ASMARA TURUN RANJANG

ASMARA TURUN RANJANG
Hampir tergoda


__ADS_3

Setelah Martin dan Aira menikmati makan malam mereka, keduanya pun memutuskan untuk pulang ke rumah, rupanya Martin sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah.


"Sudah malam, Mas! Kita pulang yuk!" ajak Aira yang dibalas anggukan kepala oleh Martin, kemudian Martin membayar seluruh makanan yang sudah dipesan, seorang pelayan datang dan memberikan catatan nota kepada adik mendiang Panji Nugroho itu.


"Ini nota nya, Tuan!" seru sang pelayan. Martin menerima nota tersebut dan dirinya melihat total seluruh harga makanan yang sudah dipesannya, sejenak Ia tersenyum, kemudian Ia segera mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada pelayan tersebut.


"Ini Mbak!" Martin memberikan kartu tersebut untuk membayar semuanya.


"Sebentar ya Tuan!" kemudian pelayan tersebut pergi untuk mengecek kartu kredit Martin yang akan digunakan untuk membayar semua makanan yang sudah dipesan. Sejenak Aira melihat tulisan dalam nota yang masih berada di atas meja di depan sang suami.


Aira mengambil nota tersebut dan melihat daftar harga makanan yang baru saja mereka pesan, Aira terlihat menghela nafasnya melihat total harga makanan yang tidak murah itu. Total semuanya lima juta untuk makan malam romantis itu.


"Ya Allah, Mas! Mahal sekali, lain kali jangan buang sia-sia uang kamu untuk hal yang seperti ini, Aku tidak butuh yang mahal-mahal yang terpenting adalah perhatian kamu, itu saja. Kita makan di pinggir jalan pun Aku tetap mau kok, Sementara di sini, memang bagus tempatnya, tapi ... harga makanan nya itu, uang kamu pasti habis hanya untuk sekedar makan malam mewah ini, Mas!" spontan apa yang dikatakan oleh Aira membuat Martin tertawa, Ia pun tidak menyangka jika Istrinya lebih suka diajak makan di pedagang kaki lima daripada di hotel bintang lima.


"Kamu tuh benar-benar lugu banget sih, pingin tak cium aja, nggemesin tahu, nggak!" ucap Martin yang gemas melihat tingkah sang istri.


"Kamu ini gimana sih, Mas! Kok Aku malah diketawain?" Aira tampak mengerucutkan bibirnya kala Martin tertawa melihat tingkah menggemaskan istrinya.


"Dengar! Uang berapapun tidak masalah bagiku, jika itu untuk membahagiakan istri, Allah pasti ganti dengan kebaikan dan tentu saja diganti berlipat ganda, istri bahagia rejeki pun pasti datang dengan lancar, jadi jangan pikirkan tentang uangku habis atau tidak, Aku hanya ingin istriku selalu mendoakan suaminya agar selalu mendapatkan rejeki yang halal dan barokah, tentu saja semua itu Aku lakukan demi kamu dan calon anak-anak kita nanti." bagaimana Aira tidak meleleh mendengar ucapan dari bibir suaminya, hmm sepertinya Ia ingin cepat-cepat pulang dan memberikan hadiah untuk suaminya, karena sudah membuat hatinya begitu bahagia malam ini.


"Ya udah! Kita langsung pulang aja yuk, Mas! Nanti Aku kasih pijat plus-plus buat kamu." balas Aira dengan wajah bahagianya. Rupanya perkataan Aira mendapatkan senyum smirk dari wajah Martin yang pastinya dirinya juga ingin segera sampai di rumah.


Setelah beberapa saat, pelayan datang dan memberikan kartu kredit Martin yang sudah dibuat untuk membayar semua sewa tempat dan total makanan yang sudah Martin berikan spesial untuk sang istri.


Setelah itu keduanya beranjak pergi meninggalkan ruangan itu, tentu saja keduanya harus melewati tempat Prapto dan Isti dimana mereka juga makan malam ditempat yang sama.


"Om Prapto, Tante Isti! Kami pulang duluan." ucap Martin sembari menundukkan kepalanya, begitupun dengan Aira yang juga mencium tangan Isti sebelum mereka pergi.

__ADS_1


"Kami pulang dulu, Tante! Senang sekali bisa bertemu dengan Tante Isti dan Om Prapto." ucap Aira sembari tersenyum kepada keduanya.


"Kami juga sangat senang bisa bertemu denganmu, Nak! Jujur wajahmu mengingatkan ku kepada putriku yang menghilang delapan belas tahun yang lalu, kamu mirip sekali dengannya, siapa nama orang tuamu? Mungkin Tante bisa bersilaturahmi ke rumah Ayah dan Ibumu, dan kamu tinggal di mana?" Aira tersenyum mendengar Isti menanyakan tempat tinggalnya.


"Saya besar di panti asuhan, Tante! Kedua orang tua Saya meninggal dalam tragedi kebakaran di rumah kami, bapak dan ibu meninggal kan saya saat masih berusia 7 tahun, hingga akhirnya Saya dibawa oleh Bu Fatimah untuk tinggal di panti miliknya." pengakuan Aira membuat Isti bersedih, rupanya Aira memiliki kisah yang lebih sedih dari dirinya, kedua orang tuanya sudah meninggal.


"Maafkan, Tante! Tante tidak tahu jika kedua orang tuamu meninggal."


"Tidak apa-apa!" jawabnya dengan polos, sementara itu Tirta tampak memperhatikan sosok Aira yang mencuri perhatiannya, jujur dirinya memang mengagumi sosok Aira yang menurutnya berbeda dengan wanita yang selama ini Ia kenal. Namun, saat melihat Martin di sampingnya, Tirta mengurungkan niatnya untuk ingin tahu sosok Aira sebenarnya, mungkin dia hanya akan menjadi pengagum rahasia istri Martin tersebut.


Martin dan Aira segera pergi dari hadapan mereka, sementara Tirta melihat keduanya yang begitu mesra, pria tampan dengan cambang dan rambut ikalnya itu, tampak mengukirkan senyum manisnya kepada dua pasangan pengantin baru itu.


"Astaghfirullah! Hampir saja Aku tergoda dengan istri orang lain, dia memang cantik, anggun dan shalihah. Tapi sayang dia sudah ada yang punya." batin Tirta. Mereka pun kembali melanjutkan obrolan mereka yang belum tuntas.


*


*


*


*


"Kamu kenapa? Dari tadi Aku perhatikan, kamu kelihatan memikirkan sesuatu!" Aira menoleh dan menatap suaminya dengan tersenyum.


"Mas, nggak tahu kenapa, Aku melihat Tante Isti dan Om Prapto kok kayak nggak asing gitu, kayak Aku tuh pernah kenal sama mereka, tapi entahlah Aku juga bingung." jawabnya.


"Om Prapto dan Tante Isti memang orang tua Lita, mereka berdua baik banget, dan mereka juga yang sudah membantu usaha kita hingga seperti sekarang, mereka berdua sangat bijak, mereka tahu jika pernikahan kita karena sebuah wasiat, dan mereka menghormati keputusanku, meskipun Lita tidak bisa menerimanya," ucapan Martin rupanya membuat Aira menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Maafkan Aku, Mas!"


"Untuk apa?"


"Gara-gara wasiat itu, hubungan mu dan Lita terputus, maafkan Aku, Mas! Aku tidak bermaksud merebut kamu dari tangan Lita. Pantas saja dia sangat emosi."


Martin menepikan mobilnya dan menatap wajah istrinya dalam-dalam.


"Dengarkan, Aku! Berakhir nya hubungan ku dengan Lita, tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kehadiran dirimu, Aku memang memutuskan hubungan ini karena sikap Lita yang mulai berani kepadaku, Ia tak sadar sudah membuatku semakin menjauhinya, dia sangat egois, bagaimana jadinya jika Ia menjadi istriku nanti, tentu saja Ia akan menginjak harga diriku dengan mudah."


Aira menundukkan wajahnya, sementara Martin mengangkat wajah sang istri dan berkata, "Kamu jangan menyalahkan dirimu, kita sudah ditakdirkan berjodoh, sampai kapanpun Aku tidak akan pernah menduakanmu, bagiku ... memiliki mu sudah sangat membuatku bersyukur, kau mempunyai segalanya, paras yang cantik dan tentu saja akhlak yang mulia, itu sudah cukup membuatku bahagia."


...**BERSAMBUNG...


*


*


*


Yuk mampir dulu ke karya punya kak Ocybasoaci ... cuzz 🏃🏃👍**


JANGAN HINA KEKURANGANKU (Ocybasoaci)


Cyra adalah gadis yang terlahir dengan kelainan genetik, kebotakan sejak lahir. Dia dipaksa menggunakan hijab untuk menutupi kekuranganya. Keluarganya menganggap bahwa Cyra adalah pembuat malu. Dia juga sering mendapatkan kekerasan dari orang tuanya.


Karena bisnis keluarga terancam bangkrut, Cyra dijodohkan dengan Naqi (cucu pengusaha kaya) dengan perjanjian keluarga Naqi akan mengucurkan dana untuk bisnis orang tua Cyra.

__ADS_1


Di malam pertama, Naqi terkejut dengan kebotakan Cyra. Naqi marah karena merasa dibohongi. Bagaimana nasib Cyra? Akankah ia kembali mengalami kekerasan seperti yang dulu pernah dialami?



__ADS_2