
“yang telah di patahkan akan tumbuh kembali dengan memaafkan kesalahan.”
...
Athan
duduk-duduk di balkon kamar Aletta sembari menunggu gadis itu pulang membawa
makanan kesukaannya, makanan yang dijual di dekat sekolah, Cilok. Sambil
menghisap rokoknya, Athan menyalakan music band FUR, bukan band favorit tetapi
Athan menyukai lagu-lagu milik karya FUR, bukan hanya FUR tapi juga Cigarettes
After ***. Sudah hampir petang tapi Aletta tak kunjung datang juga, hingga
sebuah motor Vespa dengan penumpang di atasnya berhenti didepan gerbang rumah
Aletta, siapa lagi kalau bukan Areksa dan Aletta.
“kamu mau mampir dulu?.” Tanya Aletta malu-malu
“ngga usah, nanti ada kumpul Arcux, jadi harus segera pulang.”
“ya udah deh, hati-hati, makasih udah nganterin pulang.”
“sama-sama, cepetan masuk.”
Aletta melambaikan tangannya pada Areksa yang telah pergi,
kemudian gadis itu masuk kedalam rumah.
Sedikit berteriak memanggil nama Athan, tapi Athan tidak menyahut
sama sekali. Aletta pun menuju kamarnya dan benar lelaki itu menguasai balkon
kamar nya penuh dengan asap rokok.
“gue panggilin juga.”
“mana titipan gue.”
Aletta duduk di samping Athan “nih.”
“thanks, lo dianterin sama Areksa?.”
Aletta hanya mengangguk sambil meminum boba nya.
“selama belum sah, gue bisa rebut milik gue balik kan ta?.” Ucap
Athan yang membuat Aletta berhenti menelan minumannya dan malah menyemburkan
kearah Athan. “lo!! Ah elahhh basah semua dodol!!!.” Teriak Athan kesal
“apa lo bilang tadi?.”
“ngga!, males gue.” Athan mematikan rokoknya dan masuk kedalam
kamar mandi milik Aletta.
Aletta melihat notif di ponselnya, pesan dari Areksa seperti
biasanya. Sambil membalas pesan manis yang dikirimkan Areksa, Aletta tersenyum
bahagia untuk pertama kali saat menerima pesan singkat.
Athan yang telah selesai dari kamar mandi, mengintip ponsel Aletta
dari belakang “dih bucin.” Ledek Athan
“apaan sih lo, bilang aja iri, iri bilang bos!.”
“gue juga bisa kalik kalo Cuma bilang, jangan lupa makan ya
sayang.”
“demi apah? Ngga mungkin terjadi hal kayak gitu dalam hidup
seorang Athan.”
“ntar liat aja kalo ngga percaya.”
“udah ah, mau mandi.”
Aletta meninggalkan Athan di balkon, bahkan mengunci pintu menuju
balkon dari dalam, mengingat Athan yang sangat tidak tau tempat dalam hal
apapun. Tak lupa mengambil baju ganti, Aletta masuk kedalam kamar mandi untuk
membersihkan badannya yang sudah lengket karena keringat.
Selesai dari kamar mandi, Aletta di kejutkan dengan Athan yang
tengah tiduran di ranjangnya.
“hi baby girl.” Sapa Athan dengan suara beratnya sembari melihat
kearah Aletta dari atas hingga bawah, rambutnya Aletta yang masih basah dengan
handuk di kepala.
“kok lo.”
“hahaha kan balkon lo rendah banget, gue bisa kalik turun ke bawah
terus masuk lagi lewat pintu depan.”
“bodo!, keluar lo!.”
“ga.”
“keluar Athan!.”
“ga.”
“ya udah.” Aletta duduk didepan meja riasnya, memakai beberapa
krim dan mengeringkan rambutnya.
“sini gue bantuin.” Athan mengambil hairdryer dari tangan Aletta,
__ADS_1
sangat lembut Athan menyentuh rambut Aletta sedikit demi sedikit untuk
mengeringkan seluruhnya.
Aletta melihat Athan dari kaca, jantungnya kembali berdebar
seperti sebelumnya. Hingga mata mereka bertemu, Athan menatap mata Aletta teduh
seakan banyak sekali beban dalam hidup Athan dan hanya Aletta yang ada di
sisinya.
Athan meletakkan Hairdyer milik Aletta di meja, memutar tubuh
Aletta agar menghadap kearahnya. Membawa tubuh Aletta kedalam pelukannya,
pelukan yang sangat erat.
Entahlah tapi air mata Aletta jatuh ke kaos yang dipakai Athan.
“gue sadar kalo gue suka dan cinta sama lo ta, bukan sebagai
sahabat tapi sebagai wanita, seperti yang lo bilang.” ucap Athan pilu.
Aletta langsung melepaskan pelukan Athan terhadapnya, mengusap air
mata yang sempat jatuh dan sedikit mendongak menatap kea rah Athan. “gue ngga
bisa than, gue ngga suka sama lo, lo cuma sahabat gue, ngga lebih dari itu.”
Ucapan Aletta membuat Athan terdiam, kala itu Athan masih ingat
jelas juga mengatakan kalimat tersebut pada Aletta. Aletta meninggalkan Athan keluar kamarnya menuju dapur
dimana bi Indah sudah menyiapkan makan malam.
“eh non Aletta kenapa sembab gitu matanya.”
“engga kok bi.”
“tadi kena debu bi dibalkon.” Jawab Athan yang baru saja datang.
“ohh, bentar bibi ambilkan obat mata ya.”
“ngga usah bi, udah ngga papa kok.”
“ya udah, makan malam dulu, bibi udah bikin makanan yang non
Aletta mau.”
“makasih bi.”
Flashback
Aletta berlarian ditaman
dengan Athan dan Dimas, saat itu Dimas sudah masuk SMP sedangkan Athan masih SD
lebih tua dari Aletta 2 tahun. mereka nampak bahagia diantara kedua keluarga
yang sering kumpul di weekend.
“Athan nyebelin!!!.”
Teriak Aletta sambil memeluk Dimas erat, Aletta sangat dekat dengan Dimas,
menjahili anak itu.
“ta, Athan minta maaf.”
ucap Athan sambil menunduk didepan Aletta
Aletta menjulurkan jari
kelingkingnya pada Athan yang membuat Athan langsung melihat kearah Aletta.
“janji? Athan ngga boleh
jahatin Aletta lagi?.”
Athan menggapai jari
kelingking Aletta dengan senyuman bahagia “janji, Athan akan jagain Aletta
terus.”
Mereka berdua saling
tersenyum.
Flashback off
Athan meninggalkan rumah Aletta dengan motornya yang melaju sangat
kencang dijalanan menuju markas Arcux. Hampir saja lelaki itu menabrak
seseorang yang tengah menyebrang, Athan menghentikan motornya di pinggir jalan,
melepas helm.
“arggghhh!!.” Teriak Athan memukul kepalanya sendiri “dasar
bodoh!!!.”
Beberapa saat Athan menunduk dalam diam, ingatan masa kecilnya dan
Aletta terus mengalir seperti air sungai, bahkan tidak berhenti sama sekali.
Hanya kata kalau saja mengisi otak Athan terus menerus.
Cahaya lampu mobil mengenai penglihatan Athan, tepat didepan
motornya mobil itu berhenti. Seorang wanita cantik keluar dari dalam mobil
tersebut, rambut coklat bergelombangnya jatuh mengikuti langkah kakinya yang
berjalan kearah Athan.
“Alisa.”
“ngapain lo disini?.” Tanya Alisa dengan senyuman manis seperti
biasa
“bukan urusan lo.” Athan hampir memakai kembali helmnya, namun
__ADS_1
tangan Alisa menahan Athan.
“tunggu.”
“apa?.”
“gue Cuma mau jelasin, bukan gue yang naruh itu di tas Aletta, gue
ngga boong than.”
“udah jelas kalik, itu lo, masih aja nyari pembelaan, lo juga
bebas dari hukuman karna kepsek paman lo kan, licik banget jadi cewek.”
“tap-.”
“gue ngga mau denger apapun dari lo, kalo emang lo ngga salah
harusnya lo nyari bukti, bukannya sembunyi dibalik paman lo.” Athan kembali
memakai helmnya, menyalakan motor dan meninggalkan Alisa.
Sampai di markas, sudah banyak anak-anak Arcux yang tengah
mempersiapkan besok keberangkatan ke daerah terpencil untuk bansos. Aldo dan
Roni keluar untuk menyelesaikan pembayaran beberapa bahan makanan pokok yang
sudah dipesannya beberapa hari yang lalu, bahan pokok makanan yang mereka beli
diantara nya seperti beras, mie, gula, teh, kopi, dan juga beberapa bahan
makanan lain.
“eh than, baru dateng?.” Ucap Dicky yang tengah memperbaiki
motornya.
“iya nih, mana yang lain?.”
“lagi ngambil bahan makanan, tuh di dalem ada Areksa sama yang
lain pada nyelesain perlengkapan lain.”
Athan malah duduk di dekat Dicky sambil melihat lelaki itu
memperbaiki motornya.
“kenapa lagi Dic?.”
“biasa ini tadi mogok di jalan.”
“lo dorong sampek sini?.”
“iya hahaha.”
“lagian kenapa ngga ganti motor aja sih.”
“yeee lo ngga tau ni motor dari jaman bokap gue muda, keren banget
ni motor.”
“tau lah, tapi boros banget bensinnya.”
“iya sih, tapi ngga papa lah kan bensin di tanggung bokap.”
Athan hanya mengangguk-angguk.
Tidak selang lama, mobil pickup yang dibawa Aldo dan Roni datang
membawa banyak bahan makanan di atasnya. Roni keluar dari mobil menghampiri
Athan sambil memberikan kopi botol yang dibelinya saat berada di Indoapril.
“gimana?.”
“udah semua sih, ini tadi penjul nya bilang kenapa ngga
dibungkusin satu-satunya aja biar ngga ribet bagiinnya.”
“ya kan emang gitu.”
“masalahnya ini dah malem cuy, emang selesai, lo besok ngga
ngantuk apa waktu dijalan? Kita berangkat jam lima pagi.”
“gampang panggil aja Dinda dan temen-temennya.” Celetuk Aldo
“ide yang bagus tuh.”
Areksa keluar dari dalam sambil membawa kardus berisi stiker
Arcux.
“Aletta tadi bilang mau bantuin bang.” Ucap Areksa menyela
pembicaraan Athan dan yang lain.
“ya udah suruh kesini aja.”
“gue jemput bentar ya.”
“oke.” Jawab Athan cuek.
Areksa meninggalkan markas Arcux untuk menjemput Aletta di rumah. Sedangkan
Athan tetap dengan mood nya yang tidak bagus, apalagi setelah mendengar kalau
Aletta mengatakan pada Areksa untuk membantu, dan tidak mengatakan padanya
sejak tadi sebelum Athan berangkat ke markas.
“lo masih gitu sama Aletta?.” Bisik Dicky
“ya gitu lah, gue males bahasnya.”
“than-than udah tau didepan mata juga lo buang, giliran di ambil
orang aja lo sayang.” Ucap Roni
“hahaha.”
“berisik kalian semua, turunin tuh semua dari atas mobil, biar
gampang.”
__ADS_1
⁂