ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Bertemu kedua bayi ku


__ADS_3

Hari berganti hari, kini kandungan Aira telah berusia 9 bulan, bayi dalam kandungannya tumbuh sangat sehat, seusai sholat Aira selalu menyempatkan untuk membaca ayat Alquran, sekaligus untuk mendoakan anaknya yang masih di dalam kandungan. Istri Martin itu tak melewatkan sholat Sunnah setelah sholat wajib yang telah Ia lakukan, bagaimana Martin tidak bertambah Sayang, melihat istrinya selalu mengucapkan Dzikri dikala rasa tak nyaman saat si jabang bayi bertingkah di dalam perut Ibunya, dan Martin lah yang selalu mengusap perut sang Istri meskipun satu tangannya sembari menyentuh laptop untuk mengerjakan tugas kantor nya.


Saat bayi itu bergerak-gerak, segera mungkin Martin menoleh ke arah perut sang istri dan tersenyum sembari menempelkan pipinya pada perut Aira yang membuncit itu.


"Eh mereka gerak-gerak loh, Sayang!" ucap Martin sembari mengelus-elus perut besar Aira. Sementara Aira tampak mengusap lembut rambut sang suami.


"Mungkin mereka mau main sama Abi nya." jawab Aira, spontan Martin terbangun dan melihat wajah sang istri sembari berkata, "Oh gitu ya, kalau begitu biar Aku tutup laptop ku dulu, setelah ini kita bermain bersama ya, Nak! Tunggu Abi!" ujar Martin sembari mematikan laptop nya dan menutupnya, setelah itu Ia pun segera membuka kaosnya dan memperlihatkan tubuh proporsional nya. Tentu saja Aira sangat terkejut atas apa yang dilakukan oleh Martin.


"Eh eh kamu mau apa, Mas? Kok bajunya di lepas?" tanya Aira heran.


"Loh! Katanya tadi kedua bayi kita ingin bermain dengan Abi nya, ini Aku sudah siap, Ayo nak kita main bersama, biar Ummi yang lihatin kita bermain." seru Martin sembari menidurkan istrinya pada bantal yang empuk dengan sangat pelan.


"Kamu mau apa sih, Mas? Kok dilepas?" tanya Aira saat Martin perlahan membuka kancing baju Aira.


"Bermain dengan anak-anakku," jawabnya enteng.


"Tapi mereka masih di dalam perut, Mas! Gimana caranya kamu bermain dengan mereka? Ada-ada saja." Aira terlihat tertawa kecil.


"Ya bisa dong! Bukankah gara-gara kita sering bermain, akhirnya kedua bayi kita hadir dalam perut mu, masa kamu lupa sih, dasar pikun!" celetuk Martin, Aira tampak memijit pelipisnya mendengar jawaban konyol suaminya.


"Iiihhh apa sih, udah ah Aku mau tidur!" Aira pun mulai pura-pura memejamkan matanya sembari tidur membelakangi Martin, padahal dalam hatinya, Ia sangat ingin sekali tertawa melihat tingkah suaminya.


"Loh kok ditinggal tidur sih? Kamu nggak kasihan apa sama Aku?" seketika Aira membuka matanya dan melihat ke arah wajah sang Suami.


"Kasihan? Emang nya kamu kenapa, Mas?" tanyanya pada Martin yang mulai tidur di belakang Aira sembari memeluk dan melingkarkan tangannya pada perut besar sang Istri, tentu saja Martin sangat bebas melakukan apa saja, Ia bisa mengelus perut Aira dengan leluasa. Kemudian pria itu berbisik pada telinga Aira.


"Kamu nggak kasihan, si Abi udah siap dan kenceng untuk ketemu sama kedua bayinya, masa kamu tega ngga mempertemukan kami sih, mau ya! Ayo dong sayang, temuin Aku sama anak-anakku, tuh mereka gerak-gerak terus tuh, tandanya mereka udah nggak sabar ingin bertemu dengan Abi nya." rayu Martin dengan tersenyum nakal.


"Dasar Abi nya mesum! Ada aja alasan kamu, bilang aja kalo pingin, pake fitnah bayi kita segala." Aira berkata sembari mencubit tangan Martin yang mulai membelai pantat istrinya.

__ADS_1


Martin terkekeh sembari menciumi tengkuk Aira, tentu saja Aira pun merasa kegelian dan spontan Aira berubah posisi menghadap sang suami.


"Kamu tuh ya, ada aja alasan nya."


"Ya nggak apa-apa dong, Sayang! Aku ini sedang membantu mu untuk melancarkan proses persalinan kedua anak kita nanti, biar kamu nggak susah-susah ngeden, harusnya kamu semangat dong! Aku aja semangat masa kamu enggak!" jawab Martin tanpa dosa.


"Terserah kamu deh, Mas!" Aira tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengiyakan permintaan sang suami.


"Nah ... gitu dong! Pasti kedua bayi kembar kita juga ikut senang," Martin berkata sembari mulai beraksi. Dimulai dengan mengecup kening istrinya dan menciumi seluruh wajah Aira hingga akhirnya berakhir pada bibir Aira.


Perut membuncit itu pun tak lepas dari sentuhan Ayah si jabang bayi, Martin menciumi perut istrinya penuh kasih sayang hingga akhirnya lampu kamar itu pun mulai dimatikan.


"Loh kok dimatiin sih Mas lampunya? Gelap apa kamu kelihatan?" tanya Aira


"Aku nggak perlu melihatnya, Aku hanya cukup merasakan nya, lagipula tangan ini sudah hafal kok dimana tempatnya." jawaban Martin membuat Aira tertawa geli.


"Mas Martin!"


Bismillahirrahmanirrahim


Malam itu Martin pun bisa bermain dengan kedua bayi mereka yang masih berada di dalam perut Aira, dalam kamar yang minim pencahayaan itu, hanya terdengar denting jam dan sesekali suara kecil Aira yang sedang menahan rasa kenikmatan bersama suaminya.


*


*


*


*

__ADS_1


Setelah semalam Aira ber-kumpul dengan sang suami, subuh sekali Ia pergi mandi junub di dampingi Martin yang selalu sigap untuk menjaga istrinya.


"Hati-hati!" Martin tampak membuka pintu kamar mandi agar sang Istri masuk terlebih dahulu, dan keduanya pun mandi bersama.


Setelah mereka menyelesaikan ritual mandi, kemudian mereka segera mengerjakan sholat subuh berjamaah, Sholat yang penuh khidmat, Martin dan Aira berdoa untuk keselamatan dan kesehatan bayi kembar mereka berdua, berharap semoga bayi kembar mereka lahir dengan selamat, sehat Ibu dan bayinya.


Tiba-tiba saja Aira merasa jika perutnya mengalami kontraksi rahim, Aira tampak begitu menahan rasa sakit itu sembari menggigit bibir bawahnya.


"Ahhhh ya Allah ... perutku, Mas! Perutku sakit banget!" keluh Aira sembari memegang perutnya. Martin pun segera merangkul sang Istri dan membawanya untuk berbaring di atas ranjang tidur mereka.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Martin dengan wajah yang gugup.


"Nggak tahu, Mas! Tiba-tiba saja sakit banget rasanya."


"Astagfirullah, Jangan-jangan kamu mau melahirkan, sayang? Biar Aku panggil kan Mama!"


Martin pun segera keluar dari kamar dan segera pergi ke kamar Asri dan Burhan.


"Ma! Mama!" seru Martin sembari mengetuk pintu kamar Asri. Tak berselang lama Asri membuka pintu dengan masih mengenakan mukena, sepertinya Asri baru saja melaksanakan sholat subuh.


"Martin! Ada apa kamu? Kenapa tiba-tiba kamu panik gitu?"


"Mama! Aira Ma! Aira merasa sakit perut dan mulas, Martin khawatir banget!" seketika Asri datang ke kamar mereka berdua dan langsung melihat kondisi Aira yang meringis menahan rasa sakit.


"Astagfirullah Aira! Kamu pasti mau melahirkan, Nak! Kita harus segera ke rumah sakit, Aira akan melahirkan, Martin! Cepat kamu siapkan mobilnya." seru Asri kepada Martin yang terlihat panik.


"I-iya, Ma!" jawab Martin segera menyiapkan mobil mereka untuk mengantarkan sang istri ke rumah sakit.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2