
“Terkadang untuk mencapai sebuah kisah harus melalui kekecewaan”
Areksa berjalan mendekati Aletta perlahan,
menyentuh pipi Aletta lembut “kamu tau kalau aku sangat mencintaimu?.” Ucap
Areksa
Aletta hanya menggeleng sambil mengeratkan jubah mandinya.
Bughh!!!
Sebuah pukulan melayang tepat di wajah tampan Areksa hingga lelaki
itu terjatuh di lantai, Athan menarik kerah seragam milik Areksa dan kembali
memukuli wajah lelaki itu hingga babak belur.
“stop!! Hiks hiks.” Aletta menundukkan wajahnya terduduk dilantai
sambil menangis, suara tangisan dan teriakan Aletta membuat Athan menghentikan
pukulannya dan menarik Areksa keluar dari rumah Aletta.
“jangan pernah lo balik kesini lagi!.” Tegas Athan.
Segera Athan naik kelantai dua dikamar Aletta, gadis itu masih
menangis di sudut ruangan, tubuhnya masih sama berbalut jubah mandi.
“ta.” Sentuh Athan lembut
“Pergi!!.” Teriak Aletta
“ini gue Athan.”
Aletta yang mendengar nama Athan langsung mendongak melihat,
seakan bertemu malaikat penyelamat, Aletta memeluk Athan erat.
“cup cup udah jangan nangis lagi, gue ada disini. Sorry ninggalin
lo.” Ucap Athan mengusap lembut bahu Aletta.
Perlahan Athan membawa Aletta duduk diranjang, “bentar ya.”
“lo mau kemana?.” Tanya Aletta lirih
“ambil minum di dapur bentar doang, okay.”
Aletta mengangguk, Athan pun meninggalkan kamar gadis itu dan
menutupnya kembali. dirasa sudah mulai tenang, Aletta mengambil pakaiannya di
lemari pakaian dan memakainya dikamar mandi.
Bersamaan dengan Aletta keluar dari kamar mandi, Athan datang
membawa minuman hangat yang baru saja di buatnya.
“ini minum dulu.”
“makasih.”
Athan mengangguk dan duduk di samping Aletta.
“gue ngga mau sama Areksa.” Lirih Aletta pilu
Athan kembali memeluk Aletta erat, “iya ta, udah ngga papa, gue
ada disini kan, gue bakal selalu lindungin lo.”
Aletta mengangguk.
Melihat Aletta yang sudah terlelap dalam tidurnya, Athan
meninggalkan gadis itu turun kelantai satu, tepat bi Indah baru saja datang
dari belanja.
“loh den Athan.”
“bi, tolong ya jagain Aletta.”
“kenapa?.”
“ngga papa, Aletta kecapekan.”
“baik den.”
Athan meninggalkan rumah Aletta dan pergi ke Markas, disana sudah
ada Roni, Dicky dan Aldo. Athan sudah menceritakan semua nya pada mereka
bertiga soal Aletta dan Areksa.
“lo yakin than?.”
“iya gue yakin bakal keluarin Areksa dari Arcux.”
“gue ngga setuju.” Ucap Dicky
__ADS_1
“maksud lo apaan?.”
“Arcux ngga bisa digabungin dengan masalah pribadi, itu masalah
Aletta dan Areksa, Arcux ngga bisa dikorbanin hanya karena itu.”
“benar kata Dicky, untuk hal ini bukan masalah Arcux. Itu masalah
pribadi hubungan Areksa dan Aletta.” Tambah Roni
“iya than, lo ngga bisa kayak gini, kita semua tau kalo lo suka
sama Aletta, tapi itu bukan masalah Arcux, kita bisa sidang Areksa disini
karena masalah itu tapi kita ngga bisa mengeluarkan Areksa begitu saja.”
“oke fine.”
Beberapa menit kemudian Areksa datang dengan wajahnya yang penuh
plester. Areksa hanya diam menunduk, dia sendiri sadar kalau dia salah.
“lo bisa jelasin semua?.” Tanya Dicky datar
“sorry bang, gue kelepasan. Gue ngga tau lagi kenapa gue bisa
kayak gitu, gue Cuma ngga mau kehilangan Aletta.”
“tapi ngga lo gituin juga bangsat!.” Bentak Athan
“gue minta maaf bang.”
“minta maaf sama Aletta dan siap-siap aja lo diputusin, urus tuh
anak, males gue.” Ucap Athan meninggalkan markas
Aldo menepuk pundak Areksa pelan, “kesalahan lo ini besar buat
Athan, Athan selalu menjaga Aletta sejak dulu, dan lo hampir ngelakuin hal yang
seharusnya ngga lo lakuin.”
“gue tau bang, gue bakal mengundurkan diri dari Arcux.”
“Arcux bukan kayak gitu rek, kalo lo ngaku salah, kita tetaplah
keluarga. Kita tau gimana perasaan lo yang takut kehilangan Aletta, dan kita
tau lo salah, bukan berarti lo keluar dari sini menyelesaikan segalanya. Minta
maaf sama Aletta dan selesaikan secara baik-baik, kita tetap keluarga lo
disini, lo orang baik, lo hanya sekali salah bukan berarti kebaikan lo ketutup
semua.”
“thanks bang.”
di ranjang, Athan duduk di sofa terdiam. Hingga menjelang pagi, Aletta membuka
mata tatkala sinar mentari memantul mengenai wajah cantiknya, Aletta melihat
Athan yang tertidur di sofa.
“Athan.” Panggil lirih Aletta
Athan membuka matanya perlahan
“eh lo udah bangun.”
“itu badan lo ngga sakit semu tidur disofa?.”
“engga kok hehe, lo udah bangun kan, gue keluar dulu.”
“iya.”
Athan keluar dari kamar Aletta menuju kamar tamu untuk mandi dan
bersiap berangkat sekolah, begitupula Aletta yang juga bersiap berangkat
sekolah.
Hanya butuh beberapa menit mereka siap berangkat, Aletta
memutuskan untuk tidak sarapan karena harus mengadakan rapat dengan anak MPK
pagi ini. Begitupula Athan yang harus berangkat dengan Aletta.
Sampai di parkiran, mereka berdua bertemu dengan Areksa yang
menunggu Aletta di motornya.
“ta.”
“ngapain lo.” Ucap Athan ketus
“ngga papa than, lo duluan aja.” Suruh Aletta pada Athan.
Dengan wajah yang masih kesal, Athan pergi.
“gue mau kita putus.” Ucap Aletta
“iya ta, gue tau lo pasti bakal putusin gue, tapi gue minta maaf
soal kemarin, gue ngga maksud kayak gitu ke lo.”
“ngga papa rek, gue udah maafin kok.”
__ADS_1
“makasih ya ta.”
“sama-sama.”
“ta.”
“kenapa lagi?.”
“gue masih bisa jadi temen lo kan?.”
“lo masih temen gue kok sampek kapanpun.” Aletta menepuk pundak
Areksa sambil sedikit tersenyum
“makasih banyak ta.”
“iya.”
Aletta meninggalkan Areksa disana, walaupun mereka sudah putus,
tapi sampai kapanpun perasaan Areksa pada Aletta tidak akan pernah berubah,
Aletta adalah cinta pertamanya dan akan menjadi cinta terakhirnya sampai
kapanpun.
“bodoh.”celetuk Alisa yang baru saja datang
“ini semua gara-gara lo! ****** sialan!.” Ucap Areksa didepan
wajah Alisa
“apa lo bilang?.”
“lo ******, sama aja kayak nyokap lo!.”
Plakk
Satu tamparan mengenai pipi kiri Areksa.
“hahaha emang gue salah? Engga kan?.”
Alisa meninggalkan Areksa begitu saja.
Beberapa anak SMA Galileo melihat perdebatan mereka, termasuk
Dinda dan Micella yang tersenyum puas mengetahui hubungan Areksa dan Alisa
tidak sesimpel itu.
“berita bagus.” Ucap Dinda
Dinda berjalan menghampiri Areksa.
“hi.” Sapa Dinda
“kenapa?.”
“gue tadi liat lo ngobrol sama Alisa.”
“bukan urusan lo.” Jawab Areksa ketus dan meninggalkan Dinda yang
kesal.
Micella menghampiri Dinda dan memberikan ponselnya pada Dinda.
“jadi bener Areksa dan Alisa saudara.”
“iya tapi beda nyokap.”
“hahaha ternyata emang Alisa keturunan ******.”
Alisa melempar lipstiknya ke kaca toilet, wajahnya sangat kesal
sama seperti saat dia meninggalkan Indonesia beberapa bulan yang lalu.
“ini semua gara-gara mama!!.” Teriak Alisa
Alisa mencuci wajahnya dengan air jernih dari kran dan tersenyum,
“gue benci sama lo!.”
Brakk
Suara pintu toilet terbuka membuat Alisa menengok ke belakang
kearah pintu, melihat seseorang di ambang pintu, Alisa langsung mengambil
lipstiknya dan dimasukkan dalam kantong seragam.
“ngapain lo kesini? Gue ngga ada masalah sama lo.”
“iya sih tapi lo lupa kalo lo daftar king and queen.”
“terus?.”
Dinda berjalan kearah Alisa dan menarik rambut gadis itu. “gue
nyuruh lo ngga daftar ****** sialan! Lo tuli ya.”
“lepasin gue!.”
“pegangin tangannya.”
Dua teman Dinda memegang kedua tangan Alisa, Dinda mengambil
sebuah botol dari tangan Micella, botol yang berisi saus busuk dan
__ADS_1
menuangkannya di seragam Alisa. “upss sorry, cabut guys!.”
⁂