
Guru Sukada bangkit, berdiri memandang tiga murid yang dihukum berdiri.
“He kenapa kalian bertiga tidak mengumpulkan buku kalian?!” usutnya.
Seluruh murid terdiam bersama suasana yang berubah senyap. Farka menunduk, Zeni pun menunduk malu, kecuali Fihan, ia berdiri tegap dengan menyelipkan tangan ke saku celananya, pandangannya ke depan penuh percaya diri dan merasa tak bersalah, berdiri layaknya seorang pahlawan perang yang kembali membawa kemerdekaan.
“HE ANAK MUDA! PANDANGLAH GURUMU INI KALA DIA BICARA!” sentak Guru Sukada dengan geram.
Sontak seluruh murid langsung sengap, kikuk dan merasa bimbang. Maka Farka memandang gurunya tanpa ragu, diikuti oleh Zeni dengan sedikit kikuk, kecuali Fihan, ia tetap berdiri layaknya bos dari sebuah geng termasyur, raut muka pembangkang dan cuek tetap tersirat.
“Ketua kelas! Kau itu harus banyak belajar! Nilaimu semuanya rendah! Jadilah contoh bagi teman-temanmu!” tegur Guru Sukada.
“Ya Pak! Maafkan saya!” sesal Farka dengan membungkuk.
Areny sang pengagum Farka, hanya mengerling padanya, ia tetap mengagumi sosok Farka.
“Zeni, kamu harus bersikap lebih peduli pada lingkunganmu!” tegas Guru Sukada.
“Iya Pak,” balas Zeni sambil membungkuk menyesal.
Namun kala pandangan Guru Sukada tertuju pada Fihan, Sukada memiringkan tubuhnya ke kiri sambil memicingkan matanya, lantas ia beranjak dari mejanya, melangkah menuju papan tulis, dia berdiri di depan kelas, tepat pada titik pandang Fihan. Guru Sukada tersenyum tenang dengan menatap Fihan. Eril sang pengagum Fihan merasa khawatir padanya, ia tak mau Fihan dimarahi lagi oleh seorang guru, namun apa daya ia hanya sanggup duduk menunduk sembari mendo'akan pujaan hatinya agar tetap dalam kedamaian.
“Fihan!” seru Guru Sukada dengan tersenyum penuh makna.
Fihan tetap betah dengan sikap acuh tak acuhnya.
“Apa kamu sadar kamu salah?” tanya Guru Sukada.
Fihan terdiam, cuek tak peduli. Guru Sukada mulai meradang menghadapi Fihan, ia masih berdiri tegak di depan papan tulis.
“JAWAB FIHAN! JAWAB!” bentak Guru Sukada murka.
Fihan anak yang selalu memandang remeh para guru, yang tak pernah menghormati para guru, kini ia kembali kena marah. Lalu Fihan memiringkan kepalanya ke kanan dengan lagak angkuhnya ia tetap bungkam, sedangkan teman-temannya hanya terdiam takut, sebab suasana terasa mulai tegang, angin rerasa semakin dingin dan Guru Sukada nampak berbeda, kini ia lebih galak tidak seperti dulu yang tenang menghadapi murid-muridnya yang bandel, seolah-olah Guru Sukada adalah pahlawan bertopeng yang membongkar identitasnya sendiri demi bisa diakui oleh seorang bocah berandalan.
“Fihan! Apa kamu sadar?!” tanya Guru Sukada sekali lagi.
Pada akhirnya layaknya sambaran petir, netra hitam dalam Fihan mengarahkan tepat pada netra Guru Sukada dengan cuek.
“Apakah penting menjawab pertanyaan yang tidak penting? Ha?” sindir Fihan dengan nada menantang.
Maka mendengar pernyataan Fihan seluruh murid menunduk gelisah dan kecewa. Bahkan Eril pun menunduk penuh kecewa.
“Kenapa kamu malah bicara begitu?” bisik Eril cemas.
Guru Sukada berkacak pinggang sambil menjilat bibir bawahnya, ia tak menyangka Fihan anak yang berani, tepatnya murid yang lancang.
“Berhentilah sok bijak! Berhentilah merasa paling benar! Kau itu hanyalah muridku, kau belum merdeka anak muda!” sergah Guru Sukada berkelakar.
“Omong kosong,” gumam Fihan sambil memalingkan pandangannya.
“Farka!” seru Guru Sukada mengalihkan pandangannya pada Farka.
“Ya Pak,” sahut Farka.
“Kenapa kau tidak menuliskan jawabanmu!?” usut Guru Sukada.
“Maaf Pak, saya tidak tahu harus menjawab apa, saya takut salah,” jawab Farka.
“Ketua bodoh,” bisik Derka dengan menyeringai.
“Nah-nah-nah, he Farka, kau tahu kesalahanmu apa?”
“Saya tidak menulis,” jelas Farka dengan ragu.
“Iya, dan Kau merasa benar dengan tidak menulis,” tukas Guru Sukada.
Farka menelan ludahnya, ia memikirkan matang-matang pernyataan Guru Sukada, lalu menunduk bersalah.
__ADS_1
“Aduuuuuuuhhh...” lanjut Guru Sukada dengan menggelengkan kepala.
“He ketua kelas! Apa kau pernah bertanya kenapa orang sepertimu dipilih sebagai ketua kelas?” imbuhnya.
Farka pun memandang jauh ke depan menatap seluruh masa lalunya kala ia diangkat sebagai ketua kelas, maka, setelah visual dari alasan-alasan teman-temannya telah nampak, Farka pun menarik napas panjang, bersikap penuh percaya diri.
“Teman-teman memilih saya, karena mereka percaya bahwa saya adalah orang yang dapat dipercaya! Dan saya rasa guru sudah tahu!” ungkap Farka dengan lantang dan mantap.
Guru Sukada mengangguk dengan termenung. Lalu pandangannya jatuh pada Zeni.
“Zeni, kenapa kamu tidak menulis?” tanya Guru Sukada.
“Saya...” ucap Zeni tersendat lalu menunduk.
“...saya terlalu munafik jika saya menjawab, sebab...” lanjutnya belum selesai.
“Nah, ya sudah. Bagaimana denganmu Fihan?” sela Guru Sukada lantas memandang Fihan.
Maka seluruh perhatian manusia-manusia di kelas 3 ini tertumpah langsung pada Fihan, seakan-akan mereka menanti-nantikan jawaban paling penting bagi kelangsungan hidup kelas 3, sebuah jawaban yang berisiko kehancuran atau kedamaian.
“Perintah guru terlalu ambigu, ketua kelas pun tak tahu harus berbuat apa, karena guru tidak tegas, dan terkesan main-main,” jawab Fihan blak-blakan.
Guru Sukada mengangguk mengerti, dan seluruh murid masih was-was.
“Saya paham, saya paham... karena memang saya buat demikian...” papar Guru Sukada.
“Begini... sebenarnya kalianlah yang menganggap perintah ini main-main, pad..”
“...ahk sudahlah... berdiri saja kalian sampai pelajaran selesai,” imbuh Guru Sukada pasrah sambil beranjak menuju mejanya.
Farka, Zeni dan Fihan tetap berdiri tenang, suasana berubah damai bersama pelajaran yang kembali dilanjutkan.
Di pukul 12:10 istirahat kedua tengah berlangsung, di kantor Guru, Farka tengah menghadap Guru Sukada. Ruang Guru ini terletak di dekat gerbang sekolah, terpisah dengan ruang kelas, ruangan yang bernuansa putih abu dengan 3 meja guru yang dikotori oleh berkas-berkas sekolah, ruang ini cukup luas, lemari-lemari di sini terkesan antik, karena sejak pertama sekolah dibangun lemari kayu jati itu telah ada menemani berkas-berkas penting di dalamnya. Meja Guru Sukada berada di ujung ruangan, dengan menghadap pintu masuk kedua. Tak ada siapa-siapa lagi di sini kecuali dua manusia itu.
”Farka, waktumu tinggal sedikit, jadi...“ kata Guru Sukada dengan menatap penuh makna.
”...kamu tahu kan maksud saya?“ tanyanya memastikan.
”Kamu tahu kan, maksud pertanyaan saya di kelas tadi, tentang teman yang bunuh diri?“
”Saya tahu.“
Guru Sukada menegakkan badannya sambil bersedekap menyilang.
”Nah, jadi apa jawabanmu?“
Farka menghela napasnya pandangannya kembali ditempatkan jauh, seolah menerawang masa depan.
”Saya akan menghentikan teman saya, dan saya akan selalu menemaninya memberinya semangat untuk tetap hidup,“ papar Farka.
Guru Sukada mengangguk pelan dengan merenung, ia sempat mengalihkan pandangannya pada selembar kertas di atas meja, namun, ia kembali menatap Farka.
”Dulu teman bapak bunuh diri karena putus dengan pacarnya, teman bapak adalah laki-laki baik, kami bersahabat, sebelum dia bunuh diri, dia sempat meminta maaf pada bapak, dan bodohnya, bapak menganggap enteng hal itu, seluruh curahan hatinya saya anggap angin lalu, hingga suatu hari, dia tewas dengan tembakan di kepalanya, bunuh diri dengan pistol milik ayahnya. Dan setiap kali bapak bertemu dengan pacar sahabat bapak, bapak pasti teringat pada sahabat bapak, pacarnya adalah seorang wanita angkuh, dan ingin sekali rasanya membunuhnya, soalnya, menurut sahabat bapak, wanita itu selalu bertindak kasar dan selalu memeras sahabat bapak, jadi...“ ungkap Guru Sukada.
”...perintah saya itu hanya ujian untuk melihat sejauh mana jiwa sosial kalian berkembang, bapak ingin tahu seperti apa cara berpikir kalian, terkadang hal yang nampak main-main ternyata memiliki risiko besar, dan Fihan memang benar, terkadang perasaan seseorang selalu dibuat candaan, anak pintar itu sudah membuktikannya, tapi, tanpa sengaja sikapnya juga bisa saja menyakiti perasaan orang di dekatnya,“ imbuhnya.
Farka mengangguk mengerti.
”Manggut-manggut saja bisanya, sudah tahu perintah dari gurumu bukannya dikerjakan, malah merasa benar dengan tidak menulis,“ tegur Guru Sukada berkelakar.
”Hehehe... iya Pak maaf, namanya juga anak muda,“ balas Farka dengan bercanda.
”Ya sudah ya sudah, kau boleh pergi,“ kata Guru Sukada dengan kembali duduk.
Farka pun pamit, namun Guru Sukada menambahkan bahwa Farka harus mempersiapkan murid-murid lainnya yang nantinya akan diikut sertakan dalam sebuah lomba, Farka pun menyanggupinya. Saat Farka baru keluar ruang Guru, ternyata Areny telah menunggu di luar ruang Guru, ia berdiri sambil memandangi lemari kaca yang berisikan banyak piala. Lalu mereka berdua kembali jalan bersama-sama.
Siang hari menuju senja yang cerah dengan panas matahari teriknya di pukul 15:00 sekolah telah usai, Farka dan Areny telah di rumah, mereka pun telah mengganti pakaian mereka. Seperti rencananya, Farka dan Areny tengah menulis kisah hidup mereka di ponsel pintar masing-masing, duduk di sofa ruang tamu. Tiba-tiba suara seorang wanita memecah fokus dan kesunyian. Maka Farka dan Areny langsung menandang ke arah pintu yang terbuka.
__ADS_1
”Permisi.“
Maka Areny beranjak keluar rumah. Rupanya seorang gadis berambut pirang, mengenakan jaket kulit yang membungkus bajunya dengan celana jin panjang ditambah sepatu kulit yang membungkus kakinya berdiri di depan pintu.
”Zeni!“ seru Areny.
”Ha-hai...“ sahut Zeni kikuk dengan raut muka kecutnya.
Lalu Areny mempersilakan Zeni masuk, setelah sepatu dibuka, ia pun masuk ke dalam rumah, dan saat itulah kedua netra Farka bertemu pandang dengan netra Zeni yang begitu memesona, Farka mengembangakan senyuman ramah padanya, sekaligus mempersilakan Zeni untuk duduk. Maka dengan senang, Zeni duduk di sofa yang bersandar di dekat jendela kaca di samping pintu, Areny pun duduk di sofa depan Zeni.
”Wah tumben kamu datang ke sini,“ kata Areny tercengang.
Zeni mengangguk masih kikuk, raut mukanya masih memancarkan aura penuh misteri, ia masih terlihat dingin, namun, ada sedikit yang berubah, yaitu, dia mulai berani datang ke rumah Farka dengan aura ceria, bahkan Zeni seperti sedang berjuang untuk tersenyum pada orang lain. Sedangkan Farka masih tercengang memandang Zeni, gadis itu memang seperti sudah berubah, hanya perlu diberi dukungan saja, pikir Farka begitu.
”Maaf, aku tidak bisa tersenyum,“ gumam Zeni dengan gugup.
”Eh?! Hahahaha...“
”...santai saja Zeni, santai, enggak perlu tegang, orang biasanya kamu memang begitu... justru kalau tersenyum kayaknya akan aneh deh!“ balas Areny berkelakar.
”Iya enggak Farka?“ tanyanya memastikan.
Farka mengangguk pelan masih memandang Zeni penuh makna, tapi, karena pandangan Farka yang tak biasa, justru membuat Areny berpikir yang tidak-tidak, ia merasa cemburu, apa lagi wajah Zeni telah didandani layaknya model video klip, sehingga menambah kesan cantik.
”Jadi ada apa ini?“ tanya Farka.
”A-aku, aku sudah keluar dari pekerjaan kotorku...“ ungkapnya dengan tertunduk jengah dan kikuk.
Farka dan Areny terdiam mendengarkan, wajah mereka serius. Pandangan Zeni nampak menerawang pada visual perasaannya, ia mulai berani mencurahkan unek-unek hatinya.
”Saat aku pulang, aku melihat seorang gadis menangis di depan toko sambil memandang sebuah foto, gadis itu terus berkata, aku akan seperti ibu! Aku akan seperti ibu! Aku akan seperti ibu!“ ungkap Zeni.
”Eh maaf aku potong, terus apa hubungannya denganmu?“ sela Areny.
”Ya jangan dulu dipotong kalau kamu mau tahu,“ sanggah Farka.
”Hehehe iya ya, maaf-maaf...“ sesal Areny dengan terkekeh.
”Hah kamu ini.“
”Enggak tahu kenapa, aku kok terharu melihatnya, awalnya sih rasa ingin bunuh diri itu muncul lagi, tapi, di situlah aku mulai membulatkan tekadku, aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku dan mencari pekerjaan yang lebih sehat,“ jelas Zeni.
”Oooooooooohh jadi kamu termotivasi, ya-ya-ya...“ kata Areny sambil mengangguk-angguk paham.
Farka bungkam, belum memberikan komentar apapun, ia justru merenungi apa yang harus dikatakannya agar Zeni merasa mendapat dukungan moril, sebab, menurut Guru Sukada, orang-orang seperti Zeni ini butuh didukung dan didampingi hingga akhir, tak peduli gagal atau berhasil, asalkan jangan sampai bunuh diri. Netra Zeni mengerling pada wajah Farka, namun Farka masih termenung, dan Zeni menarik napas panjang sambil mengumpulkan kekuatan agar tak gugup, ia mengembuskan napasnya secara perlahan bersama kekuatan mental yang telah bersatu.
”Ketua, mohon maaf kalau aku selalu merepotkanmu,“ ujar Zeni menunduk penuh penyesalan.
”Eh, merepotkan apanya, enggak kok enggak,“ sanggah Farka.
”Ooooooohh belum mungkin,“ timpal Areny bergurau.
”He Areny!“ tegur Farka.
”Iya-iya-iya, maaf-maaf cuman bercanda, hehehe...“ balas Areny berkelakar.
”Ketua, aku akan ikut menulis pengalaman hidupku selama bersekolah, aku ingin ikut andil dalam pengalaman manis di sekolah,“ ungkap Zeni dengan penuh keyakinan.
Farka dan Areny agak tercengang dengan pernyataan Zeni.
”Loh, bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau masalah di dunia nyata maka harus diselesaikan secara nyata juga?“ heran Farka.
Zeni masih memandang meja di depannya dengan tatapan merenung.
”Hem, tapi... aku percaya pada ketua kelas, aku percaya bahwa apa yang dilakukan ketua kelas itu demi kebaikan kami juga,“ ungkap Zeni serius.
”Wah jangan bilang begitu dong, aku malah jadi kayak orang tua, kita mah berbuat selayaknya anak muda saja... yaaaaa.... walaupun kayaknya enggak ada deh anak muda yang kayak kita ini, hehehe...“ keluh Farka berkelakar.
__ADS_1
”...tapi, baiklah kalau begitu, ayo kita tulis pengalaman manis kita,“ lanjutnya.
Dan sore terus berlalu bersama Farka yang menjelaskan tujuannya menulis dan menjelaskan Sazan serta Areny yang telah bergabung lebih dulu, ditambah ngobrol tentang hari libur esok mau ke mana.