ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Pertemuan Kakak beradik


__ADS_3

Aira dan Martin bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, hari ini mereka akan bertemu dengan Isti dan Prapto, sembari menjenguk saudari Aira, Lita.


"Ayo kita berangkat!" Martin meraih pinggang Aira dan mengajaknya untuk naik ke dalam mobil. Martin pun membuka kan pintu mobil untuk Aira, dengan memberikan senyum Aira beranjak naik ke dalam mobil seraya mengucapkan terima kasih kepada sang suami.


"Terima kasih, Mas!"


"Sama-sama, Sayang!" kemudian Martin menutup pintu nya pelan-pelan setelah itu Martin pun ikut masuk ke dalam mobil dan saat itu juga mereka berangkat ke rumah sakit.


"Aku deg-degan sekali, Mas!" ucap Aira sembari meremat-remat tangannya sendiri untuk menghilangkan rasa gugup itu.


"Santai dong, Sayang! Sebentar lagi kamu akan berkumpul bersama keluarga mu, jadi kamu harus bahagia." seru Martin mencoba menyemangati sang istri.


"Nggak tahu nih, Mas! Aku gugup banget!" jawab Aira sembari mengatur nafasnya.


Setelah beberapa menit, mobil Martin tiba di parkiran rumah sakit dimana Lita dirawat. Sementara itu Lita sudah bersiap untuk pulang hari ini, Isti dan Prapto sudah melunasi administrasi biaya perawatan Lita, sedangkan Tirta terlihat setia mendampingi Lita, mungkin ini adalah bagian dari ta'aruf yang dilakukan oleh Tirta kepada Lita.


Isti dan Prapto terlihat bahagia melihat Lita yang akhirnya bisa akrab dengan Tirta, mereka tidak perlu susah-susah menjodohkan mereka berdua, nyatanya mereka berdua sudah terlihat begitu akrab.


"Semoga saja Nak Tirta bisa menghibur Lita ya, Pa! Mama lihat Nak Tirta orangnya penyabar." ucap Isti yang melihat kedekatan Tirta dan putrinya.


"Iya, Mama benar. Mereka berdua sangat cocok, mudah-mudahan Allah menjodohkan mereka berdua, kita sebagai orang tua harus mendoakan yang terbaik untuk anaknya." balas Prapto.


"Baiklah, Pa! Ayo kita berangkat!" ajak Isti untuk membawa pulang Lita, dan hari itu juga mereka mulai meninggalkan kamar perawatan Lita.


"Lita! Ayo kita pulang, Nak!" ajak Prapto kepada sang putri yang sudah kelihatan membaik meskipun tangannya masih diperban.


"Iya, Pa!"


Akhirnya mereka berempat keluar dari kamar Lita dan berjalan menuju pintu keluar yang berada di lantai satu, sementara mereka sedang berada di lantai dua.

__ADS_1


Sedangkan di luar rumah sakit, Aira dan Martin mulai turun dari mobil, kemudian mereka segera menuju ke kamar dimana Lita dirawat, Aira dan Martin berharap Isti dan Prapto bisa mendengar kan kenyataan jika Aira adalah putri kandung mereka.


Namun, tiba-tiba saja Aira merasa ingin buang air kecil, Ia pun meminta izin kepada sang suami untuk pergi ke toilet sebentar.


"Mas! Aku mau ke toilet sebentar." pamit Aira, Martin pun mengangguk dan menunggu nya di bangku panjang di sepanjang koridor rumah sakit, sembari menunggu istrinya ke kamar mandi, tiba-tiba saja Martin mendapati ponselnya berdering, ternyata Asri sedang menghubungi nya.


"Assalamualaikum Ma!"


"Waalaikum salam, Martin! Bagaimana keadaan rumah? Dan Aira? Kalian akur-akur saja, kan? Awas saja ya kalau kamu berani sakiti menantu Mama, Mama pites kamu!"


"Alhamdulillah, Ma! Kami berdua baik-baik saja, ya nggak mungkin lah Martin menyakiti istri sendiri, Martin udah terlanjur sayang sama Aira, oh ya kapan Mama sama Papa pulang."


"Inshallah besok kami akan pulang."


"Oh ya, Ma! Ada sesuatu yang ingin Martin sampaikan kepada kalian berdua."


"Akhirnya doa Mama dan Papa terkabul, sekarang menantu Mama sedang mengandung, selamat ya Ma, akhirnya Mama akan menjadi nenek."


Seketika Asri sangat bahagia mendengar kabar menggembirakan ini, dirinya tak menyangka jika Aira bisa secepat itu hamil.


"Alhamdulillah! Mama sangat bahagia sekali, Mama nggak nyangka Aira hamil cepat sekali, padahal pernikahan kalian belum genap sebulan, Allah sudah kasih kita kebahagiaan ini."


"Iya, Ma! Alhamdulillah ternyata tidak sia sia setiap malam Martin berusaha dan berdoa untuk memberikan cucu untuk Mama dan Papa, hasilnya sangat memuaskan, Aku hebat kan, Ma!" ucap Martin sembari tertawa kecil.


Saat Martin sedang sibuk menerima telepon, secara tak sengaja Lita juga sedang masuk ke kamar mandi, sementara Isti, Prapto dan Tirta menunggu sembari duduk di kursi di sepanjang koridor rumah sakit. Sejenak Tirta melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri tengah sibuk menelepon di seberang ruangan, Tirta melihat gaya dan cara bicara pria itu sepertinya Tirta mengenalinya meskipun Martin hanya menampakkan punggungnya.


"Bukankah itu Martin?" karena penasaran Tirta pun menghampiri Martin yang sedang menelepon sang Mama.


Tirta mendekati Martin sejenak, menunggu hingga Martin menutup teleponnya.

__ADS_1


"Baiklah, Ma! Martin tutup dulu, sampai ketemu di rumah, Assalamualaikum!" setelah Martin menutup ponselnya, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang menyebut namanya.


"Martin!" seketika Martin menoleh ke belakang, Ia sangat terkejut melihat Tirta yang sedang berdiri di depannya.


"Tirta! Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Aku dan istriku mau menjenguk Lita, ada yang ingin kami sampaikan Tante Isti dan Om Prapto" ucap Martin.


"Sangat kebetulan kita bertemu di sini, Aku juga ingin memberi tahukan kepada mu tentang suatu hal."


Akhirnya Tirta menceritakan tentang tes DNA yang sudah dilakukan dan sudah menunjukkan jika Aira adalah putri kandung dari Prapto dan Isti, begitu juga dengan Martin yang juga menunjukkan bukti saksi mata yang mengetahui rahasia jika Aira adalah anak dari Prapto dan Isti.


Kedua pria itu hanya menunggu bagaimana reaksi bahagia Aira saat bertemu dengan kedua orang tuanya dan juga Adiknya.


Sementara di dalam kamar mandi, Aira sudah selesai buang air kecil, Ia pun segera keluar dari kamar mandi. Sementara di luar ada Lita yang sedang menunggu seseorang yang masih berada di dalam.


Aira mulai membuka pintu kamar mandi sembari menundukkan wajahnya karena dirinya sedang memasukkan tisu ke dalam tasnya, tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita yang sedang memanggil nya dengan sebutan Kakak.


"Kakak! Kak Alesha!" seketika Aira berhenti dan membalikkan badannya. Aira sungguh terkejut saat melihat seorang gadis berhijab yang sangat Ia kenali wajahnya, Aira mendekati Lita yang kini sudah memakai hijab panjang sama seperti dirinya.


"Lita!" seketika mata Aira mulai mengembun, melihat wajah sang Adik yang selama ini pernah berseteru dengan nya.


"Kak Alesha! Sudah lama Aku menunggu saat-saat seperti ini, bertemu dengan Kakak kandung ku, maafkan Aku, Kak! Selama ini Aku sudah menyakitimu, sekarang Aku sudah tahu semuanya, Aira adalah Alesha. Kita berdua adalah saudara kandung."


Tak terasa air mata itu jatuh tak terbendung, membasahi wajah cantik keduanya, tanpa banyak bicara Lita memeluk sang Kakak, Ia menangis dalam dekapan saudari kandung nya yang selama ini berpisah puluhan tahun.


"Alhamdulillah ya Allah! Engkau telah memberikan kenikmatan yang luar biasa, Akhirnya kami bisa berkumpul kembali, Kakak juga minta maaf padamu, gara-gara Kakak, kamu kehilangan Mas Martin, tolong maafkan Kakak, itu semua diluar kehendak Kakak!" seru Aira yang juga minta maaf kepada sang Adik.


"Tidak! Kakak tidak perlu minta maaf, Aku sudah mengikhlaskan Mas Martin, semua ini adalah Qodarullah, kita manusia harus bisa menerima nya dengan ikhlas, karena di balik kejadian ini ada hikmah yang bisa di ambil, Alhamdulillah Allah telah membuka pintu hatiku untuk kembali ke jalan-Nya. Jika tidak ada musibah itu mungkin Aku akan tetap sombong dan merasa paling benar, seharusnya Aku yang minta maaf kepada Kakak, Aku sudah berbuat jahat dengan menyuruh Hilda untuk menghancurkan restoran kalian, ternyata Allah masih melindungi nya, dan ini adalah pelajaran yang sangat berharga untukku, tolong maafkan Adikmu ini, Kak!" Lita terlihat menangis di depan Aira.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2