
*
“Persahabatan itu bukan dari sebuah latar belakang, melainkan dari saling menyayangi satu sama lain, saling
membantu bagaikan keluarga padahal tak sedarah”
Athan dan Aletta keluar dari rumah, Aletta sudah siap dengan helm kuningnya, tapi Athan menghentikan langkah gadis itu. Dengan wajahnya yang penuh rahasia, Athan menatap Aletta teduh.
“lo dianterin pak Budi ya ta?.” Pak Budi ini mantan sopir bundanya Aletta yang cuti beberapa bulan karena keluarganya di kampung ada yang meninggal dan sawahnya tidak ada yang mengurus, tapi sejak beberapa minggu yang lalu pak Budi sudah kembali kerumah Aletta.
“lah kan ada lo.”
“gue ada urusan di markas.”
“ohh ya udah deh.”
“good girl.” Athan mengusap rambut Aletta lembut dan mengambil helm yang dibawa gadis itu bahkan membukakan pintu mobil untuknya “hati-hati bawa pacar saya pak.”
“siap den Athan.”
Setelah melihat mobil yang membawa Aletta pergi, Athan memasukkan helm milik Aletta ke dalam rumah dan membawa motornya ke markas, anak-anak Arcux sudah janjian tidak masuk sekolah hari ini dan berkumpul di markas.
Athan mematikan motornya sesampainya di depan markas Arcux, banyak motor terparkir disana, banyak juga anak-anak Arcux yang merokok dan sebagian bermain catur, udah kayak tempat tongkrongan, apalagi Areksa yang baru saja datang dengan banyak minuman kopi di dalam kantong plastic yang dibawanya.
Areksa membagikan kepada seluruh anak Arcux, mereka semua memakai seragam SMA Galileo, sudah jelas pamitnya pergi kesekolah tapi malah nangkring di markas gitaran nyanyi-nyanyi.
Motor Roni baru saja tiba di markas Arcux, lelaki itu memakai seragam putih abu-abu khas SMA negeri. Berjalan menghampiri gerombolan Athan yang tengah bermain gitar di sudut gedung itu.
“gimana?.” Tanya Athan to the point
“kayaknya kalian ngga usah ikutan deh, karna bahaya banget, apalagi kalian membawa seragam SMA Galileo dan nama Arcux.”
“seperti yang udah disepakati diawal, satu turun semua turun.” Celetuk Dicky
“bener kata Dicky, gue ngga akan biarin lo turun sendiri dengan anak-anak SMA lo, lo bagian dari kita juga.” Lanjut Athan.
Roni memeluk Athan erat, tanda persahabatan mereka. Walaupun diawal Athan tidak menyukai Roni yang selalu di puji oleh Dimas, tetap saja Roni sabar dengan sikap Athan, memberitahu segalanya mengenai Arcux, soal persaudaraan dan kekeluargaan di Arcux, Roni adalah sosok teman juga sahabat yang sempurna.
Ditempat lain, Aletta yang baru saja tiba dikelas melihat sekeliling kosong, Athan tidak ada di bangkunya juga Dicky yang biasanya selalu tiba lebih awal, dia juga tidak melihat Kelvin di tempatnya.
“lo pasti nyari Athan?.” Tanya Lala yang tengah sibuk menyalin tugasnya
“iya, tadi gue ngga bareng dia soalnya.”
__ADS_1
“anak-anak Arcux pada ngumpul hari ini di markas, kata Aldo sih gitu soalnya Aldo juga ngga masuk hari ini, terus nitip surat ijin ke gue.”
“ha? Ngapain? Ada acara apaan?.”
“gue sih ngga nanya lebih, paling juga biasa benerin motor ntar malem kan balapan.”
Aletta berfikir ulang, Athan bukan tipe orang yang meluangkan waktu sekolahnya hanya untuk service motor, bahkan melawan Kelvin dia bisa Service dadakan. Lagipula kalaupun benerin motor, Dicky yang rajin ke sekolah ngga mungkin ikutan ngga masuk kelas.
“lo yakin la?.” Tanya Aletta kembali, bahkan gadis itu belum sempat menaruh tasnya apalagi duduk di kursinya
“iya yakin.” Jawab Lala “lo kenapa sih ta?.”
“engga, perasaan gue ngga enak aja.”
“coba lo chat aja Athan.”
Belum sempat membuka hpnya bu Vira datang dengan membawa kertas ujian.
“selamat pagi anak-anak, hari ini ibu akan review ulang materi kelas 2, jadi siapkan bolpoin saja di meja, tas taruh depan, hp di matiin.”
“baik bu.”
“oh ya ini Athan, Dicky, Kelvin kemana kok bangkunya kosong.”
“ngga tau bu.” Celetuk salah satu anak paling ambisius dikelas.
.
Banyak anak Arcux yang berpencar, mereka memakai jaket untuk menutupi logo sekolah di bajunya. Ada yang duduk di depan warung-warung, ada yang duduk ditaman, ada yang makan bakso di pinggir jalan, hanya untuk memantau anak SMA lawan dan SMA Roni.
Mereka semua janjian jam 9 pagi, bahkan orang yang ada di jalan tempat mereka janjian tidak ada sama sekali, layaknya sudah diboking terlebih dahulu jalan itu.
Beberapa menit berlalu mereka menunggu, pasukan itu datang dari arah timur dan selatan, diluar dugaannya, mereka semua membawa senjata tajam dan juga balok kayu bahkan seragamnya masih terlihat jelas dari SMA mana.
Kericuhan berlangsung lumayan lama, saat tengah berlarian, Roni berlari di trotoar pejalan kaki, salah satu anak SMA musuhnya melemparkan pisau ke arah Roni.
“awas ron!.”
Jlebb
Belum sempat menghindar pisau itu mengenai kepala Roni, Roni tumbang dijalanan, Athan yang melihat itu langsung berlarian menghampiri Roni. Bersamaan dengan suara mobil polisi datang dan semua berlarian mencari tempat aman, berbeda dengan Athan yang berusaha membangunan Roni.
Dengan bantuan polisi, Roni dibawa ke rumah sakit bersama dengan Athan disampingnya.
UGD
Athan berjalan lalu lalang didepan pintu dimana Roni terkapar, Dicky, Aldo dan Areksa baru saja tiba, penampilan mereka babak belur dan pakaiannya lusuh karena kena tanah.
“gimana Roni?.” Tanya Dicky
__ADS_1
“gue ngga tau.” Athan menunduk memeluk lututnya
Areksa menyentuh pundak Athan “gue yakin dia ngga papa, bang Roni orangnya kuat.”
Kedua orang tua Roni datang, mereka tidak diberi tahu kalau putranya ada dirumah sakit, mereka mengetahui dari televisi kalau sekolah Roni dengan SMA lain tawuran hari ini dan satu siswa terkena bacokan pisau dikepala, jaket yang dipakai Rona terlihat disana.
Dokter keluar dari ruang UGD
“gimana anak saya dok?.”
“maaf bu, pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami tidak bisa menyelamatkan putra bapak dan ibu.” Ucap Dokter dengan rasa bersalah
Kedua orang tua Roni langsung masuk dan memeluk tubuh putranya yang sudah dingin dan pucat, suara tangisan terdengar menggema disana.
Sedangkan Athan memukulkan tangan nya di tembok merasa bersalah. Tangisnya pecah, banyak memori kebersamaan mereka terulang dalam otak Athan, tak hanya Athan mereka semua menangis.
“bilang ke gue kalo ini semua boong!!.” Teriak Athan pada Dicky, bahkan menarik kerah seragam milik Dicky
Dicky hanya menggeleng, dia tidak bisa mengatakan apapun.
“ini semua boong, dokternya boong pasti lagi ngerjain kita nih.” Athan langsung masuk keruangan dimana Roni terkapar di ranjang rumah sakit. “Ron bangun lo! Gila aja lo ngeprank nya kebangetan! Ngga usah aneh-aneh lo! Bangun ngga?!.” Athan terus menggoyang-goyangkan lengan Roni.
Aldo menarik lelaki itu dan memojokkannya di sudut ruangan. “lo sadar than!.” Aldo menampar pipi Athan “lo sadar kalo Roni udah ngga ada.” Lirih Aldo
“lo apaan sih anjingg!! Sialan lo bangsattt! Lo ngga tau aja Roni lagi ngeprank kita!.”
Areksa memegeng kedua pipi Athan “Sadar bang, sadar.” Dengan tangisnya Areksa berusaha menyadarkan Athan.
Athan terduduk lemas dilantai dan menunduk “dia bilang ke gue bakalan ngajakin gue benerin motor tadi hiks hiks.” Ucap Athan lirih sembari terisak. “Roni ngga pergi kan Dic? Lo tau kan Roni ngga akan ninggalin Arcux?.” Ucap Athan pada Dicky, tapi Dicky hanya menggeleng sambil menangis.
Pukul 5 sore, Roni dimakamkan setelah semua proses dilakukan, semua anak Arcux berada disana berkabung, termasuk Aletta dan Lala. Setelah keluarga Roni meninggalkan makam, hanya tersisa Athan dan inti Arcux, Aletta dan Lala memutuskan untuk melihat dari jauh atas perintah dari Aldo.
Athan terduduk didepan makam dengan tulisan Roni Marlo, dengan ketiga temannya. Athan tersenyum sembari menaruh bunga mawar di samping makam Roni, banyak mawar disana yang di taruh oleh anak-anak Arcux memenuhi sisi makam Roni.
“gue ngga nyangka lo bakal duluan ketemu Tuhan Ron, lo sahabat sekaligus keluarga buat gue, walaupun lo ingkar janji buat nemenin gue benerin motor, ngga papa kok asal lo sekarang udah ngga ngerasa sakit lagi diatas sana, kalo waktu bisa di ulang, gue ngga akan biarin lo turun kejalanan hari ini, gue bakal nerima awal pertemuan kita.” Ucap Athan
“lo inget ngga waktu awal gue masuk Arcux, lo yang nemenin gue Ron, padahal gue sekelas sama Athan, lo tuh salah satu orang berharga dalam hidup gue Ron, ngajarin gue banyak hal.” Ucap Dicky
“bagi gue lo tuh penyelamat hidup gue, walaupun lo mungkin udah lupa tapi gue inget banget lo nolongin gue waktu balapan dan gue jatuh, tepi sekarang lo udah tumbang duluan, bahu lo emang kokoh Ron, lo bener.” Ucap Aldo menahan air matanya yang hampir jatuh.
“bang, mungkin pertemuan kita ngga banyak tapi bagi gue lo punya kesan tersendiri, lo sebaik-baiknya manusia di bumi ini yang menghargai siapapun, lo juga ngajarin gue apa itu kekeluargaan, apa itu Arcux bagi hidup lo, dan sekarang Arcux adalah sebagian dari hidup gue juga karna lo, gue berharap lo bahagia diatas sana bang.” Ucap Areksa.
Kita ngga pernah tau kapan kita meninggalkan dunia dan seisinya, entah esok atau lusa kita ngga pernah tau, setiap detiknya kita hanya perlu berbuat kebaikan.
-Selamat jalan RONI MARLO 28 April 2021
⁂
__ADS_1