
“disaat hati tak baik, terkadang kita memiliki ambisi tentang masa depan”
*
Athan membuka matanya, sebuah tangan menyentuh pipinya lembut. Semalam dia tidur disofa ruang santai dirumah Aletta, bahkan tidak sadar kalau Aletta memberikannya selimut.
“bangun, sekolah.” Ucap Aletta, dia sudah siap dengan seragam sekolahnya walaupun belum memakai jas dan juga sepatu
“jam berapa?.”
“6, cepet mandi sana.”
Athan mengangguk, dia pergi ke kamar Aletta untuk numpang mandi.
Fakta nya Athan punya baju lengkap di rumah Aletta, termasuk seragam sekolah karena lelaki itu sering tidur di rumah Aletta ketimbang dirumahnya sendiri. Setelah memakai seragam lengkap beserta sepatunya, Athan menuruni tangga. Dilihatnya Dimas yang sudah bergabung dimeja makan.
“udah mendingan bang?.”
“hm.” Jawab nya singkat, Aletta hanya menggeleng-geleng pada Athan.
Jam 7 kurang 15 menit Athan dan Aletta memutuskan untuk berangkat sekolah, tanpa pamit ke Dimas karena dia berada di kamarnya.
Sampai disekolah, bersamaan dengan Kelvin yang baru saja turun dari motornya.
“pagi cantik.” Sapa Kelvin kearah Aletta yang baru saja turun dari motor Athan
“mata lo buta, ini punya gue.”
“santai bro.”
“udah than, orang gila mah jangan di dengerin.” Ucap Aletta sembari mengajak Athan masuk kesekolah.
Saat tengah berada di lorong menuju kelas dengan Aletta, Bu Vira menganggil Athan.
“Athan ikut saya keruangan.”
“kenapa ya bu?.”
“nanti ibu jelaskan.”
“baik bu, lo duluan aja ta.”
“okay.”
Athan mengikuti Bi Vira ke ruangannya, sedangkan Aletta berjalan menuju kelas, bersamaan dengan Lala yang baru saja keluar dari toilet.
“selamat pagi Aletta Fredella Emilio.”
“apaan sih.”
“hahaha mana Athan? Biasanya lo sama dia.”
“dipanggil bu Vira.”
“kebiasaan pasti ulangannya ancur tuh.”
“maybe.”
Athan duduk di depan Bu Vira, wanita yang sangat sensitive dengan Athan karena setiap hari membuat ulah itu hari itu tersenyum disepanjang pertemuannya dengan Athan.
“ibu tidak tau kalau kamu mengajukan pendaftaaran kuliah di luar negeri.”
“ha?.”
Bu Vira mengeluarkan surat dari dalam lacinya dan memberikannya pada Athan.
“Essai yang kamu tulis itu mendapatkan nilai tinggi, dan kamu bisa masuk di salah satu universitas terbaik di London.”
Beberapa bulan yang lalu sebelum jadian dengan Aletta, saat Aletta Jadian dengan Areksa, Athan menulis sebuah Essai yang dikirim ke salah satu universitas terbaik di London, hanya iseng, dia tidak menyangka kalau Essainya diterima.
“tapi saya tidak berniat meneruskan sekolah di London bu.” Jawab Athan
“serius, disana universitasnya bagus Athan, bukan hanya masa depanmu yang terjamin, tapi nama sekolah akan sangat baik jika alumninya mendapatkan universitas terbaik di luar negeri.”
__ADS_1
“tapi-.”
“coba fikir-fikir dulu, lagian kamu belum lulus masih ada waktu kurang dari setahun sebelum kamu lulus.”
“baik bu saya akan fikirkan kembali, saya boleh keluar sekarang kan bu.”
“iya silakan.”
Athan keluar dari ruangan bu Vira dengan surat yang ada di tangannya, lelaki itu langsung memasukkan kedalam tas, dia tidak akan memberitahukan Aletta.
Sampai dikelas, Athan hanya duduk diam di bangkunya.
“hoi bro.” ucap Dicky yang duduk disamping Athan
“ha?.”
“lo diem aja.”
“ngga papa.”
Pesan singkat masuk ke ponsel Athan, nama Bokap tertera dilayar.
Bu Vira sudah menghubungi papa, katanya kamu diterima di London University, katanya kamu masih bingung mau lanjut kesana apa engga. Nanti sepulang sekolah temui papa di café depan sekolahmu.
Pesan singkat yang membuat Athan mengepalkan tangannya, pria paruh baya itu akhir-akhir ini membuatnya sangat marah apalagi mengingat kalau dia merebut wanita paling berharga dalam hidup Dimas.
“Athan.” Panggil Aletta
“eh iya?.” Athan menengok kebelakang
“ada masalah lagi sama Bu Vira.”
“engga kok, Cuma masalah absen doang, tapi udah ngga papa santai aja.”
“ohhh gitu, lain kali jangan bolos lagi kan udah kelas 12.”
.
Athan melangkahkan kakinya menyebrangi jalan, Aletta hari ini rapat MPK, jadi sembari menunggu kebetulan dia akan bertemu dengan ayahnya, jadilah Athan saat ini berada didepan seorang pria paruh baya dengan setelan rapi.
“gue ngga berangkat ke London, Kuliah disini saja.” Ucap Athan to the point
“memangnya gue butuh ijin lo.”
“kalo ngomong sama papa yang sopan, ngga tau sopan santun kamu, kayak Dimas yang sopan.”
“hahaha emangnya papa tau tentang bang Dimas?.”
“tau! Dia anak penurut, ngga kayak kamu.”
“kalau papa tau kenapa punya bang Dimas di ambil juga.”
“maksudmu apa?.”
“Diana, emang papa tau dia?.”
“panggil yang bener, dia calon mama mu.”
“ngga tau diri banget jadi orang, udah tua juga.” Celetuk Athan
Plakk
Satu tamparan keras terkena dipipi Athan.
“hahaha ngga seberapa ketimbang papa menyakiti bang Dimas.” Athan mendekat kearah ayahnya “Diana itu orang yang di sukai bang Dimas sejak SMA, dan mereka satu SMA, bisa-bisanya papa mengambilnya.”
Degg
“jangan bicara omong kosong kamu Athan.”
“kalo ngga percaya tanya aja sama Diana.” Athan berdiri dari duduknya “gue mau lanjut ke London kalau papa melepaskan Diana untuk Dimas.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Athan meninggalkan café dan kembali kesekolahnya.
Athan menghisap rokoknya, beberapa anak Arcux tengah merokok di warung samping sekolah sambil makan, ada juga yang asik nyanyi sambil gitaran. Sedangkan Athan duduk di samping Aldo yang tengah makan, katanya sih ada basket setelah ini jadi dia makan disana dengan anak-anak lain.
“ngga makan than?.” Tanya Aldo
__ADS_1
“engga, kenyang gue.”
“tadi ngapain di café depan.”
“biasa bokap gue ngasih duit jajan.”
“ohh kayak ngga punya rumah aja lo.”
“dia jarang balik kerumah dan kebetulan lewat jadi ngasihnya disitu aja.”
“ohh gitu.”
“tumben lo ngga nganter Lala balik.”
“dia disekolah, latihan piano.”
“pantesan anteng aja lo.”
“woi!!!.” Areksa baru saja datang dengan seragam yang masih lengkap.
“lah udah selesai rapat MPK?.” Tanya Athan
“udah bang, Aletta nungguin lo di parkiran, gue kesini mau ngasih tau lo.”
“ya udah gue duluan yak.”
“siap.”
Athan kembali ke parkiran sekolah, Aletta tengah duduk di samping motor Athan sambil memainkan ponsel. Bahkan Athan datang pun Aletta tidak sadar, Athan mencubit pipi Aletta hingga membuat empunya sedikit terkejut.
“ihh Athan.”
“lagian sibuk amat.”
“engga, Cuma baca noveltoon.”
“pantesan, kalo udah baca emang ga bisa diganggu ya cantikku ini.”
“apaan sih.”
Athan memakaikan helm di kepala Aletta.
“mau langsung pulang atau kemana dulu.”
“gue pengen makan siomay.”
“puji Tuhan Akhirnya isi juga.” Sambil mengusap perut rata Aletta
“ihh apaan sih gue ngga hamil bego!.”
“hahaha iya iya.”
Athan melajukan motornya menuju abang-abang soimay langganan mereka berdua yang duka mangkal didekat taman. Sampai disana Athan memarkirkan motornya dan berjalan menuju penjual Siomay.
“dua bang pedes kayak biasanya.”
“oke siap.”
Athan dan Aletta duduk di bangku yang sudah disediakan disana.
“gue bingung deh mau lanjut dimana, gue pengen banget masuk Kriminologi.”
“ya udah ambil aja yang ada jurusan Kriminologi nya.” Jawab Athan santai
“lo mau kemana?.”
Athan terdiam.
“emm gue… ngga tau masih mikir.”
⁂
__ADS_1