
Aku Fihan Alhamsiah, namaku diberi oleh ibuku, aku tidak tahu artinya apa, tapi menurut ibuku, namaku dari langit.
Aku terlahir dikeluarga terhormat, ayahku seorang wali kota dan ibuku seorang ustazah, tapi kami kurang akur, dan hampir setiap kali orang tuaku saling bertemu pasti mereka bertengkar.
Satu hal penting! Ibuku adalah wanita sakti, suatu hari, saat aku dan nenek tengah berada di ruang keluarga, sedangkan ibuku ada di ruang tamu, yang memang tak ada tembok sebagai pembatas sehingga aku bisa melihat tamu-tamu yang datang untuk meminta tolong.
“Saya sudah mengalahkan raja jin dan para siluman di kota Artana ini, dukun dan para pemuka agama sudah saya kalahkan.”
Pria badan bedegap yang duduk di sofa dengan bersedekap menantang ibuku.
“Kenapa enggak diajak ngopi om, atau nonton bareng di bioskop?”
Ibuku memang selalu bercanda apapun yang terjadi, lawak dan guyonan pasti ia lakukan, tapi, tak ada yang tertawa, karena siapa juga yang mau tertawa disaat-saat keadaan sedang kritis.
“Coba, tunjukkan siapa ibu sebenarnya?”
Tantang pria itu yang merasa lebih hebat dari ibuku.
“Loh ... ini saya om, cuman ibu rumah tangga biasa.”
Ibuku tetap santai.
”Oh ... apa ibu takut sama saya? Murid-murid saya saja takut.“
Pria itu menggertak ibuku.
”Bapak percaya Tuhan itu ada?“
Ibuku bertanya serius.
”Ahk ... Tuhan mah mitos Bu, mitos.“
Pria itu merasa benar dan terus memancing ibuku.
”Oooh ... baru tahu saya.“
Ibuku tetap santai.
Lalu pria itu mengulurkan tangan kanannya.
”Nih lihat ...“
Pria itu ingin menyombongkan sesuatu, tapi, tak terjadi sesuatu apapun, hingga tiga puluh detik tak terjadi apapun.
”Wah, benar om, kagak terjadi apa-apa.“
Ibuku berkelakar, dan selalu bercanda, ibuku memang nyeleneh menghadapi orang-seperti itu.
Pria itu tetap berusaha menunjukkan keangkuhannya, tapi tangannya sedari tadi tak terjadi apapun.
”Maaf ini, saya cuman kurang fokus saja.“
Pria itu mencoba membuat alasan agar kegagalannya tertutupi.
Namun karena tak terjadi apapun, pria itu mulai tertunduk dan menurunkan tangannya.
”Bingung ya ... ilmunya ke mana ... ilmu bapak sudah saya telan.“
Kata ibuku dengan santai, tiba-tiba pria itu menoleh pada ibuku, raut mukanya kaget, dan mulai gentar.
Aku pun benar-benar kaget mengetahuinya.
”Siapa sebenarnya ibu?“
Pria itu mulai panik.
”Tuh, lihat anak saya.“
Sontak pria itu menatapku, beberapa detik kemudian tiba-tiba dia malah tertunduk menangis.
”Hennnnng ... hiks hiks ...“
Konyolnya dia malah tertunduk menyesal, menangis sampai-sampai sesenggukkan, tapi aku tidak tahu apa yang ada pada diriku, tiga menit penuh pria itu menangis tanpa kata.
”Ampun Bu ... ampun ... ampun ...“
Dia memelas padahal tadi dia terlihat angkuh. Dan aku sudah terbiasa melihat hal seperti itu, mulai dari kelompok geng yang tiba-tiba menangis saat ibuku menampakkan telunjuknya, sampai lima orang penyihir yang sujud sehari penuh hanya karena ibuku beristigfar, aneh tapi ajaib, semua manusia yang kalah langsung masuk pesantren ibuku.
Aku selalu bertanya-tanya siapakah ibuku sebenarnya, mengapa dia sangat dikagumi oleh orang-orang, setiap kali aku dan ibu datang ke pesantren banyak kaum wanita yang berdesak-desakkan hanya ingin mencium tangan ibuku, padahal, selama di rumah, ayah selalu menampar ibuku, tapi anehnya ibu tak menunjukkan ilmu kesaktiannya.
Ibuku wanita bercadar, di atas kepalanya ada bunga melati yang tak pernah mati, senada dengan wangi parfum semerbak melatinya, tubuhnya tertutup kain hitam, bila dia keluar rumah, matanya akan selalu ditutup oleh kacamata merah.
Aku pernah bertanya pada ibuku.
”Mengapa ibu bercadar? Kenapa semua tubuh ibu tertutup kain hitam?“
Jawaban ibuku membuat jiwaku bergetar yaitu.
”Ibu lebih indah dari wanita di luar sana, lebih cantik dan elegan, maka ibu tutupi keindahan ibu, sebab, hanya suami ibu yang layak melihat keindahan ibu.“
Suatu hari, ibuku sedang duduk di tangga dan aku menghampirinya untuk bertanya.
”Ibu ... kata ayah Tuhan itu tidak ada, apa ibu menyembah khayalan?“
Aku selalu didoktrin oleh ayahku, bahwa Tuhan tidak ada, manusia hanya menyembah angan-angannya, kita tercipta oleh alam, dan alam menciptakan dirinya sendiri, yang disebut evolusi dan mutasi.
”Ih ... anak ibu lucu kayak kura-kura.“
Dan begitulah setiap aku bertanya hal serius, dia akan mencubit gemas pipiku dan menyebutku seperti kura-kura.
”Ibu, jawab yang serius dong!“
Aku mendesaknya.
__ADS_1
”Ngompol masih di kasur, tanya-tanya hal begituan.“
Ibuku menyindir, karena memang aku takut ke kamar mandi meski kamar mandi ada di kamar mewahku, sebab kata ibuku banyak yang mau menyihir ayahku, bahkan banyak ilmu hitam yang berusaha membunuh ibuku.
Meski ibuku terbilang hebat, tapi, banyak fitnah yang mengarah pada ibuku, katanya ibuku penyihirlah, orang gila, sampai dikatakan manusia sesat.
Kata nenekku, ibuku bukan orang sembarangan, dia bisa berceramah di sepuluh masjid dalam waktu satu malam.
”Oh, berarti ayah benar, Tuhan itu tidak ada.“
Aku memancing emosi ibuku.
”Anak ibu mah memang lucu kayak kura-kura.“
Lagi-lagi ibuku bicara begitu sambil mencubit gemas pipiku.
”Jawab dong ibu!“
Aku menyentaknya.
”Cie marah-marah.“
Aku kesal ibuku tidak menjawab pertanyaanku, tapi, saat aku hendak pergi, aku tertahan oleh kalimatnya.
”Bahkan iblis pun mengenal Tuhannya.“
Ibuku tampak mulai serius, dan aku menelan air liurku karena kaget.
”Nah Fihan, enggak bisa sembarangan kamu memahaminya, bisa-bisa kamu jadi gila, pembahasannya berat, daripada memikirkan sesuatu yang enggak bisa dipikirkan, mending kamu cuci piring, atau bersih-bersih rumah.“
Ibuku bicara serius, yang terkesan berkelakar.
“Tapi, aku mau tahu!”
Aku mendesaknya lagi.
“Dah, begini saja, apa yang kamu dengar dari ibu, maka itu adalah kebenaran yang harus kamu terima.”
Aku senderut, tak suka dengan ujung pembicaraan ibu, yang terkesan doktrin semata.
Tapi, sejak saat itu apapun yang aku dengar dari mulut ibu mulai aku pahami, ke mana pun ibuku pergi aku selalu bersamanya, ibu selalu ke pesantren untuk berceramah, dan setiap ibu berceramah, masjid akan penuh, bahkan warga disekitar pesantren rela duduk di luar masjid hanya untuk mendengar ceramahnya.
Suatu ketika ayah ibuku bertengkar, dan ayah melarang ibu berceramah lagi, aku tidak tahu apa yang mereka permasalahkan, namun yang jelas, ibuku selalu pergi ke taman bunga buatannya, taman yang dibuat saat aku berulang tahun kedua.
Saat sedih ibuku tak banyak bicara, dan aku selalu bersamanya di taman itu, aku selalu terbaring di atas kursi panjang dengan kepala yang bersandar di paha ibuku.
Bunga kini menjadi simbol perasaan kami, sejak usiaku tujuh tahun, ibu berubah menjadi pendiam, kadang aku rindu dicubit gemas pipiku dengan menyebutku lucu seperti kura-kura.
Setiap ayahku pulang dari pekerjaannya, dia bisa memarahi ibuku tanpa alasan, kadang ayahku mabuk-mabukan di rumah dengan teman-temannya, bahkan, banyak wanita yang selalu mesra pada ayahku, dia tidak malu dengan gelar wali kota yang tersemat padanya.
Aku tahu! Bahwa ibuku memendam perasaan sakitnya dengan keceriaan, tapi dia selalu jujur jika aku tanya.
Saat kami duduk berdua di taman aku bertanya pada ibuku.
“Kenapa ibu biarkan ayah bersama perempuan lain?”
Penjelasan ibu cukup meyakinkanku.
“Kenapa ibu enggak lawan dengan kesaktian?”
Aku keheranan dengan kemampuannya yang tak pernah digunakan untuk melawan ayahku.
“Ibu tidak sakti, apapun yang kamu lihat, itu adalah hukum sebab akibat.”
Ibuku membantah.
“Hah?”
Jelas aku kebingungan.
“Ketika kamu menyentuh api, maka kamu akan kepanasan, jadi jangan menyentuh api kalau tak mau kepanasan.”
Ibuku memperjelas, meski sebenarnya aku tidak paham, jadi aku mengganti topik pembicaraan.
“Ajari aku ibu, biar aku bisa seperti ibu.”
Aku memohon dengan sungguh-sungguh.
“Seperti ibu itu seperti apa? Kalau hanya sakti, iblis pun bisa menyesatkan manusia dengan kata-kata.”
Ibuku berkilah.
“Ya sudah, aku ingin melihat wujud asli ibu.”
Aku mendesak dan penasaran, siapa ibu sebenarnya.
“Setelah pulang sekolah, kamu pergi ke pesantren, belajar di sana, nah, nanti kamu akan melihat wujud asli ibu.”
Maka sejak saat itu, setiap pulang sekolah, aku belajar mengaji di pesantren.
Dan baru saja aku menginjak kelas delapan SMP, sebuah kejadian paling mengerikan yang berpadu dengan keajaiban terpampang di depan mataku.
Saat itu, pintu menutup ruang kerja ibuku, tapi aku bisa mendengar orang tuaku yang tengah bertengkar.
Aku mulai berdiri di samping pintu, berusaha menguping pembicaraan orang tuaku, dan entah mengapa, aku merasa tertarik untuk mendengarnya, sebab, biasanya aku akan pergi jika mereka sudah bertengkar.
“Siapa kamu sebenarnya?!”
Ayahku bertanya untuk mengetahui jati diri ibuku.
“Aku istrimu.”
Ibuku terdengar menjawab dengan santai.
__ADS_1
“Bohong! Sudah banyak orang-orang yang menyebutmu penyihir!”
Ayahku terpancing dengan fitnah yang menyebar pada ibuku, dia bahkan mulai benci dengan istrinya sendiri.
“Aku istrimu, bukan penyihir.”
Dan ibuku tetap menjawab dengan santai.
“Tunjukkan siapa kamu! Atau nyawamu akan hilang!”
Ayahku mengancam dengan serius.
“Aku istrimu....”
Aku mengernyit bingung, sebab keheningan kini menyeruak beberapa saat, mereka seperti ditelan bumi.
Tapi tiba-tiba, pintu terbuka, dengan ayahku yang berlari tunggang langgang ketakutan, sampai-sampai tak menyadari kebaradaanku di sini.
Inilah yang ibu sebut! Sebuah keajaiban luar biasa yang baru kali ini aku lihat! Diri ibu yang sebenarnya!
Aku sempat melongo saat menatap ke dalam ruang kerja ibu.
Keajaiban itu semakin meluas, maka aku mulai melangkah masuk ke dalam ruangan, aku berjalan di atas air, dengan bunga teratai merah jambu yang mekar mengapung di atas air, bahkan ada yang mengelilingi kaki ibuku.
Aku masuk ke dalam ruangan yang kini berubah menjadi lautan biru dengan langit biru cerah, lengkap dengan awan-awan putih, tapi ada keindahan yang tak bisa aku jelaskan!
“Ibu ... ibu kok ada empat?”
Benar! Ibuku ada empat, berdiri di setiap penjuru mata angin, menghadap dengan tersenyum tenang.
Wujud ibuku benar-benar luar biasa! Wajahnya berubah cerah lebih cantik dari biasanya, keningnya agak bercahaya dengan sebuah tulisan arab yang tidak bisa aku baca, Kainnya berubah menjadi warna putih, setiap kuku tangannya terdapat tulisan arab yang tak bisa aku baca, dia berdiri di atas bunga teratai yang lebih besar dari lainnya, napasnya nampak memunculkan warna agak kekuningan nan cerah.
“Ibu ... apa benar ini ibu?”
Aku mencoba memastikan, sebab bagaimana bisa ibuku jadi empat? Ditambah wujudnya begitu indah, hingga tak ada kata-kata yang mampu menjelaskannya.
Ibuku mengangguk dengan tersenyum tenang.
“Ha? Tapi bagaimana bisa? Ibu, ibu ...”
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, yang jelas aku menelan air liurku dengan tercengang-cengang.
“Aku ingin seperti ibu!”
Maka aku mendesak dengan bersungguh-sungguh.
Mata ibuku terarah ke depan tanpa menatapku, dan aku berdiri di depannya dalam jarak dua meteran.
“Kamu tidak akan sanggup.”
Suara ibuku benar-benar berbeda, suaranya bukan terdengar lewat kupingku, melainkan dari dalam dadaku.
“AKU INGIN SEPERTI IBU!”
Aku ngotot dan memaksa.
“Apa kamu siap dibenci oleh dunia? Apa kamu siap diludahi oleh seluruh kaum? Apa kamu siap hidup dalam fitnah?”
Ibuku memastikan yang terkesan menakut-nakutiku.
“Aku ...”
Aku sebenarnya takut, jadi aku menolak.
“Kembalilah ke sekolah, kamu memang tidak bisa menjadi ibu, tapi, kamu punya ibu yang sudah seperti harapanmu.”
Penjelasan ibuku membuatku bingung, tapi ada benarnya juga.
“Kenapa banyak yang membenci ibu? Kenapa orang-orang itu ingin membunuh ibu?”
Aku mengganti topik, sebab aku heran pada orang-orang yang memfitnah ibuku, kenal saja tidak, kok mereka sudah berani menuduh.
“Coba kamu tanyakan pada mereka.”
Ibuku berkilah, tapi aku tahu, dia tak ingin berburuk sangka, tepatnya agar aku tahu sendiri.
Aku terus menatap wajahnya, dan hanya kedamaian yang menyeruak dalam benakku.
“Waktumu sudah habis.”
Ibuku mulai menghilang.
“Aku ingin bersamamu ibu! Aku ingin bersama ibu!”
Aku memohon dengan sungguh-sungguh, karena aku tahu, kehidupan di dunia sangat menyakitkan.
“Ibu selalu bersamamu, ibu bersembunyi di dalam terang, ibu bersembunyi di depan matamu, ibu bersembunyi di dalam matamu, dan ibu bersembunyi di dalam rahasia.”
Ibuku menuturkan kalimat kiasan yang memiliki makna cukup dalam.
“Kenapa ibu harus bersembunyi?”
Aku menyelidik, sebab aku tidak tahu arti dari kalimat ibuku.
“Agar kamu merindukan ibu, agar kamu memikirkan ibu, dan jika kamu membenci ibu, kamu hanya membenci dirimu sendiri, jika kamu mencintai ibu maka kamu hanya mencintai diri sendiri.”
Dan semua kembali normal bersama kedipan mataku, bahkan, aku telah berdiri di depan jasad ibuku yang terbaring tak bernyawa, ayahku adalah pelakunya, dan wajah cantik nan berkarisma ibu terpampang kentara, cadarnya hilang entah ke mana.
“Hennnnng ibu ... hiks ...”
Aku menangisi ibu, bukan karena cinta, bukan pula karena kehilangannya, tapi, karena kasihan pada ibuku yang sudah difitnah.
Sejak kematian ibuku, ayahku mulai mendoktrin pemahamannya padaku, bahkan dia sendiri menyatakan, bahwa ibu sesat dan menyesatkan, ibu adalah penyihir yang menyamar menjadi orang baik, aku tidak percaya pada fitnah itu, tapi aku percaya pada pemahaman ayah tentang kehidupan.
__ADS_1
Pemahaman ayah memang masuk diakal, tapi, setiap perkataan ayah juga bisa dibantah oleh ibu, dan dari situlah aku kebingungan.
Tapi, aku tahu, kebenaran apapun yang dimiliki oleh manusia, bahkan oleh keluargaku sendiri, tetap akan kalah oleh satu hal yang disebut keegoisan, atau aku menyebutnya sebagai mendoktrin diri sendiri.