Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
BERBURU KODOK...?


__ADS_3

       Ke esokan harinya, Selasa, di pukul 14:01 murid-murid SMA Lily Kasih, telah membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Hari yang cerah ini, secerah perasaan Areny pada Farka, yang seperti biasanya mereka tengah pulang ke rumah menapaki jalan beraspal di depan rumah-rumah warga, Areny menceritakan banyak hal saat perlombaan futsal, mulai dari hilangnya buku tulis hingga kacamatanya yang hancur entah oleh siapa. Yang pasti, kini mereka telah sampai di rumah, mereka telah masuk ke dalam rumah, dan Farka membiarkan pintu terbuka. Setelah mereka mengganti pakaian di kamar masing-masing, mereka duduk berhadapan di atas karpet ruang tengah, menyisakan jarak dua meter agar tak bersentuhan, tepatnya terlalu dekat, pakaian mereka sama persis seperti kemarin.


“Ada apa sih Farka, kayaknya serius? Tentang autobiografi kita ya?” tanya Areny keheranan.


Lalu kedua tangan Farka mencengkram kedua lututnya, menatap mata hitam Areny dengan serius.


“Aku mau mengajakmu menikah,” ungkap Farka dengan penekanan di setiap kata.


Sekonyong-konyongnya, Areny malah tertawa menyindir.


“Hahahahaha...”


“...basi bercandamu!” ejek Areny.


“He! Aku serius!” sanggah Farka benar-benar menampakkan keseriusan.


Tapi Areny kembali terkekeh tak percaya. Maka sebagai bentuk keseriusan Farka, dia mengeluarkan kertas cek dan menaruhnya di atas karpet di depan Areny. Sontak Areny berubah serius, menilik kertas cek tersebut dengan penuh tanya.


“Ayo, kita bila cincin untukmu,” ajak Farka masih memandang Areny dengan serius.


“Se-se-seriusan?” tanya Areny memastikan dengan gugup dan perasaannya campur aduk.


“Iya serius!” tegas Farka.


Areny melongo menatap netra Farka tanpa berkedip, jantungnya mendadak berdegup cepat, perasaan cintanya dan kebingungan melebur jadi satu.


“A-aku, aku bingung... maksudnya... tapi kan kita masih sekolah...” ungkap Areny terbata-bata dengan kikuk.


Farka mengangguk-angguk penuh makna.


“...tapi... itu artinya... ka-kamu... kamu...” gumam Areny menunduk dengan jengah sambil mencerna maksud ajakan Farka.


“...tunggu dulu, kenapa kamu mau menikahiku?” tanyanya dengan tertunduk malu.


“Seminggu setelah kita lulus, kita adakan pesta pernikahan, nah... aku ungkapkan sekarang biar kita siap-siap...” kata Farka sambil memandang wajah manis Areny.


“...lagian... aku memang sayang juga sama kamu,” lanjut Farka dengan bersedekap menyilang.


Mendadak Areny menelan ludahnya dan langsung memandang mata hitam Farka dengan perasaan berbunga-bunga.


“Iya... awalnya suka... lalu kagum... terus berkembang menjadi cinta...” jelas Farka dengan memandang alis hitam Areny.


Areny masih terpegun tak menyangka, bahwa perasaan cintanya kini telah terpenuhi, ia kira cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, selama lima tahun memendam perasaannya, kini semua perasaan itu telah berhasil menggapai hati pria idamannya, bahkan sang laki-laki idaman itu langsung mengajaknya menikah, Areny sebenarnya siap-siap saja menikah muda, toh, dia juga menikahi orang yang dia cintai, hanya saja ini terkesan mendadak, jadi semua perasaannya campur aduk, sampai-sampai ia bingung harus bagaimana menyikapinya.


“Kita memang akan menikah muda, tapi tenang, sebenarnya aku sudah bekerja sejak SMP, dan aku menyembunyikannya darimu, malah aku sekarang adalah laki-laki mapan, dan juga laki-laki bertanggung jawab, aku sudah siap secara lahir dan batin, tapi ingat! Kebahagiaan itu kita dapatkan secara masing-masing, jadi harus ada komunikasi biar kita bisa meraih bersama-sama,” papar Farka dengan serius.


Areny lalu menunduk malu, ia merasa kenyataan ini seperti mimpi, mimpi indah yang menjadi nyata, dan tentunya dia menerima lamaran Farka.


“A-aku, senang... ini menyenangkan...!” ujar Areny dengan menunduk bahagia.


Areny menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca, perasaan bahagianya meluap, harapannya pun telah terkabul, ia duduk dengan melipat kedua kaki sambil mencengkram lututnya layaknya menggenggam kebahagian yang telah dicapai.


“Oh iya aku lupa...” keluh Farka.


“Sekarang coba kamu ungkapkan perasaanmu, biar kita bisa mengawali kehidupan nanti dengan tenang...” pintanya.


Areny kemudian menatap netra hitam Farka, dengan mata berbinar kebahagian, dan hati yang masih berbunga-bunga. Ia menelan ludahnya, berusaha menenangkan dirinya dari kegugupan.


“Aku selalu mengagumimu... selalu dan selalu... aku suka telingamu...” kata Areny dengan memandang kagum pada wajah berkarisma Farka.


“Eh... telingaku?” sela Farka sambil memegang kedua telinganya.


“Hem, iya,” balas Areny mengangguk membenarkan.


“...aku tidak tahu harus berkata apa lagi... soalnya aku baru merasakan kebahagian yang paling besar adalah sekarang... intinya... aku siap menjadi istrimu, malah... aku siap menjadi seorang ibu!” ujar Areny dengan antusias.


“Nah... ayo kita beli cincin, sama hal-hal lainnya yang wajib ada dipernikahan,” ajak Farka sambil bangkit berdiri.


Areny lalu meraih kertas cek yang tadi digeletakkan oleh Farka, ia pun menengadahkan wajah ke arah Farka dengan tersenyum senang.


“Oh iya sekalian aku beli baju baru...” kata Areny.


“Iya... ayo-ayo...” balas Farka sambil melangkah keluar rumah.


Maka buru-buru Areny bangkit berdiri, Areny si gadis beraura postif, berambut sepundak laksana gadis ceria yang membawa kebahagiaan, kini pergi bersama Farka yang pada akhirnya, dia berhasil menyatukan cintanya dengan pria dambaannya. Mereka pergi menuju pusat kota mengendarai mobil taksi.


       Pukul 14:35 mereka telah tiba di depan mal terbesar di pusat kota Artana, mal ini cukup ramai tapi tidak seramai pasar, Areny dan Farka telah berada di dalam mal, mereka melangkah menuju, sebuah butik, bernama Butik Far, sesampainya mereka di sana, Areny dengan riang gembiranya langsung memilah-milah baju yang ingin dia beli, sedangkan Farka menemani Areny di sampingnya.


“Mana ya yang cocok...?” gumam Areny dengan menimbang-nimbang pilihannya.

__ADS_1


“Oh iya, nanti, biar aku yang bayar,” kata Farka serius dengan menyarankan.


“Enggak perlu, aku saja,” balas Areny sambil memandang Farka.


“Kamu mau beli baju berapa pun akan aku bayar, jangankan bajunya, tokonya kalau perlu aku beli,” jawab Farka dengan serius namun menujurus pada berkelakar.


“Ahk... memangnya uangmu berapa, kamu kan cuman pelayan toko...” sindir Areny kembali memilah-milah baju yang tergantung.


“Ya... kamu memang hanya boleh tahu itu saja,” ucap Farka.


Areny tak terlalu menanggapi perkataan Farka, dia sibuk memilih baju yang tersedia di rak baju gantung, lalu tiba-tiba ponsel Farka berdering, tanda adanya panggilan masuk, jelas Farka meraih ponselnya dari saku kanan celananya. Saat Farka berpaling pergi untuk mendapatkan situasi sunyi, Areny tetap fokus mencari baju terbaiknya. Suasana di dalam mal ini terbilang ramai, apa lagi mal yang dilengkapi dengan banyaknya tempat hiburan, membuat orang-orang betah berlama-lama di sini.


Saat Areny sedang memilih baju, tak disangka gendang telinganya memberi isyarat, bahwa ada seorang wanita yang dikenalnya memanggil Areny, sontak Areny langsung memutar tubuhnya ke belakang. Tak disangka seorang gadis dengan rambut panjang cokelat bergelombang yang membingkai indah wajah cantik berbentuk hatinya, dengan mata cokelat kecil sambil menjinjing tas belanjaannya, datang menghampiri Areny, dia Estilia sedang melangkah dengan seorang gadis berambut ikal warna hitam dengan mata sipit berwajah mulus yaitu Nitia, mereka menghampiri Areny dengan senyuman senang.


Jelas Areny berhenti memilih baju, dan menyambut dua teman sekelasnya.


“Eh, kalian ada di sini?” heran Areny.


Nitia dan Estilia tampak masih mengenakan seragam sekolah, memberi kesan bahwa mereka tak pulang ke rumah lebih dulu. Kini mereka berdiri berhadapan.


“Kamu lagi apa di sini?” usut Estilia.


“Belanjalah... masa iya bercocok tanam,” jawab Areny berkelakar.


“Ya... kirain gitu... lagi berburu kodok...” balas Estilia berkelakar.


Namun kala netra hitam Areny terarah pada Nitia, rupanya Nitia tengah memandang ke arah Farka yang tengah berdiri di luar butik, pandangannya pada Farka menyiratkan ada perasaan yang tersimpan.


“Oh iya!” seru Areny dengan riang.


Karena suara Areny yang agak keras, Nitia pun sampai rela menoleh pada Areny.


“Aku akan menikah dengan ketua kelas!” ungkap Areny penuh ceria.


“Ha?” kata Nitia dan Estilia serentak.


“Kamu mau nikah muda?” tanya Estilia terheran-heran.


“Iya,” jawab Areny tanpa ragu.


Areny langsung menghadapkan tubuhnya pada Farka, memandang Farka yang memunggungi butik sambil menelepon.


Estilia memandang Areny dengan tatapan penuh syukur, sedangkan Nitia menundukkan pandangan dengan merenung.


“Kamu beruntung sekali ya...” ujar Nitia masih termenung.


“Hem,” Areny mengangguk dengan mantap.


“Kalau begitu, kamu enggak perlu beli baju di sini, minta saja sama Farka pasti dikasih...” kata Nitia.


“Eh... mana bisa begitu,” ucap Areny menolak.


“Kamu enggak tahu ya... kalau dia yang punya butik ini? Apa jangan-jangan kamu juga enggak tahu kalau Farka itu punya studio musik?” selidik Nitia membongkar rahasia.


“Ha? Yang benar?” tanya Areny tercengang.


“Loh... kamu itu calon istrinya kok enggak tahu sih?” heran Estilia.


“Aku memang enggak tahu, aku cuman tahu kalau dia kerja jadi pelayan di toko,”


“Coba deh kamu pikir, sejak dia SMP dia sering mabal, tapi setelah kelas 12 SMA dia jarang mabal,” papar Nitia.


“Iya, kan dia memang pemalas,” duga Areny.


“Bukan, dia itu kerja tahu, mulai dari mengumpulkan botol plastik sampai kuli bangunan, dia sudah merintis karir sejak SMP kelas tujuh,” sanggah Nitia dengan lugas.


“Ha?”


Lalu pandangan Areny tertunduk merenung.


“Iya, itu benar...” timpal Estilia membenarkan perkataan Nitia.


“...dia laki-laki pekerja keras, rasa malasnya hanya ada pada pelajaran, tapi kalau soal uang dia paling giat...” lanjutnya.


“Pantas, dia berani mengaku laki-laki mapan dan berani-beraninya memberiku selembar cek,”


“Tapi, kalian kok bisa tahu?” usut Areny dengan serius.


“Nitia kan mantan pacarnya,” kata Estilia.

__ADS_1


“Ha?” Areny kaget.


“Aku pacaran di kelas sepuluh, ahk, itu juga, cuman satu bulan, soalnya kan aku lebih butuh uangnya... hehehe,” jelas Nitia blak-blakan.


Areny mengangguk-angguk.


“Tapi kok, kamu baru sekarang kasih tahu aku?” tanya Areny menyelidik.


“Kata Farka aku tidak boleh mengungkapnya sebelum lulus, tapi sebentar lagi kan mau lulus, kamu juga mau nikah lagi sama dia, jadi aku bongkar saja sekarang,” jawab Nitia.


Areny mengangguk paham.


“Ya sudah kami lanjut dulu ya,” Estilia pamit.


“Dan selamat ya...” imbuhnya.


“Iya selamat, semoga selalu berbahagia,” timpal Nitia.


Dan Areny mengangguk mengiakan, maka kedua gadis teman Areny itu pergi melanjutkan kesenangan mereka. Kemudian Areny kembali mencari baju yang cocok, tentunya, pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang Farka. Apa mungkin Farka punya rahasia lagi? Kenapa juga harus dirahasiakan?


Lima belas menit lebih telah dilalui Farka bertelepon, maka ia kembali menuju Areny, rupanya Areny tengah berdiri di depan meja kasir sekaligus membayar baju yang dia beli. Dan saat Areny telah selesai, ia pun memutar tubuhnya ke belakang, namun betapa terkejutnya ia, Farka sudah berdiri di sana, tepat di depan Areny dengan tersenyum simpul.


“Nah, ayo...” ajak Farka.


“Tunggu!” pinta Areny.


Lalu Farka berdiri terpegun. Dan Areny buru-buru melangkah mendekati Farka hingga berdiri di depannya dalam jarak satu meteran, mereka pun saling memandang.


“Kenapa kamu enggak ngomong kalau butik ini punya kamu? Malah kamu enggak ngomong kalau Nitia itu mantan pacar kamu,” selidik Areny.


Farka kemudian memalingkan muka.


“Oh... semuanya nanti aku ceritakan kalau sudah sampai di rumah,” ungkap Farka berkilah.


“Ya... enggak bisa begitu dong... kan kita mau menikah, jadi semua kehidupan kita harus dijelaskan,” ucap Areny tak terima.


Lantas Farka bersedekap menyilang dengan memandang wajah manis Areny.


“Nah... apa kamu tetap cinta meski aku seorang pemulung? Apa kamu tetap mau menikah dengan laki-laki miskin sepertiku?” tanya Farka menguji.


“Iya! Sekali pun kamu cuman seorang babu, aku tetap sayang!” jawab Areny dengan lugas dan mantap, karena memang pada dasarnya Areny mencintai Farka tanpa melihat setatus sosial Farka.


“Hmmm... masa?” balas Farka dengan raut muka menyebalkan.


“Iya, kita akan jalani bersama-sama, susah senang kita harus bareng-bareng!” balas Areny dengan teguh tanpa ragu.


“Hmmm... masa?” kelakar Farka.


“Iya!” tegas Areny serius.


“Hmmmmmmm...” gumam Farka dengan tersenyum lebar.


“Sudah ahk,” keluh Areny sambil melangkah pergi.


Lalu mereka pun melanjutkan berbelanja, sekaligus mempersiapkan gedung acara pernikahan, makanan, tanggal pernikahan, dan hal-hal lainnya yang penting untuk menikah. Sampai-sampai mereka pulang tengah malam untuk mempersiapkan semuanya, dan kini mereka tengah berada di dalam mobil taksi, bahkan banyak tas belanjaan yang mereka bawa, tepat pukul 01:01 dini hari.


“Nanti keluarga tiriku diundang enggak ya?” tanya Areny menimbang-nimbang.


“Semua kita undang, bahkan orang tua tirimu itu harus jadi wali nikahmu, ini sudah menyangkut hukum soalnya, ya kalau mereka tidak bisa, pengurus panti asuhan yang menggantikan mereka,” tegas Farka.


Areny hanya terdiam sambil mengangguk paham.


“Aku masih nggak menyangka, kita akan menikah muda,” ungkap Areny.


Farka hanya tersenyum penuh makna. Lalu Areny menoleh ke kiri pada Farka dengan penuh rasa syukur.


“Rasanya aneh begini ya...?”


“Hem, aku juga enggak mengira kalau kita itu berjodoh,” balas Farka dengan menatap netra gelap Areny.


“Ooooh... iya juga ya... kita berjodoh...” kata Areny dengan pandangan menunduk sambil merenungi perkataan Farka.


“Kalau aku nanti mati, apa kita tetap jodoh?” tanyanya dengan serius.


“Bagiku, jodoh itu kalau kita bertemu, kalau kamu pergi duluan berarti jodohnya berakhir,” jawab Farka.


Areny tak bicara hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan paham, tapi sekonyong-konyongnya Areny menilik keluar jendela kaca.


“Ih, itu kan Eril,” kata Areny menerawang lewat jendela kaca mobil.

__ADS_1


Farka pun sampai rela menoleh ke kanan untuk memastikan, apa benar tadi Eril? Namun sayang, semua berlalu, sebab mobil tengah melaju cepat.


__ADS_2