
“disekolah itu bukan hanya soal belajar dikelas aja, tapi ada juga harus tau yang masalah lain.”
...
Aletta menuruni
tangga keluar dari kamarnya, gadis itu sudah siap memakai seragam sekolahnya
lengkap dengan tas di punggung berwarna kuning pastel, warna kesayangannya.
Saat menuju dapur, dia sudah melihat Athan dan Dimas yang ada di
meja makan menunggunya, Athan yang sudah memakai seragam sekolahnya dan Dimas
dengan pakaian santainya.
“pagi.” Sapa Aletta
“pagi Angel.” Jawab Dimas yang membuat Athan melotot pada kakaknya
itu. “lo kenapa sih babi!.”
“udah berapa kali gue bilang bang, jangan manggil Aletta angel
lagi.”
“emangnya kenapa, gue kan kenal Aletta lebih dulu.”
“tapi kan Aletta nya sama gue.”
“udaahhh! Jangan berantem, gue laper nih.”
Aletta menghentikan perdebatan Dimas dan Athan, gadis itu meminum
susu yang ada di gelas buatan bi Indah. Suara motor terdengar di luar, mereka
bertiga langsung menengok kearah pintu.
“gue berangkat duluan.” Pamit Aletta sambil berdiri dari tempat
duduknya.
“lah lo kan bareng gue ta.” Protes Athan.
“gue udah janji sama Areksa, jadi lo berangkat sendiri aja, bye.”
Aletta meninggalkan ruang makan dan keluar dari rumah, terlihat
Areksa yang tengah mengobrol dengan penjaga dirumah Aletta. Areksa nampak
sangat akrab dengan penjaga rumah Aletta, dia juga ramah dan murah senyum.
“sorry ya lama.”
“eh engga kok, mau berangkat sekarang?.”
“boleh.”
Aletta memakai helm kuningnya dan naik keatas motor vespa milik
Areksa. Salama di perjalanan mereka saling mengobrol, Areksa mengatakan kalau
penjaga di rumah Aletta dulu pernah kerja di rumahnya juga, tapi kontrak
dirumah Areksa selesai sejak tiga bulan yang lalu dan ibu Areksa memutuskan
untuk tidak memakai penjaga lagi.
Mereka berdua sampai disekolah bersamaan dengan Athan yang juga
sampai di sekolah. Dari kejauhan Dinda langsung menghampiri Athan dan memeluk
lengannya erat.
“lo apaan sih din.”
“gue tuh kangen sama lo.”
“gila lo ya, minggir sana.”
Mata Athan masih melihat kearah Areksa dan Aletta yang seperti
pasangan, bahkan Areksa membantu Aletta melepaskan helm yang dipakai Aletta.
Tanpa mengajak Athan, mereka berdua berjalan masuk ke sekolah.
Aletta masuk kedalam kelasnya begitu pula Areksa. Lala yang
melihat pemandangan indah di pagi hari menatap Aletta penuh tanda tanya.
“jadi lo sama dia sampek mana?.”
“apaan sih la, gue ngga ada apa-apa sama Areksa.”
“ihh malu-malu banget.”
__ADS_1
Aletta hanya senyum-senyum, perutnya seakan berputar jika
mendengar nama Areksa, jantungnya pun berdebar sangat kencang, berbeda saat dia
mulai menyukai Athan waktu itu, sekarang dia lebih bahagia karena merasa Areksa
menyukainya, walaupun Aletta sendiri tidak tau perasaannya, apakah menyukai
Areksa atau masih stuck di Athan.
Dibangku paling depan, beberapa kali Athan melihat Aletta dari
ponselnya yang ia arahkan ke Aletta.
“lo kenapa sih than? Samperin lah.” Ucap Dicky karena merasa risih
melihat Athan.
“males.”
“rasain tuh.”
“apa.”
“dulu Aletta suka sama lo, lo sia-sia in. giliran dia sama cowok
lain, lo nyesel kan.”
“engga.”
“kelihatan kalik, jadi orang jangan egois gitu, Aletta juga butuh
orang yang sayang sama dia sebagai cewek bukan Cuma sahabat deketnya doang.”
“gue juga sayang sama dia.”
“lo sayang sama dia sekaligus lo nyakitin dia, berapa cewek yang
udah lo kenalin ke Aletta sebagai Cewek lo, padahal Aletta tidak pernah punya
cowok, Cuma suka sama lo.”
“gue ngga nyakitin dia.”
“lo aja ngga sadar sampek sekarang, kalo dulu lo tau Aletta suka
sama lo, lo tau juga harusnya perasaan dia gimana liat lo jadian sama Alisa.”
Athan terdiam.
“apa-apa itu ngaca, kalo mau nyalahin orang juga ngaca, lo nya
Guru datang menghentikan pembicaraan mereka, wanita cantik paruh
baya terkenal killer di kelas itu memanggil Aletta setelah memberikan tugas di
kelas.
Aletta mengikuti Bu Vira ke ruangannya yang ada di lantai dua,
mengenai festival seni tahunan yang akan di laksanakan beberapa minggu lagi.
Aletta duduk di samping Grace yang sudah menunggu diruangan bu
Vira, selain wali kelas 11 IPS 1, bu Vira juga penanggung jawab MPK SMA Galileo.
“persiapan festival seni tahunan SMA Galileo tinggal menghitung minggu,
dan kebetulan menuju hari-H festival Grace harus mengikuti olimpiade
internasional di Singapura sedangkan dia adalah ketua di acara tahun ini. Kamu
Aletta, adalah wakil ketua Grace, jadi mulai hari ini Grace akan berhenti
mengurusi masalah festival karena dia harus mempersiapkan olimpiade mewakili
SMA Galileo di tingkat Internasional.”
“saya bu?.”
“iya kamu.”
“sorry banget ta, dadakan soalnya, ngga tau kalo gue bakal dipilih
ikut kompetisi di tingkat internasional.”
“iya Aletta, dari kepala sekolah juga baru mengatakan hal ini.”
“saya tidak masalah kok bu, saya senang Grace akhirnya bisa
melebarkan sayapnya, seneng banget. Saya akan berusaha semampu saya di festival
kali ini untuk menggantikan posisi Grace.”
Grace mengeluarkan berkasnya dari dalam tas, “ini semua mengenai
acara festival dan juga tanggung jawab lo untuk menghandle anak keuangaan,
jangan sampai ada masalah dalam keuangan apalagi kelancaran Acaranya.”
__ADS_1
“siap, thanks Grace.”
Aletta dan Grace keluar dari ruangan bu Vira bersamaan dengan
anak-anak kelas 10 IPS 1 yang baru saja keluar dari lab Komputer. Aletta yang
melihat Areksa dari jauh tengah berjalan dengan teman-temannya langsung beralih
posisi jalan dekat tembok.
“lo kenapa ta?.”
“engga kok.”
“Aletta!.”
Panggilan itu membuat Aletta dan Grace menengok ke belakang.
Areksa menitipkan bukunya pada temannya dan menghampiri Aletta.
“kalian habis ngapain? Hi kak Grace.”
Grace yang merasa canggung di anatara Aletta dan Areksa berpamitan
dahulu menuju perpustakaan, tinggalan Aletta dan Areksa saja.
“mau ke kantin bareng?.” Ajak Areksa
“boleh.”
Mereka berdua berjalan bersama menuju kantin, Areksa menyuruh
Aletta duduk saja di bangku kosong, dia yang memesankan makanan untuk gadis
itu. Bakso dan es teh, makanan kesukaan Aletta yang dijual oleh kantin sekolah.
“berapa?.”
“ngga usah, gue yang traktir.”
“lo kan sering traktir gue.”
“kan emang dasarnya cowok bayarin cewek.”
Aletta merasa tidak enak pada Areksa yang selalu membayari
makanannya.
Athan baru saja datang dengan Aldo dan Dicky, pandangannya
langsung tertuju pada Aletta yang tengah tertawa dengan Areksa. Dicky yang
sadar hanya menepuk pundak Athan pelan.
“sabar bro.”
“biasa aja kalik gue.”
Athan langsung menghampiri Areksa dan duduk disamping lelaki itu
sambil merangkul pundaknya akrab.
“woi!.” Teriak Athan
Aldo dan Dicky pun ikut bergabung di meja Aletta dan Areksa.
“eh bang.”
“Aletta ternyata disini juga, lo bukannya masuk kelas malah
makan.” Athan menarik mangkuk bakso milik Aletta dan memakannya.
“Athan nyebelin banget itu makanan gue.”
“pesen lagi sayang.” Jawab Athan santai, kedua temannya hanya
menggeleng.
“mau gue pesenin lagi?.” Tanya Areksa pada Aletta dengan manis.
“engga usah, udah kenyang.”
Aletta beranjak dari duduknya.
“mau kemana?.”
“kelas, ngerjain tugas.”
Areksa yang juga beranjak dari duduknya, ditahan oleh Athan agar
tetap duduk di tempatnya.
“eh mau kemana? Ada yang mau kita bahas.”
“tapi Aletta.”
“biarin aja, dah jauh tuh.”
“ya udah deh.” Areksa kembali duduk di samping Athan.
__ADS_1
⁂