Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
HERE WITHOUT YOU...?


__ADS_3

       Ke esokan harinya, Minggu ini diadakan lomba Futsal Wanita, yang dilangsungkan di aula atau stadion Futsal SMA Lily Kasih, Grand Final yang mempertemukan SMA Lily Kasih melawan SMA Pekerti, kursi penonton telah dipadati oleh pihak suporter maupun pihak keluarga, karena ini Grand Final jadi banyak sekali orang-orang yang hadir, kira-kira seribuan orang yang hadir, sampai tempat parkiran di seberang SMA Lily Kasih telah penuh oleh kendaraan mobil serta motor, bahkan di luar sekolah telah dipenuhi oleh para pedagang dadakan yang berusaha meraup untung dari lomba ini.


Para guru hingga kepala sekolah dari tiga tim, ikut hadir, untuk mendukung sekaligus menerima piala yang nantinya diberikan.


Berbeda dengan lomba kemarin, lomba kali ini tak disiarkan di TV.


Farka tengah duduk bersama Kahji di bangku penonton paling belakang, jauh dari pendukung SMA Lily Kasih, tidak ada alasan berharga mengapa mereka duduk di antara suporter SMA Pekerti, dan semua murid tak ada yang mengenakan seragam sekolah, semua mengenakan pakaian sehari-hari.


“Ketua,” panggil Kahji sambil menyantap sebungkus keripik singkong.


Jelas Farka langsung memasang kedua telinga baik-baik.


“Aku sudah dengar semua ceritanya dari Guru Sukada, tapi... bukan bermaksud ikut campur... cuman tanya doang ya...”


Farka mengangguk paham.


“...mereka sudah tahu belum yang sebenarnya?”


Farka memandang sebuah band yang sedang tampil di tengah lapangan, band itu membawakan sebuah lagu band asal Jepang, yaitu Scandal berjudul Shoujo S, meski hanya sedikit yang mengerti bahasa Jepang, tapi vokalis perempuan itu sanggup menyihir penonton untuk manggut-manggut mengikuti irama.


“Mereka masih belum tahu, tapi, kayaknya mereka akan curiga...” ungkap Farka.


Kahji mengangguk paham, lalu kembali menyantap keripik singkongnya. Mendadak, semua orang bertepuk tangan kala band pembuka itu telah selesai menyelesaikan lagu pertama mereka.


“Baik.. lagu terakhir yang akan kami bawakan...” tutur sang vokalis wanita sambil menaruh gitarnya di kursi kayu di belakangnya.


“Dari... Three Doors Down, Here Without You...” lanjutnya.


Mendadak seluruh penonton kembali bertepuk tangan.


“...oke... yang tahu lagunya boleh ikut nyanyi... yang enggak tahu lagunya boleh pulang...” seru sang vokalis berkelakar.


Maka petikan gitar membuka lagu, dan semua penonton terdiam menyaksikan.


Dan di pukul 11:00 siang hari yang cerah, dengan langit biru tak berawan, band pembuka dari SMA telah tampil baik. Kini Grand Final Futsal akan segera dimulai, SMA Pekerti mengenakan jersey nuansa Hijau, sedangkan SMA Lily Kasih mengenakan jersey nuansa merah. Setelah para pemain berjabat tangan, maka pemain inti berdiri diposisinya, sedangkan pemain cadangan hanya sanggup duduk di bangku cadangan. Bola pertama dimulai dari tim Lily Kasih, Fikia menjadi kapten tim, dia menjadi penjaga gawang, Areny menjadi penyerang bersama Zeni, lalu Nitia, menjadi pemain tengah, yang sewaktu-waktu berubah menjadi pemain sayap, terakhir, Kunia menjadi bek, dia satu-satunya wanita botak di sekolah ini, dia tak suka rambut putihnya, maka dia memilih botak seperti bola, tapi, wajahnya imut bahkan dia memiliki watak kekanakan. Satu hal yang penting, di perlombaan ini, semua wanita tidak boleh berambut panjang terurai, jadi minimal dikucir kuda.


Peluit telah dibunyikan, babak pertama dimulai!


Sentuhan pertama telah dilangsungkan, 20 menit pertama telah berjalan, para penoton mulai memasang perhatian serius ke tengah lapang. Murid-murid SMA Pekerti sampai menyanyikan yel-yel, tapi, SMA Lily Kasih tetap santai menyaksikan pertandingan layaknya nonton film di bioskop.


Nitia menggiring bola ke sayap kanan gawang lawan, tapi dia dibayang-bayangi oleh gadis berambut hitam yang dikucir, maka Nitia mengoper ke belakang tepat pada sang kiper, dan tanpa berlama-lama, kiper mengumpan pada Areny yang dijaga ketat oleh gadis berambut hitam pendek, namun kala gadis itu akan merebut bola yang mengarah pada Areny, konyolnya, Areny malah menjegal sang gadis, hingga tersungkur ke lantai. Dan wasit wanita membunyikan peluit tanda pelanggaran terjadi.


“Santai Areny!” teriak Fikia.


Areny lalu membantu gadis itu untuk bangkit, keadaan masih berjalan sportif. Dan bola mati ditendang oleh kiper SMA Pekerti, dia gadis bermata sipit seperti orang China. Bola melambung agak tinggi, tepat menuju ke arah gawang, yang tentunya para pemain mulai berkerumun di depan Fikia, hingga Fikia sulit untuk memandang arah datangnya bola, ini adalah bola yang tepat untuk disundul, Nitia serta pemain lawan berdiri bersiap menyundul bola yang datang.


“Aku tangkap!” seru Fikia sambil loncat dengan cepat sampai mampu menangkap bola.


Dan penonton bersorak, dengan kejadian getir itu.


Tak disangka Fikia membuang bolanya ke kakinya, sekaligus menggiring bola hingga ke tengah lapangan. Dia melakukan tendangan jarak jauh, sampai-sampai beberapa penonton melongo kaget atas tindakan berani sang kiper. Bola melesat cepat menuju sisi kiri gawang lawan.


'Tap!'


Sayangnya, tangan kiri sang kiper bermata sipit itu, cukup cepat nan kuat untuk menepis bola sampai keluar lapangan.

__ADS_1


“Waaaah... gila...”


Beberapa penoton berdecak kagum pada kedua pemain itu, sang kiper yang menendang dan sang kiper yang menepis. Pertandingan terus berlanjut, hingga saling serang menyerang, dan babak pertama berakhir imbang, bahkan belum ada pergantian pemain dari kedua tim, penguasaan bola lebih didominasi oleh tim SMA Pekerti, namun serangan lebih banyak dilakukan oleh SMA Lily Kasih, serta pelanggaran lebih banyak dilakukan oleh SMA Lily Kasih, sampai-sampai suporter SMA Pekerti meneriaki licik pada SMA Lily Kasih. Kini sang pelatih sedang memberi instruksi pada pemainnya di ruang ganti.


“Apa yang kalian lakukan?” sindir Guru Kativia berdiri dengan berkacak pinggang menilik setiap pemain yang duduk kelelahan.


Meski semua guru sebenarnya mengenakan pakaian sehari-hari, justru Guru Kativia wanita berkulit cokelat eksotis ini, tetap bangga mengenakan pakaian formalnya.


“Areny, kenapa cara bermainmu kasar sekali?”


“Hahaha... maaf Bu! Habisnya gemas sekali!” balas Areny dengan tawa cerianya yang khas.


Guru Kativia mendengus dengan pasrah sambil memalingkan muka kesal.


Areny kemudian tertunduk diam, meski adanya sebuah tawa ceria yang kentara ia pampang, kebimbangan hatinya tetap tak bisa dipungkiri, perasaan bimbang ini adalah yang pertama baginya sampai-sampai membuatnya sangat murung, ia sangat merindukan di dekat Farka, jelas Zeni sang teman yang telah menjadi sahabatnya, melihat Areny yang tak biasanya murung, mulai timbul pertanyaan, tapi, ia tak mungkin bertanya disaat-saat seperti ini.


Lalu Guru Kativia kembali menilik murid-muridnya.


“Oke! Ingat ini! Apapun yang terjadi kalian harus menang, tapi, siapapun yang dapat kartu kuning, akan saya ganti!” tegas Guru Kativia dengan lantang.


Dan setelah istirahat singkat babak kedua segera dimulai, para suporter serta penonton, mulai bersorak sorai gembira, karena tim kebanggaan mereka mulai kembali ke lapangan.


Peluit ditiup kencang, babak kedua pun dimulai!


SMA Pekerti langsung menyerang lewat tengah, gadis rambut hitam yang dikucir melakukan sebuah tendangan saat dapat umpan manis, Zeni tak mampu menutup peluang gadis itu, bola melesat kencang ke arah gawang, Fikia mengernyitkan kening, berwajah serius.


'Tap!'


Bola berhasil ditepis oleh Fikia ke arah kanan, namun bola justru tertuju pada lawan, gadis berambut pendek mendapat bola muntahan, dia berdiri tepat di dekat gawang, tapi, dari arah samping, sekonyong-konyongnya, Kunia mendorong gadis itu hingga terjatuh, memaksa wasit untuk melakukan pekerjaannya, dan peluit berbunyi hingga seluruh penonton berteriak.


Maka benar saja, wasit menunjuk sebagai pelanggaran penalti. Jelas para pemain dari SMA Lily Kasih melakukan protes, sebab pelanggaran yang dilakukan Kunia hanyalah sentuhan semata, bukan dorongan yang berarti, tapi, keputusan wasit telah bulat, sehingga tendangan penalti tetap dilakukan. Jelas para suporter atau teman-teman dari SMA Lily Kasih agak kecewa dengan wasit, bahkan kecewa pada tim mereka.


“Enggak biasanya tim kita melakukan banyak pelanggaran..” kata Kahji pria berambut hitam pendek yang membingkai wajah mulusnya, sambil berdiri dengan cemas.


Tapi, Farka tampak biasa saja, ia memang tak tertarik dengan sepak bola, jadi jelas, dia duduk sambil memainkan ponselnya.


Para pemain SMA Lily Kasih nampak bermuka masam, mereka tahu bahwa ini tidak baik. Bola sudah siap ditendang, Fikia, satu-satunya pemain yang punya momentum untuk menghentikan bola, ia nampak berdiri agak membungkuk dengan dua kaki agak mengangkang, tak ada rasa gugup tak ada rasa gelisah, dia siap dan sangat siap menerima tendangan yang akan dilakukan oleh gadis berambut hitam pendek. Semua penonton terdiam dengan serius. Fikia menelan ludahnya, menegaskan fokus yang dua kali lipat meningkat.


“Ayooooo Sisfa!” teriak Rama menyemangati yang duduk di antara teman-temannya bersama Suriva.


'Prit!'


Peluit dibunyikan, penendang mendapat izin untuk menendang. Maka tanpa ragu, gadis berambut hitam pendek yang bernama Sisfa, mulai menarik napas panjang, menilik ke arah bola, lalu mengembuskan napasnya sambil berlari ke arah bola.


'Derap, derap, derap derap derap derap-derap-derap'


Maka bola ditendang hingga melesat deras menuju sudut kiri bawah gawang, sekonyong-konyongnya para suporter tim SMA Pekerti berteriak sambil mengangkat kedua tangan.


“GOOOOOOOOLLLL...!”


Bola berhasil masuk ke gawang!


Fikia terduduk tak menyangka, dia bergigit kecewa.


Dan tim SMA Pekerti saling menepuk tangan setimnya di lapangan menegaskan kekompakkan masih ada, sedangkan Fikia serta teman-temannya hanya sanggup memasang muka murung, bahkan Areny si gadis ceria beraura positif, tampak ikut kuyu.

__ADS_1


“Ahk sial... kita ketinggalan satu angka...” keluh Kahji sambil duduk dengan kecewa.


“Tim kita akan kalah...” gumam Fihan yang duduk di samping kiri Eril dengan muka cuek.


Eril menoleh pada Fihan, merasa aneh dengan ucapan Fihan. Tapi Eril tetap bungkam. Hingga para guru hanya sanggup terdiam pasrah.


Pertandingan kembali dilanjutkan, kedua tim saling serang menyerang, serangan tim Pekerti lebih kuat, mungkin gara-gara gol pertama tadi telah memberi kepercayaan diri, hingga semangat mereka lebih meningkat dari sebelumnya, sedangkan tim Lily Kasih nampak lunglai, mereka langsung putus asa, tapi, sang Kapten Fikia, tak henti-hentinya memberi semangat, entah dukungannya berguna apa tidak, yang jelas, hanya dia yang tampak lebih antusias ketimbang teman-temannya.


Tak terasa, perjuangan mereka tersisa satu menit lagi dalam waktu normal, dan sekonyong-konyongnya, Guru Kativia beranjak dari kursinya, ia pergi dengan kecewa menuju ruang ganti, padahal pertandingan belum selesai.


“Ahk kita kalah...” gerutu Kahji.


Farka masih tak menanggapi, dia masih asyik memainkan ponselnya. Sementara dari pendukung SMA Pekerti sudah percaya diri akan memenangkan pertandingan.


“Kita menang ketua kelas!” seru pria berkacamata di belakang Rama.


“Iya kita menang.” timpal gadis berambut cokelat yang duduk di samping Rama.


Tak ada tanggapan berarti dari rama, dia hanya mengangguk dengan raut muka serius, baginya, ini belum selesai, keajaiban terkadang datang disaat genting, jadi dia hanya bisa mengamini harapan teman-temannya.


Seluruh pendukung SMA Lily Kasih hanya terdiam, ada yang kecewa ada pula yang biasa saja.


“Sialan... si Pekerti konyol itu pasti menang kalau begini...” umpat Derka yang duduk di samping Hurta.


“Makanya... harusnya kau hajar gadis-gadis itu biar mereka kagak bisa maen...” Hurta menanggapi.


“Kebodohanmu itu yang harusnya aku hajar,” ketus Derka sambil memandang Hurta dengan geram.


Hurta adalah laki-laki pendek, berhidung pesek, kepala botaknya tertutup topi Derbi nuansa biru kebanggaannya, kabarnya dia membotakkan kepalanya sebagai bukti cinta pada sang adik kelas yang sama-sama botak, yaitu Kunia, meski cinta Hurta bertepuk sebelah tangan, namun dia berjanji pada Kunia, akan selalu mengikuti langkah Kunia demi menjaganya dari kejahatan laki-laki, meski terkadang dia juga berpikir, bahwa dialah yang sebenarnya laki-laki jahat, mata biru Hurta tertutup oleh kacamata bulat hitam, dia berpakaian formal, jas hitam telah membungkus kemeja birunya, warna celana panjangnya senada dengan warna topi derbinya, ia duduk tegap dengan bersedekap menyilang. Hurta tetap santai meski sekolahnya harus menanggung kekalahan dari SMA rivalnya, toh, tahun kemarin sekolahnya juga sudah menang.


Namun tiba-tiba ketegangan pecah kala wasit perempuan berumur 26 tahun, meniup peluit, tanda berakhirnya babak kedua, bahkan tambahan waktu sepuluh menit tak mampu mengubah situasi, maka jelas sudah status SMA Pekerti, bahwa merekalah pemenangnya!


Mendadak, seluruh pendukung SMA Pekerti bersorak sorai kegirangan, pekikan kemenangan bergema di stadion futsal ini. Setelah para pemain saling berjabat tangan, seluruh pemain cadangan tim SMA Pekerti mulai berlari ke tengah lapangan untuk merayakan kemenangan bersama tim inti.


“HOREEEEEEEE....!”


“YEEEEEEEEAAAAAH...!”


Suporter SMA Lily Kasih hanya terdiam, tak satu pun yang bertepuk tangan, sebagai tanda menghormati. Kecuali para pendukung SMA Pekerti yang bertepuk tangan memberi selamat pada tim kebanggaan mereka.


“Yeeeeaaaaah....! Kita menang!”


“Rama kita menang!” seru Seriva sambil memandang Rama.


“Syukur...” kata Rama dengan terpejam mensyukuri.


Guru Sukada pun hanya mampu bertepuk tangan, memberi kesan penghormatan pada tim SMA Pekerti. Seluruh pemain inti SMA Lily Kasih berkerumun dengan para pemain cadangan, membahas tim mereka yang hanya juara dua.


“Seenggaknya kita juara dua, bukan juara tiga,” kata Fikia menyemangati dengan penuh syukur.


Areny berdiri memunggungi teman-temannya, dia memandang ke arah tribune, berusaha memandang Farka, sebentar lagi adalah hari kelulusan, jadi, mungkin Areny tak akan bertemu lagi dengan Farka. Mendadak Zeni berdiri di samping Areny.


“Kayaknya... ada yang Farka sembunyikan...” duga Zeni.


Areny mengangguk paham. Dan Farka tetap fokus pada ponselnya, ia tak menyadari ada gadis yang memandanginya. Dan hari itu ditutup dengan pemberian piala serta hadiah bagi para juara.

__ADS_1


__ADS_2