Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
LAIN DI MULUT LAIN DI HATI


__ADS_3

       Di hari Minggu pukul 09:10 pagi hari yang cerah, hari ketika keluarga bahagia akan kumpul bersama, namun karena Farka dan Areny tak punya keluarga bahagia, kecuali dalam angan-angan, maka mereka putuskan untuk menghabiskan waktu berdua di halaman rumah dekat dua pohon mangga, suasana kompleks perumahan hari ini cukup sepi, mungkin para tetangga Farka pergi jalan-jalan bersama keluarga mereka. Farka dan Areny tengah duduk berselonjor di atas tikar pacar, duduk saling bersebelahan menghadap jalanan atau tepatnya menghadap rumah tetangga bernuansa cokelat kayu klasik sambil fokus pada ponsel pintar masing-masing, tak lupa juga di atas tikar di tengah-tengah mereka telah tersaji dua gelas kopi hitam serta sepiring kue kering, uniknya mereka mengenakan jenis dan corak pakaian yang sama, celana jin yang dipotong pendek serta baju polos warna putih. Angin sepoi-sepoi membelai halus kedua wajah manusia itu, memberi kesan bahwa cuaca secerah harapan dan angan-angan mereka.


“Kayaknya keluargaku senang jika aku tidak ada,” keluh Areny dengan murung.


Namun pernyataan Areny mengubah suasana menyenangkan terasa menjadi suram. Sontak Farka langsung menoleh pada Areny yang duduk di samping kirinya.


“Eh, ada apa?” cemas Farka.


Areny pun menyodorkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto. Ternyata foto tersebut adalah foto mama ayah dan adik laki-laki Areny yang nampak berpose di sebuah taman, mereka tampak ceria tanpa Areny, bahkan ada sebuah video berdurasi pendek yang memamerkan adik laki-laki Areny tengah tertawa digendong oleh ayahnya, seolah mereka tengah menunjukkan pada dunia bahwa mereka adalah keluarga bahagia. Farka paham tentang perasaan Areny, gadis yang tak dianggap keluarga ini hanyalah seorang gadis yang ingin diakui. Farka menarik napas panjang dengan wajah menengadah pada langit, ia memandang jauh pada harapannya. Konyolnya, kesunyian dan renungan pecah kala Areny terkekeh, maka Farka pun kembali memandang Areny. Entah mengapa wajah murungnya telah tergantingan oleh raut ceria penuh kepuasan, ia masih memandang ponsel yang menunjukkan foto keluarga tirinya dan ia tersenyum.


“Aku senang karena... kepergianku bisa membawa kebahagiaan pada sebuah keluarga.”


Farka menelan ludahnya, raut mukanya nampak datar, tapi pandangannya menyiratkan kekaguman, ia kagum pada Areny yang mampu berbesar hati. Farka tahu betul tentang kehidupan Areny, gadis 16 tahun, yang memiliki hidung lancip, bermata hitam nan berbinar, alis hitam tegas, bentuk wajah hati, ditambah bibir tipis merah jambu yang memesona, kulitnya yang putih cerah memberi kesan kelembutan, rambut sepundaknya laksana gadis ceria yang membawa kebahagiaan, gadis ini pada dasarnya manis, lucu, namun tidak lebih anggun ketimbang Eril, dan tidak lebih cantik daripada Zeni, tapi Areny adalah gadis yang tak mudah menyerah. Areny pun memiliki kesamaan dengan Farka, ia tak pernah tahu siapa orang tuanya atau seperti apa wajahnya, yang jelas mereka sudah ada di panti asuhan, lalu diasuh oleh sebuah keluarga, malangnya Areny tak beruntung, sejak adiknya terlahir, pusat perhatian langsung tertuju pada sang adik, dia selalu dibeda-bedakan, bahkan ia selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan, mendapat kekerasan fisik hingga kekerasan moral, sudah tak ada tempat lagi baginya untuk tinggal dikeluarga itu.


“Mungkin juga keluarga kandungku di luar sana sangat bahagia sudah menitipkanku di panti asuhan,” ungkapnya sambil tersenyum senang dengan menengadahkan wajah menatap langit.


Farka masih merenung menatap wajah Areny yang nampak menyiratkan keteguhan serta ketegaran hati yang begitu kuat.


“Hahahaha...” tawa Areny.


Farka mengerjapkan matanya, ia tercengang dengan ekspresi Areny. Lalu Farka pun kembali menengadahkan wajahnya menatap langit.


“Maaf, maaf ya aku malah buat suasana jadi enggak enak begini...” sesal Areny dengan tersenyum hingga gigi putihnya mengintip.


Farka menoleh kembali memandang wajah manis Areny, lantas, di wajahnya, sebuah senyuman penuh bangga, penuh takjub mengembang khusus untuk Areny.


“Enggak apa-apa... ya, enggak apa-apa,” kata Farka sambil mengacak-acak rambut Areny.


“Eh woy! Woy! Woy...” sergah Areny berusaha menepis tangan Farka.


Farka pun berhenti dengan cengengesan.


“Rambutku sudah rapi-rapi, malah kamu acak-acak,” keluh Areny sambil menyiah rambutnya merapikannya.


Lalu, Farka meraih gelas kopinya, menyesapnya dengan memandang jauh ke depan layaknya menatap masa depan yang indah.


“Seperti inilah hidup, Areny,” kata Farka sembari kembali menaruh gelas.


Areny meraih sepotong biskuit di piring, lalu melahapnya.


“Ketua, apa kita akan terus bersama setelah lulus nanti?” tanya Areny dengan menoleh pada Farka.


Farka termenung memandang jauh ke depan.


“Iya, kalau kamu mau terus bersama, maka kita akan terus bersama,” papar Farka.


“Wah! Asyik kalau begitu!” balas Areny dengan riang gembira.


Lalu Areny memandang jauh ke depan dengan raut muka ceria.


“Setelah lulus nanti bagaimana kalau kita buat mimpi, lalu kita wujudkan mimpi kita bareng-bareng...!” ungkap Areny penuh harap.


“WAAAAAH KEREN BANGET KAN?!” serunya riang gembira penuh semangat sambil merentangkan kedua tangan.


Namun kala Areny menoleh pada Farka, Farka nampak tertunduk muram, seakan-akan ia telah memendam rahasia besar yang bila diungkapkan maka akan ada isak tangis mendalam. Wajah Areny pun berubah serius, kedua tangannya kembali diturunkan.


“Ada apa ketua?” usut Areny.


Lalu Farka mengangkat kembali kepalanya, dengan tersenyum penuh rahasia.


“Ahk, nggak apa-apa, ya nggak apa-apa,” balas Farka menggelengkan kepala.


Areny sengap tak tahu harus berbuat apa.


“Bagaimana kalau ternyata kita berpisah, aku pergi mencari nenekku?” tanya Farka serius masih memandang jauh ke depan.

__ADS_1


“Aku akan ikut mencari nenekmu! Iya! Ke mana pun kamu pergi, maka aku ada bersamamu!” jawab Areny dengan memandang Farka serius.


“Bagaimana kalau akhirnya kita harus berpisah?” kata Farka.


“Kita enggak...” ucapan Areny tersendat.


Lalu Areny memandang jauh ke depan seolah menerawang pikiran Farka, dia merenung begitu dalam.


“Kenapa kamu bicara begitu ketua?” selidik Areny.


“Ini kehidupan nyata, kadang kita tidak mendapatkan apa yang selalu kita kejar...” jelas Farka.


“...aku hanya ingin, jika kita nanti berpisah, kamu harus jadi wanita yang kuat pantang menyerah,” lanjutnya penuh harap.


Areny menghadapkan tubuhnya pada Farka menumpukan kedua tangannya di atas tikar dengan mengepalkan tinjuan raut mukanya berubah serius.


“Farka, apa kamu pernah mendengar, bahwa seseorang yang lemah mudah putus asa, dapat menjadi hebat penuh kekuatan hanya karena ada seseorang yang dia cintai bersamanya?” tanya Areny.


“Aku harap itu bukan kamu,” jawab Farka masih memandang ke depan.


Lalu Areny kembali duduk pada posisi awal dengan raut muka marah, ia marah pada sikap Farka yang seolah menyerah dan seenaknya menentukan masa depan yang terjadi, padahal belum tentu begitu. Areny sengap tak berkomentar lagi, tapi, hatinya telah terluka, ia merasa bahwa Farka tak ingin bersamanya, namun, Areny tak boleh menunjukkan rasa sakit ataupun kekecewaan ini pada Farka.


“Hal yang paling indah adalah melihat orang yang kita cintai mati ditangan kita, dan hal yang paling mengerikan adalah kita telah jatuh cinta pada orang yang mencintai kita,” ungkap Farka.


“Eh?” heran Areny.


“Bagaimana bisa disebut pengalaman manis kalau kehidupan kita pahit?” imbuh Farka.


Areny memandang Farka dengan bingung.


“Ini, aku dapat pesan dari Fihan...” ungkap Farka sambil menyodorkan ponselnya.


Kala pesan itu dibaca oleh Areny, ternyata ucapan yang tadi Farka utarakan adalah pesan dari Fihan.


Farka tersenyum.


“Nah, bagaimana kalau ternyata akulah psikopatnya, aku membunuh seluruh keluargaku demi kepuasan semata, terus aku mengincarmu...” guyon Farka dengan menyeringai memandang Areny.


“Hus! Itu nggak lucu!” ketus Areny.


“Hahahahaha...” tawa Farka.


Areny menunduk dengan raut muka marah, hatinya tak pernah bisa ditutupi bahwa dia telah terluka oleh perkataan Farka tentang perpisahannya, lantas Areny kembali memainkan ponselnya. Farka pun kembali meraih gelas kopinya, kembali menyesap menikmati setiap rasa yang singgah di lidahnya. Udara masih terasa segar, hari masih cerah, kompleks perumahan masih terasa sepi layaknya kuburan kala malam hari, hanya segelintiran manusia saja yang menyempatkan untuk melenggang di depan rumah Farka pergi entah ke mana, waktu terus berlalu bersama betahnya Farka serta Areny yang duduk berdua di halaman rumah menikmati hari libur, detik berlalu dengan menyesap kopi secara perlahan, menit pun berlalu, jam pun ikut berlalu namun rasa bosan belum berlalu dari benak dua manusia itu, makanan ringan sekaligus segelas kopi telah dilenyapkan oleh dua manusia itu. Di siang hari mereka sempat masuk ke dalam rumah untuk makan dan melaksanakan salat.


       Di pukul 13:21 siang hari yang cerah dengan langit biru yang ditemani oleh awan-awan putih, terik mentari terhalang oleh gulungan awan-awan, udara pun menyibak panas jadi terasa segar, Farka dan Areny tengah duduk saling bersebelahan di atas tikar pacar, kembali menikmati sisa hari libur yang bisa saja ini hari terakhir mereka untuk bisa merasakan hidup, dua gelas kopi sekaligus sepiring kue kering kembali tersaji menemani kebersamaan mereka, tetangga Farka masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tapi Farka yakin mereka masih sempat bertahan hidup. Desiran angin berembus kencang, dedaunan pohon mangga terlihat berguguran, aroma udara siang ini terasa lebih segar dari pagi tadi, Farka dan Areny masih sibuk dengan ponsel pintar mereka, sesekali mereka membicarakan hal-hal lain, seperti hobi, film, namun yang paling menarik adalah tentang akhir sekolah.


“Nanti, kalau kamu sudah lulus sebaiknya kamu lanjut berkuliah,” pinta Farka.


“Eh, tapi, aku...”


“Tenang, untuk biaya biar aku tanggung yang penting kamu harus banyak belajar,” ungkap Farka serius.


“Loh, bukannya kita sudah pernah membicarakan ini? Aku mau kerja bareng denganmu, aku enggak mau kuliah, itu membosankan!” tegas Areny.


“Kamu pernah dengar kan kalau masa depan bisa suram kalau kita bodoh?” tanya Farka.


“Itu orang bodoh yang mengatakannya jadi jangan dipercaya, sama dengan ucapan bodohmu itu!” tukas Areny.


“Loh?” heran Farka.


“Pokoknya! Aku tidak mau,” pungkas Areny.


“Tapi kalau nanti nikah sama aku mau kan?”


“Eh... itu... nggak mungkin. Jangan bercanda ahk!” balas Areny dengan kikuk.

__ADS_1


“Oh ya sudah, aku cari wanita lain saja,” kata Farka.


“Eh, aku, aku mau kok!” sanggah Areny dengan kikuk.


“Ha, tapi cuman bercanda,” guyon Farka.


Mendadak Areny langsung meninju bahu kiri Farka hingga Farka tersungkur.


“JANGAN BERCANDA KAYAK GITU DODOL!” sentak Areny.


“Aduh-duh! Pukulanmu keras juga,” keluh Farka sambil mengusap bahunya.


Areny senderut sambil bersedekap menyilangkan tangan. Farka pun kembali duduk diposisinya.


“Seharusnya kamu senang kalau nanti kuliah aku biayai,” tutur Farka.


“Enggak!” bantah Areny.


“Kamu mau tidak jadi orang sukses?” tanya Farka.


“Memangnya kayak gimana sukses itu?” heran Areny.


“Punya rumah mewah, banyak uang,” jelas Farka.


“Itu mah orang kaya bukan orang sukses,” sanggah Areny.


“Loh, terus kamu mau bagaimana? Suksesmu itu seperti apa memangnya?” usut Farka.


“Sudahlah, jangan kayak orang tua yang sukanya suruh ini, suruh itu,” geram Areny.


“Eh, dikasih tahu sama orang tua tuh susah kamu ya,” gurau Farka.


Areny masih senderut dengan bersedekap menyilang sembari memandang jauh ke depan. Udara berembus pelan, suasana kompleks perumahan ini tetap dalam kedamaian, tak banyak orang yang berlalu-lalang di depan rumah. Farka dan Areny secara bersamaan meraih segelas kopi mereka, menyesapnya dua kali, tak lupa menaruh kembali gelas ke posisi semula, mereka juga sempat menyantap wafer yang tersedia di atas piring, mereka benar-benar menikmati kebersamaan mereka dengan hari yang cerah. Sudah lima belas menit mereka bungkam, namun tetap sibuk dengan ponselnya masing-masing.


“Areny, kalau kita kuliah bareng mau?” tanya Farka.


“Iya maulah,” jawab Areny.


Farka mengangguk pelan, dia paham maksud ucapan Areny.


“Kita bisa kerja juga kan sambil kuliah,” ungkap Areny.


“Nah, nah, omong kosong,” sindir Farka.


“Eh?”


“Kita bukan anak-anak lagi, kita harus bersikap dewasa, jadi kamu harus mau kuliah sendiri,” kata Farka.


“Menyebalkan, kenapa sih kamu enggak paham juga!” gusar Areny.


“Aku paham, tapi untuk masalah ini kita harus memisahkannya, logika dan perasaan punya cara yang berbeda untuk dikerjakan...” jelas Farka terpotong.


“Kenapa sih lama-lama kamu kayak orang tua!? Bisa enggak jadi anak muda selayaknya saja enggak perlu ikut campur masalah orang lain!” ketus Areny dengan jengkel.


“Nah, ini yang aku maksud... aku cuman ingin membawamu ke arah yang baik, lagi pula, rumahmu di sini juga kan.”


Areny sengap dengan senderut, tetap fokus mengetik pada ponsel pintarnya.


“Sebenarnya kamu tidak mau kuliah juga tak apa...”


“YA TERUS KENAPA MEMAKSAKU UNTUK BERKULIAH!” sentak Areny.


“Ya sudah, kalau kamu ingin hidup bersamaku, maka, kamu harus siap menerima masalah apapun juga,” tutur Farka.


Areny masih sengap dengan senderut, tetap fokus mengetik pada ponsel pintarnya. Farka paham betul apa yang tengah dialami oleh diri Arny, ia baru merasakan kembali sensasi tinggal bersama orang yang perhatian padanya, sosok seorang ayah, seorang ibu yang telah lenyap membuatnya tak ingin berpisah dari Farka, Areny telah mencap Farka sebagai orang yang spesial baginya, menurut Guru Sukada, orang seperti Areny masih labil, emosinya belum stabil, Areny hanya takut kehilangan satu-satunya orang yang bisa dipercaya, semua sosok keluarga telah terangkum dalam sosok Farka, itu sebabnya Areny takut dengan bayang-bayang kuliah sendiri. Dan waktu terus berlanjut, dua manusia itu menghabiskan waktu libur mereka hanya berdua di rumah.

__ADS_1


__ADS_2