Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
BAB 5: AUTOBIOGRAFI FARKA.


__ADS_3

Aku Ahmad Farkansyah adalah laki-laki pemalas dan tak pernah mau belajar, namaku diberikan oleh pengurus panti asuhan, bapak Guro, aku tidak tahu artinya apa, yang jelas aku tetap saja pemalas.


Sejak kecil aku selalu memikirkan siapa orang tuaku, karena, aku selalu melihat, ada saja anak yang dibawa kemari, bahkan banyak bayi yang tinggal di sini, dengan harapan mereka memiliki kehidupan cerah.


Siapa orang tua mereka? Kenapa manusia begitu teganya membuang anak mereka sendiri?


Aku selalu bertanya pada setiap anak di sini, siapa orang tua mereka?


Tapi jawaban yang aku terima beragam-ragam ada yang menjawab orang tuanya adalah bayangan, sampai ada yang menjawab orang tuanya adalah Alien, yang pasti mereka tidak tahu.


Maka aku bertanya pada para pengurus panti asuhan, siapa atau di mana orang tua kami?


Namun jawaban yang aku terima juga beragam, ada yang menjawab, orang tua kami tewas, sampai ada yang menjawab orang tua kami adalah batu, yang pasti mereka tidak tahu atau tidak memberi tahu.


Kata pengurus panti asuhan aku itu adalah anak yang paling dermawan dan sangat baik, tapi sayangnya aku pemalas, tidur atau berbaring di kasur sepanjang hari adalah kegiatanku sepanjang hari, sampai-sampai aku selalu kena bentakan amukan bapak Guro.


Aku selalu berpikir, untuk apa juga bermain di luar, kalau pada akhirnya kita kembali ke kasur?


Jadi, setiap selesai kegiatan makan atau belajar, aku pasti kembali ke kasur, jelas untuk tidur dan berkhayal, aku selalu membayangkan seperti apa rasanya punya ayah dan ibu.


Hingga saat umurku sebelas tahun kejaiban itu datang, ada keluarga yang berani mengadopsiku.


Aku menjalani hari dengan bahagia, aku sudah tahu seperti apa rasanya punya keluarga, aku sudah tahu rasanya memiliki seorang kakak, aku sudah tahu rasanya punya ayah dan ibu.


Tapi, semua berubah kala ayah dan ibuku terlalu perhatian padaku, hingga anak kandung mereka seperti tak dianggap.


Suatu hari, ayahku bertengkar dengan kakakku, Sedira, dia dimarahi karena Sedira memang gadis yang selalu membantah orang tua, dia nakal, dan penampilannya seperti gadis berandalan, kedua tangannya ditato.


Sejak saat itu aku tidak akrab dengan Sedira, sedangkan nenek serta orang tuaku sangat memanjakan aku, orang tuaku selalu memberiku banyak hadiah, padahal aku tidak pernah meminta apapun.


Pernah suatu hari Sedira pulang tengah malam, dia dimarahi habis-habisan oleh ayah ibunya, sampai-sampai Sedira tak boleh keluar kamar dan ponselnya disita.


Sedira benar-benar di dalam kamar, dia tak makan selama sehari penuh, bahkan tak ada yang memberinya makan.


Keesokan paginya aku datang ke dalam kamarnya, dia membolehkan aku masuk, aku juga membawa nampan lengkap dengan sepiring mie dan segelas air bening.


Sedira tengah terduduk di bibir kasur dengan membungkuk lesu, aku menaruh hidangan tepat di atas lantai di depannya.


Lalu aku duduk di sampingnya, memandangnya penuh kasihan, aku memintanya untuk makan.


“Pergi sana anak pungut!”


Tapi dia menghardikku, mengusirku, aku tidak sakit hati, sebab, aku seolah tahu, bahwa, dia yang sebenarnya sakit hati, luapan emosinya adalah gambaran sakit hatinya.


Lalu tanpa ragu, aku mengambil garpu dari atas nampan, dan aku tusuk-tusukkan ujung garpu pada tangan kiriku, namun karena ini belum cukup, maka aku gesekkan ujung garpu di punggung tanganku sampai lecet dan mulai berdarah.


“Gila kamu! Gila!”


Sedira yang melihat perbuatan bodohku, lantas buru-buru mengambil garpu dari tanganku dan melempar garpu ke lantai.


“Kamu ngapain?!”


Sedira keheranan dan tak aku sangka dia cemas padaku.


“Aku... merasakan sakit seperti yang kakak rasakan,”


Aku utarakan alasanku dengan sungguh-sungguh, aku ingin Sedira tak patah semangat, bahwa di sampingnya ada pula orang yang sama-sama sakit.


“Bodoh dasar bodoh! Sakitkan, sakitkan, ha?”


Kakakku benci perbuatanku, tapi, aku bersyukur kakakku masih sehat, dia masih punya naluri kemanusiaan.


“Memang sakit... terus bagaimana dengan kakak?”

__ADS_1


Aku hanya merasa iba dengan kakakku, jika memang kasih sayang orang tuanya terhalang olehku, aku siap angkat kaki sekarang juga, aku sudah biasa hidup sendiri, lagi pula aku sudah merasakan seperti apa kasih sayang orang tua.


Kakak Sedira tertunduk kuyu, aku tahu! Aku tahu! Dia punya beban moril, seorang anak yang ingin diperhatikan, dimengerti dan dicintai, aku tahu jiwa anak muda seperti kakak Sedira, dia terabaikan, dan entah mengapa aku tahu.


“Aku anak pungut...”


Aku membuka pembicaraan, berusaha memancing perasaan kakakku agar mau berbagi keluh kesahnya.


“...aku selalu memikirkan siapa orang tuaku, ada yang bilang... ayah dan ibu itu kejam... tapi... saat aku bertemu dengan orang tua kakak... semua asumsi itu patah pada kenyataannya bahwa ayah dan ibu itu adalah malaikat menurutku...”


Aku ungkapkan semuanya, tapi kakak Sedira masih tertunduk muram.


“...rasanya senang... sangat senang... tapi... ternyata... jika aku di posisi kakak... mungkin asumsi itu benar,”


Aku menuntaskan perasaanku sekarang, dan, Sedira terpancing, dia pun mulai mengungkapkan perasaannya, dan aku tahu! Hanya padaku dia mengungkapkannya, sebab, sepertinya tak ada orang yang bisa dipercaya dikeluarga ini.


“Kakak juga sayang sama ayah dan ibu... tapi... kadang kakak ingin juga jadi anak yatim piatu... tak ada marah atau bentakan dari orang tua...”


Sejak saat itu aku mulai akrab dengan kakakku, dia sering menceritakan keluh kesahnya padaku, dan aku mulai tahu karakter seorang manusia dari kakakku.


Di malam hari saat aku serta keluargaku tengah makan malam, tanpa Kak Sedira, aku mengajak orang tuaku untuk merundingkan masalah Kak Sedira, mungkin ini bagi mereka tak penting, tapi, jika sudah bicara tentang sisi kejiwaan, sedikit saja salah, fatal akibatnya, bisa memunculkan dendam, sakit jiwa, bahkan sampai pembunuhan, syukur-syukur kakak Sedira punya mental kuat, tapi kalau tidak?


“Ibu ayah... terima kasih, sudah mau merawatku...”


Ucapanku membuat ibuku mengelus belakang kepalaku penuh kasih sayang.


“...tapi... aku punya permintaan, apa kalian mau mengabulkannya...?”


Aku bertanya dengan serius, dan semua mengiakan, menyanggupinya.


“...bisakah kalian menerima anak kalian apa adanya? Kalau dia nakal jangan dipukul? Kalau dia cacat jangan dijauhi? Dan kalau dia gagal tetap didampingi?”


Ternyata dugaanku benar, orang tuaku menginginkan anak yang sempurna, bisa dikatakan aku ini hanyalah sebagai perbandingan, agar Kak Sedira mau berubah, itu tidak masalah buatku, yang terpenting, Sedira bisa kembali mendapat perlakuan yang baik sepertiku.


Maka, setelah itu, keadaan mulai berubah, Kak Sedira dan aku sudah mendapat perlakuan yang sama, kami makan malam bersama, hingga tak ada lagi acuh tak acuh dikeluarga ini.


Kak Sedira masih dengan karakternya, tapi tak masalah, dia hanya belum menemukan jati dirinya.


Namun, baru saja kami merasakan ikatan kuat dalam keluarga, sebuah kejadian mengerikan memecah kedamaian kami, ayah bunuh diri!


Dia menembak kepalanya dengan pistol FN Five-seven, ayahku seorang polisi bagian reserse, dia bunuh diri entah karena apa, tapi, dia meninggalkan sepucuk kertas, dengan tulisan tangannya.


Dunia menolakku! Dunia menolakku! Kuat-kuatlah kalian keluargaku, aku akan menemukan Tuhan dalam kematian!


Bagian yang membuatku menyesal adalah, aku tidak berhasil menguatkan mental ayahku, membuatnya merasa mendapat dukungan moril dalam hidupnya, menurut teman-teman ayahku, dia laki-laki yang baik, tapi, atasannya selalu memarahinya, dan banyak orang-orang yang ingin menjatuhkan dia, meski demikian, aku tahu penyebabnya bukan itu, aku tahu pasti!


Sejak kecil, ayahku sudah ditinggal oleh orang tuanya karena bercerai, ayahnya seorang penjudi dan ibunya seorang wanita malam, ayahku menghabiskan waktu hidup dengan mabuk-mabukan bersama teman-temannya, namun suatu ketika, dia merasa hidupnya sia-sia belaka, lalu saat dia melihat seorang ibu hamil tengah berterima kasih pada seorang polisi, maka saat itu juga, jiwa ayahku tersentuh, ayahku ingin menjadi seorang polisi, tapi sayangnya dia ditolak, untung bagi ayahku, dia punya tabungan yang lumayan cukup untuk 'membeli pekerjaan' maka ayahku berhasil menjadi seorang polisi, ada hal penting yang keluargaku tidak tahu, kecuali aku dan nenekku, bahwa ayahku, ingin mati dalam gelar atau jabatan, tepatnya, mati dalam sebuah kehormatan, namun bagiku dia mati terhina.


Hanya aku dan nenek yang bersedih tanpa air mata, tapi rasa menyesal terpatri pada jiwa kami berdua.


Semenjak itu, kami hidup normal, dan setahun setelah kematian ayahku, kakakku mulai terlihat berbeda, dia menjadi pemurung, setiap aku mendekatinya, dia menjauh dan selalu menyendiri, aku tak bisa berbuat banyak, sebab aku tidak mau mengganggunya.


Malam itu, langit nampak cerah, bulan bersinar bulat, aku duduk di halaman depan sendirian menikmati udara sejuk malam hari.


Kakakku keluar untuk berkumpul bersama teman-temannya.


“Kakak hati-hati.”


Namun, kakakku tak bicara, dia mengangguk sambil tersenyum simpul.


Aku tidak tahu kenapa perasaanku saat itu, benar-benar buruk melihat kepergian kakak Sedira, tapi aku tidak ambil pusing, sebab kakakku memang biasa kumpul bersama teman-temannya saat malam begini.


Sejam kemudian aku masuk ke dalam rumah untuk tidur, sebab besok aku sekolah.

__ADS_1


Tapi, di keesokan harinya, saat aku baru pulang dari sekolah, ibuku memelukku dalam tangisan kehilangan, bahkan nenekku pun menangis.


Ternyata, firasat burukku kemarin malam adalah tentang kematian kakakku, benar! Kakak Sedira tewas dibunuh.


Dan aku merasa bingung serta sangat kehilangan, aku menangis kala melihat jasad kakakku sudah putih pucat diselimuti kain kafan, terbaring tak bernyawa, dan aku tak akan menceritakan penyebab kakakku terbunuh karena itu cukup mengerikan.


Sejak kepergiannya, aku selalu merasa gagal sebagai seorang adik, sebab, di detik akhir hidupnya, aku tidak benar-benar mengenalnya.


Sampai semuanya telah teratasi, kala polisi berhasil meringkus sang pelaku pembunuhan, mantan pacarnya sendiri adalah pelakunya.


Persoalan cinta adalah penyebab sang mantan tega menghabisi nyawa kakakku, aku tidak menganggapnya remeh, jadi, aku belajar untuk merelakan, dan belajar, bahwa perasaan manusia itu sangat misterius.


Hingga saat malam itu, ibuku mulai sakit keras, dia dirawat di rumah sakit, dan hari-harinya harus dilalui dalam sebuah ruangan.


Ibuku wanita yang baik, dia mencintai anak-anak yatim, setiap Minggunya dia akan ke panti asuhan, hanya untuk memberikan uang jajan pada anak-anak.


Meski dia terbilang sakit parah dia tak pernah mengeluh, bahkan penyakit tumor otaknya sudah lama ia sembunyikan demi menjaga kedamaian keluarganya.


Setiap hari aku selalu di samping kasurnya, menemani sisa hidupnya, meskipun ibuku sudah dioperasi, tapi, aku tak melihat tanda-tanda kesembuhan sama sekali, ia justru terlihat semakin parah.


Ibuku terlelap hampir sepanjang hari, jika dia terbangun, dia akan menatapku penuh cinta, dia memandangku seolah aku adalah anak kandungnya.


Tangannya selalu erat aku genggam, hanya agar dia tahu, bahwa di sampingnya masih ada yang ingin melihatnya tetap hidup.


“Ibu... ibu pasti sembuh kan?”


Pertanyaanku terkesan basa-basi semata, sebab ibuku tersenyum dengan pandangan hampa, dia seperti tak mengenalku, bahkan sikapnya terkesan memberi tanda akhir hidupnya.


Aku menangis, perasaanku tersentuh kala tangannya yang halus mengusap kepalaku penuh cinta.


Ibuku sudah sekarat, dan aku tetap berharap dia sehat kembali.


Aku pun menangis semakin menjadi kala aku mendengar suara lirih sang ibu.


“Maaf ya... kalau nanti... kamu jadi anak yatim lagi... ibu... nggak bisa ngasih apa-apa, ibu cuman bisa berdo'a semoga... masa depanmu cerah...”


Sejak saat itu, ibuku selalu tertidur tanpa pernah terbangun, dan aku masih setia menunggunya tepat di sisinya.


Hingga suatu malam, nenekku membangunkan aku untuk bersiap pulang, bukan karena sekolah, melainkan karena ibuku sudah tutup usia.


Aku tertunduk, berdiri menangis memandang wajah ibuku, dia terpejam kaku, pucat tapi, seperti sedang bermimpi indah dan tak ada lagi yang bisa aku lakukan kecuali menangis dan berdo'a.


“Terima kasih.... terima kasih...”


Kini, aku sudah kehilangan separuh keluargaku, kehilangan orang-orang yang dicantai dan mencintai membuatku merasa terpuruk, namun aku selalu kembali semangat kala mendengar petuah-petuah penting dari nenekku, kini, hanyalah sang nenek yang masih menemaniku.


Dia adalah anggota keluarga yang paling akrab denganku, seluruh curahan hatinya selalu ia sampaikan padaku, dan aku pun selalu mencurahkan perasaanku padanya.


Dia nenek yang baik, penuh semangat dan tak kenal lelah, tapi, ada sesuatu yang selalu mengganjal dalam pikiranku, bahwa setiap tengah malam, dia akan duduk di ruang tengah sambil bicara sendiri.


Siapa yang bicara dengan nenek? Kenapa dia membicarakan untuk pergi keluar rumah?


Dan setiap aku tanya, nenekku akan berkilah, bahwa ia tak bicara dengan siapapun, ia tidur dan tak pernah bangun tengah malam.


Aku pernah berusaha untuk membawanya ke salah satu psikolog, namun, dia tak menunjukkan gejala apapun, sampai seluruh para ahli kejiwaan aku datangi, dan ujungnya nenekku sehat secara mental.


Aku selalu bertanya tanpa bosan pada nenekku, mengapa dan apa yang dilakukannya saat tengah malam tiba?


Tapi, lagi-lagi nenekku menjawab dengan hal yang sama, bahwa, dia tidur dan tak pernah bangun di tengah malam.


Dan pagi itu, nenekku sudah tak ada di rumah, dia menghilang, padahal seluruh pakaiannya masih tersimpan rapi di lemarinya, aku melapor pada polisi, hingga seminggu lebih nenekku menghilang entah ke mana.


Namun anehnya, Fihan pernah berkata, bahwa nenekku pergi ke alam lain karena sudah ada perjanjian dengan makhluk gaib, aku bertanya lebih detil, namun jawaban yang aku terima hanyalah, harus merelakannya.

__ADS_1


__ADS_2