Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
GUYONAN....?


__ADS_3

      Seluruh murid telah siap di kelasnya masing-masing, kelas 12 telah berkumpul, Zeni dan Areny pun telah kembali ke kelas, kini pelajaran Ekonomi akan dimulai, tak disangka Farka datang bersama Guru Sukada sambil ngobrol, mereka membicarakan hari kelulusan, yang memang penting bagi para murid untuk membuat sebuah kenangan manis, tapi, pembicaraan masih menemukan jalan buntu, sebab, murid kelas 12 itu unik, mereka lebih suka kebebasan, dan hal-hal yang lebih baik dikerjakan sendiri-sendiri, sehingga sulit untuk membuat mereka bisa terlihat kompak. Setelah mereka masuk, mereka menuju mejanya masing-masing. Seluruh murid sempat berdiri sambil menunduk hormat lalu kembali duduk. Farka pun duduk di bangkunya.


“Tadi bagaimana?” tanya Farka dengan suara pelan memandang Areny.


“Istirahat aku akan ceritakan,” jawab Areny sungguh-sungguh.


Farka mengangguk mengiakan.


“Oke, kita mulai pelajarannya,” kata Guru Sukada dengan tegas dan lantang.


Seluruh murid pun mengeluarkan buku-buku yang kali ini akan mereka pakai, begitu juga dengan Fihan yang mengeluarkan buku-buku pelajarannya. Hari itu dilalui murid-murid kelas 3 dengan biasa, tanpa ada masalah konyol yang biasa mereka buat.


       Di pukul 14:07 seluruh pelajaran sekolah telah usai, murid-murid diperkenankan untuk pulang ke rumah masing-masing. Farka serta Areny tengah pulang bersama-sama.


“Coba kalau kamu tidak ngomong sama Zeni, mungkin sekarang dia akan memendam semua masalahnya sendirian,” tutur Farka penuh syukur.


“Iya, aku juga enggak menyangka kalau Zeni mau bicara panjang lebar, susah tahu ngobrol sama dia itu, tapi dia memang sudah agak berubah,” ungkap Areny bersyukur.


“Nah, kamu harus temani dia terus, dan ingat, apapun yang sudah diceritakannya jangan kamu ceritakan sama orang lain,” pinta Farka serius.


“Loh kenapa?” heran Areny.


“Zeni sudah mulai menaruh kepercayaan padamu,” ucap Farka.


“Rumit ya ternyata cuman kayak begini doang?” keluh Areny.


“Jelaslah rumit, orang kita sedang berusaha meraih hati seseorang, tapi, kalau kamu berhasil menjadi sahabat karibnya, suatu hari nanti, apapun masalah hidup kalian, maka semuanya menjadi enteng, bahkan kebahagiaan itu bisa kalian capai,” papar Farka.


”Dan jangan menganggap enteng perasaan orang lain, kalau salah sedikit saja, kepalamu bisa dipenggal,“ imbuhnya serius.


”Ahk yang benar? Itu orang yang baperan kali,“ sangka Areny.


”Makanya banyak main sama para pembunuh dan penjahat,“ balas Farka.


”Eh, untuk apa main dengan mereka? Kayak cari mati saja...“


”Aku punya teman anak kuliahan, dia dipenjara karena mencoba membunuh pacarnya, alasannya sederhana, pacarnya pernah menghina keluarga temanku dengan menyebut miskin,“ kata Farka.


“Itu mah dianya baperan, atau mungkin mentalnya terganggu,” duga Areny.


“Bukan masalah baperan atau mentalnya terganggu, tapi masalahnya dia itu mau membunuh manusia, ingat loh, membunuh!” sanggah Farka.


Eril terpegun memikirkan perkataan Farka. Mereka berdua terus berjalan bersama-sama layaknya bayangan dari sebuah benda yang sulit terpisahkan, mereka melangkah di jalanan yang cukup sepi, memang biasanya area perumahan ini selalu sepi, paling hanya beberapa orang yang melintas entah mau ke mana, sementara anak-anak kompleks biasanya berada di kafe di pinggir jalan raya, atau bermain di taman kompleks.


“Oh iya ketua, kenapa sih kamu sampai segitunya membantu teman-teman?” tanya Areny penasaran.


Farka sempat merenung, ia juga memikirkan perbuatannya selama ini.


“Hmmmm.... aku enggak punya alasan kuat sih... jelasnya... aku hanya kasihan...” jawab Farka.


“Ooooohhh....”


“Yaaaa... mau bagaimana lagi... kita kan sudah masuk ke lingkungan sosial, pasti terlibat juga dengan masalah mereka...” ungkap Farka.


“Tapi, apa itu berarti ketua ikut campur?” heran Areny menyelidik.


“Enggak kok, kita cuman berada di depan masalah mereka, enggak sampai tenggelam juga, maksudku, kita cuman membantu hal-hal pentingnya saja, enggak sampai semuanya dicari tahu,” jelas Farka.


Areny mengangguk-angguk berusaha mencerna penjelasan Farka.


”Tapi, secara enggak langsung, ketua juga sudah ikut campur...“ ucap Areny.


“Iya sih... hehehe...” balas Farka dengan santai.


“Loh...? Aku malah jadi bingung,” keluh Areny dengan mengernyitkan kening.


“Tenang, kita cuman harus tetap di batasnya saja, kita membantu mereka karena mereka teman kita, lagian, enggak semua masalah bisa diselesaikan sendirian,” papar Farka.


Areny mengangguk paham.


“Nah, besok kamu lanjutkan temani Zeni,” pinta Farka.


“Kenapa enggak bareng-bareng?” heran Areny mengusut.


“Dia kan orangnya penyendiri, ditambah kamu sudah mulai dekat dengannya,” jelas Farka.


“Iya juga ya... hahahaha...” ujar Areny sambil menepuk bahu kiri Fihan berkelakar.


Lalu dengan bercanda Areny menabrakkan bahu kanannya pada bahu kiri Farka, sambil cengengesan berkelakar.

__ADS_1


“Hahaha ayo kenai aku kalau bisa...” guyon Areny.


“Eh?!”


Farka pun menerima candaan Areny, mereka pulang sambil bermain kejar-kejaran layaknya bocah yang baru tahu rasa permen karet, namun mereka berdua tertawa riang gembira.


       Tepat di depan rumah Fihan yang kedua, Fihan dan Eril baru saja tiba, tanpa banyak basa-basi, mereka langsung masuk ke dalam rumah sembari mengucapkan salam, baru saja mereka masuk ke ruang tengah atau ruang utama, mereka pun langsung disambut oleh nenek Fihan. Mereka saling menyapa sekaligus menanyakan kabar. Eril dan nenek Fihan begitu sangat akrab, karena mau bagaimana lagi, Eril adalah teman Fihan sejak lama.


“Oh, Eril, benar ini rumah kamu?” usut nenek Fihan sambil memegang bahu kanan Eril penuh kasih sayang.


“Iya Nek, sebenarnya aku dan Fihan patungan untuk membelinya, baru satu tahun rumah ini kami miliki,” jawab Eril membenarkan.


Nenek mengangguk mengiakan sambil berjalan menuju kamarnya. Sementara Fihan ke dapur dengan melempar tas gendongnya ke tengah ruangan.


“Apa nenek belum dikasih tahu gitu sama Fihan?” tanya Eril sembari menaruh tas gendongnya di samping pintu yang disandarkan ke dinding.


“Ahk, dia mah kayak robot, kalau enggak ditanya enggak akan jawab,” balas nenek berkelakar sembari berdiri di mulut pintu menghadap Eril.


“Eh?” heran Eril sembari duduk di lantai.


Lantas Fihan datang sambil membawa dua gelas air bening, mereka pun duduk di lantai saling berhadapan. Mereka membuka tas gendong masing-masing, meraih buku tulis serta buku pelajaran.


“Oh, kalian mau belajar ya?” tanya nenek.


“Mengerjakan PR,” jawab Eril.


Nenek Fihan mengangguk kemudian ia masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Eril memeriksa ponselnya.


“Eh, Estilia sama Nitia katanya mau ke rumahmu bagaimana dong? Mereka kan belum tahu kalau rumahmu hancur.”


“Suruh kemari,” balas Fihan sembari menunduk membuka lembaran demi lembaran buku pelajaran Ekonomi.


Maka Eril pun mengirimkan alamat rumahnya kini, pada kedua temannya. Sementara mereka menunggu teman mereka datang, mereka mulai mengerjakan PR.


       Ke esokan harinya di SMA Lily Kasih, pukul 12:05 jam istirahat sekolah. Eril dan Fihan tengah berada di depan gerbang sekolah, bersama seorang pria berjas cokelat yang berdiri tegap di samping mobil sedan hitamnya, yang bukan lain adalah Hadra, berdiri sambil menghisap cerutu kesukaannya. Suasana di luar gerbang sepi seperti biasanya.


“Ibumu sudah jadi gelandangan,” ungkap Hadra dengan santai.


“Hem,” Fihan mengangguk.


“Jadi kau tertarik untuk bergabung?” tanya Hadra memastikan.


“Iya,” jawab Fihan dengan cuek.


“Ya sudah... ayo ikut,” ajak Hadra sambil membuka pintu samping depan.


“Eh, kita belum boleh pulang,” sela Eril dengan resah.


Namun Fihan tak menggubris ucapan Eril, ia langsung masuk ke dalam mobil, tak peduli dengan sekolah yang masih berlangsung.


“Eh, Fihan! Tunggu!” seru Eril sambil berusaha menghadang Fihan.


“Tolong bawa tasku ke rumah kita,” pinta Fihan dari dalam mobil lalu menutup pintu mobil.


Lantas Hadra ikut masuk ke dalam mobil. Dan tak disangka Farka yang baru keluar dari ruang Guru, melihat kejadian tersebut.


“Loh, Fi-Fihan... Fihan,” resah Eril.


Namun semua usaha Eril percuma belaka, kini mobil melesat pergi meninggalkan Eril sendirian.


“Fihan! Fihan!”


“Ahk, sialan kau!” umpatnya.


Kini Fihan telah pergi ke suatu tempat yang penting baginya, demi memulai langkah selanjutnya. Eril berdiri dengan kesal, ia kesal tak dibawa ikut berasama Fihan, namun tak lama kemudian, Farka datang menghampiri Eril.


“Ada apa tadi?” usut Farka.


Eril terperanjat, kaget melihat ketua kelas datang dengan tiba-tiba.


“Ke-ketua kelas...”


“Ke mana Fihan?” usut lagi Farka dengan serius.


Wajah Eril seketika berubah senderut.


“Aku enggak tahu, tapi yang jelas dia sudah membalas dendam pada ibunya,” jawab Eril dengan geram.


Farka mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna perkataan Eril. Tanpa ada kata-kata lagi, Eril melangkah pergi menuju ke dalam sekolah.

__ADS_1


“Eh, tunggu Eril, seperti apa Fihan balas dendam?” selidik Farka sembari ikut berjalan bersama Eril.


Tanpa ragu Eril pun menjelaskan semua tindakan Fihan terhadap ibunya, lagi pula, ini bukanlah sebuah rahasia. Sementara di dalam kantin sekolah, Zeni dan Areny tengah duduk berhadapan di bangku meja makan, meja mereka dekat dengan pintu masuk kantin. Mereka makan roti isi.


“Zeni, kita ini teman kan?” tanya Areny memastikan sambil menatap Zeni.


Zeni tetap diam melahap dengan santai roti isi cokelatnya, ia masih tetap bersikap dingin. Areny pun langsung melahap habis rotinya yang memang tersisa satu lahap lagi. Suasana di kantin cukup ramai seperti biasanya, ada yang makan siang bersama, ngopi-ngopi saling berbincang, ada pula yang hanya bermain gim di ponsel mereka. Setelah Zeni melahap habis rotinya, ia meraih segelas jus lemonnya, menyeruput habis tanpa tersisa layaknya seorang yang kehausan.


“Sebaiknya kamu temani si Farka,” kata Zeni sambil meraih ponselnya di saku depan kemejanya.


Zeni lantas memeriksa ponsel pintarnya. Areny mengerjapkan matanya dan menelan ludahnya karena begitu terkejut, Zeni terlihat kembali seperti dulu.


“Eh? Memangnya kenapa?” heran Areny.


Zeni terdiam tak menggubris. Areny membuang napasnya bersama batin yang merasa lemah, ia merasa tak berdaya untuk bisa membuat Zeni betah bersama Areny. Lalu Areny pun meraih HP-nya ia memeriksanya.


“Zeni, ada pesan dari Aqada, dia mengajak kita untuk karaokean di rumahnya, mau enggak?” unkap Areny.


Zeni tetap terdiam fokus pada ponselnya.


“Oke kita enggak ikut,” kata Areny tanpa ragu sembari membalas pesan Aqada.


Mendadak Zeni terkejut, batinnya terasa terketuk oleh keputusan Areny yang ternyata bisa memahami perasaannya, karena Zeni memang tidak mau pergi bersama Aqada, dia laki-laki yang Zeni benci, Zeni seketika langsung memandang Areny dengan tatapan penuh tanya, namun rasa terima kasih pun ikut tersirat di netranya. Kemudian Areny menaruh kembali ponselnya di saku depan kemejanya, ia juga langsung memandang Zeni dengan sebuah senyuman bermakna hingga gigi putihnya mengintip. Tapi buru-buru Zeni berpaling, ia kembali sibuk menunduk pada ponselnya.


“Apa kamu mau tahu isi pikiran Farka?” tanya Zeni tiba-tiba.


“Eh?” heran Areny yang kaget dengan pertanyaan Zeni.


“Dia seperti orang yang tidak punya masalah, padahal hidupnya penuh masalah,” lanjut Zeni tetap fokus pada ponselnya.


Areny terpegun meresapi perkataan Zeni yang memang ada benarnya juga.


“Hem, tapi aku rasa dia bisa menyelesaikan masalahnya,” sangka Areny.


Zeni memandang Areny memberi kesan tidak percaya.


“Waktu itu, dia sakit demam, tapi dia tetap bekerja, saat itu uang simpanannya menipis, tapi, dia masih sempat memberi uang jajan pada adik-adik kelasnya, dia memang bodoh, dia juga....” ucapan Areny dipotong.


“Dia melupakan masalahnya sendiri, dia bagai lilin di ruang gelap...” sela Zeni dengan serius.


Areny menatap netra hitam Zeni sangat serius, kedua sorot mata mereka bertemu. Areny terdiam mendengarkan, entah mengapa Zeni terlihat berbeda dari sebelumnya.


“...dan agar angin tak membunuhnya kamu harus selalu melindunginya,” lanjut Zeni.


“Oh... begitu ya...?” balas Areny.


“Dalam pikirannya itu cuman satu, yaitu.............................” kata Zeni dengan menggantungkan kalimatnya memberi kesan harus ditunggu.


Areny terpegun, alisnya terangkat ke atas menunggu Zeni menuntaskan kalimatnya.


“.......kamu,” pungkas Zeni dengan tatapan tajam sambil menunjuk Areny menegaskan benarnya kalimatnya.


Areny terlongong-longong mendengarnya, ia langsung terhasut oleh pernyataan Zeni.


“Hehehehe.... jangan serius begitu dong, aku cuman bercanda,” kelakar Zeni dengan tertawa tipis secara mendadak.


Areny mengerjapkan matanya, buru-buru tersadar dari lamunannya, ia benar-benar tak menyangka.


“Eh eh eh... bisa-bisanya ya...” balas Areny tersenyum heran.


Pada akhirnya juga Areny bisa melihat Zeni tertawa, Areny sama sekali tak menyangka bahwa Zeni bisa tertawa, walaupun candaannya terkesan agak berat, tapi setidaknya membuktikan bahwa Zeni memang masih bisa tertawa, entah kapan Areny terakhir kali melihat Zeni tertawa, entah memang lupa atau memang Zeni tidak pernah tertawa.


“Wah wah kamu bisa ketawa juga ya? Aku kira kamu lupa caranya ketawa,” guyon Areny.


“Hehehe... aku bukan lupa, tapi aku nggak lihat ada hal yang layak ditertawakan,” balas Zeni berkelakar.


Areny tersenyum mengangguk mengiakan.


“Eh, jangan-jangan kamu malah menganggap serius ya...” sangka Zeni berkelakar.


Areny menelan ludahnya memandang Zeni dengan kikuk, karena memang Areny sempat menganggapnya serius.


“Cie cie... hahaha...” canda Zeni.


“...tapi... semua orang juga sudah tahu kok kalau kamu suka sama dia...” jelasnya.


“Woy! Aku, aku, aku...” kata Areny menggantung kalimatnya.


“....hahaha padahal kamu juga suka kan sama si norak yang rambutnya kayak landak, kayaknya kalau balon singgah di kepalanya pasti itu balon meledak,” lanjutnya berguyon.

__ADS_1


“Itu enggak lucu,” sanggah Zeni.


Lalu mereka terdiam sejenak saling memandang satu sama lain, sekonyong-konyongnya mereka malah kembali tertawa, seakan-akan mereka menertawakan tatapan mereka.


__ADS_2