
Di hari Senin, sekolah kembali berlanjut, 09:01 pagi hari, pelajaran Biologi di kelas 12 tengah berlangsung, seorang wanita berambut perak yang dicat, rambut panjang bergelombang sedada yang nampak elegan membingkai wajah oval mulusnya, bermata cokelat kecil sorot matanya menegaskan dinginnya hati, dengan bibir tebal merah merona nan seksi seolah mampu menyihir para pria untuk bertekuk lutut, suaranya yang dalam namun citra wanita anggun terpatri pada suaranya yang menurut Aqada itu adalah citra dari keindahan suara, tinggi nan langsing, ditambah kulitnya yang cokelat eksotis siapapun yang memandangnya tak akan pernah bosan, ia mengenakan setelan wanita kantor, Guru Kativia seorang wanita berumur 35 tahun yang justru terlihat seperti wanita berumur 22 tahun, aura dan gayanya mencerminkan seorang wanita terhormat. Guru Kativia tengah berkeliling meja-meja para murid sambil menerangkan teori Evolosi.
“Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan hanyutan genetik...” ucapan Guru Kativia belum selesai.
Dia berhenti di samping meja Fihan, nampaknya Guru Kativia terganggu oleh sikap Fihan yang semena-mena, laki-laki itu tengah tertidur dengan kepala dan kedua tangannya yang terkapar di atas meja. Guru Kativia berdiri dengan raut muka cueknya, melihat dengan acuh tak acuh.
“Bangun anak muda!” kata Guru Kativia dengan lantang.
Dan karena suaranya yang sangat khas nan tegas, tapi tetap berkesan keanggunan wanita terhormat, maka dengan seketika Fihan tersadar dari tidur nyenyaknya. Ia mulai duduk dengan tegak, lalu berdecak terganggu. Seluruh fokus perhatian kini tertuju pada Fihan.
“Tidak biasanya kamu tertidur Fihan,” heran Guru Kativia dengan mengaitkan kedua tangan ke belakang.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Fihan, ia kembali lagi pada kebiasaan konyolnya, dia berlagak angkuh, dingin dan masa bodoh, pandangannya ke depan menatap belakang kepala Juvi yang dikerudung.
“Apakah penjelasan saya layaknya seorang ibu yang mendongeng hingga membuat si bocah manja tertidur,” sindir Guru Kativia.
Fihan bersedekap menyilang, masih dengan sikap dingin dan masa bodohnya, seakan ia tak menganggap Guru Kativia telah hidup di sisinya. Maka Guru Kativia melangkah ke meja Fihan menumpukan kedua tangannya di atas meja Fihan sambil menghadapkan wajahnya ke wajah tampan Fihan.
“Apa kamu menantang saya?” tanya Guru Kativia dengan tatapan dingin penuh bahaya.
Guru Kativia memiliki kesamaan karakter dengan Zeni serta Fihan, tapi, Guru Kativia jauh lebih elegan dan memesona ketimbang dua remaja yang baru merasakan kedewasaan itu, pembawaannya sangat anggun, tapi, Guru Kativia adalah penganut paham hedonisme, konyolnya dia juga wanita yang mudah terhasut dan cepat marah. Fihan tetap betah dalam sengap.
“Tolong jawab anak muda!” sergah Guru Kativia.
Seluruh murid lagi-lagi mendapat sebuah tontonan menegangkan antara murid dan guru. Fihan merasa geram dengan tingkah Guru Kativia, seolah-olah Guru Kativia sengaja memancing keributan dengan Fihan, padahal cukup dengan Fihan yang kembali terjaga, maka waktu tak banyak terbuang, tapi justru, sikap Guru Kativia layaknya anak-anak, pikir Fihan begitu.
“Anda, membuang-buang waktu hanya untuk meladeni orang seperti saya, sebagai guru anda itu payah,” sindir Fihan dengan lagaknya.
Sontak, seluruh manusia-manusia di kelas 12 ini kembali terperangah dengan sikap lancang Fihan, mereka merasa kecewa, mengapa Fihan sampai sebegitunya berani melawan seorang guru. Eril sang pengagum yang tak pernah mau kehilangan Fihan, dia komat-kamit membaca do'a agar semoga Fihan sang pujaan hatinya, tetap dalam kedamaian. Maka Guru Kativia bangkit kembali menegakkan tubuh langsingnya, pandangannya menerawang jauh pada kekosongan.
“Sekarang jawab!” pinta Guru Kativia.
“Teori apa yang tadi saya jelaskan?” ujinya.
“Evolusi adalah proses perubahan yang berlangsung sedikit demi sedikit dan memakan waktu yang sangat lama, evolusi dibedakan menjadi evolusi progresif dan evolusi regresif...” jelas Fihan dengan lancar nan lantang.
Suasana ruang kelas terasa senyap dan mencekam.
“Nah, sekarang pertanyaannya, apakah Tuhan juga berevolusi?” tanya Fihan menantang.
“Jika anda tidak bisa menjawabnya maka berhentilah menjadi guru sekarang juga,” ketusnya.
Guru Kativia terpegun merenung. Sementara murid-murid nampak mulai gusar dengan sikap lancang Fihan, tak ada satu murid yang terbiasa dengan sikap lancang Fihan, mereka semua justru berharap Fihan berubah menjadi anak yang baik mau menerima saran dari guru atau setidaknya bersikaplah patuh pada guru, bahkan Eril tak suka sikap membangkang yang dimiliki Fihan. Sekonyong-konyongnya seorang murid yang duduk dibarisan paling depan bangkit berdiri dengan gusar.
“Woy anak setan! Jangan sok paling pintar kau bodoh!” sentak Derka terpancing dengan sikap kurang ajar Fihan.
“Diam di sana sampah! Tak pantas seekor anjing bicara padaku!” balas Fihan dengan tertunduk penuh rahasia.
Sontak Derka yang memiliki jiwa bertarung naik pitam, murka, bahkan mulai beranjak dari kursi, beranjak untuk memulai serangan lebih dulu, namun sebelum ia berhasil meloncati sebuah meja, ia telah dihadang oleh Sazan dan Kahji yang bergerak sangat cepat, memegang bahu Derka.
__ADS_1
“Sini kau bocah! Bertarung sama saya!” bentak Derka meronta-ronta.
Jelas beberapa murid mulai bangkit berdiri, terbawa suasana tegang, Eril pun hingga buru-buru menghampiri Fihan, apapun yang terjadi, Eril akan melindungi Fihan, Farka sang ketua kelas nampak telah berdiri dengan sigap, siap untuk menghalau masalah besar yang mungkin terjadi.
“Tenang sobat, tenang,” kata Kahji menenangkan sambil menahan bahu Derka.
“Tenang, Fihan sudah biasa seperti itu,” sambung Sazan sambil merangkul bahu kiri Derka.
Derka tak lagi meronta, namun ia masih berdiri dengan napas menderu-deru, wajahnya memerah marah, kedua tangannya mengepal tinjuan, dia benci demgan Fihan, benci dengan sikap angkuhnya yang terkesan hanya dialah penguasanya. Guru Kativia masih terpegun merenung, ia ternyata memikirkan dalam-dalam pernyataan Fihan, atau tepatnya dia terpancing ucapan Fihan. Eril yang berdiri memegang bahu kanan Fihan berdiri sangat khawatir, tangan kanannya bergetar sambil mengepalkan tinjuan, namun ia tak tahu harus bicara apa.
“Tuhan tidak mungkin berevolusi,” jawab Guru Kativia dengan lantang penuh percaya diri.
Maka setelah Guru Kativia bicara, murid-murid mulai kembali duduk, Derka pun langsung berpaling kembali ke mejanya dengan emosi yang masih menyeruak, disusul oleh Kahji serta Sazan yang kembali duduk, secara perlahan suasana mulai lebih tenang. Fihan masih betah dengan sikap dinginnya belum berkomentar lagi. Dan Eril dengan berat hati melangkah perlahan meninggalkan Fihan, ia menunduk dengan bimbang, duduk berharap-harap cemas.
“Tuhan bukan makhluk,” jelas Guru Kativia sambil menunduk memandang Fihan.
“Salah... jawaban anda salah,” sanggah Fihan tetap memandang ke depan dengan muka cueknya.
Guru Kativia kembali terpegun, sengap seolah ia telah membeku, ia merasa harga dirinya mulai luntur, ia mulai merasakan penyesalan dan kegagalan, namun ia juga tak terima, ia justru merasa jawabannya benar, satu hal yang penting, Guru Kativia malu. Tak disangka, Fihan mulai menengadahkan wajah tampannya pada wajah manis Guru Kativia, memberi kesan bahwa Fihan telah menang, maka yang kalah harus pergi. Dan kala netra hitam dalam Fihan beradu dengan netra cokelat Guru Kativia, di sana, di dalam pancaran mata Guru Kativia telah menampakkan kegusaran yang berpadu dengan kebenciannya atas kekalahannya, dia telah dipermalukan. Namun Fihan kembali berpaling seakan-akan tatapan yang tadi ia berikan adalah ejekan kepada sang pemancing bahwa jangan sekali-kali mengganggu seorang raja yang tertidur.
“Fihan kamu itu ngomong apa sih?!” sergah Eril yang meradang.
Eril tak sanggup lagi melihat pujaan hatinya menjadi pusat kebencian guru, Eril tak bisa menahan kegeramannya pada Fihan.
“He, kita ini sedang belajar, kamu harusnya jangan sok merasa paling pintar ketimbang gurumu...” jelas Eril.
“...guru sudah benar, karena dia itu seorang guru jadi harusnya kita mengikuti perintahnya,” lanjutnya.
“Fihan, kita ini sedang belajar,” kata Juvi yang memutar tubuhnya ke samping sambil memandang Fihan.
“Iya Fihan, kita tidak boleh melawan guru,” timpal Gewa dengan suara cemprengnya.
“Iya benar,” sahut beberapa murid lainnya membenarkan perkataan Gewa.
”ORANG KESETANAN JANGAN DILADENI SETAN!“ sela Derka dengan lantang dengan maksud menegur teman-temannya yang justru menjurus pada dirinya sendiri.
Maka pernyataan para murid seolah-olah menyudutkan Fihan, memaksa Fihan untuk menyerah atau setidaknya berubah menjadi murid yang sopan, tapi, nyatanya, Fihan sama sekali tak gentar, bahkan, di wajah tampannya secara mendadak, ia justru mengembangkan senyuman menyeringai, menganggap seluruh manusia yang telah berbicara padanya adalah orang-orang bodoh yang tengah membicarakan kebodohan mereka sendiri.
”Kalian semua sama bodohnya dengan guru kalian ini, dan orang bodoh tidak layak memberi saran pada orang yang lebih pintar,“ balas Fihan dengan lagaknya.
Semua mata kini tertuju pada Fihan, sorot mata penuh kebencian, tepatnya amarah, kecuali mata Guru Kativia yang kini memandang jauh ke depan dengan raut muka datar, Guru Kativia ingin sekali membela diri, atau menjawab kembali pertanyaan Fihan, tapi, dia tak mau menanggung malu dua kali, tegasnya, tak mau menanggung risiko.
”Menganggap guru lebih pintar dari murid, itu adalah cacat logika, tapi tidak masalah... aku juga pernah melakukannya,“ lanjut Fihan dengan lugas penuh percaya diri.
Tiba-tiba Eril beranjak dari kursinya, wajahnya memerah marah.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Fihan hingga berbekas, Eril menampar dengan murka, matanya menyalang menatap Fihan, bahkan Guru Kativia sampai terbelalak melihat pemandangan itu.
__ADS_1
”ENGGAK PERLU KAMU SOMBONG BEGITU! SUDAH TAHU KAMU YANG SALAH! MALAH MENGHINA KITA SEMUA! KAMU ITU NGGAK SOPAN BANGET TAHU!“ bentak Eril dengan geram.
“Ya tidak apa-apa, tidak apa-apa... ketika para pecundang kalah dalam intuisi dan argumen, maka kekerasan adalah jalan terbaik untuk menutupi kebodohan mereka,” gumam Fihan sambil menunduk memegang pipi kanannya.
“Menyebalkan!” gerutu Eril dengan kembali ke kursinya.
Dan seluruh murid berpaling dari Fihan dengan kesal berbalut kecewa, namun ada pula yang biasa-biasa saja. Sekonyong-konyongnya Fihan pun kembali ke posisi tidurnya, menumpukan kepala dan tangannya di atas meja dengan melipat tangan menjadikannya sandaran kepala.
“Aku mau tidur, tolong jangan ganggu,” kata Fihan dengan santai.
Seluruh murid bersikap acuh tak acuh. Farka dan Areny sempat saling menatap terheran-heran dengan sikap lancang Fihan. Tiba-tiba Guru Kativia melenggang menuju mejanya, memasukkan bukunya ke dalam tas jinjingnya lantas berdiri menghadap para murid, menatap dengan cuek namun rasa sesal tetap tersirat dari sorot matanya yang kecil.
“Pelajaran sudah selesai, kalian bebas sekarang,” ungkap Guru Kativia dengan lantang dan cuek.
Sontak seluruh murid terkejut dengan pernyataan Guru Kativia. Mendadak Guru Kativia menjinjing tasnya dengan buru-buru melangkah keluar kelas, raut mukanya tetap datar, tapi tampaknya dia sakit hati. Sebenarnya masih ada waktu untuk melanjutkan pelajaran, waktu menunjukkan pukul 09:20 empat puluh menit menuju bel istirahat. Seluruh murid masih terpaku di kursi masing-masing kebimbangan terasa begitu pekat dalam benak mereka, sampai-sampai mereka saling menatap, hanya untuk memastikan bahwa yang mereka lihat bukanlah ilusi. Namun Fihan lalu terbangun dengan menegakkan badannya, seolah-olah ia sudah tertidur cukup lama dan Eril menghampirinya, kemudian menarik tangan kanan Fihan, mereka berdua pun pergi terburu-buru keluar kelas. Farka yang melihat hal itu, ikut berlari menyusul mereka, tentu saja Areny tak mau ketinggalan berita, ia pun menyusul tiga orang temannya.
Dan tepat di dalam toilet laki-laki, Fihan dan Eril tengah cekcok.
“Kamu mah bodoh, sekarang kamu pasti akan dipanggil kepala sekolah!” tegur Eril dengan khawatir.
Namun Fihan hanya berdiri dengan menyelipkan kedua tangan ke saku, wajahnya cuek tak peduli. Tak lama kemudian, Farka dan Areny datang masuk ke dalam toilet, berdiri di depan cermin, toilet pria di sini bernuansa putih, sangat wangi sekaligus bersih.
“Fihan...” ucapan Farka dipotong.
“Sudahlah, yang penting kalian tetap jaga rahasia ini, jangan sampai mereka tahu kalau aku balas dendam demi sahabat Guru Sukada,” sela Fihan dengan lugas.
“Tapi, kamu pasti kena masalah,” kata Areny.
“Itu risiko yang tidak seberapa ketimbang rasa sakit yang selama ini dipendam oleh sahabat Guru Sukada...” jelas Fihan dengan raut muka datar namun cukup meyakinkan untuk sebuah alasan yang kuat.
“...lagi pula, gerak gerik Guru Kativia mudah sekali aku tebak, dia sama saja seperti seorang remaja labil, menjadi guru hanya untuk mencari uang, itu bodoh sekali,” imbuhnya menyindir dan mengkritik keras sikap Guru Kativia.
Seluruh teman Fihan terpegun merenung, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Lantas Fihan melangkah pergi tanpa kata, disusul pula oleh Eril yang tak mau terpisah dari Fihan. Farka dan Areny masih termenung.
“Aku nggak menyangka kalau Fihan sampai tahu masa lalu Guru Kativia,” ungkap Areny terheran-heran.
“Kebanyakan orang pendiam memang kadang mengejutkan,” balas Farka menanggapi.
“Justru itu menakutkan, kayak film-film psikopat,” sanggah Areny.
“Loh, kamu suka ya nonton film seperti itu?” heran Farka.
“Enggak juga sih, tapi, Fihan memang orang yang menurutku aneh,” bantah Areny.
“Sudah ahk, jangan begitu,” sela Farka.
Maka Farka dan Areny melangkah keluar toilet, mereka terus melangkah sambil memandang ke seluruh penjuru arah, yang mungkin saja Guru Kativia memata-matai dari jauh.
“Terus bagaimana sekarang dong?” cemas Areny.
__ADS_1
“Kita lihat nanti saja,” balas Farka.
Maka mereka terus berjalan berdua menuju ruang kelas, mereka memang bingung dengan sikap aneh dan lancang yang dilakukan Fihan sejak dulu.