Athan & Aletta

Athan & Aletta
Senyuman


__ADS_3


“setidaknya cukup senyuman itu yang buat gue bahagia.”


 


Suara ayam


berkokok terdengar nyaring ditelinga, beberapa anggota Arcux sudah bangun dari


tidur nyenyaknya, yang muslim melaksanakan sholat subuh di masjid dekat markas


dan yang lain menaruh bansos keatas mobil pickup.


Disudut ada Aletta yang tengah bersandar dibahu Areksa, gadis itu


masih berada di alam mimpi. Padahal Areksa sudah bangun, tapi tetap diam


ditempatnya dan membiarkan Aletta tetap bersandar dibahunya. Hingga suara


teriakan Athan membuat gadis itu langsung membuka mata.


“Bangun semua woi!.”


“Athan berisik banget sih.” Rengek Dinda dengan wajah kusut habis


bangun tidur.


“din lo kucel banget.” Ucap Micella yang membuat Dinda langsung


membuka mata dan mengambil ponsel untuk mengaca.


“what?!.” Dinda langsung berlari kekamar mandi dengan membawa tas


make up kecilnya.


Aletta mengerjapkan mata, melihat disampingnya ada Areksa, gadis


itu tersenyum manis. Walaupun Areksa bukan pertama kali melihat senyuman itu


kepadanya, tapi jantungnya masih berdebar sangat kencang.


“pacaran mulu! Kerja!.” Sindir Athan, tapi malah Aldo dan Lala


yang merasa tersindir, mengingat mereka berdua baru saja datang dari masjid


untuk sholat subuh.


“orang kita baru selesai sholat.” Jawab Aldo kesal


“bukan lo.”


Aletta yang kesal karena sikap Athan langsung berdiri dan membantu


yang lain membereskan sampah-sampah sebelum keberangkatan mereka semua.


Selesai merapikan markas dan membereskan sampah yang ada dimana,


Aletta duduk di kusi dekat bengkel.


“mau aku antar pulang dulu, masih setengah jam lagi sebelum


berangkat.” Tawar Areksa


“boleh.”


“ngga usah, gue aja yang sama Aletta, lagian gue juga mau ambil


baju dirumah Aletta, lo balik aja siap-siap juga, ntar ketemu lagi disini.”


Ucap Athan menyela perbincangan Aletta dan Areksa.


“bener kata Athan, kamu balik aja siap-siap, aku bisa bareng


Athan.”


Areksa hanya mengangguk, sebagian pulang mengambil pakaian,


sebagian stay di markas, dan ada juga yang memang tidak menginap di markas jadi


sudah datang di markas sejak pagi dengan barang bawaan yang lengkap.


Sampai di rumah, Aletta langsung turun dari motor Athan.


“lo masih diem ta?.” Ucap Athan


“apa?.”


“yaa lo diem mulu.”


“terus gue harus ngomong apa lagi than?.”


“ya apa kek.”


“ngga ada, udah ih sana siap-siap, gue naik dulu.”


“dandan yang cantik.”


“emang gue biasa ngga cantik apa.”


“cantik banget dong.”


“cihh.”


Aletta naik kelantai dua menuju kamarnya untuk mandi dan


membereskan beberapa baju yang akan dibawanya, walaupun hanya semalam disana,


tapi tetap saja dia butuh baju ganti.


Tidak sampai 30 menit, Aletta menuruni tangga dengan membawa tas


kuning yang biasa dipakai sekolah, tas yang berisi sepasang pakaian, dan


beberapa skincare pentingnya, tak lupa membawa powerbank berjaga jikalau tidak


ada listrik.


Bersamaan dengan hal tersebut, Athan juga keluar dari kamar tamu


dengan pakaian rapi, celana jeans, kaos hitam, dan jaket denim hitam yang biasa


dipakainya kemana pun, jaket yang sudah dilukis anak-anak Arcux, termasuk tanda


tangan anak-anak Arcux.


Mereka berdua menuju ke markas, tidak butuh lama sampai disana dan

__ADS_1


semua sudah siap. Roni bertugas menyetir mobil dengan bansos diatasnya bersama


Dicky dan dua orang anak anggota Arcux duduk di belakang. Tadinya Athan


mengajak Aletta bareng dengannya, tapi Aletta sudah bersama Areksa, lagipula


aneh kalau Athan merebut Aletta yang sudah jadi pacar Areksa didepan anak-anak


Arcux, Alhasil Athan berboncengan dengan Dinda. Aldo dengan Lala seperti biasa,


dan Micella dengan anak Arcux lainnya.


Perjalanan ke desa ploso itu membutuhkan 4 jam perjalanan itupun


kalau dikota tidak macet, karena mereka berangkat lumayan pagi, kendaraan masih


sedikit, jalanan lancar. Masuk ke wilayah menuju pedesaan lumayan macet karena


ada pasar di tengah perempatan.


Jalanan menuju desa itu sepenuhnya bukan aspal, masih berupa


bebatuan dan tanah, keadaan yang samalam disana hujan, menambah jalanan makin


buruk, genangan air dimana-mana. Hal ini menandakan bahwa pembangunan belum


menyeluruh sampai ke plosok, tidak hanya jalanan yang buruk, bahkan angkutan


umum jarang di temukan, hanya ada truk pengangkut batu dan pasir dari sungai,


atau truk pengangkut kayu dari hutan.


Sampai di balai desa ploso (karangan penulis) mereka semua


mematikan motor, Athan langsung masuk kedalam menemui kepala desa, mereka juga


disambut hangat.


“selamat pagi pak.”


“mas Athan?.”


“iya pak.”


“oh iya, masuk-masuk mas.”


“terima kasih pak.”


“silakan duduk.”


Athan dan Roni duduk di sofa ruang tamu.


“ini mas siapa?.”


“Roni pak.”


“oh iya mas Roni.”


“saya sudah menghubungi dan menyerahkan surat secara resmi ke desa


ini satu minggu yang lalu pak, dan tadi malam saya sudah menghubungi bapak.”


“maaf lo ya hp saya ini kalau dirumah ngga ada sinyal, ya kalau


disini bisa pakai wifi. Tapi barusan saya sudaah baca pesan mas Athan, saya


“iya pak.”


“kalau diDesa ini hanya ada 20 kepala rumah tangga, bisa di lihat


sendiri kalau seluruhnya di isi hutan, saya juga sudah mengumumkan kalau akan ada


bansos dari anak-anak kota.”


“kira-kira kapan ya pak bisa membagikan?.”


“kalau misal pada kesini ya ngga bisa, tau sendiri jarak rumah


disini itu jauh-jauh, harus datang ke rumah-rumah.”


“ohh begitu.”


“nanti akan ada orang dari desa yang mengarahkan, kemungkinan bisa


sampai sore, rencana mau menginap dimana anak sebanyak ini? Kalau pulang ngga


mungkin, jalannya kalau malam ini bahaya, ngga ada lampu, ngga ada orang, kalau


kenapa-napa ngga ada yang tau. Menginap saja di villa sebelah, itu villa punya


saya, ya kalau ada kunjungan seperti ini berguna.”


“beneran pak?.”


“loh ya bener to mas.”


“makasih banyak pak.”


“sama-sama.”


Selesai berbincang dengan kepala desa, semua langsung bekerja


dengan menggunakan motor masing-masing mebawa bansos ke rumah-rumah diantar


orang-orang yang bekerja didesa.


Athan dan anak-anak yang lain termasuk Aletta kebagian ke daerah


yang paling ujung dan harus melewati sungai. Motor Areksa juga tidak bisa


kesana, jadi Areksa barengan dengan anak Arcux yang lain dan Aletta dengan


Athan. Dinda sendiri stay di Villa dengan Micella, mereka berdua enggan ikut


karena keadaan jalanan buruk.


Sampai ditepian sungai, semua mematikan motor masing-masing dan


memarkirkannya di lapangan sepak bola yang lumayan luas dekat lading orang.


Untuk sampai di daerah sebrang, mereka harus melewati sungai, arusnya tidak


deras, bahkan airnya pun jernih, beberapa anak kecil tengah bermain air disana,


dekat area yang sedikit dalam.


Sembari membawa bungkusan yang lumayan banyak dan dibagi setiap

__ADS_1


orang membawa satu bungkusan bansos, satu persatu turun melewati aliran sungai


dan naik kembali ke daratan setelah sampai di sebrang.


Tinggalah Athan, Aletta, dan Areksa yang tersisa. Aletta membawa


satu bungkusan, dan Areksa juga membawa satu bungkusan, sedangkan Athan harus


membawa kardus berisi mie instan.


“bang, lo bisa kan?.”


“bisa.”


Areksa membantu Aletta menyebrangi aliran sungai, “sini aku aja


yang bawa.”


“ngga apa-apa, aku bisa kok.”


“engga sini udah, kamu pegangan lenganku terus.” Areksa mengambil


bawaan Aletta


Aletta tersenyum dan memegangi lengan Areksa erat, dibelakang


mereka ada Athan yang mendengus kesal melihat adegan drama di depannya.


Athan dengan langkah lebar melewati Areksa dan Aletta.


Mereka semua sampai di daerah sebrang, berbeda dengan


daerah-daerah lain, di daerah sana masih kental dengan adat. Semuanya bekerja


di ladang. Jam menunjukkan pukul 12 siang, dan banyak dari penduduk yang tengah


beristirahat di bawah pohon di ladang masing-masing.


Untuk wanita biasa di rumah, bahkan seumuran dengan Aletta dan


teman-temannya harus tetap dirumah membantu kedua orang tua, memasak dan kadang


ikut berladang, kalau waktunya bercocok tanam. Ada juga yang sudah menikah,


mereka yang harus menikah adalah mereka yang memiliki hutang banyak dan hanya


dengan menikahkan anaknya, hutang itu dianggap lunas.


Aletta duduk dengan salah satu wanita yang tinggal di sana, terlihat


seumuran dengannya, sebelumnya gadis itu tengah menjemur pakaian didepan rumah.


“halo.”


“eh hai mbak.”


“aku Aletta, nama kamu siapa?.”


“Dewi mbak.”


“salam kenal Dewi, kamu masih sekolah?.”


“engga hehe.”


“umur berapa?.”


“15 tahun.”


“wah kita sama tau, kalau boleh tau kamu ngga lanjut sekolah


karena apa?.”


“menikah.”


“ha?.”


“aku udah menikah, kalau di kota pasti masih sekolah ya, disini


umur 12 tahun aja udah dinikahkan mbak.”


Aletta hanya mengangguk-angguk mengerti, beberapa saat kemudian


rombongan orang berpakaian serba hitam datang.


“eh aku pergi dulu.” Pamit Dewi sambil sedikit berlari masuk


kedalam rumah.


Aletta melihat beberapa orang tersebut datang kerumah Dewi, tapi


sebelum itu salah seorang yang sepertinya seorang pemimpin melihat kearah


Aletta. Tatapan itu membuat Areksa yang mengetahui, langsung menghampiri Aletta


dan membawa nya pergi bergabung dengan yang lain.


“kamu kenapa disana sendirian?.”


“tadi-.”


“itu juragan di desa ini, lebih tepatnya penguasa disini, banyak


anak gadis yang dinikahkan dengannya.”


“termasuk Dewi?.”


“siapa?.”


“cewek yang tadi ngobrol sama aku disitu.”


“ya bisa jadi, ayo gabung sama yang lain.”


Aletta mengangguk dan mengikuti Areksa bergabung dengan yang lain


memberikan bansos kenapa warga yang di tinggal disana. Selesai membagikan,


semua kembali ke Villa, bahkan Aletta masih memikirkan gadis yang bertemu


dengannya tadi, Aletta merasa kasihan melihat keadaannya yang seperti itu,


Aletta sendiri sangat bersyukur lahir didalam keluarganya, selama ini Aletta


hanya mengeluh karena kedua orang tuanya sibuk, tapi sekarang Aletta sadar


bahwa mereka sibuk ingin Aletta tetap bahagia dan memiliki fasilitas lengkap.


__ADS_1


__ADS_2