
Senja hari sepulang sekolah di kelas 12 SMA.
Farka berdiri di tengah kelas, Sazan pria tinggi yang mulai memiliki asa untuk hidup dengan ceria, duduk di bangku barisan paling depan, Eril gadis biasa yang selalu menemani Fihan apapun yang terjadi, berdiri bersandar di papan tulis menatap Farka dengan serius, dia berdiri seorang diri, tanpa Fihan sang dambaan hatinya, Areny duduk di sebelah kanan Sazan, dia masih ceria, masih punya ambisi kuat untuk membuat akhir perjalanan hidupnya, agar selalu bersama Farka selamanya, ia menatap Farka dengan serius, sedangkan Zeni duduk di atas meja, di sebelah Farka dengan satu meja menjadi pembatas, wanita dingin itu memandang Farka dengan raut muka datar, sambil bersedekap menyilang.
“Sazan, semenjak kamu menulis buku, kamu mulai berubah, menjadi lebih ceria,” ungkap Farka dengan bangga.
Sazan hanya menunduk terdiam.
“Areny,” panggil Farka.
“Ya,” sahut Areny dengan tersenyum ceria.
“Kamu bertahan saja dulu di rumahku, kita lihat sejauh mana keluargamu menyayangimu,” saran Farka dengan serius sambil memandang hidung Areny.
Areny mengangguk mengiakan.
“Dan Zeni...” ucap Farka dengan tatapan tajam menatap Zeni dengan penuh perenungan.
Wanita itu telah berbeda, wajahnya lebih berseri-seri, seolah baru bangkit kembali dari kematian, dan dia sudah mendapat pekerjaan, tepat di toko yang sama tempat Farka bekerja, meski Zeni memandang Farka begitu cuek tak peduli, tapi sorot netra hitamnya menyiratkan rasa terima kasih yang besar pada Farka, dia benar-benar telah berubah!
“...sedingin apapun kamu, wanita sepertimu juga punya kekuatan untuk menyelesaikan masalah hidup, kamu memang lemah... tapi, kamu bisa berubah lebih hebat dari wanita lainnya, bahkan kamu bisa menerima ayah tirimu kembali, memaafkan orang seperti ayah tirimu, bagiku sangat berat, tapi... aku bangga padamu! Aku bangga! Bahkan jika kau adalah seorang ibu, anakmu pun pasti sangat bangga,” imbuh Farka dengan bangga.
Zeni hanya terdiam tak menanggapi, yang jelas, Zeni sudah lebih ceria. Lantas, pandangan mata hitam nan tegas Farka beralih pada Eril si gadis yang biasa-biasa saja.
“Eril, jadi bagaimana?” tanya Farka.
Eril melangkah tiga langkah ke depan, jari jemarinya, kedua lututnya, alis hitamnya dan raut mukanya, menggambarkan seorang gadis yang sedang kebingungan dan putus asa, namun ada harapan yang besar yang dia pendam dalam kepalanya, mata hitamnya menyorot Farka dengan tajam, seolah Farka adalah ibu peri yang bisa mengabulkan semua harapan bocah-bocah yatim piatu.
“Fihan enggak mau ikut...” ungkap Eril dengan wajah yang sulit terbaca dan ia masih menggantung kalimatnya beberapa detik.
Semantara teman-temannya, memandang Eril penuh tanya.
__ADS_1
“...jadi, aku yang mewakilinya, aku ikut,” lanjutnya.
Mendadak, seluruh sorot mata langsung tertuju pada Farka, ingin tahu apa yang akan diucapkan Farka selanjutnya. Farka mengangguk-angguk tapi belum ada tanggapan yang berarti, pandangannya pun ke bawah pada lantai ber-keramik putih, seolah-olah tengah merenungi langkah selanjutnya.
“Oke, enggak masalah,” kata Farka yang setelah tujuh detik termenung.
Eril mengangguk pelan dengan senyuman tipis. Lalu Farka menatap lekat-lekat seluruh teman-temannya, karena, ada hal penting yang hendak dibeberkan, ini dilakukan, memang sudah saatnya, selama dua tahun lebih Farka memendam semuanya. Sementara teman-teman Farka terdiam, berharap sang ketua kelas menjelaskan dengan sedetil mungkin.
“Sebenarnya, rencana buku ini...” kata Farka menggantung kalimatnya mempersiapkan diri demi pernyataan nan penting.
“...adalah perintah Guru Sukada, dan aku memendamnya lebih dari dua tahun,“ lanjutnya dengan tegas dan lugas.
Sontak semua orang terperangah kaget, Zeni serta Areny sampai rela keningnya mengernyit demi berpikir dalam-dalam, kenapa sampai-sampai Guru Sukada menyembunyikan perintah ini? Merahasiakannya tapi, menyuruh ketua kelas yang memulainya? Jelas, hal itu langsung menimbulkan pertanyaan di benak semua orang.
Suasana senja ini, mulai terasa dingin dan menjadi penuh tanya, karena ketua kelas membeberkan sebuah rahasia.
”Maksudnya?“ usut Sazan dengan menatap wajah berkarisma Farka.
Farka kemudian menarik napas panjang, dan mengembuskannya bersama ingatan yang akan diungkapkannya.
”Jadi... saat kita masih kelas sepuluh, aku tengah membantu Guru Sukada membersihkan perpustakaan...“
Tepat, dua tahun tiga bulan yang lalu, kala Farka tengah membersihkan perpustakaan, dia tak sengaja menarik sebuah buku hingga membuka jalan rahasia menuju bawah tanah. Farka melangkah menuruni anak tangga, tempat ini seperti perpusatakaan bawah tanah, lampu-lampu kekuningan bergantung di atas, terdapat dua lemari buku di depan sebuah ruangan seluas kamar Farka, dengan meja kayu Ulin di tengah ruangan lengkap dengan kursi goyangnya. Tempat ini bersih, terawat dengan baik, lantainya terlapisi keramik, dindingnya juga terlapisi keramik warna krem, lampu di ruangan ini putih cerah tak seperti lampu di awal lorong pintu. Jelas karena Farka penasaran, ia meraih sebuah buku secara acak. Judul bukunya adalah, Autobiografi SMA Alumni Bintang Adair. Farka membuka halaman awal, ia sempat membaca bab awal buku itu.
”Aku adalah Frida, wanita pendiam yang selalu mencuri penghapus teman-temanku hingga mereka selalu mengeluh,“ ujar Farka membaca.
Lalu Farka membaca bab demi bab selanjutnya, hingga keningnya mengernyit bingung, bahkan raut mukanya begitu serius. Karena apa yang dibacanya adalah pengalaman-pengalaman kakak kelasnya di masa lampau. Tak sampai di situ saja, ia mengambil lagi buku secara acak, membacanya kembali, dan terus seperti itu, tapi, ia juga menaruh kembali buku ke posisinya setelah ia baca. Farka pun duduk di kursi goyang, yang menghadap pada lemari buku, ia membaca buku ke 30 berjudul, Autobiografi SMA Bintang Altair.
”Aku, Georgre, dipanggil si Diktator, aku selalu membenci kepayahan, aku ketua kelas, dan setiap minggu aku membawa semua murid sekolah untuk tawuran, mengacak-acak SMA Pekerti, merusak fasilitas umum, membakar rumah warga, jangan tanya kenapa, karena, kemerdekaan itu bagiku, diraih dengan PERANG! Siapa yang lemah, akan ditindas, kami, ingin diakui kemerdekaannya, aku tidak percaya orang tua yang baik! Semua orang dewasa tidak bisa dipercaya! Maka itu, kami selalu bersama, baik suka maupun duka, saat itu... hari kamis, aku berhasil membuat dua murid SMAN 7 luka parah karena aku menusuk perut mereka hingga sekarat, dan aku katakan pada polisi, bebaskan para penjahat! Atau wali kota akan aku bunuh! Tapi nyatanya, akulah yang dipenjara, tak peduli masih remaja ataupun masih sekolah, aku tetap dipenjara, dan entah karena alasan apa aku dibebaskan, tentunya, aku kembali berulah, merusak semua hal di sekitarku, lalu tertawa dengan bangga, tapi... suatu hari saat aku sedang menghajar seorang pria di sudut jalan, seorang wanita dewasa berusaha menghentikanku, hingga wanita itu sampai terkena sikutanku dan terbaring jatuh, pria bonyok itu kabur, karena aku beralih pada sang wanita, dia merangkak di trotoar sambil berusaha meraih tongkatnya, rupanya dia buta, bukan itu saja! Dia tak punya tangan kiri, dan aku mengambilkan tongkatnya, anehnya, dia berterima kasih padaku karena telah memberikan tongkatnya, saat dia bangkit berdiri, aku bisa melihat wajahnya, dia tidak punya alis, bibirnya telah dijahit, matanya terpejam, banyak bekas luka di wajahnya, mungkin orang-orang akan muak melihatnya, dia wanita yang jelek, cacat dan sangat lemah, tapi, konyolnya aku jatuh cinta padanya, ada satu hal yang membuatku kaget, suaranya sangat merdu, setiap aku mendengar suaranya, aku selalu melihat wanita jelek itu layaknya seorang bidadari, jelas, setelah itu kami berteman, namanya Diva, sesuai dengan suara merdunya, dia berusia, 22 tahun, selisih empat tahun aku dengannya, dia hanya penjual bunga, di toko peninggalan ayahnya, ada satu hal yang membuatku menangis, bahwa pembelinya adalah kakaknya sendiri, sudah tujuh tahun sang kakak selalu menyamar sebagai pelanggan hanya agar adiknya selalu senang, karena sebenarnya, tak ada masyarakat yang mau membeli bunga di sini, penyebabnya, karena keluarga wanita itu dulunya dukun santet, orang tuanya sudah membunuh masyarakat di sekitar, bahkan kecacatan Diva adalah perbuatan orang tuanya, namun, justru Diva malah merasa dirinya durhaka pada orang tuanya, hingga dia berjanji akan meneruskan toko bunga ini, meski sang kakak sudah menyuruh Diva untuk diam di rumah, tapi penyesalan kematian orang tuanya membuat ia bertahan di sini, dan aku setiap hari membantu Diva membersihkan tokonya, bahkan aku mempromosikan toko bunga Diva, mirisnya, selalu saja ada yang mengirim paket aneh meneror toko Diva agar ditutup, aku sempat menghajar seorang pria dewasa karena berani mengusir Diva, hari-hari berlalu tanpa pelanggan sungguhan, hanya sang kakak yang selalu menyamar menjadi pelanggan baru, ataupun pelanggan lama, aku sudah tahu kalau Diva, juga tahu bahwa itu adalah kakaknya, dan Diva selalu berpura-pura tidak tahu... suatu malam, aku menyatakan perasaanku padanya... aku menyukainya, menyayanginya dan mencintainya, bahkan ingin menikahinya, tapi... Diva terdiam, hanya tersenyum tipis, bahkan dia pergi berpaling, dia tidak memberi jawaban pasti, sehingga... aku mengambil kesimpulan, bahwa Diva menolakku, lalu, aku menjalani hari-hari seperti biasa, dengan perasaan yang terus menggantung, aku sempat berpikir, bahwa Diva sok jual mahal, padahal siapa juga yang akan menikahi wanita buruk rupa seperti dia... kalau bukan aku... dan setelah aku lulus dari sekolah... saat aku kembali melanjutkan hari-hariku di toko Diva tanpa digaji sedikit pun, kakaknya datang, dia mengabariku hal terburuk yang tidak ingin aku dengar, bahwa Diva telah meninggal dunia, alasannya, karena dia ingin menutup ritual terakhir orang tuanya, menumbalkan dirinya sendiri demi menghentikan kutukan yang masih menyeruak di tempat ini, satu hal yang penting, Diva tidak menolakku, justru dia berusaha menyelamatkan aku dari kutukan keluarganya, tapi, tetap saja, aku tidak bisa menerima kematiannya, untuk pertama kalinya, aku menangis seperti bocah yang dicubit mama karena ingin permen, aku merengek, sebab, Diva, adalah alasanku berhenti berkelahi, berhenti pula mabuk-mabukkan, saat pertama kali aku bertemu dengannya, sebenarnya, Diva punya alasan kuat kenapa dia berjalan-jalan sendirian, setelah belasan tahun untuk pertama kalinya, Diva memberanikan diri keluar dari tokonya, untuk melihat dunia, kini, sejak kepergiannya, aku merasa kacau, seperti kehilangan jiwa, kosong dan terasa mati, sehari kemudian, di malam tak berbintang, aku datang ke sekolah, aku menaruh buku autobiografiku di atas meja kelas 12, aku meraih senjata api pistol yang sudah aku bawa, aku tarik pelatuknya, lalu menembakkan kepalaku dengan satu peluru, dengan harapan, bisa bertemu Diva di neraka nanti... jadi... aku sudah mati saat kalian membaca bukuku,“
”Sejarah, sejarah, semua orang mengukir sejarah...“ kata Guru Sukada yang tiba-tiba datang dari arah belakang, lalu berdiri menghadap lemari buku dengan pandangan lapar, seolah ia ingin memakan semua buku yang ada.
__ADS_1
Farka terperenyak, ia kaget, sampai menutup bukunya, dan memandang penuh waspada pada Guru Sukada. Mendadak Guru Sukada melangkah mendekati Farka, memandang Farka penuh makna, senyuman aneh pun tersungging di wajahnya, seolah dia telah menemukan benda berharganya yang sempat hilang. Awalnya Farka takut, karena dia sudah membuka tempat rahasia ini, bahkan sampai membaca buku di sini.
”Ada yang ingin kamu tanyakan?“ tanya Guru Sukada dengan berdiri di depan Farka di seberang meja.
Farka menelan ludahnya, dengan memandang gurunya agak takut, sampai-sampai Farka meminta maaf karena sudah lari dari tugas bersih-bersihnya, namun saat Farka hendak bangkit untuk pergi, melanjutkan tugasnya kembali, Guru Sukada menahan Farka, agar Farka tetap di sini.
”Enggak perlu takut, bapak nggak marah, justru bapak senang kamu menemukan ruang buku ini,“
Maka Farka pun duduk dengan lega setelah mendengarnya.
”Maaf Pak, kenapa tempat ini seperti disembunyikan?“ usut Farka dengan penasaran namun ia bicara hati-hati agar Guru Sukada tak marah.
Guru Sukada lantas bersedekap menyilang, dengan berdiri tegap, dan pandangannya menilik Farka.
”Karena, ini harta karun sekolah, dan hanya murid yang terpilih yang boleh membaca di sini.“
”Ha? Sa-saya tidak paham Pak?“ keluh Farka terheran-heran.
”Sekolah didirikan tidak hanya untuk mencerdaskan manusia, bukan hanya membentuk evolusi dan revolusi kearah yang cerah, lebih dari itu, kita membuat sejarah baru, kalian ditempa untuk menulis sejarah terbaik dari sejarah-sejarah terdahulu, bukan tentang nilai tinggi, tapi, tentang kualitas sempurna yang membentuk sejarah dan zaman terbaik yang pernah tertulis atau akan tertulis,“ tutur Guru Sukada.
”Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah! Itu kata Bung Karno,“ imbuhnya.
Farka hanya tertegun mendengarkan dengan raut muka kebingungan.
”Jiwa dan mental kalian, adalah tanggung jawab kami, kamu membaca sejarah kakak-kakak kelasmu terdahulu, agar kamu sebagai adik kelasnya, bisa membentuk jiwa dan mental yang kokoh, serta baik, tidak seperti kakak kelasmu yang bodoh dalam menyelesaikan masalah, bahkan bukan itu saja, siapapun guru yang tertulis tidak berkompeten dalam mengajar murid-muridnya, maka dia akan digilas oleh sejarah selanjutnya, dihinakan dan diusir dari lingkungan sosial, evolusi dan revolusi, harus berakhir pada kebaikan sempurna dan mutlak, para calon penerus bangsa harus berjiwa pahlawan... jadi... hanya murid yang terpilih yang boleh membaca buku di sini, dan hanya murid terpilih yang mencatat sejarahnya, demi membentuk generasi terbaik...“ jelas Guru Sukada.
”Oke... aku kebingungan... jadi... aku harus apa?“ tanya Farka.
”Hehehe...“ Guru Sukada terkekeh.
”Jadi... cari murid yang layak menuliskan sejarah mereka, demi harapan cerah generasi selanjutnya dan kita akan mencari sejarah mana yang terbaik...“ pinta Guru Sukada dengan serius.
__ADS_1