Athan & Aletta

Athan & Aletta
Keadaan yang Sesungguhnya


__ADS_3

*




“terkadang aku tak pernah meminta berkecukupan hanya untuk membuatnya selalu ada”*


kamu tahu apa yang aku benci dari semua hal dalam hidupku, bukan aku yang terlalu cerdas dalam apapun, tapi aku yang tak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan. ~Aletta Fredella


 


 


Warning Flashback tentang Aletta


Hari ini adalah kunjungan ke sekian kalinya Aletta dan keluarganya di Semarang, ada satu rumah yang selalu terbuka pintunya untuk gadis itu rumah keluarga Mira atau bundanya. Mereka bertiga duduk di ruang tamu dengan seorang wanita tua dengan senyuman manis dan lesung pipi indah di umurnya yang sudah tidak muda lagi.


“apa sebaiknya Aletta sama nenek saja, kalian ini selalu sibuk dengan bisnis dan kerjaan.” Celetuk wanita itu menahan marah.


“engga bu, Aletta anakku, mana mungkin aku pulang ngga ada dia dirumah. Lagian aku juga ada pengasuh dirumah.”


“bagaimana kalau ibu ikut kami saja tinggal di Jakarta.”


“tidak, ibu tidak mau meninggalkan rumah.”


Mira menghembuskan nafas, untuk sekian kalinya wanita yang melahirkannya itu menolak permintaan Mira dan Hans.


Mereka bertiga keluar dari rumah ala jaman dahulu dengan kayu yang masih kuat dan berwarna coklat tersebut.


Sampai di Jakarta, Aletta langsung ikut dengan pengasuhnya, bi Indah. Sedangkan Hans dan Mira harus kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena ke Semarang.


Di sekolah dasar, Aletta adalah anak yang sangat pintar dikelas, dia lebih awal masuk sekolah ketimbang anak lain seumurannya, dia juga mengikuti les piano dan les beberapa bahasa asing. Aletta satu sekolah dengan Athan dan Dimas, itu pula yang membuatnya tidak pernah bosan melakukan apapun, Dimas selalu menjaganya seperti adik dan Athan selalu mengajaknya bermain.


“kenapa masih disini?.” Tanya Athan menghampiri Aletta yang masih duduk di bangku depan sekolah.


Aletta hanya menggeleng, hingga Dimas yang sudah berada di mobil kembali menghampiri Athan dan Aletta.


“ayo pulang.” Ajak Dimas


“aku menunggu Aletta bang.”


Dimas pun ikut duduk di sebelah Aletta.


“kamu tidak dijemput?.”


Aletta menggeleng.


“ya sudah ikut kami saja pulang kerumah.”


Aletta pun mengikuti ajakan Dimas untuk ikut dengan mereka pulang kerumah. Sampai dirumah Dimas dan Athan, terlihat Jessica yang tengah sibuk membuat kue di dapur dengan bantuan bi Sumi.


“loh ada Aletta.”


Jessica tersenyum pada Aletta sambil membawa kue yang sudah jadi, menaruhnya diatas meja.


“Dimas! Athan! Ke kamar dulu ganti baju.”


“ya ma!.” Jawab Dimas dan Athan bersamaan.


Jessica menghampiri Aletta dengan membawa mangkuk berisi kue potong ditangannya.


“mau coba?.” Tawar Jessica, Aletta hanya mengangguk. “gimana?.”


“enak tante.”


“jangan panggil tante, panggil mami aja ya.”


Aletta kembali mengangguk sembari tersenyum pada Jessica.


“kamu ngga dijemput lagi?.”


“ayah masih sibuk kerja, katanya disuruh nunggu, tapi ayah lama.”

__ADS_1


“ya udah disini aja nanti biar mami yang hubungin bunda.”


Athan dan Dimas selesai berganti pakaian, Dimas langsung ke dapur sedangkan Athan menemui Aletta dengan membawa mainannya.


“ayo ke taman depan.” ajak Athan


“Athan dijaga ya Aletta nya.”


“iya ma.”


Aletta menaruh tasnya dan ikut bermain dengan Athan di taman depan rumah. Mereka berdua bermain mobil-mobilan, tapi Aletta lebih suka melihat kupu-kupu.


“mau aku tangkapin?.” Ucap Athan, Aletta mengangguk bahagia, anak laki-laki itu mengambil jaring yang ada di pojokan rumah dan mencoba menangkap kupu-kupu untuk Aletta tapi selalu gagal.


“ngga usah Athan, biarin hidup, kasihan.” Ucap Aletta menghentikan kegiatan Athan karena setelah di fikir-fikir kasihan pada kupu-kupu jika di kurung.


“ya sudah.”


“Athan.”


“iya?.”


“Athan akan menikah dengan Aletta kan?.”


“ha? Kan kita masih kecil.”


“kalau udah gede kayak ayah dan bunda.”


Athan melihat kearah Aletta yang menaruh harapan pada lelaki itu, kemudian mengangguk.


“yeeyy.”


Kedua orang tua Aletta pun datang menjemput, Aletta melambaikan tangan pada Athan dan Dimas.


Masuk SMP, Aletta yang kelas di bawah Athan merengek meminta untuk satu sekolah dengan Athan, berkat otaknya yang cerdas, Aletta masuk kelas Akselerasi dan masuk kelas 3 dikelas yang sama dengan Athan.


“ayah sama bunda sibuk lagi?.” Celetuk Aletta saat sarapan pagi dengan kedua orang tuanya.


“ngga sibuk sayang, bunda sama ayah hanya kerja sebentar, nanti kan juga pulang.”


“tuan dan nyonya memberikan yang terbaik untuk non Aletta makanya mereka sering menghabiskan waktu untuk bekerja.”


“tapi bukan berarti ngga pernah ada waktu, mereka bukan lagi menghabiskan setengah waktu, tapi seluruh waktunya, termasuk waktu untuk Aletta pun ngga ada.”


Sampai di SMP nya, Aletta bertemu dengan Athan yang dengan bangga berada di sebelah motor nya.


“nih motor baru gue ta, bagus ngga?.” Ucap Athan bangga


“jelek!.”


“apaan ini tuh bagus, kayak punya bang Dimas tau.”


“tapi bagusan punya bang Dimas.”


“bang Dimas terus, gue nya kapan ta.”


“kapan-kapan, soalnya lo nyebelin.”


Seperti saudara kandung mereka berdua selalu masuk kelas barengan.


“gue mau masuk SMA yang sama kayak abang gue.” Ucap Athan saat berada di bangkunya


“lo ngikutin gue than?.”


“engga.”


“gue juga mau masuk sana.”


“ya udah sih barengan aja.”


.


Aletta keluar dari kamarnya dengan terburu-buru, kemeja putih dan rok hitam tak lupa topi kertas dan tas plastic dan juga sepatu pantofel hitam. Didepan rumahnya sudah ada Athan yang menunggu dengan pakaian yang sama, hari ini adalah hari pertamanya masuk SMA dan harus mengikuti mos salama beberapa hari kedepan sebelum masuk biasa.

__ADS_1


“lo lama banget ta.”


“topi gue ilang tadi, hehe. Ayo berangkat.”


Selama jam istirahat berlangsung, Aletta kekantin dengan Lala teman barunya satu kelompok, Lala sangat baik padanya, membantunya mengerjakan beberapa tugas yang tidak dia bisa hari ini. Sedangkan Athan dengan anak-anak laki-laki dikelompoknya sendiri.


“lo temenan sama dia?.”


“iya.”


“dia adeknya bang Dimas kan anak Arcux.”


“Arcux?.”


Aletta mengingat-ingat saat Dimas sering mengajaknya ke sebuah tempat dimana banyak sekali anak cowok disana.


“jadi mereka semua Arcux.”


“kenapa? lo pernah ketemu ta?.”


“eh ngga kok.”


“Arcux terkenal banget disekolah ini, sepengetahuan gue, mereka emang anggotanya anak SMA Galileo semua dan bang Dimas itu ketua angkatan ke-5 sejak berdirinya Arcux.”


“lo tau semua?.”


“iya, gue nyari tau sebelum masuk kesekolah ini, btw kok lo bisa deket sama adeknya.”


“satu SMP.”


“pantesan.”


Suara deru motor terdengar nyaring ditelinga, Aletta dan Dimas baru saja sampai di Markas Arcux.


“hai Aletta.” Sapa salah satu teman Dimas


“berani lo deketin adek gue?.”


“kagak bang, nyapa doang elah.”


Aletta hanya tersenyum, Aletta dan Dimas duduk disofa sambil memakan pizza yang di belinya sebelum datang di markas.


“emang bang Dimas kapan berangkat ke Surabaya?.”


“minggu depan, disini bakal ada yang ngurus juga.”


“yaah jadi ngga bisa jalan-jalan sama bang Dimas lagi.”


“kan masih ada Athan.”


“tapi Athan tuh nyebelin banget.”


Dimas mengusap rambut Aletta sayang.


“karena dia suka godain cewek yang menurutnya menarik.”


“emang gue menarik?.”


“iyalah, kan dulu ngajak nikah.”


“apaan sih engga, kan itu masih kecil.”


“aminin aja deh, lo bisa jadi adek ipar gue, gue ngga takut-takut si Athan dapet cewek ngga jelas di luar sana.”


“engga ih.”


 


 



 

__ADS_1


 


__ADS_2