Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
BAB 3: AUTOBIOGRAFI ARENY


__ADS_3

Aku adalah Areny Zatimah, biasa dipanggil Areny, lahir di kota Artana di panti asuhan, 02 Maret 1999, aku anak yatim piatu, namaku diberikan oleh seorang pengurus panti asuhan, ibu Sity, aku tidak tahu artinya, yang jelas aku selalu gembira.


Sejak kecil aku tidak pernah memikirkan siapa orang tuaku, mungkin karena di sini banyak teman, jadi tidak peduli siapa orang tuaku sebenarnya, aku itu gadis yang ceria dan cerewet, bahkan sangat ambisius, aku selalu dihukum membersihkan kamar tidur, karena aku gadis yang aktif, masalahnya aku selalu mencuri donat milik teman-temanku, padahal semua sudah mendapat jatahnya, tapi satu hal yang penting! Sebenarnya kami bertukar!


Aku menawarkan kisah-kisah fantasi pada teman-temanku, dengan imbalan mereka memberiku kue donat milik mereka, dan mereka mau! Tapi, ibu Sity marah, bahkan selalu mengembalikan kue donat hasil jual beliku pada teman-temanku kembali.


Kata para pengurus panti asuhan aku gadis yang cerdas, tapi sangat nakal, bukan tanpa alasan aku nakal! Aku hanya ingin diberi kasih sayang lebih! Dan ingin selalu diperhatikan!


Aku tidak tahu seperti apa kasih sayang seorang ibu! Aku tidak tahu seperti apa kasih sayang seorang ayah!


Jadi, jika aku tidak mendapatkan apa yang aku minta, aku akan menangis dengan suara keras hingga terdengar seperti berteriak, aku bisa menangis seharian demi mendapatkan apa yang aku mau, walau nyatanya, tak ada yang peduli padaku, maka, kalau sudah begitu, aku akan tidur di tempat aku menangis, sekalipun itu adalah kamar mandi!


Saat umur anak-anak 6 tahun, biasanya sudah mulai diadopsi, dan ketika aku juga ikut andil, aku selalu berharap tak ada yang mau mengadopsiku, karena, aku dengar orang tua itu jahat! Ayah itu kejam! Serta ibu itu ganas! Maka, aku akan meludahi orang-orang yang ingin mengadopsiku.


Jelas perbuatanku langsung dibalas dengan hukuman, tidak boleh keluar kamar sehari penuh, aku senang, tentu aku senang, karena aku tidak akan bertemu monster, yaitu orang tua!


Namun, seiring berjalannya waktu, aku kesepian, sebab, teman-temanku sudah pindah, bahkan katanya mereka hidup bahagia, kini temanku yang seumuran denganku hanya tinggal, Etenia, dia gadis pendiam, pemalu dan penurut, aku bahkan tidak akrab dengannya, malah-malah aku seperti baru melihatnya, dia seperti kue basi yang tak tahu itu basi, karena telah tersimpan lama di lemari es, tepatnya terabaikan!


Begitulah Etenia si kue basi, meski dia pelit untuk bicara, bahkan untuk membuatnya tersenyum saja susahnya setengah mati, namun dia itu sangat nurut padaku, apa yang aku minta, dia pasti bergegas untuk melaksanakannya!


Jadi, dia aku anggap pelayanku.


Suatu hari, kala malam tiba, aku menyuruhnya untuk membakar baju ibu Sity, aku berniat balas dendam, karena ibu Sity selalu menyebutku pencuri cilik, dan aku tidak suka itu!


Etenia berhasil mengambil gaun kebanggaan ibu Sity, bahkan dia berhasil membakar gaun tersebut!


Aku cuman bisa melihat dari jendela kaca kamarku, karena takut ketahuan, tapi, hal mengerikan terjadi!


Bensin yang Etenia siram ke gaun tersebut, tak sengaja tumpah ke kaki Etenia, dan seketika kaki Etenia terbakar hebat, sampai-sampai Etenia menjerit kepanasan!


Aku takut! Dan langsung berbaring di kasurku, menarik selimutku dengan terbaring gemetar, hingga harus berkeringat dingin, aku pura-pura tertidur, agar orang-orang tahu, bahwa aku tidak menyuruh Etenia, tapi, aku tidak bisa tidur! Bahkan terpejam pun sulit!


“AAAAAAAAARRRRRRRGGGGGHHHHHHH....!”


Teriakan, jeritan dan rintihan Etenia terus terngiang di kepalaku, dan itu mengerikan, aku takut untuk memberi tahu semua orang, bahwa ada gadis yang terbakar hidup-hidup! Bahkan aku takut untuk menolong Etenia!


Aku benar-benar takut, bagaimana kalau nanti aku diusir dari panti asuhan? Bagaimana kalau aku disiksa?


Semua orang tertidur lelap, aku menutup semua anggota badanku dengan selimut! Berusaha untuk tidur dan bangun di pagi hari dengan sikap polos tak tahu apapun.


Lalu jeritan itu perlahan mereda, redup, hingga akhirnya menghilang, tapi, aku belum berani keluar, aku masih bergidik ngeri.


Tiba-tiba, di luar kamar begitu berisik, terjadi kepanikan, semua orang baru tersadar bahwa Etenia terbakar hidup-hidup, aku terpaksa bangkit dari kasur, dengan pura-pura tidak tahu apa-apa, namun, tubuhku masih bergetar ketakutan.


Aku melihat dari jendela kaca, bahwa orang-orang sudah mengerubungi Etenia, bahkan mobil ambulance sudah siap sedia mengantar Etenia menuju tempat penyembuhan.


Dua hari setelah kejadian itu, aku menjenguk Etenia bersama anak-anak remaja yatim piatu lainnya, aku anak paling kecil saat ini, dan aku bersyukur Etenia masih bertahan hidup.


Saat itu, aku punya kesempatan untuk bicara berdua pada Etenia, berniat meminta pengampunan penuh penyesalan, dia seperti mumi, tubuhnya diperban hingga hanya menyisakan matanya yang terpejam, bahkan untuk bergerak saja tidak mampu.


Namun, sebelum aku meminta maaf pada Etenia, dia sudah mendahului perkataanku.


“Ma-maaf ya, aku gagal... aku juga jadi ngerepotin kamu.”


Mataku terbelalak kala Etenia yang justru meminta maaf padaku, suaranya terdengar lirih, pengakuannya terdengar polos, dia anak baik dan mudah percaya pada orang.


Aku diam tak bicara, justru, aku malah malu mengakui kesalahanku, lebih-lebih Etenia kembali lagi bicara.


“Nanti... kalau aku sembuh, aku janji deh... aku bakar gaun ibu Sity hati-hati...”


Kenapa Etenia sampai sebegitunya? Kenapa dia hanya menyalahkan dirinya sendiri? Apakah dia bodoh? Atau memang polos?

__ADS_1


Aku cuman bisa menundukkan pandanganku dengan menyesal, aku masih takut, dan malu, aku sudah sesak dengan semua orang-orang yang selalu menyalahkanku.


Jadi, aku tidak mengakui apa-apa pada Etenia, aku membiarkan dia hidup dalam kecacatan seumur hidup, bahkan, aku juga tidak mengakui apa-apa pada semua orang, satu hal yang penting, Etenia mengakui bahwa alasannya membakar gaun ibu Sity, karena dia membenci sikap galak ibu Sity.


Satu hal penting lagi! Aku telah berjanji pada diriku sendiri, bahwa suatu hari nanti, kalau aku menemukan orang yang punya kepedulian tinggi, aku akan menjodohkannya, dengan harapan Etenia mau menerima orang itu, sampai mereka memiliki keluarga bahagia, iya, aku berjanji!


Seminggu setelah kejadian mengerikan itu, sampai-sampai aku tidak bisa tertidur, tapi hidupku masih aman, datang pasangan suami istri yang ingin mengadopsiku, tadinya aku mau meludah, tapi, karena aku masih mengantuk, jadi aku manggut-manggut saja.


Aku sudah diadopsi oleh mereka, aku hidup bahagia dengan orang tuaku, malah aku jadi baik, aku kira orang tua itu monster, tapi nyatanya mereka bagaikan malaikat, aku selalu dimanja oleh mereka.


Hingga, saat aku masuk SMP kelas 7, orang tuaku berubah sikap, mereka berubah sikap setelah lahirnya anak kandung mereka, seluruh perhatian kini hanya tertuju pada adikku, dan ada satu kalimat yang membuatku sakit hati.


“Diam! Anak pungut!”


Tentunya aku kembali menjadi diriku yang nakal, aku selalu mengganggu adikku, selalu merusak barang-barang orang tuaku, hingga hampir setiap hari aku kena marah, bahkan aku selalu dipukul oleh gagang sapu hingga kepalaku berdarah, aku juga selalu dipukul oleh piring sampai hidungku patah, dan jika aku menangis, aku akan ditampar berkali-kali sampai aku berhenti merengek.


Hingga tiga tahun lamanya, sampai aku menginjak kelas 9 SMP aku mendapatkan penyiksaan fisik dan mental oleh orang tuaku.


”Orang tua itu memang monster! Ayah itu adalah simbol iblis! Ibu itu adalah simbol setan!”


Aku tulis kalimat itu dibuku harianku, menulisnya hingga lebih dari seratus kalimat.


Namun, saat aku tengah duduk sendirian di hamparan rumput taman kompleks, sambil menyumpahi orang tuaku, seorang anak laki-laki seusiaku menghampiriku dan duduk di sampingku, sontak aku langsung menutup buku harianku.


Dia Farka, baru pindah ke perumahaan ini, dengan sekolah yang sama denganku, rumahnya juga dekat denganku.


“Muka kamu bonyok kenapa?”


Farka ternyata melihat muka bonyokku bekas tamparan dan tendangan orang tuaku yang memang masih kentara dan sakit.


“HAHAHAHA...”


“...aku latihan karate di sekolah, hehehe...”


Aku bicara penuh percaya diri, berusaha meyakinkan bahwa aku tidak disiksa oleh orang tuaku.


Farka mengangguk dengan senyuman simpul, dia percaya pengakuanku.


Sejak saat itu, aku dan Farka menjadi teman, ke mana pun dia pergi, aku selalu di sampingnya, dan apapun yang terjadi, aku selalu ceria.


Hingga di suatu senja, ada 3 murid dari SMA Pekerti datang padaku, mereka menggangguku, berusaha membawaku dengan paksa ke suatu tempat, bahkan mereka mengambil buku harianku.


Mereka menarikku menuju kebun belakang SMA Pekerti.


Aku benar-benar ketakutan setengah mati, aku sudah tidak bisa berbuat apapun, sebab, siangnya perutku ditendang oleh ayahku karena aku minta makan, jadi selain badanku lemas karena ditendang, aku juga kelaparan.


Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku, yang pasti, aku sudah pasrah, lagi pula, aku sudah biasa hidup tersiksa dan bisa tetap ceria.


Namun baru saja sampai di belakang SMA Pekerti, laksana Superhero dalam film, seorang anak laki-laki berteriak, agar mereka berhenti, sekaligus agar melepaskanku.


Dia Farka, dia berdiri dengan tegap, memandang tiga murid SMA Pekerti tak takut sedikit pun.


“Lo mau apa? Ha?”


Tiga murid SMA memandang Farka dengan tatapan intimidasi.


“Areny! Sini, kamu mau ngapaian sama mereka?”


Saat aku mau menghampirinya, tanganku ditarik dan aku disandera oleh mereka.


Sontak, Farka berlari mendekat berusaha menyelamatkan aku, menghajar tiga anak SMA ini sendirian?

__ADS_1


Maka, terjadi baku hantam di kebun ini, Farka yang memiliki badan kecil, tak mampu mengimbangi dua murid SMA itu, yang notabene mereka lebih cepat dan kuat.


Farka terkapar, dengan wajah bonyok, mata merah serta napas megap-megap, namun ia berhasil bangkit lagi, meski tubuhnya terlihat lunglai, ketiga murid SMA itu hanya terdiam sambil memandang satu sama lain, mereka sepertinya sudah muak, telah kehilangan momentum untuk bisa menggangguku, tapi, salah seorang dari mereka maju ke depan, lalu menjambak rambut Farka, menengadahkan wajah Farka ke langit.


Farka tak bisa melawan, ia kelelahan dan hanya sanggup pasrah.


Tak disangka wajah Farka diludahi hingga tiga kali.


“Lo jangan berlagak sok pahlawan, pecundang...”


Murid SMA itu menghardik Farka, namun Farka terdiam dengan muka bonyoknya.


Anak SMA itu meraih sebotol air mineral miliknya yang ia selipkan di saku belakang celananya, membuang sisa air minumnya, dan menyuruh dua temannya mengisi kekosongan botol itu dengan air kencing mereka, mereka menyanggupinya.


Botol pun sudah terisi air kencing yang kekuningan, bahkan di dalam botol itu terdapat seekor cacing tanah.


“Minum setan, minum! Entar gue bebasin cewek lo!”


Desak murid SMA itu masih menjambak rambut Farka.


Aku benar-benar tidak tega melihat Farka, dia sudah tak berdaya, hidungnya sudah berdarah, wajahnya memerah dan bibirnya berdarah.


Tapi, tanpa penolakan sedikit pun, Farka meraih botol itu, dan tanpa segan ia meminum air kencing berisikan cacing tanah itu, ia meminumnya hingga habis tanpa tersisa sedikit pun, bahkan, cacing tanah pun dikunyahnya dengan penuh kenikmatan, layaknya permen karet manis rasa anggur, sampai-sampai semua orang yang melihatnya merasa jijik.


Maka, dengan jijiknya ketiga murid SMA itu mulai bergegas pergi, untungnya pria yang menyandraku membuang buku harianku ke tanah, hingga aku berhasil memiliki bukuku kembali.


“Ayo cabut! Si setan itu udah ganggu...”


Dan kala semua murid SMA itu sudah pergi.


Aku memandang Farka yang kacau, dia berdiri agak miring, dia benar-benar terluka parah, tapi, di sana di wajah babak belurnya, dia masih bisa menyunggingkan senyuman simpul nan menawan, seolah-olah dia sudah berhasil melalui badai dan kini ia menikmati hasilnya.


Aku melangkah mendekati Farka dan entah kenapa saat dia memutar tubuhnya ke belakang, saat aku melihat sosoknya dari belakang, mataku tiba-tiba mengalirkan air mata, sampai-sampai membasahi pipiku.


Aku terenyuh, sebab, ini adalah pengalaman pertamaku, bahwa ada seseorang yang peduli padaku, hingga dia rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan aku.


Farka, adalah laki-laki yang bodoh dan pemalas, tapi, sejak kejadian itu, aku mulai mengaguminya setengah mati.


Jika ada yang bertanya seperti apa sosok seorang ayah?


Aku akan menjawab, dia seperti Farka, yang selalu menolong dengan senang hati.


Jika ada yang bertanya, seperti apa sosok seorang ibu?


Aku akan menjawab, dia seperti Farka, yang selalu menolong tanpa pamrih.


Jika ada yang bertanya seperti apa sosok saudara kandung?


Aku akan menjawab, dia seperti Farka, yang rela memaafkan orang-orang sekalipun mereka pembunuh.


Dan jika ada yang bertanya, seperti apa sosok seorang teman?


Aku akan menjawab, seperti Farka, yang selalu menolong, baik saat keadaan suka maupun duka.


Sumpah serapahku terhadap orang tua, sirna seketika, saat Farka menjadi bagian hidupku, sosoknya yang unik, mengubah cara berpikirku.


Aku melihat sosok ayah dari diri Farka, aku melihat sosok seorang ibu dari diri Farka, aku melihat sosok seorang teman, dan sosok seorang kakak, hingga semua bentuk kedewasaan serta bentuk kekeluargaan ada pada Farka, sampai-sampai, perasaanku berkembang menjadi perasaan cinta.


Namun, sebelum perasaan cinta itu menyatu dengannya, aku kan persiapkan diri demi menjadi wanita istimewa bagi Farka, menjadi wanita yang sempurna, wanita cantik nan elegan, suatu saat nanti, aku adalah wanita dewasa, bahkan dia akan menemukan sosok keibuan ada pada diriku.


Aku yakin! Bisa membuat Farka memilikiku, dan aku bisa menggigit gemas telinganya yang lembut seperti gumpalan awan.

__ADS_1


__ADS_2