
Setelah Martin selesai berbelanja, Ia pun segera pergi. "Permisi Ibu-ibu, Saya pulang dulu, mari! Assalamualaikum?"
"Waalaikum salam!" jawab sang tukang sayur. Sementara itu Bu Bambang dan gengnya terlihat sinis menatap Martin dengan mulut gerakan mulut khas wanita julid.
"Yuk ah Ibu-ibu kita pulang saja nggak jadi belanja." seru Bu Bambang kepada rekan-rekan sesama ghibah nya.
"Loh nggak jadi belanja Ibu-ibu, ini sayur-sayurnya gimana nasibnya? Udah disentuh-sentuh tapi ndak dibeli, tanggungjawab dong!" seru si tukang sayur.
"Hmm ogah, kita ndak jadi beli sayur sama kamu, situ lebih belain tuh Si Aira daripada kita. Ya kan Ibu-ibu!" protes Bu Bambang dengan wajah yang sinis.
"Heleh emang gitu kenyataan kok! Nih ya Ibu-ibu jika ingin disayang sama suami, jadi istri kayak Bu Aira tuh, nggak ada omongnya dia, ramah, sering di rumah nggak suka nongkrong sama tetangga, itu istri idaman, ya tentu saja Pak Martin sangat sayang, dibela-belain beli sayur sendiri, istrinya di manjain suruh tinggal di rumah. Salut memang sama mereka berdua, patut di contoh Bu Ibu." kata si tukang sayur sembari menata kembali sayur-sayur nya dalam gerobak.
"Eh betul juga loh kata si abangnya, kalau kita sering di rumah, pasti suami juga betah, apalagi kita masakin yang enak-enak dandan yang cantik, hmm pasti suami bakalan betah, ya kan Ibu-ibu!" seru salah seorang geng Bu Bambang.
"Halah sok tahu kamu." Bu Bambang terlihat kesal karena Ibu-ibu temannya mulai percaya dengan ucapan Si tukang sayur. Bu Bambang pun segera pergi meninggalkan mereka yang masih berkumpul di dekat tukang sayur.
Beberapa Ibu-ibu yang semula menjadi geng ghibah Bu Bambang, kini mereka sadar jika ucapan Martin sudah menyadarkan mereka pentingnya kehadiran isteri di rumah, kebiasaan mereka yang sering nongkrong tidak jelas ke rumah tetangga membuat mereka berfikir lagi untuk mengulangi kebiasaan mereka.
"Sepertinya kata Abang tukang sayur ada benarnya juga, dan Pak Martin pun sungguh beruntung memiliki istri seperti Bu Aira, semoga saja pernikahan mewah langgeng sampai kakek nenek." ucap salah seorang diantaranya.
__ADS_1
"Aamiin" jawab semuanya.
"Ya udah Ibu-Ibu, mari! Dipilih lagi sayurannya, masih seger-seger loh Ibu." seru si tukang sayur kepada Ibu-ibu itu.
*
*
*
Martin masuk ke dalam rumah, di dalam Aira sudah menunggu kedatangan suaminya. Setelah Ia tahu jika Martin pulang dengan membawa keranjang belanjaan yang isinya pasti banyak, Aira pun menghampiri Martin dan berusaha membantunya.
"Aku sengaja belanja banyak, tadi Aku lihat si tukang sayur jualan kedondong, nanas, mangga sama bengkoang, eh kok Aku jadi pingin bikin rujak manis, jadi Aku beli deh. Pasti seger banget tuh, nanti kita bikin rujak, yuk!" ucap Martin sembari mengeluarkan isi barang belanjaannya.
Aira tampak tersenyum, Ia heran kenapa tiba-tiba saja suaminya ingin membuat rujak, mungkinkah suaminya sedang ngidam. Padahal Martin anti buah-buahan yang terasa masam, kali ini sang suami mulai menyukainya, bahkan saking kepingin nya Martin mengambil satu buah kedondong, setelah itu Ia cuci, kemudian Ia langsung memakannya tanpa mengupasnya terlebih dahulu.
"Astagfirullah, Mas! Kedondong nya nggak dikupas dulu?" tanya Aira sembari ikut berekspresi meringis kala melihat suaminya tengah menggigit buah kedondong itu langsung.
"Nggak apa-apa, enak dimakan gini, hmm mau? Enak banget loh, Aku suapin ya!" seru Martin menawarkan buah kedondong itu pada Aira. Dia pun terlihat menyuapi Aira buah kedondong itu. Dan Aira pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari suami tercinta.
__ADS_1
"Gimana, enak nggak? Enak dong!" tanya Martin.
"Hmm masam gini kamu bilang enak, Mas! Ya Allah!" balas Aira dengan ekspresi menahan rasa kecut buah kedondong.
"Lagi?" tawar Martin kembali, Aira pun menggelengkan kepalanya.
"Nggak-nggak Mas, terima kasih. Kamu aja yang makan." jawabnya. Sejenak Martin melihat sesuatu di sudut bibir Aira, yaitu sisa kedondong yang menempel pada sudut bibir indah itu. Lantas Martin pun berkata kepada istrinya. "Tunggu sayang!"
"Hmm ada apa, Mas?" Aira menatap wajah sang suami yang terlihat sedang memperhatikan nya dengan seksama.
"Ada sesuatu di bibirmu, coba Aku lihat!" Martin mendekati wajah Aira, setelah Ia lihat ternyata itu adalah sisa kedondong yang tertinggal di sudut bibir istrinya. Kemudian Martin menarik tengkuk Aira dan Ia mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri. Rupanya Martin mengambil sisa kedondong yang menempel itu dengan menggunakan bibirnya.
"Mas Martin!"
"Sssttt diam lah! Aku akan mengambilnya."
Akhirnya Martin mulai menyentuh bibir Aira, ternyata setelah Ia berhasil mengambil sisa kedondong itu, bukannya berhenti, Martin justru meneruskan ciumannya itu. Tentu saja kejadian dalam dapur itu menjadi romantis dengan suasana yang mereka ciptakan.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1