Athan & Aletta

Athan & Aletta
White Rose


__ADS_3


“mungkin sosoknya telah tiada diantara kita, tapi kenangannya akan selalu ada sampai kapanpun”


*


Athan terdiam di kamarnya, kejadian yang mengenai Roni terus terngiang dikepalanya, banyak penyesalan dikepala Athan, harusnya dia membantu Roni saat itu, tapi jarak mereka terlalu jauh. Perlahan air matanya menetes, beberapa hari ini dia tidak menyentuh rokok sama sekali.


“rokok mulu than, penyakitan tau rasa lo.”


Kalimat yang saat itu terdengar seperti angin lewat sekarang dirindukan.


Suara langkah kaki ditangga bahkan tidak membuyarkan lamunan Athan, ceklek Aletta berdiri diambang pintu dengan kantong plastic berisi pudding coklat kesukaan Athan. Aletta mengerti apa yang dirasakan Athan saat itu, gadis itu memilih diam dan duduk disebelahnya, menyentuh pundak Athan.


Lelaki itu memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya. “harusnya gue cegah ta.” Ucap Athan memilukan.


“udah, kalo lo kayak gini, dia pasti sedih diatas sana.”


Aletta membawa Athan kedalam pelukannya, mengusap punggung lelaki itu lembut.


“setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada sang pencipta, dia disayang Tuhan makanya pergi duluan, kalo lo sedih kayak gini, dia juga pasti sedih, ngga ada yang salah than, ini sudah jalan dari Tuhan.” Jelas Aletta kembali


Athan mengusap air matanya yang sempat jatuh, rambutnya mulai berantakan bahkan beberapa hari Athan mengurung diri didalam kamar sepulang dari pemakaman Roni.


“sekarang lo mandi, terus makan, bi Sumi udah siapin sarapan, gue juga bawain pudding kesukaan lo.”


Athan hanya mengangguk, lelaki itu membawa handuknya dan masuk kedalam kamar mandi. Aletta hanya menghambuskan nafasnya, perlahan air matanya jatuh tatkala melihat foto anak-anak Arcux dikamar Athan, disana juga ada foto Athan dan Roni yang tengah tertawa.


“lo beruntung banget ta dapetin cowok kayak Athan, dia sayang banget sama lo. Thanks ta udah bantuin gue.”


Ucapan Roni terngiang dikepala Aletta, lelaki itu tak pernah ragu dalam mengatakan apapun, dia adalah lelaki paling jujur yang pernah ditemui Aletta. Aletta menghapus air matanya dan mengembalikan foto itu di nakas kembali.


Makam penuh dengan bunga mawar itu didatangi oleh seorang lelaki tampan, matanya memerah sehabis menangis, dia terduduk dengan bunga mawar ditangannya yang ditaruh diatas makan dengan nama Roni Marlo.


“gue ngga tau harus bilang apa ke lo Ron, gue ngga nyangka lo bakal secepat ini ninggalin Arcux. Lo adalah orang kepercayaan gue di Arcux, kalo lo ngga ada gue percayakan Athan ke siapa, dia masih butuh lo Ron. Sorry gue ngga dateng waktu pemakaman lo, gue telat tau kalo lo pergi selamanya. Tuhan sayang sama lo Ron, lo pasti udah bahagia diatas sana, gue iklasin lo.”


Setelah mendoakan makam Roni, Dimas meninggalkan tempat pemakaman tersebut. dia baru saja tiba di Jakarta dan langsung pergi ke makam tanpa pulang kerumah. Kabar pernikahan ayahnya saja tidak terdengar ditelinganya kalau Aletta tidak mengatakan pada lelaki itu, Athan sendiri memilih untuk bungkam masalah keluarga.


Dimas pulang kerumahnya, disana ada mobil milik Aletta yang terparkir didepan. Dimas keluar dari taksi online dan masuk kerumah, Athan dan Aletta baru saja turun dari lantai dua saat dia masuk.


“bang Dimas.” Aletta langsung berlari kearah Dimas dan memeluknya.


“apa kabar?.”

__ADS_1


“baik.”


“bang.” Sapa Athan


Dimas memeluk Athan erat, sudah lama mereka tidak seperti ini sejak beranjak dewasa. Umurnya sudah 17+ tapi bagi Dimas dia tetaplah anak kecil yang harus dijaga, apalagi Athan adalah orang yang sembarangan dalam mengambil keputusan.


Aletta tersenyum melihat Athan dan Dimas kembali seperti dahulu lagi, saling melengkapi. Mereka bertiga menghabiskan sarapan pagi itu dengan candaan, kesedihan akan kehilangan Roni perlahan memudar walaupun dalam hati tetap merasakan kekosongan.


Selesai sarapan, Dimas memutuskan untuk pergi ke kantor ayahnya sedangkan Athan dan Aletta ada acara dengan anak-anak Arcux, Dimas akan menyusul setelah urusannya dengan tuan Nicolas ayahnya selesai.


Dengan menggunakan mobil Aletta, mereka berdua menuju markas Arcux. Aletta sudah memesan banyak sekali bunga mawar putih, sebelum ke Markas, Athan dan Aletta mengambil bunga tersebut di penjual bunga dan menaruhnya di bagasi dan kursi belakang.


“thanks ta lo ngasih ide ini.” Ucap Athan saat dalam perjalanan


“semua kehilangan, jadi gue fikir ngga ada salahnya ide ini.”


Sampai di markas, anak-anak Arcux membantu mengeluarkan bunga dari dalam mobil Aletta. Mereka semua membungkusnya satu persatu untuk dibagikan dijalan-jalan mengenang kepergian Roni.


Hari mulai sore dan mereka baru menyelesaikan semua bunga, mereka berpencar dari jalan ke jalan lain untuk memberikan bunga setiap orang satu bunga.


Athan dan Aletta menuju tempat dimana Roni jatuh, di trotoar itu mereka menaruh serangkaian bunga mawar putih khusus.


Bagi banyak orang menggunakan mawar putih dalam sebuah pernikahan sebagai cinta yang suci dan tulus, alasan mengapa digunakan untuk mengenang orang meninggal adalah karena sosok Alm Roni memiliki hati yang tulus dan cinta yang dalam terhadap Arcux, sebagian jiwanya berada di Arcux dan akan selamanya seperti itu.


Selesai semua rangkaian acara hari ini, markas di kunci Athan setelah semua anak-anak meninggalkan tempat tersebut. mungkin beberapa hari kedepan tidak ada acara disana, lebih sibuk disekolah mengingat kebanyakan dari mereka anak-anak kelas 3.


Athan dan Aletta kembali kerumah, harusnya Dimas datang diacara Arcux hari ini tapi lelaki itu tidak memunculkan batang hidungnya sama sekali, sampai rumah pun sepi hanya ada bi Sumi dan penjaga. Athan pun memutuskan kerumah Aletta, dia tidak akan membiarkan pacarnya pulang sendiri malam-malam.


Sedangkan di mobil Aletta berusaha menghubungi Dimas tapi hp nya tidak aktif, pesannya hanya centang satu sejak siang tadi.


“bang Dimas kemana ya.”


“udah coba telfon biasa?.”


“udah, panggilan dialihkan kepesan suara.”


“gue tanya bokap kali ya.”


“boleh, gue khawatir banget.”


Athan mengambil ponselnya di saku jaket dan memberikannya pada Aletta. Tanpa berfikir panjang, Aletta menekan panggilan di nomor dengan nama bokap. Beberapa detik kemudian panggilan di angkat.


“Halo om, ini Aletta.”

__ADS_1


“Aletta, om fikir Athan.”


“om, Aletta mau nanya.”


“nanya aja Aletta, ada apa?.”


“bang Dimas ada disana?.”


“engga, dia udah pergi sejak siang tadi.”


“oh gitu ya, makasih om.”


“sama-sama.”


“Aletta tutup dulu, maaf ganggu waktunya om Nico.”


“tidak apa-apa Aletta.”


“selamat malam.”


Aletta menutup panggilannya dan melihat kearah Athan dengan wajah tanda tanya.


“biasanya bang Dimas ngabarin gue kok.” Ucap Aletta


“kayaknya ada urusan, mungkin hp nya mati.”


“iya kali ya.”


Athan dan Aletta sampai dirumah Aletta, setelah memasukkan mobil kedalam garasi, mereka berdua masuk kedalam rumah. Seperti biasanya rumah itu sepi, hanya ada pembantu rumah tangga saja.


“lo naik duluan aja, gue ambilin minuman sama camilan.”


Athan mengangguk.


 


 



 


 

__ADS_1


__ADS_2