Athan & Aletta

Athan & Aletta
Ketua Festival Seni


__ADS_3


“disekolah itu bukan hanya soal belajar dikelas aja, tapi ada juga harus tau yang masalah lain.”


 


...


Aletta menuruni


tangga keluar dari kamarnya, gadis itu sudah siap memakai seragam sekolahnya


lengkap dengan tas di punggung berwarna kuning pastel, warna kesayangannya.


Saat menuju dapur, dia sudah melihat Athan dan Dimas yang ada di


meja makan menunggunya, Athan yang sudah memakai seragam sekolahnya dan Dimas


dengan pakaian santainya.


“pagi.” Sapa Aletta


“pagi Angel.” Jawab Dimas yang membuat Athan melotot pada kakaknya


itu. “lo kenapa sih babi!.”


“udah berapa kali gue bilang bang, jangan manggil Aletta angel


lagi.”


“emangnya kenapa, gue kan kenal Aletta lebih dulu.”


“tapi kan Aletta nya sama gue.”


“udaahhh! Jangan berantem, gue laper nih.”


Aletta menghentikan perdebatan Dimas dan Athan, gadis itu meminum


susu yang ada di gelas buatan bi Indah. Suara motor terdengar di luar, mereka


bertiga langsung menengok kearah pintu.


“gue berangkat duluan.” Pamit Aletta sambil berdiri dari tempat


duduknya.


“lah lo kan bareng gue ta.” Protes Athan.


“gue udah janji sama Areksa, jadi lo berangkat sendiri aja, bye.”


Aletta meninggalkan ruang makan dan keluar dari rumah, terlihat


Areksa yang tengah mengobrol dengan penjaga dirumah Aletta. Areksa nampak


sangat akrab dengan penjaga rumah Aletta, dia juga ramah dan murah senyum.


“sorry ya lama.”


“eh engga kok, mau berangkat sekarang?.”


“boleh.”


Aletta memakai helm kuningnya dan naik keatas motor vespa milik


Areksa. Salama di perjalanan mereka saling mengobrol, Areksa mengatakan kalau


penjaga di rumah Aletta dulu pernah kerja di rumahnya juga, tapi kontrak


dirumah Areksa selesai sejak tiga bulan yang lalu dan ibu Areksa memutuskan


untuk tidak memakai penjaga lagi.


Mereka berdua sampai disekolah bersamaan dengan Athan yang juga


sampai di sekolah. Dari kejauhan Dinda langsung menghampiri Athan dan memeluk


lengannya erat.


“lo apaan sih din.”


“gue tuh kangen sama lo.”


“gila lo ya, minggir sana.”


Mata Athan masih melihat kearah Areksa dan Aletta yang seperti


pasangan, bahkan Areksa membantu Aletta melepaskan helm yang dipakai Aletta.


Tanpa mengajak Athan, mereka berdua berjalan masuk ke sekolah.


Aletta masuk kedalam kelasnya begitu pula Areksa. Lala yang


melihat pemandangan indah di pagi hari menatap Aletta penuh tanda tanya.


“jadi lo sama dia sampek mana?.”


“apaan sih la, gue ngga ada apa-apa sama Areksa.”


“ihh malu-malu banget.”

__ADS_1


Aletta hanya senyum-senyum, perutnya seakan berputar jika


mendengar nama Areksa, jantungnya pun berdebar sangat kencang, berbeda saat dia


mulai menyukai Athan waktu itu, sekarang dia lebih bahagia karena merasa Areksa


menyukainya, walaupun Aletta sendiri tidak tau perasaannya, apakah menyukai


Areksa atau masih stuck di Athan.


Dibangku paling depan, beberapa kali Athan melihat Aletta dari


ponselnya yang ia arahkan ke Aletta.


“lo kenapa sih than? Samperin lah.” Ucap Dicky karena merasa risih


melihat Athan.


“males.”


“rasain tuh.”


“apa.”


“dulu Aletta suka sama lo, lo sia-sia in. giliran dia sama cowok


lain, lo nyesel kan.”


“engga.”


“kelihatan kalik, jadi orang jangan egois gitu, Aletta juga butuh


orang yang sayang sama dia sebagai cewek bukan Cuma sahabat deketnya doang.”


“gue juga sayang sama dia.”


“lo sayang sama dia sekaligus lo nyakitin dia, berapa cewek yang


udah lo kenalin ke Aletta sebagai Cewek lo, padahal Aletta tidak pernah punya


cowok, Cuma suka sama lo.”


“gue ngga nyakitin dia.”


“lo aja ngga sadar sampek sekarang, kalo dulu lo tau Aletta suka


sama lo, lo tau juga harusnya perasaan dia gimana liat lo jadian sama Alisa.”


Athan terdiam.


“apa-apa itu ngaca, kalo mau nyalahin orang juga ngaca, lo nya


Guru datang menghentikan pembicaraan mereka, wanita cantik paruh


baya terkenal killer di kelas itu memanggil Aletta setelah memberikan tugas di


kelas.


Aletta mengikuti Bu Vira ke ruangannya yang ada di lantai dua,


mengenai festival seni tahunan yang akan di laksanakan beberapa minggu lagi.


Aletta duduk di samping Grace yang sudah menunggu diruangan bu


Vira, selain wali kelas 11 IPS 1, bu Vira juga penanggung jawab MPK SMA Galileo.


“persiapan festival seni tahunan SMA Galileo tinggal menghitung minggu,


dan kebetulan menuju hari-H festival Grace harus mengikuti olimpiade


internasional di Singapura sedangkan dia adalah ketua di acara tahun ini. Kamu


Aletta, adalah wakil ketua Grace, jadi mulai hari ini Grace akan berhenti


mengurusi masalah festival karena dia harus mempersiapkan olimpiade mewakili


SMA Galileo di tingkat Internasional.”


“saya bu?.”


“iya kamu.”


“sorry banget ta, dadakan soalnya, ngga tau kalo gue bakal dipilih


ikut kompetisi di tingkat internasional.”


“iya Aletta, dari kepala sekolah juga baru mengatakan hal ini.”


“saya tidak masalah kok bu, saya senang Grace akhirnya bisa


melebarkan sayapnya, seneng banget. Saya akan berusaha semampu saya di festival


kali ini untuk menggantikan posisi Grace.”


Grace mengeluarkan berkasnya dari dalam tas, “ini semua mengenai


acara festival dan juga tanggung jawab lo untuk menghandle anak keuangaan,


jangan sampai ada masalah dalam keuangan apalagi kelancaran Acaranya.”

__ADS_1


“siap, thanks Grace.”


Aletta dan Grace keluar dari ruangan bu Vira bersamaan dengan


anak-anak kelas 10 IPS 1 yang baru saja keluar dari lab Komputer. Aletta yang


melihat Areksa dari jauh tengah berjalan dengan teman-temannya langsung beralih


posisi jalan dekat tembok.


“lo kenapa ta?.”


“engga kok.”


“Aletta!.”


Panggilan itu membuat Aletta dan Grace menengok ke belakang.


Areksa menitipkan bukunya pada temannya dan menghampiri Aletta.


“kalian habis ngapain? Hi kak Grace.”


Grace yang merasa canggung di anatara Aletta dan Areksa berpamitan


dahulu menuju perpustakaan, tinggalan Aletta dan Areksa saja.


“mau ke kantin bareng?.” Ajak Areksa


“boleh.”


Mereka berdua berjalan bersama menuju kantin, Areksa menyuruh


Aletta duduk saja di bangku kosong, dia yang memesankan makanan untuk gadis


itu. Bakso dan es teh, makanan kesukaan Aletta yang dijual oleh kantin sekolah.


“berapa?.”


“ngga usah, gue yang traktir.”


“lo kan sering traktir gue.”


“kan emang dasarnya cowok bayarin cewek.”


Aletta merasa tidak enak pada Areksa yang selalu membayari


makanannya.


Athan baru saja datang dengan Aldo dan Dicky, pandangannya


langsung tertuju pada Aletta yang tengah tertawa dengan Areksa. Dicky yang


sadar hanya menepuk pundak Athan pelan.


“sabar bro.”


“biasa aja kalik gue.”


Athan langsung menghampiri Areksa dan duduk disamping lelaki itu


sambil merangkul pundaknya akrab.


“woi!.” Teriak Athan


Aldo dan Dicky pun ikut bergabung di meja Aletta dan Areksa.


“eh bang.”


“Aletta ternyata disini juga, lo bukannya masuk kelas malah


makan.” Athan menarik mangkuk bakso milik Aletta dan memakannya.


“Athan nyebelin banget itu makanan gue.”


“pesen lagi sayang.” Jawab Athan santai, kedua temannya hanya


menggeleng.


“mau gue pesenin lagi?.” Tanya Areksa pada Aletta dengan manis.


“engga usah, udah kenyang.”


Aletta beranjak dari duduknya.


“mau kemana?.”


“kelas, ngerjain tugas.”


Areksa yang juga beranjak dari duduknya, ditahan oleh Athan agar


tetap duduk di tempatnya.


“eh mau kemana? Ada yang mau kita bahas.”


“tapi Aletta.”


“biarin aja, dah jauh tuh.”


“ya udah deh.” Areksa kembali duduk di samping Athan.

__ADS_1



__ADS_2