
“Keputusan hanya ada di pemeran utama kompetidi.”
...
Aletta berjalan
di lorong sekolah menuju ruang MPK, ada pertemuan dengan beberapa ketua devisi,
mengingat acara yang semakin dekat. Banyak anak yang melewatinya dengan
terburu-buru kearah lapangan basket, bahkan tanpa sengaja menyenggolnya dan
membuat kertas yang dibawa nyajatuh semua.
“woi hati-hati dong kalo lari.” Teriakan dari Areksa membuat
Aletta yang tengah memberesi kertasnya mendongak.
“kamu ngga papa kan?.”
“ngga papa kok, emangnya ada apa sih pada lari-lari gitu.”
“aku denger dari anak cewek dikelas katanya ada pemilihan ketua
Cheerleader baru.”
“bukannya Dinda ya berturut-turut.”
“ngga tau, ada anak baru.”
Aletta langsung ingat Alisa yang memang ingin masuk Cheerleader.
“sini aku bantuin, mau ke ruang MPK kan.”
Aletta mengangguk, mereka berdua berjalan menuju ruang MPK yang
ada di ujung lorong.
Sedangkan di lapangan basket sudah ramai anak-anak yang menonton
perdebatan antara Dinda dan Alisa, mereka berdua memakai seragam Cheerleader.
“kita bakal buat secara adil, semua penonton bakal milih siapa
yang cocok jadi ketua Cheerleader SMA Galileo yang baru.” Jelas Alisa yang
membuat Dinda sedikit ciut, dia dipilih sebagai ketua karena anggotanya semua
takut padanya.
“oke siapa takut.”
Tim di bagi dua dan mereka menampilkan cheerleader di hadapan
hampir seluruh murid SMA Galileo dijam istirahat.
Athan dan teman-temannya yang baru lewat memutuskan untuk melihat
sebenar apa yang terjadi dilapangan.
“dia berani juga sama Dinda.” Celetuk Aldo
“gue tau dia ngga sepolos itu dari Dinda.”
“gimana kalo taruhan aja siapa yang menang, nih 100.000.” ucap
Dicky “gue milih Dinda.”
“nih gue juga milih Dinda.”
“gue Alisa.” Ucap Athan
Karena sudah bertaruh, mereka bertiga melihat dari lantai dua SMA
Galileo sambil makan cilok yang dibeli Aldo didepan sekolah dengan memanjat
pagar samping.
Tiba saat voting,
“yang menjadi ketua Cheerleader kali ini adalah……. Alisa!!.”
“yess!! Gue menang.” Athan mengambil uang mereka berdua, Aldo dan
Dicky.
“lah kok bisa.”
“lo ngga tau aja tuh anak backupan kepala sekolah.”
“hah? Seriusan lo? Kalo misal gue boong, dia ngga akan disekolah
sekarang, alias di scorsing karena menuduh Aletta dan lo liat sendiri dia ada
disana ngalahin Dinda.”
“curang nih.”
__ADS_1
“ngga ada yang curang, kalian berdua yang ngajak.”
Dinda meninggalkan lapangan dengan teman-temannya mengganti
pakaian dengan seragam sekolah. Saat setelah selesai mengganti pakaian di ruang
ganti, tanpa sengaja Dinda berpapasan dengan Aletta dan Areksa.
“muka lo kenapa din?.” Tanya Aletta dengan nada mengejek.
“liat aja gue bisa bales dendam ke Alisa.”
“kenapa?.”
Micella berbisik pada Aletta.
“lo juga sih dah tau ngga cocok jadi ketua pake nantangin si anak
baru.”
“diem lo!.” Dinda dan Micella langsung pergi
Setelah bertemu dengan Dinda, Aletta juga berpapasan ddengan
Alisa, tapi Aletta hanya diam seakan tidak melihat Alisa disana.
“ta!.” Panggilan itu diabaikan, walaupun Areksa menengok, tapi
Aletta langsung menarik tangan Areksa agar mengabaikan panggilan itu.
“kamu benci banget pasti sama Alisa.”
“ngga sih sebenarnya, tapi aku selalu ingat apa yang dilakukan
Alisa.”
“its okay kalo emang itu pilihanmu buat ngga mau kenal dia.”
Areksa mengusap lembut rambut Aletta.
Mereka saling tersenyum tanpa sadar Athan memperhatikan dari jauh
dengan teman-temannya.
“lo ngga keluarin aja tuh bocah dari Arcux?.” Ucap Aldo
“gue bukan bocah yang masukin masalah pribadi kedalam Arcux, kalo
Aletta suka sama Areksa, terus gue harus apa? kalo pun Areksa gue keluarin dari
Arcux, ngga akan merubah perasaan Aletta ke dia.”
“lo bener than.”
Mereka bertiga menuju kantin sekolah untuk menikmati makan siang,
mie ayam dan es jeruk siang-siang dengan matahari yang terik.
Saat tengah makan dengan santai, Dinda dan Micella datang ikut
bergabung, wajah Dinda terlihat kesal walaupun Micella terus menenangkannya.
“ahahaha kalah lo Din.” Ledek Athan
“apaan sih Athan, dia aja lagi beruntung.”
“lo aja Din yang bego.” Jawab Dicky
“dih lo kok ngatain sih.”
“emang kan.”
“dah udah, ngapain pada rebut sih.” Aldo menghentikan keributan
dimeja mereka dan melanjutkan makan.
Beberapa menit berlalu saat mereka keluar dari kantin, Aletta dan
Lala datang untuk makan.
“ta.” Panggil Athan sedikit canggung
“eh Athan, lo dah makan? Ngga ngajakin gue lagi.”
“ya lo kan tadi jalan sama cowok lo.”
“tadi gue ada urusan sama anak MPK.”
“ya udah lo makan aja sama Lala.”
“emang, dah gue mau makan dulu, bye.”
Aletta dan Lala duduk disalah satu bangku paling ujung setelah
memesan makanan dan minuman, Aletta yang biasa makan mie ayam atau bakso, kali
ini dia memesan ayam geprek dan lemon tea.
Tanpa menghiraukan banyak anak-anak yang melihat kearahnya dan
bergosip mengenai hubungannya dengan Areksa, Aletta hanya diam dan fokus
__ADS_1
memakan makanan yang dimeja, sedangkan Lala merasa risih dengan pandangan
orang-orang yang tertuju pada mereka.
Tiba-tiba Areksa datang duduk di samping mereka berdua, seakan
sudah janjian sebelumnya. Dengan santai Areksa meminum minuman milik Aletta.
“minta.” Ucap Areksa setelah meminumnya
“dari mana?.”
“kelas.”
Aletta hanya mengangguk-angguk mengerti. Areksa yang merasakan ke
tidak nyamanan duduk di bangku tersebut mulai memandang diseluruh penjuru yang
melihat kearahnya kagum.
“kenapa kamu biasa aja?.” Tanya Areksa penasaran
“emang kenapa? wajar kan orang pada penasaran.”
Selesai makan, mereka langsung menuju kelas masing-masing. Saat
masuk kelas, Aletta melihat Athan yang duduk di samping Dicky, pandangan mereka
bertemu tapi mulut mereka enggan berbicara. Sejak kejadian semalam, rasa
canggung itu datang.
Dicky menyenggol pundak Athan tapi Athan hanya diam dan malah
bermain game di ponselnya.
Tanpa mereka berdua sadari, Alisa memandang kearah Athan dan
Aletta.
Hingga bu Vira datang dengan tumpukan kertas hasil ulangan di
tangannya.
“selamat siang anak-anak, hari ini ibu akan membagikan hasil
ulangan harian sosiologi kalian. Untuk nilai di bawah 70 harus mengikuti
ulangan perbaikan besok lusa, termasuk kamu Athan.”
Langganan untuk Athan yang selalu mendapatkan nilai jelek di ujian
sosiologi.
“dan untuk Alisa, selamat nilaimu ujian 100. Maka dari itu ibu
meminta kamu menjadi tutor Athan sebelum ulangan perbaikan di mulai.”
“apa bu?, ngga!!.” Protes Athan
“kalau begitu nilaimu akan tetap ini dan kamu bisa saja tidak naik
kelas karena jelek terus.”
“baiklah.”
“Alisa, ibu minta tolong jadi tutor Athan, kalau Athan bisa
mendapatkan nilai diatas rata-rata, ibu akan memberikan nilai plus untukmu.”
“baik bu.”
Selesai pulang sekolah, Athan dan Alisa pergi ke perpustakaan
untuk belajar. Tatkala mereka berjalan menuju perpustakaan, terlihat Aletta
yang berjalan pulang dengan Areksa menuju parkiran motor, berbeda dengan
perlakuan Athan dulu pada Aletta, Areksa sangat menyayangi Aletta dilihat dari
perlakuannya pada Aletta.
“lo liat dia?.” Tanya Alisa
“bukan urusan lo.”
“lo masih marah ke gue?.”
“selamanya.”
“than, bukan gue yang ngelakuin itu ke Aletta, gue juga ngga tau
kalau ada yang pura-pura jadi gue.”
“hahaha drama lo, keponakan kepala sekolah, lo aja pake kekuatan
paman lo buat ngehindar dari hukuman.”
Alisa terdiam, memang benar dia tidak terkena hukuman karena
kepala sekolah adalah pamannya.
__ADS_1
⁂