
Pukul 01:45 dini hari tak berbintang di pinggir kota Artana dengan nuansa cahaya kekuningan, ditambah toko-toko yang berderet rapi disepanjang sisi jalan. Mobil sedan merah berhenti di pinggir jalan, tiba-tiba pintu depan sisi kiri mobil dibuka, dan seorang wanita muda didorong keluar mobil, bahkan wanita itu hingga tersungkur ke trotoar jalan.
“Perempuan bodoh!” sentak pria botak berumur 40 tahun dari dalam mobil.
Lantas dia menutup pintu mobil keras-keras hingga terasa berdebam, dan mobil pun melesat pergi. Zeni meludah ke depan menegaskan jijiknya terhadap pria tadi, ia bangkit berdiri, sambil menepuk rok gaun bernuansa birunya, berusaha membersihkan gaun tanpa lengannya, Zeni membimbit tas jinjing kulit ularnya, berjalan lesu dengan kaki yang dibungkus sepatu kaca hak tinggi. Jalan raya nampak lengang, seakan semua telah pulang ke rumah dengan keluarga bahagianya. Rambut pirang panjang Zeni nampak berantakan, wajahnya tertunduk kuyu, tubuh dan pikirannya telah kelelahan dalam menjalani kehidupan ini, sang wanita malam itu terus melangkah lesu di trotoar malam di depan toko-toko yang telah menutup hari dengan istirahat malam, namun Zeni berhenti berjalan, ia duduk berselonjor di teras depan toko swalayan, pandangannya kosong, ia serasa mati rasa, lantas Zeni membuka tas jinjingnya.
“Duh... lapar banget,” keluh Zeni.
Ia meraih sekotak bekal makanannya, menaruhnya di sampingnya.
“Ibu memang selalu perhatian padaku,” gumamnya dalam hati penuh haru.
Namun baru saja ia membuka tutup bekal makanannya, terdengar suara erangan kucing datang mendekat, seekor kucing hitam mengeong seolah kelaparan, kucing itu menghampiri Zeni lalu duduk di depan kaki Zeni, entah kucing ini datang dari mana atau punya siapa, yang jelas kucing itu kelaparan, dia tahu bahwa ibu Zeni memasak ikan goreng untuknya, Zeni menatap mata hijau kucing itu yang nampak mengilap memantulkan cahaya lampu, kemudian Zeni menatap pada bekal makanannya, hanya ada sekepal nasi dan ikan goreng. Kucing itu mengeong beberapa kali memberi kesan bahwa dia memang benar-benar lapar.
“Bagaimana ini, aku lapar tapi, aku kok jadi kasihan sama kucing itu...” gumamnya bimbang.
Lalu Zeni mengangkat kotak makanannya, ia menyodorkan bekal makannya pada sang kucing.
“Nih pilih mana yang kamu mau,” kata Zeni.
Kucing pun melangkah perlahan dengan takut mendekati bekal makanan Zeni, kucing itu sempat menatap waspada pada Zeni, sekonyong-konyongnya kucing hitam itu melompat menabrakan kedua kaki depannya pada kotak makan Zeni hingga kotak tersebut jatuh ke tanah menumpahkan seluruh bekal Zeni. Lalu kucing hitam itu mencaplok ikan gorengnya, kemudian berlari kabur tanpa merasa bersalah, sementara nasi pun telah berpadu dengan tanah kotor dan debu, bahkan sang kucing sempat menginjak nasi yang telah tertumpah sebelumnya, seolah menegaskan bahwa dia berhasil menipu Zeni.
“Sialan kau kucing!” sergah Zeni.
Kucing hitam itu telah lenyap di antara bayangan bangunan toko, pergi membawa ikan santapan Zeni. Maka terpaksa Zeni mulai memembersihkan nasi tumpah itu, ia masukan ke dalam kotak makanannya, dengan niat akan membuangnya di tempat sampah. Waktu pun terus berpacu meninggalkan malam itu. Suasana kota Artana laksana kuburan yang berpendar berhiaskan lampu-lampu tidur, sunyi, dingin namun damai.
Di hari Sabtu pukul 09:55 pagi di SMA Lily Kasih kelas 12. Farka sang ketua kelas tengah berdiri di depan kelas membeberkan sebuah pengumuman penting dan seluruh murid mengarahkan perhatiannya pada Farka.
“OKE SEMUANYA!” seru Farka.
“Sebentar lagi kita semua akan menghadapi kelulusan, nah apa ada yang punya saran untuk membuat acara perpisahan?” tanya Farka.
Semua murid nampak saling bertanya-tanya memandang satu sama lain mencari ide terbaik, mendadak dar bangku barisan depan seorang laki-laki kurus, pendek, bermata hitam sipit, dengan rambut hitam cepaknya berdiri mengacungkan tangan, Gewa laki-laki bersuara cempreng.
“Ketua! Apa nanti ada lomba?” tanyanya.
“Iya ketua!” timpal Juvi menanggapi.
“Ya benar! Apa ada?” sambung Estilia.
Semua mata kembali tertuju pada Farka.
“Ada! Lomba Futsal wanita dan lomba cerdas cermat,” jawab Farka.
Sontak seluruh murid mengangguk serentak dan saling berkomentar.
“Ketua! Kapan lombanya? Kenapa tidak ada pengumuman?” tanya Juvi sambil mengacungkan tangan.
“Iya benar itu!” timpal Juva.
“Iya kenapa tidak ada?” sahut beberapa murid lain.
Seluruh murid bertanya-tanya.
“Tolong santai kawan-kawan! Santai...” pinta Farka sambil melangkah ke depan meja Aqada.
“Itu kita bahas nanti! Karena belum ada pemberitahuan pasti dari kepala sekolah...” lanjut Farka.
Semua murid mengiakan sedangkan beberapa lainnya melenguh kecewa.
“AKU PUNYA IDE!” teriak Aqada sambil bangkit berdiri.
Lantas Aqada berdiri di depan kelas bersama Farka, laki-laki norak itu kini menjadi pusat perhatian seluruh murid kelas 12.
“AYO KITA ADAKAN FESTIVAL PANEN DI SEKOLAH!” seru Aqada penuh percaya diri.
“Festival panen?!” heran beberapa murid secara serentak.
Farka termenung memandang Aqada di depannya.
“Kita jual seluruh hasil panen para petani, kita jual di sekolah ini, kita undang masyarakat kemari,” jelas Aqada dengan lantang dan mantap.
“He! Kita mau buat acara perpisahan bukan pasar! Bodoh kau!” sahut Derka laki-laki berbadan besar, bermata hitam bulat dengan kulit cokelat cerah yang duduk di kursi depan meja guru.
“Iya benar tuh!” timpal beberapa murid setuju dengan Derka.
Dan riuh komentar murid pun memenuhi ruang kelas ini, semua murid kembali bertanya-tanya acara apa yang tepat untuk perpisahan nanti.
“Kalian semua payah, itu kan bisa memberi kita keuntungan,” sindir Aqada pasrah sambil kembali ke kursinya.
__ADS_1
Farka berdiri di depan papan tulis sambil bersedekap menyilang, ia berpikir keras untuk membuat acara yang tepat, mendadak, ia meraih spidol tinta merah yang berada di laci meja guru, lalu menuliskan sepenggal kalimat di papan tulis putih dengan huruf kapital.
Yang tertulis: “ACARA TERAKHIR.”
“Acara terakhir?” tanya penuh heran murid-murid.
“Loh?! He Farka! Kau mau buat film horor atau apa ha?!” ketus Derka.
“Ini judul acaranya, semua yang kita lakukan nanti hanyalah sekali seumur hidup!” tegas Farka.
“Maksudnya gimana?” tanya Estilia.
“Tidak gimana-gimana, sama saja kok seperti perpisahan alumni tahun lalu, kita adakan makan-makan sambil foto bareng, iya, itu saja!” jawab Farka.
“Ahk tidak seru!” balas Derka.
Derka lantas bangkit berdiri menghadapkan tubuhnya ke belakang sambil memandang seluruh teman-temannya.
“KITA ADAKAN SAJA ACARA MUSIK DAN PESTA KEMBANG API!” kata Derka dengan lugas dan lantang.
“Iya aku setuju!” timpal Estilia sependapat dengan Derka.
“Iya aku juga!” sambung Nitia.
“Iya setuju aku!” sahut murid-murid lain.
Seluruh murid pun nampak menyetujui saran Derka.
“Hah... buang-buang energi saja...” gumam Fihan mengeluh dengan duduk sambil bersedekap menyilang.
“Nah, kalau begitu kau yang mengurus semuanya,” kata Farka.
“Loh kok aku? Bukannya tadi kau meminta saran?!” heran Derka dengan menghadapkan tubuh pada Farka.
“Kan saat itu aku sedang tidak punya ide, makanya aku meminta saran, tapi, saat...” sanggah Farka tersendat.
“Ahk bilang saja kau tidak setuju dengan ideku!” potong Derka.
“Nah itu kau tahu!” balas Farka membenarkan.
“Huahahaha...”
“Sudah-sudah! Jangan pakai ideku! Jangan pakai ideku!” pinta Derka menarik kembali perkataannya.
“Loh kok gitu sih?” heran Estilia.
“Iya kok malah gitu?” timpal murid lain menanggapi.
“Ya sudah kalau gitu kalian saja jadi panitianya!” ketus Derka.
“Ahk tidak mau!” tolak Estilia.
“Iya enggak mau!”
“Malas ahk!”
“Iya malas! Malas!”
“Mending ditiadakan saja acaranya.” saran Kahji.
“Iya benar tuh!”
“Aku setuju.”
“Aku setuju!”
Seluruh murid malah setuju untuk meniadakan acara perpisahan. Wajah yang awalnya penuh antusias berubah malas tak berminat. Maka Farka pun menghapus tulisannya yang tertera di papan tulis, setelah ia beres, ia kembali berdiri menghadap teman-temannya.
“KALAU BEGITU ACARA DITIADAKAN!” tegas Farka dengan lantang.
Sontak hampir seluruh siswa bersorak kegirangan, ada yang memukul-mukul meja ada yang loncat-loncat hingga teriak-teriak tidak jelas.
“YEAAAAAAAHHHHH BEBAS...!”
“BEBAS WOW!”
“BEBAS!”
Pekikan kegembiraan masih lepas di dalam kelas, Derka, Fihan, dan Zeni hanya mereka bertiga yang duduk di kursi dengan kalem penuh kedamaian, mungkin kecuali Derka yang masih memendam keinginanya untuk membuat acara, namun malas untuk mengurusnya. Farka berkacak pinggang dengan senyuman senang, ia senang bisa melihat teman-temannya senang.
__ADS_1
“Hah norak sekali,” gumam Fihan.
Secara serentak semua kembali tenang, namun saat murid-murid hendak keluar kelas, menikmati jam istirahat pertama, konyolnya, bel masuk malah berdering, memaksa seluruh murid untuk kembali ke kelas. Tentunya seluruh murid kelas 3 SMA ini berdecak kecewa, melenguh berkecil hati, dengan terpaksa mereka kembali duduk ke kursi masing-masing.
“Ahk damn!” keluh Aqada.
Farka melenggang menuju mejanya. Kini para murid telah duduk manis di bangkunya masing-masing, meja kayu bernuansa putih di sini dikhususkan untuk perorangan, dengan atap meja yang mampu di buka layaknya jendela, ruang kelas 3 ini pun bernuansa putih biru, lantainya dari keramik yang nampak seputih sinar matahari di siang hari, dinding di belakang kelas dipenuhi foto-foto murid kelas 12 tahun ajaran sekarang, ditambah hiasan-hiasan unik yang menurut rakyat kota Artana itu adalah karya seni tapi menurut Fihan itu sampah. Dua menit kemudian, Guru Sukada masuk ke dalam kelas, penampilannya tetap rapi dengan kemeja hijau ditambah celan formalnya, semua murid berdiri dengan kompak lalu menunduk hormat, setelah Guru Sukada duduk di kursi mejanya, murid-murid pun kembali duduk. Pelajaran hari ini adalah Sosiologi, namun Guru Sukada tak hanya mengajar Soiologi saja, ia mengajar, Geografi, Ekonomi, serta Sejarah, bonusnya dia juga mengajarkan ilmu Agama Islam.
“Baiklah, buka buku tulis kalian dan tulislah apa yang akan kalian lakukan jika teman kalian hendak bunuh diri hanya karena putus dengan pacarnya!?” pinta Guru Sukada dengan lantang.
“Biarkan saja tidak penting juga,” sahut Derka sambil meraih buku tulisnya dari dalam ranselnya yang tergeletak di kakinya.
“Nah tulislah,” balas Guru Sukada.
Guru Sukada bangkit dari kursi, dengan wajah serius. Sedangkan murid-murid mulai membuka buku tulisnya, sembari berbisik-bisik pada teman di sebelahnya apa yang harus ditulis.
“Satu lagi pertanyaan yang tidak penting,” gumam Fihan dengan menggigit pensilnya menatap lembar buku yang kosong.
Guru Sukada mulai berkeliling mengawasi murid-murid secara dekat. Saat Guru Sukada baru melangkah di barisan pertama meja para murid, Erka mengacungkan tangan, laki-laki itu duduk di barisan pertama dekat pintu.
“Pak maaf!” serunya.
Guru Sukada menghadapkan tubuhnya pada Erka.
“Apa boleh dijawab asal-asalan?” tanya Erka.
Seluruh siswa pun langsung mengarahkan perhatiannya pada Guru Sukada.
“Iya boleh,” jawab Guru Sukada.
“Ya ampun, kalau begitu caranya tanya saja pada anak SD,” umpat Fihan berbisik.
Guru Sukada kembali melanjutkan langkahnya.
“Kenapa harus ditulis ya padahal langsung saja diungkapkan,” gerutu Estilia keheranan.
Semua murid mulai menulis pendapat mereka, mereka tampak serius, tapi, ada pula yang begitu santai. Dan dalam waktu lima belas menit seluruh murid telah selesai, dan seluruh buku telah dikumpulkan di meja Guru Sukada, bahkan Guru Sukada telah duduk di kursi mejanya. Lantas ia bangkit.
“Baik, guru akan bacakan jawaban kalian, jika nanti guru menanyakan alasan jawaban kalian maka, kalian harus menjawab,” tuturnya.
Beberapa murid mengangguk sedangkan murid lainnya mengiakan. Kemudian Guru Sukada meraih buku pertama sekaligus membacanya.
“Pertama-tama guru ulangi pertanyaannya ya... apa yang akan kalian lakukan jika teman kalian hendak bunuh diri hanya karena putus dengan pacarnya?!” kata Guru Sukada.
“Bagi Estilia, aku akan menghentikan temanku dan menyuruhnya mencari kekasih baru,” lanjutnya.
“Bagi Erka, aku akan menghentikan temanku dan menyuruhnya bertobat.”
“Bagi Aqada, aku akan membiarkan temanku bunuh diri, karena bagi Aqada, cinta itu tak akan sama rasanya kalau berpindah hati.”
“Bagi Kahji, aku akan memohon agar temanku mencari pacar baru.”
“Bagi Derka, aku akan membiarkan temanku mati, sambil berkata, manusia tak berotak! Mati saja sana!”
“Bagi Juvi, astagfirullah semoga aku tidak punya teman seperti itu, tapi kalau punya, aku akan mengajaknya beristigfar dan bertobat.”
“Bagi Juva, aku akan menyuruh temanku bertobat dan aku akan selalu menemaninya.”
“Bagi Jiva, aku akan menghentikan temanku lalu memintanya bertobat.”
“Bagi Nitia, aku akan mencarikan pacar baru tapi kalau temanku laki-laki tampan dan kaya raya aku siap jadi calon istrinya.”
“Bagi Hurta, aku akan membiarkan temanku mati dan akan menertawainya sambil ngakak.”
“Bagi Gewa, aku akan merekamnya di HP lalu diposting di media sosial, dengan hastag, orang dungu.”
“Bagi Fikia, aku akan menghentikannya dan melapor pada pemadam kebakaran atau polisi.”
“Bagi Eril, jika temanku itu... Fihan, aku akan menghalanginya apapun yang terjadi!”
Kala bukunya tengah dibaca, Eril mengerling ke kiri dengan malu, mengerling pada Fihan yang duduk di sebelahnya, namun Fihan tetap kalem acuh tak acuh.
“Bagi Areny, aku akan meminta bantuan Farka.”
Sontak Farka langsung menoleh dengan bingung pada Areny, namun Areny memalingkan mukanya dengan jengah.
“Bagi Sazan, aku akan memanggil keluarga temanku, apapun yang terjadi aku akan menghentikan temanku.”
“Baiklah! Yang tidak mengumpulkan bukunya silakan berdiri sampai jam pelajaran selesai!” tegas Guru Sukada.
__ADS_1
Maka Farka, Fihan dan Zeni berdiri dengan tegap menerima hukumannya. Beberapa murid saling menatap terheran-heran, mengapa pertanyaan yang mudah untuk dijawab bahkan boleh dijawab secara asal justru tak bisa dijawab oleh tiga orang murid itu? Apa mereka sebodoh itu?