ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Sepasang bayi kembar


__ADS_3

Hari itu Martin menyiapkan mobil untuk mengantarkan istrinya ke rumah sakit, dengan perut yang kian membesar Aira berusaha untuk menahan rasa sakit itu dengan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya.


"Astagfirullah! Astagfirullah ya Allah!" Aira selalu menyebut nama Allah di saat Ia merasa kontraksi itu semakin kuat. Asri memapah Aira sampai Ia sampai di depan, karena Aira sudah tidak tahan ingin seperti buang air besar, Martin dengan sigap mengangkat tubuh istrinya untuk masuk ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


Semua keluarga besar Aira dan Martin dikabari satu persatu, hingga berita Aira yang tengah melahirkan didengar oleh sang Adik yang beberapa hari lagi akan melangsungkan pernikahan nya dengan Tirta.


"Kak Aira melahirkan? Ya Allah kita harus segera ke rumah sakit, Ma!" seru Lita kepada sang Mama yang ikut panik mendengar anaknya sedang melahirkan. Akhirnya Isti, Prapto dan Lita, pagi itu segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi sang anak melahirkan cucu pertama mereka.


Sementara di rumah sakit, Aira langsung di bawa ke ruangan persalinan, Martin selalu mendampingi Aira agar sang istri selalu kuat untuk berjuang melahirkan putra mereka.


Kini, Aira dan Martin berada di dalam kamar persalinan, tampak seorang dokter dan beberapa perawat mendampingi Aira yang tengah berjuang untuk melahirkan anak kembar mereka. Aira selalu bersikap tenang, apalagi ada sang suami yang selalu mensupport nya, Martin mencium kening istrinya dan terus memberikan semangat kepada Aira dengan menggenggam erat tangan Aira.


"Huffftt ... Astagfirullah! Sakit, Mas!" sejenak Aira benar-benar merasakan betapa sakitnya proses persalinan secara normal itu.


"Sssttt! Kamu yang kuat, Sayang! Aku akan selalu di sini menemani mu, Kamu pasti bisa, anak-anak kita sudah tak sabar ingin bertemu dengan kita orang tua nya. Ayo semangat terus!" bisik Martin yang terus berusaha menguatkan sang istri.


Aira terus berusaha mengejan untuk mengeluarkan bayinya, dengan mengikuti panduan dari dokter, Aira berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan dua bayi kembar mereka, betapa hati Martin begitu tersentuh melihat perjuangan sang istri, tak terasa laki-laki itu menangis melihat bagaimana Aira merasakan sakit yang luar biasa, sungguh perjuangan seorang ibu untuk bayi mereka ibarat perang fi Sabilillah.

__ADS_1


"Ya Allah berikanlah kekuatan untuk istri hamba, selamat kan bayi kami berdua, berikan kesehatan untuk mereka anak-anakku dan istri ku ya Allah, sungguh hamba tidak tega melihat istriku menahan rasa sakit melahirkan bayi kami, berikan lah pertolongan Mu ya Rabb, Aamiin." Martin berdoa dalam hatinya.


Setelah berjuang selama kurang lebih satu jam, akhirnya yang dinanti-nantikan telah tiba, tangis bayi pertama mereka telah terdengar begitu nyaring, seketika Aira menangis bahagia saat untuk kali pertamanya Ia mendengarkan bayi perempuan yang Ia lahirkan, selang beberapa menit bayi laki-laki keluar dari rahim Aira, sungguh kebahagiaan yang berlipat ganda, Martin dan Aira dikaruniai sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan.


"Alhamdulillah ya Allah! Sungguh hamba sangat bersyukur kepada mu, akhirnya hamba bisa melihat mereka berdua, putra dan putri hamba, shalih dan shalihah ku." tak henti-hentinya Martin mengucapkan rasa syukur nya atas kehadiran dua bayi mereka berdua. Kemudian Martin mencium kening istrinya dan berkata, "Alhamdulillah, kedua bayi kita selamat, terima kasih kamu sudah memberikan kebahagiaan untukku, kamu telah melengkapi hidupku dengan hadirnya dua bayi kita, terima kasih, Sayang!"


Aira tersenyum kepada sang suami, Ia pun sangat bahagia akhirnya Ia bisa melihat dua buah hatinya lahir ke dunia, mereka berdua yang selama ini melengkapi hari-hari Aira saat di dalam perut, kini mereka telah memperdengarkan suara tangis mereka yang membuat Martin dan Aira begitu bahagia.


Sementara di luar ruangan, dokter yang selesai menangani persalinan Aira, ia keluar dari ruang persalinan, terlihat keluarga besar keduanya sudah menunggu berita kelahiran bayi Aira dan Martin.


"Dokter! Bagaimana dengan anak dan cucu Saya?" tanya Isti yang terlihat cemas.


"Alhamdulillah ya Allah! Akhirnya kita mendapatkan dua cucu sekaligus, Pa!" ucap syukur Isti kepada Prapto.


"Alhamdulillah, iya Ma! Kita punya cucu." balas Prapto yang juga ikut bahagia mendengar Aira sudah melahirkan cucu mereka, dan tentu saja Asri dan Burhan juga merasakan kebahagiaan bersama. Mendapatkan cucu pertama mereka, bukan hanya satu tapi dua sekaligus.


"Alhamdulillah ya Pa! Doa kita dikabulkan oleh yang maha kuasa, cucu kita kembar, Mama berharap suatu saat Aira bisa hamil lagi, dan memberikan kita cucu kembar lagi, ya Allah! Pasti seneng banget rumah kita dipenuhi tangis bayi mereka." ucap Asri dengan wajah bahagia.

__ADS_1


kedua orang tua Aira maupun Martin sama-sama merasakan kebahagiaan Martin dan Aira tentunya, mereka selalu mendoakan untuk kebahagiaan Martin dan Aira agar selalu menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan tentu saja bisa memberikan cucu untuk mereka.


Begitu juga dengan Lita sang Adik, gadis itu tampak berkaca-kaca melihat kebahagiaan semua orang, sungguh terlihat begitu damai di hati.


"Ya Allah! Indah sekali melihat Mama dan Papa, Tante Asri dan Om Burhan tersenyum bahagia, sungguh kebahagiaan keluarga adalah sesuatu yang terindah, Aku sangat bersyukur Engkau telah memberikan hidayah untuk ku ya Allah, terima kasih Engkau telah membuka pintu taubat untuk ku, sehingga hamba bisa melihat kebahagiaan mereka, orang-orang yang ku kasihi, inilah kebahagiaan sejati." batin Lita sembari tersenyum bahagia. Hingga tiba-tiba saja terdengar suara seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan belakang nya.


"Assalamualaikum, ukhti!" sapa Tirta kepada Lita yang berdiri menatap kedua orang tuanya yang sedang berbahagia. Seketika Lita menoleh ke belakang, dilihatnya Tirta yang sedang berdiri sembari tersenyum kepada Lita.


"Waalaikum salam, Mas Tirta? Kamu ngagetin Aku saja!" jawab Lita dengan tersipu malu.


"Maaf! Aku tidak bermaksud mengagetkan mu, tadi Aku dengar dari Tante Isti jika kakakmu sedang melahirkan, jadi Aku ikut ke sini," balas Tirta. Lita terlihat tertunduk malu, dalam beberapa hari lagi, Tirta dan Lita akan melangsungkan akad nikah, kedua calon suami istri itu terlihat saling malu-malu.


"Kenapa kamu ikut ke sini, Mas? Kita kan bisa bertemu di rumah nanti?" seru Lita.


"Ya nggak apa-apa dong! Aku kesini juga ikut belajar menjadi Martin, jika suatu saat kamu juga melahirkan anak kita, Aku ingin tahu bagaimana pengalaman Martin mendampingi istrinya dalam melahirkan bayi mereka." ungkap Tirta yang seketika membuat Lita begitu tersipu malu.


"Ya Allah, Mas! Kita nikah aja belum, masa udah bayangin Aku melahirkan sih!" balas Lita dengan tersenyum malu.

__ADS_1


"Jadi nggak sabar ingin segera mengucapkan ijab Kabul, Aku juga ingin seperti Martin, menemani istrinya disaat berjuang melahirkan putra nya, Aku pun juga ingin mendampingi mu saat kamu berjuang melahirkan putra kita nanti,"


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2