
Aku adalah Erilia, akrab dipanggil Eril, aku terlahir di keluarga yang penuh kecerian, jadi jelas aku bahagia.
Aku punya adik laki-laki, bernama Ahada tapi kami jarang ngobrol, bermain pun jarang.
Mama papaku adalah orang tua yang disiplin, apapun yang terjadi kami harus selalu tepat waktu, tapi, mama papaku adalah orang yang baik.
Kami punya tetangga orang terhormat, yaitu seorang wali kota, tapi yang membuatku tertarik justru anak sang wali kota, yaitu Fihan.
Hampir setiap hari aku keluar rumah hanya untuk melihat laki-laki itu, pasalnya, di sekitar rumahku hanya Fihan anak yang seumuran denganku, sisanya anak-anak sudah remaja, dewasa dan sudah tua.
Meskipun kami bertetangga, namun aku tidak berani untuk berkunjung ke rumahnya, masalahnya aku adalah gadis pemalu, bukan itu saja, keluarganya adalah orang-orang terpandang.
Karena alasan itulah, aku hanya bisa memandang dari depan gerbang rumahnya, berharap bisa melihat Fihan dari jauh, terkadang dia sedang bersama ibunya di taman, terkadang dia bersama ayahnya, terkadang juga dia sendirian, dan aku tetap memandang dia dari luar, entah dia melihatku apa tidak, yang jelas, aku merasa selalu senang.
Suatu hari diulang tahun Fihan yang kesebelas, orang tuanya mengadakan syukuran, di rumah megah mereka, jelas, aku diundang ke sana, dan aku membawa mamaku ke acara.
Ini adalah kesempatan pertamaku untuk bisa berkenalan dengannya.
Acara sangat meriah, aku sangat tak menyangka banyak sekali anak-anak yang datang, padahal yang aku tahu, Fihan jarang terlihat bermain bersama anak-anak.
Acara ulang tahunnya agak aneh, di sini tidak ada musik atau nyanyian, justru acara ini terlihat seperti pengajian, mungkin karena ibu Fihan itu adalah seorang ustazah, jadi acara lebih menonjolkan sisi keagamaan, ketimbang budaya pesta pora.
Tapi meski begitu, Fihan tampak bahagia, satu hal yang membuatku tertarik dari ibunya Fihan, bahwa ibu Fihan adalah satu-satunya wanita bercadar di acara ini, bahkan dia mengenakan kacamata dengan kaca berwarna merah terang, pakaiannya serba hitam dan menutupi semua anggota badannya, tapi, kata papaku, siapapun pria yang menatap mata ibu Fihan, pasti akan jatuh cinta, meski tak melihat wajahnya, mungkin papaku begitu, tapi, setahuku, ibu Fihan tak pernah melepas kacamatanya kala di luar rumah.
Sang wali kota sendiri tidak hadir karena sibuk, acara sendiri hanya makan-makan dan satu hal yang paling seru adalah adanya permainan berhadiah, jelas karena aku pemalu, banyak permainan yang aku lewatkan, padahal mama selalu memintaku hingga mendukungku untuk berpartisipasi.
Namun aku bersyukur tidak ikut bermain, karena, ibu Fihan dan Fihan datang menghampiri kami, itulah yang aku harapkan, bisa berbincang dengan Fihan.
“Ayo... bermain... jangan malu...”
Astaga, aku sangat terkejut dengan suara ibu Fihan, suaranya terdengar dalam dan tegas, Fihan berdiri di samping ibunya memandangku dengan raut muka dingin.
Aku tersenyum padanya, tapi Fihan memalingkan muka, sedangkan mamaku malah ngobrol dengan ibu Fihan.
Ibu Fihan sempat memberiku amplop berisi uang, aku mengambilnya dengan ucapan terima kasih, sambil beringsut ke belakang mamaku, karena aku malu.
Dan agar tetap aman, aku masukkan amplopku ke dalam saku rokku.
Lalu mamaku pergi bersama ibu Fihan menghampiri para orang tua di belakang, menyuruhku untuk bermain bersama Fihan dan yang lain, sedangkan para orang tua mengawasi dari belakang.
Di halaman rumah Fihan ini, kami bersenang-senang, tapi, kalimat itu lebih cocok pada anak-anak yang lain, sebab, aku dan Fihan hanya berdiri memandang anak-anak bermain.
“Kamu enggak ikut main?”
Untuk pertama kalinya, dia bicara padaku, hingga aku hanya terpegun memandangnya beberapa detik.
Aku senang, tapi, sangat malu dan takut, aku takut salah ucap, sebab dia adalah bagian dari keluarga terhormat.
“A-aku ti-tidak mau...”
Perkataan anehku justru membuat Fihan memandangku terheran-heran, aku bahkan jadi gugup.
“Iya, kenapa enggak mau main?”
Fihan ingin tahu sekali alasanku tidak bermain.
“Aku... ingin bermain denganmu...”
Ucapanku yang terus terang dan terkesan konyol, membuat dia pergi dariku, aku tidak tahu kenapa dia melangkah pergi.
Apa aku sudah salah ucap? Apa dia tidak suka padaku? Atau aku malah melukai perasaannya?
Aku hanya sanggup berdiri dengan menunduk menyesal, karena, aku telah melukai perasaannya, walau memang terdengar aneh, ada orang yang terluka hanya karena ada yang mengajaknya bermain.
“Ayo kita pergi ke taman...”
Mendadak aku terkejut mendengar ajakan Fihan, aku kira dia benci padaku, atau tak ingin bermain denganku, namun nyatanya aku salah.
Maka aku buru-buru berlari mengikuti Fihan dengan pandangan menunduk malu.
Kami tiba di taman bunga, yang katanya ini adalah taman buatan ibunya, kami hanya duduk di kursi panjang sambil memandang bunga-bunga berwarna-warni tanpa tahu nama bunga-bunga itu, kecuali Fihan, dia sepertinya tahu semua jenis bunga di sini, yang jelas kami hanya duduk tanpa bicara.
Aku duduk sambil mengayun-ayunkan kedua kakiku ke depan dan ke belakang, berusaha membuat diriku merasa nyaman, sebab, aku mulai bosan, sedari tadi, diam dan diam saja, apa lagi Fihan, dia seperti patung, tanpa ada pergerakan sedikit pun, dia begitu menikmati suasana damai di taman rumahnya ini.
Memang taman ini agak jauh dari pengawasan orang tua, tapi, tetap bisa terpantau.
“Bunga mana yang paling kamu sukai?”
__ADS_1
Jelas aku bertanya, sebab aku jenuh dan Fihan sama sekali tak bicara, tapi, dia tampak terhibur hanya dengan memandang bunga-bunga saja.
'Gila dia memang menyukainya, matanya tak berkedip kala menatap bunga, ternyata ada ya, manusia yang terhibur tanpa jenuh hanya dengan menatap bunga' aku berbisik dalam hati.
“Bunga Lily kuning bunga kesukaanku, kata ibuku itu adalah lambang kebahagiaan, dan setiap ibuku bertanya tentang perasaanku saat didekatnya, aku pasti menjawab, bunga Lily kuning, bunga Lily kuning.”
Penjelasan Fihan yang diutarakannya dengan senyuman dan gaya bicaranya, sangatlah menegaskan kebahagian serta cinta kasih pada sang ibu yang begitu dalam.
Aku hanya tersenyum dan hanya manggut-manggut saja.
Sejak saat itu, aku mulai berani berkunjung ke rumah Fihan, rasa maluku entah mengapa meredup saat didekatnya.
Aku dan Fihan selalu berada di taman rumahnya, duduk di kursi, sambil memandang bunga-bunga.
Anehnya, aku yang dulu pemalu sekaligus pendiam, kini, malah berubah cerewet, tapi, aku hanya cerewet bila berdua dengan Fihan saja.
Fihan selalu menceritakan sejarah-sejarah bunga-bunga yang ada di tamannya, dia hapal betul semua sejarah bunga-bunga di sini, entah benar atau salah, yang jelas aku menyukainya saat dia mulai bicara, dia benar-benar terlihat menawan saat menjelaskan sejarah bunga-bunga, sampai aku mulai mengaguminya, senyuman yang mengembang di wajah manisnya, membuat mataku tak lelah menatapnya.
Dia akan tersenyum hingga menampakkan gigi putihnya saat menjelaskan bunga Lily merah, dia akan tersenyum simpul jika menjelaskan bunga Liliy putih, dia akan tersenyum tipis jika dia menjelaskan bunga Lily kuning, dan dia akan serius jika menjelaskan bunga Lily jingga.
Ternyata saat-saat bersamanya adalah hal yang asyik, namun, semua keasyikan itu akan sirna, bila kami melihat orang tua Fihan bertengkar di depan rumahnya, bahkan aku terpaksa pulang karena sangat takut dengan ayahnya bila sedang bertengkar.
Dan Fihan selalu tak suka jika aku pergi, kadang dia memaksa aku agar tetap tinggal, tapi aku tetap pergi, kadang dia menggenggam tanganku, tapi, aku juga tetap pergi.
Hingga suatu hari, kami kembali duduk di kursi taman, namun kali ini, kami duduk bersama ibu Fihan, dia duduk di tengah-tengah kami, tangannya yang tertutup sarung tangan putih merangkul bahu kami.
Gila aura keibuannya sangat kental kala itu, parfumnya semerbak bunga Melati, dan aku merasa sangat nyaman didekatnya.
Penampilannya bahkan masih sama eksentrik seperti acara ulang tahun Fihan, kacamata merah masih melekat menutup matanya, bahkan, terdapat bunga melati yang menghiasi kepala berkerudungnya dengan indah.
“Kalian... suka bunga yang mana?”
Ibu Fihan bertanya dengan serius, kadang aku penasaran seperti apa wajahnya, atau seperti apa matanya, dia benar-benar wanita yang tertutup.
Namun kata Fihan, ibunya bukanlah wanita yang cantik, tapi, sang ibu adalah wanita yang berkarismatik meski wajahnya tertutup, uniknya, jika sang ibu sudah berceramah, maka, semua manusia yang mendengar suaranya, akan mulai mendatangi tempat dia berceramah, malah, dulunya banyak pria yang mengincar sang ibu, padahal wajah ibu Fihan tertutup.
Aku percaya pada perkataan Fihan, sebab, suara ibunya memang terasa menarik, entah kenapa sampai-sampai kepalaku melukiskan wajah yang begitu cantik bila ibu Fihan bicara, tapi, aku juga tidak tahu yang sebenarnya.
Ada cerita unik tentang ibunya, kata Fihan, ibunya adalah wanita sakti, pernah suatu hari, mereka ditodong oleh seorang pria agar memberikan semua uang milik mereka pada sang penodong, ajaibnya, saat ibu Fihan mengulurkan tangan kanannya, lalu membuka sarung tangan yang membungkus tangan kanannya, penodong itu anehnya malah terpaku seperti patung saat menilik telapak tangan ibu Fihan, dan sang penodong tak bisa bergerak sedikit pun, hingga akhirnya, mereka pun bisa lolos dengan selamat.
Entah aku harus menanggapinya seperti apa, aku cuman manggut-manggut saja.
Fihan dengan bangga menjawab pertanyaan ibunya.
“Aku... bunga Lily merah.”
Aku pun menjawab dengan bangga tak mau kalah dari Fihan.
Selepas itu keheningan terjadi, kami menikmati suasana damai, dengan warna-warni bunga.
Tapi, tiba-tiba suasana berubah, kala Fihan mengajukan pertanyaan pada ibunya.
“Ibu, sekarang perasaan ibu bunga apa?”
Tanpa ada kata, tanpa banyak membuang waktu, jari telunjuk sang ibu, mengarah pada sebuah bunga, yaitu bunga Krisan putih.
“Bunga Krisan putih?”
Fihan menanyakan untuk memastikan kebenarannya, karena dia tahu, bahwa bila ibunya menunjuk bunga itu, maka, sang ibu sedang bersedih.
Sang ibu mengangguk tanpa bicara, tapi, kami tahu, itu tanda benarnya dugaan Fihan.
Aku pun hanya bisa terdiam.
Fihan lalu meraih tangan kiri ibunya, Fihan tahu betul, perasaan sang ibu yang lembut, selalu terluka oleh sikap kasar ayahnya.
Fihan menggenggam erat tangan kiri sang ibu, memangkunya, dengan mengusap tangan sang ibu yang terbungkus sarung tangan, berharap ibunya tahu, bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan selama masih ada Fihan.
“Tenang ibu, tenang... aku pastikan semuanya akan baik-baik saja...”
Kalimat penuh cinta itu dilontarkan Fihan sambil memandang bunga-bunga.
Namun sang ibu, terdiam tak berkata, tak bergerak.
Hari itu berakhir karena sudah sore.
Ke esokan harinya, sepulang sekolah, aku kembali duduk di kursi taman bersama Fihan.
__ADS_1
Orang tuanya sedang sibuk pergi ke suatu tempat, jadi di rumah hanya ada sang nenek serta asisten rumah tangga.
“Fihan... bunga apa yang mewakili perasaanmu sekarang?”
Aku bertanya sekaligus membuka pembicaraan, dan kami memang biasanya akan bertanya seperti itu jika berada di taman ini.
“Lily kuning.”
Fihan menjawab dengan pasti.
“Kamu bagaimana?”
Fihan pun balik bertanya.
“Lily kuning.”
Aku menjawab dengan penuh semangat.
Kami saat itu sedang dalam hati yang gembira, pasalnya kami akan lulus dari SD, bukan itu saja, aku berkata pada Fihan kalau aku akan satu SMP dengannya, dan Fihan senang mendengarnya.
Lalu saat itu, Fihan mengambil empat bunga Lily yang berbeda warna, bunga-bunga itu di ditaruh di dalam stoples, dia memberikannya padaku.
“Di sini ada bunga Lily, dari plastik, jadi kamu enggak usah khawatir layu.”
Fihan menjelaskan dengan sangat serius.
“...kita buat permainan, di sekolah nanti kamu bawa satu saja bunga itu, nah... aku juga bawa satu, kalau bunga yang kita bawa warnanya sama, itu artinya, kita berjodoh, tapi, kalau bunga yang kita bawa warnanya berbeda, maka kita akan berteman selamanya.”
Aku menelan ludahku, saat Fihan berkata tentang jodoh, aku begitu tercengang dan mendadak malu.
Tentu aku senang, dan di rumah aku mulai memikirkan, bunga mana yang kira-kira harus aku bawa.
Tepat setelah kelulusan SD, bahkan setelah pendaftaran SMP selesai dan kami memang benar-benar satu SMP.
Di hari pertama masuk sekolah, aku telah membawa bunga Lily warna kuning, dengan harapan aku berjodoh dengannya.
Jam istirahat adalah saat kami bisa bertemu, Fihan tersenyum padaku saat dia memandangku, jelas aku pun tersenyum.
“Nah, sesuai janji.”
Aku mencoba mengingatkan Fihan, dan Fihan mengangguk, paham.
Aku membawa stoples yang hanya berisi bunga Lily kuning, tapi Fihan tak terlihat membawa apapun.
“Nah... bunga apa yang kamu bawa?”
Fihan bertanya lebih dulu, maka tanpa basa-basi aku langsung membuka tutup stoples lantas meraih bunga milikku, aku menyodorkannya ke hadapan Fihan.
“Waaah... bunga kita sama.”
Seru Fihan dengan gembira, jelas mendengar hal itu aku terkejut, bahkan senang, sebab itu artinya, kami berjodoh.
“Mana bungamu?”
Aku mencoba memastikan kebenarannya.
Fihan merogoh saku kiri celana pendeknya, dan benar saja saat dia menyodorkan bunganya, dia meraih bunga Lily warna kuning, menegaskan kebenaran kita berjodoh.
Sekonyong-konyongnya, kita malah tertawa.
“Hahahaha...”
“Ini gila...”
Aku masih sangat tercengang.
“Hehehe....”
Kami kembali tertawa merasa aneh.
Tapi, aku buru-buru memeriksa kantong celana Fihan.
“Eh... kenapa?”
Jelas Fihan terheran-heran dengan tindakanku.
“Enggak, aku kira kamu bawa semua bunganya, terus kamu melihat punya aku lebih dulu, biar kamu bisa menyamai dengan bungaku.”
__ADS_1
Aku tidak mendapatkan apapun di semua saku celana Fihan, dan semakin menguatkan kebenaran, bahwa ini memang kebetulan.
Catatan: setelah beranjak dewasa, perbuatan itu terkesan norak.