Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
TOK TOK TOK!


__ADS_3

       Mendadak kala pintu terdengar bersuara 'tok tok tok' kepala Fihan mendongak, renungannya yang dalam buyar dalam sekejap, ketukan pintu itu menyadarkannya, bahwa ini adalah waktunya, maka ia menatap pintu kamarnya, raut wajahnya masih saja datar meski yang dilihat hanyalah pintu, ketukan pintu terdengar kembali, memaksa Fihan untuk bergerak cepat, bahkan dengan suara sang nenek yang renta namun masih terasa ambisi yang kuat, ia memanggil-manggil Fihan. Dan akhirnya dengan senang hati, Fihan membuka pintu kamarnya. Maka, tepat di hadapannya kini, kedua matanya dihadapkan dengan empat manusia dewasa yang berdiri memusatkan perhatian pada Fihan, seorang wanita berumur 30 tahun, yang memiliki hidung mancung layaknya orang Eropa, rambut hitam panjangnya dikucir ke belakang, dengan ekspresi cuek namun penuh kekejaman, lengkap dengan pakaian formalnya, ditambah kaca mata hitam yang menutupi mata hitam jahatnya, tengah berdiri di belakang nenek Fihan, Sieren ibu tiri kejam Fihan berdiri layaknya seorang bos yang membenci kegagalan, bahkan ia ditemani dua orang pria berbadan bedegap dengan setelan formal serta raut muka jahat yang setia di sisinya. Di bibir merah Sieren terselip sebatang rokok terbakar yang ia hisap hingga asapnya keluar dari hidungnya, wanita itu nampak seksi kala ia merokok, berdiri congkak acuh tak acuh.


“He bocah dungu! Kau dan wanita tua itu harus pergi dari rumah ini!” hardik Sieren tanpa senyuman penuh keseriusan.


Fihan sama sekali tak terkejut mendengar hal itu, ia sudah tahu kalau dirinya akan diusir, sang nenek sendiri tertunduk cemas sambil menggandeng gagang kopernya, ia sudah begitu siap, raut muka keriputnya nampak menyiratkan kelelahan dan ketulusan yang berpadu pada raut muka pasrahnya, tapi dia nenek yang kuat dia masih bisa tersenyum kala tubuh rentanya mendapat pukulan dari gagang sapu oleh ibu tiri Fihan beberapa waktu lalu, penampilannya pun tetap sederhana dengan kerudung merah serta daster bercorak bunga matahari, sang nenek bisa dikatakan adalah wanita salehah, itu pun kata mendiang ibu Fihan, Fihan sendiri tidak melihat sisi salehahnya sang nenek, sebab dia begitu pasrah harus menjadi budak bagi ibu tiri Fihan, bagi Fihan, jika benar sang nenek salehah, sudah seharusnya dia tak mau melakukan semua kebodohan itu. Fihan melangkah ke dalam kamar, dengan hati yang siap untuk balas dendam, pikirannya telah menemukan titik akhir pencarian jati dirinya, namun ini barulah langkah awal untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya, sehingga untuk langkah selanjutnya ia butuh kesan berharga dari langkah awalnya. Rupanya dua buah ransel yang telah dipenuhi baju serta seluruh barang-barang penting miliknya telah tergeletak siap sedia di pinggir pintu halaman belakang, tak lupa tas gendong sekolahnya pun ia kenakan, setelah ia meraih ponselnya sekaligus memasukkannya ke dalam saku celananya, ia pun membimbit kedua ranselnya keluar kamar.


“Jangan lewat halaman depan! Pergilah lewat kamarmu ke gerbang belakang!” kata Sieren dengan lantang dan tegas memberi kesan amat jijik penuh kerakusan.


Fihan mendelik, tapi, dia senang mengetahui kenyataannya sekarang, bukan soal dirinya boleh pergi dari rumah bersama nenek, melainkan, bahwa rencana penting telah tersemat dalam kepalanya yang tak mungkin seorang pun mampu menggagalkannya, ibu tirinya sekarang tertawa, tapi sesaat lagi, Fihan akan membuat ibu tirinya menangis penuh penyesalan.


“Ayo Nek,” ajak Fihan tanpa senyuman tapi menunjukkan kepeduliannya.


Maka sang nenek masuk ke dalam kamar Fihan mengikuti Fihan dari belakang, perasaannya sebenarnya sedih, mengetahui bahwa sang pemilik rumah yang asli justru menjadi yang terusir, bukan itu saja, sang nenek merasa menyesal tak bisa berbuat apapun sebagai seorang nenek yang harusnya mampu menolong cucunya. Dan terpaksa mereka berdua keluar rumah dari gerbang belakang. Namun baru saja sampai di depan gerbang nan besar serta hitam, mendadak seorang laki-laki bermata sipit dengan tubuh kekarnya yang berseragam serba hitam datang menghadang. Dia anak buah ayah Fihan yang kini setia pada Fihan.


“Maaf, apa tuan muda mau pergi?” cemas pria berbadan kekar itu.


Lantas Fihan menatap dengan serius pada pria itu, memikirkan untuk memulai balas dendamnya.


“Bakar rumah ini, dan pastikan ibuku ada di luar rumah sambil menyaksikan rumahnya yang terbakar,” pinta Fihan tanpa basa-basi penuh penekanan disetiap kata.


Sontak sang nenek terkejut mendengar perintah Fihan, sebuah perintah yang tak diharapkan sang nenek.


“Astagfirullah.. jangan Fihan, jangan,” sela nenek dengan takut tak mau cucunya membuat masalah lebih besar.


Sementara pria kekar itu termenung sejenak, ia berusaha mencerna perintah Fihan, batinnya menduga-duga, apa mungkin Fihan akan melanjutkan perjuangan sang ayah? Atau dia hanya sekadar balas dendam?


“Baik tuan muda,” balas pria kekar itu dengan menunduk hormat dan penuh rasa senang.


“TUNGGU!” sentak nenek Fihan benar-benar tak mau membiarkan cucunya berbuat salah.


Maka pandangan pria kekar itu langsung tertuju pada nenek Fihan, bukan untuk mematuhi perintah sang nenek, justru hanya sekadar menghormati usia renta nenek Fihan.


“Jangan kamu lakukan! Jangan!” pinta nenek sungguh-sungguh sambil memandang sang pria kekar.


Sang pria kekar itu terpegun, ia hanya menunggu dan patuh kepada Fihan seorang. Lalu sang nenek memandang Fihan penuh kecemasan penuh harap.


“Biar Allah yang balas, Fihan,” ujar nenek.

__ADS_1


“Maaf Nek, aku tidak mau menyusahkan Tuhan-ku, ini urusan makhluknya maka biar makhluknya menyelesaikan urusannya,” kukuh Fihan dengan raut muka cuek namun penuh dendam.


“Pergilah, dan ambil kembali tanah milik kita, aku akan pindah dari tempat ini...!” pungkas Fihan menegaskan penolakan atas permintaan sang nenek.


“Jangan! Jangan!” sergah nenek.


Sang pria kekar yang hanya setia pada Fihan dan ayahnya, mengangguk menyanggupi perintah sang majikan tanpa pikir panjang, lantas ia berlari ke belakang menuju pos penjaga di ujung gerbang, berniat untuk membuka gerbang, maka setelah gerbang terbuka dengan cukup, Fihan dan neneknya melangkah keluar gerbang, bersama sang nenek yang terus mengomel agar Fihan menghentikan perintah jahatnya. Saat Fihan serta neneknya telah berada di luar, maka pintu gerbang bergeser kembali tertutup, sang nenek masih terus memohon agar Fihan menarik kembali kata-katanya, namun Fihan tetap melangkah dengan cuek, mereka melangkah menuju jalan raya, pergi menuju suatu tempat. Sesaat setelah mereka pergi, sang pria kekar menelepon beberapa kawannya untuk memulai balas dendam. Sieren rupanya berada di kamar Fihan sendirian, ia duduk di bibir kasur sambil tertawa jahat penuh kepuasan, ia begitu senang bisa menguasai seluruh aset milik mendiang suaminya, sudah sangat lama ia menanti-nantikan keajaiban ini, hingga akhirnya semua usaha serta kerja kerasnya, kini, ia dapat membuat keajaiban itu menjadi miliknya seutuhnya.


“HAHAHAHAHAHAHA....”


Namun secara tiba-tiba tawanya berhenti seketika bersama tiga laki-laki berbadan kekar, lengkap dengan setelan jasnya, ditambah wajah sangarnya yang mendobrak masuk pintu kamar, Sieren terperenyak, ia lantas berdiri dengan ketakutan.


“Eh, si-siapa kalian!?” cemasnya.


Tiba-tiba kedua tangan Sieren dipegang erat oleh dua pria, Sieren sempat melawan, meronta-ronta bahkan berteriak minta tolong pada dua pengawalnya, namun, itu semua percuma, hanya kacamatanya yang jatuh kemudian hancur terinjak oleh kaki bersepatu pantofel milik seorang pria. Sieren diikat dengan tali tambang yang melingkari tubuhnya, tangannya pun diikat kuat-kuat ke belakang, mulutnya disumpal oleh sebuah kain, hingga ia tak bisa berbicara, lalu seorang pria lagi datang ke dalam kamar, ternyata itu adalah pengawal Sieren, ia datang membawa kursi roda, bukan itu saja, pengawal itu ternyata telah berkhianat pada Sieren, tapi Sieren hanya mampu memelototi sang pengawal, Sieren tak menyangka pengawal yang selama enam tahun ini setia padanya dengan sekejap malam dia tega berkhianat dan dengan paksa Sieren didudukkan di kursi roda, kemudian sang pengawal pengkhianat itu mendorong kursi roda menuju pintu halaman belakang, digiring keluar rumah. Tak disangka seorang pria kekar, berambut hitam klimis yang tersisir rapi ke belakang dengan setelan jas cokelatnya, ditambah sepatu pantofel nan mengilap, tengah berdiri sendirian sambil menghisap cerutunya penuh kenikmatan, berdiri dengan santai di depan pintu, dia anak buah ayah Fihan yang tadi membukakan gerbang. Penemapilannya kini layaknya seorang bos mafia.


“Nah nah nah... tampaknya angin berbalik arah ya nyonya...” sindirnya tersenyum puas.


Sieren menatap penuh kebencian pada laki-laki itu, Sieren bahkan tak menyangka jika sang pria penjaga gerbang ternyata berkhianat juga, setelah kursi roda yang diduduki Sieren telah terparkir mantap di depan pria berjas cokelat itu, sang pengawal pengkhianat langsung berdiri di samping laki-laki itu, pandangannya, raut wajahnya, gestur tubuhnya, sama sekali tak mencerminkan adanya pengalaman kerja bersama Sieren, justru auranya menegaskan kelicikan untuk memutar keadaan.


Lalu ia menghisap cerutunya kembali dengan rasa bangga dan mengembuskan asapnya dengan rasa senang, ia menatap netra hitam Sieren dengan mengembangkan senyuman menyeringai penuh kepuasan, hingga gigi putih ratanya mengintip layaknya mengejek pada Sieren, Sieren tak mampu berbuat banyak, ia hanya terdiam pasrah di kursi roda sambil menatap benci pada pria berjas cokelat itu, seakan memberi kesan bahwa Sieren mampu membalas semuanya. Maka tanpa banyak membuang waktu, kursi roda yang diduduki Sieren lantas dikuasai oleh sang pria berjas rapi itu.


“Nyonya, mari kita saksikan pertunjukan kembang api,” sindir pria berjas cokelat itu dengan tersenyum.


      Di pukul 20:55 Sieren yang duduk di kursi rodanya kini tengah di bawa oleh pria berjas cokelat mengelilingi rumahnya, mengitari di halaman rumah. Sieren masih terikat namun ia diam tak berontak.


“Oh ya, sebenarnya nama asli saya adalah Hadra, dan bukan Andy,” ungkap pria berjas cokelat alias Hadra.


Mulut Sieren masih tersumpal, raut mukanya menyiratkan amarah yang bergejolak namun ia tahan-tahan, mendadak, sumpalan di mulut Sieren dilepas oleh Hadra. Namun Sieren tetap terdiam, sama sekali tak berteriak minta tolong, sebab Sieren tahu, mantan anak buahnya ini tak akan bertindak jahat lebih jauh lagi, ditambah, tak ada gunanya juga minta tolong, apa lagi pengawal-pengawal Hadra yang tak akan segan-segan mengusir siapa saja yang berani ikut campur. Tak lama kemudian, hal mengerikan terjadi, tepat di rumah megah Sieren, kepulan asap hitam pekat menyeruak lewat jendela lantai atas, sontak Sieren yang melihat ada keganjilan, ia mulai memasang muka panik dan serius.


“Lo-loh? Apa yang kau lakukan pada rumahkuuuu...!?” resah Sieren.


“Kita akan pesta sayang...” kelakar Hadra sambil mendorong kursi roda.


Tepat di depan gerbang masuk halaman depan telah berdiri tujuh pria berbadan kekar lengkap dengan setelan Formal bernuansa hitam, semua wajah mereka nampak garang seakan tak pernah kenal dengan yang namanya cinta. Kala Hadra dan Sieren telah berdiri di samping ketujuh pria itu, mereka semua memandang pada rumah megah Sieren. Tiba-tiba laksana gemuruh mendung yang berpadu dengan gempa bumi, terjadi ledakan di dalam rumah megah Sieren, membuat mata Sieren terbelalak. Ledakan kembali terjadi, bahkan saking kuatnya, seluruh jendela hancur berkeping-keping tak ketinggalan pintu rumah hancur seluruhnya, kepulan api menyeruak keluar jendela, seluruh interior rumah terbakar, seluruh ruangan dalam rumah terbakar, rumah mewah nan megah milik Sieren terbakar.


“TIIIIIIDAAAAAAAAAAAAAAK...!” teriak Sieren tak terima.

__ADS_1


Sontak kedua mata Sieren mulai mengalirkan air mata sakit hati, ia menangis.


“Hiks hiks hiks...”


Sieren menunduk menangis senguk-sengak, seluruh impiannya hancur dalam sekejap, ia tak sanggup menerima kenyataan pahit ini, bahkan ia tak akan memaafkan semua kejadian ini.


“ARRRRGGGGGGHHHHHHH...” isak Sieren dengan meronta-ronta tak terima.


“Hiks ru-rumahku... hiks hiks...”


Rumah mewah itu terbakar, layaknya gundukan sampah yang tak berharga, rumah mewah itu dibakar tanpa peduli kemewahannya, tanpa peduli rumah seorang bangsawan, asap hitam nan pekat terus memberi kesan mengerikan. Kesan pertama pada langkah awal Fihan mencari jati diri berhasil tercapai, lebih-lebih Hadra kini telah kembali kepada kehidupan berharganya, ia mendapatkan kehormatannya kembali.


“Ka-kalian... pasti akan aku balas... hiks...” lirih Sieren dengan menunduk geram.


“AAAAAAAAAARRRRRRGGGGGH!”


Nyala api yang begitu besar membuat seluruh cahaya lampu halaman rumah nampak kalah dan berpadu menambah cahaya menjadi lebih terang, semua mata nampak begitu terkesima memandang keindahan rumah mewah yang terbakar, kecuali Sieren yang sakit hati menunduk menangis tersedu-sedu.


“Oh ini ada pesan untukmu...” kata Hadra sambil menyodorkan ponsel pintarnya pada Sieren.


Sieren pun menatap layar ponsel, ia membaca sebuah pesan, maka matanya pun terbelalak.


Dari Fihan: “Bagaimana ibu? Apakah karmanya menyenangkan?”


“Berengsek kau Fihan,” gerutu Sieren dengan napas terengah-engah.


Lalu Hadra memotret rumah terbakar itu dengan ponselnya.


“Kalian semua pasti akan dibui!” sentak Sieren.


“Hahaha... Anda itu ternyata wanita bodoh,” sindir Hadra sambil menunduk memeriksa ponselnya.


Lantas ia memasukkan ponselnya ke dalam saku kanan celana panjangnya.


“Jika saja bukan karena Fihan, Anda itu sudah dihukum mati, ingat, Anda sudah membunuh ayahnya, ditambah... siapapun polisi yang berani ikut campur dalam masalah ini, paling besok dia jadi gelandangan...” imbuh Hadra dengan menyelipkan kedua tangan ke saku celananya sambil memandang rumah mewah yang terbakar.


Sieren terdiam dengan hati senak, memandang impiannya yang hancur, ia benar-benar tak dapat berbuat banyak, ia hanya sanggup bersumpah serapah, ia tak percaya jika ternyata anak buahnya lebih memilih Fihan.

__ADS_1


__ADS_2