"Aaaaaaaa ... kenapa Aku tidak mati saja, Ma! Kenapa Aku tetap hidup, Aku ingin mati saja, Aku tidak mau melihat mereka hidup bahagia, Mas Martin adalah milikku dan tak seorangpun bisa memiliki nya termasuk perempuan itu." Lita berkata dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Lita! Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Nak! Ini semua sudah kehendak-Nya, dan kamu harus bisa ikhlas menerima kenyataan ini, Mama yakin suatu saat nanti Kamu akan bertemu dengan jodoh yang pastinya lebih baik dari Martin, Mama yakin kamu pasti bahagia, percayalah Lita!" Isti berusaha terus meyakinkan putrinya untuk sabar dan bertawakal, serahkan semua masalah ini kepada Allah SWT. Karena hanya Allah lah yang bisa menolong kita dan memberikan jalan yang terbaik untuk hambanya..
"Dengarkan Mama, Lita! Kamu jangan sia-siakan hidupmu untuk mengejar sesuatu yang ditakdirkan bukan untukmu, Allah sudah menyiapkan jodoh kita masing-masing, Martin bukanlah jodohmu, bagaimana pun juga kalian tidak akan bisa bersama, dan kamu harus ikhlas, percayalah, Nak! Mama akan selalu mendoakan untuk kebaikan putri Mama, karena Mama sangat sayang padamu, jodohmu pasti akan segera datang dan pria itu pasti sangat menyayangi mu melebihi rasa sayang Martin kepadamu."
Sejenak Lita terdiam dan tiba-tiba saja terdengar suara istighfar dari bibir nya.
"Astagfirullahal adzim."
__ADS_1
...BERSAMBUNG...