
Rabu pukul 04:55 pagi hari di perumahan elite kota Artana, gerimis dan udara dingin tengah melanda seorang gadis yang kini berulang tahun ke 18 tahun, namun untungnya Eril datang tepat waktu ke rumahnya, sehingga pakaiannya tak kebasahan, Eril telah berdiri di depan pintu masuk rumahnya, berdiri dengan hati senak, dan jiwa yang terasa berteriak histeris, menghadapkan tubuh getirnya pada rumah orang tuanya, betapa bimbangnya dia berdiri di sana, pistolnya ia selipkan di saku belakang celananya, tentunya ditutup oleh kain belakang kemejanya, berharap orang tuanya tak kaget dengan alat yang sudah membunuh seorang manusia.
“Hiks hiks, hiks hiks,”
Eril masih berusaha menghentikan tangisan sesenggukannya, ia masih merasa kenyataan ini seperti mimpi buruk yang menjadi nyata, perasaannya sangat-sangat takut, bahkan sekujur tubuhnya bergidik ketakutan, ia mengelap hidungnya yang telah mengeluarkan lendir dengan lengan kemejanya, kedua matanya pun dilap dengan lengan kemejanya, tangannya benar-benar gemetar, rasa dingin di sini, tak sekuat penyesalan Eril, hati dan pikirannya sangat kalut marut, matanya memerah merasakan perihnya kehidupan, tapi, ia harap mama papanya mau mendengar dengan baik penjelasan serta keluhan Eril, karena, Eril hanya datang untuk mengucapkan selamat tinggal.
Eril memandang gagang pintu keemasan, ia berkhayal, atau mungkin ini sebenarnya harapan, jika saja saat dia buka pintu, maka semua telah berkumpul di rumahnya sambil mengucapkan 'selamat ulang tahun' dan kematian Fihan hanyalah kebohongan belaka sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Eril, pistolnya pun hanya pistol mainan.
Maka, Eril membunyikan bel rumahnya, membawa segenap sisa napas yang ia bawa ke rumah ini, dengan harapan embusan napasnya tak terbuang dengan percuma.
'DINGDONG'
Cukup satu kali saja membunyikan bel, Eril akan menunggu di depan pintu dengan sabar, sambil mempersiapkan jiwanya untuk menghadapi kenyataan pahit yang kedua, yaitu amukan orang tuanya. Satu menit kemudian, terdengar kunci pintu terbuka, maka Eril menarik napas panjang bersama keberanian yang ia pupuk agar dapat menyelesaikan semuanya dengan cepat, lalu mengembuskan napasnya dengan kesiapan menerima amarah dari orang tuanya. Mendadak pintu pun terbuka, seorang wanita berumur 43 tahun, dengan rambut hitam bergelombang yang membingkai dengan indah wajah berbentuk ovalnya, namun rambutnya tak sepanjang rambut Eril, bibir tebal nan seksinya mengembangkan senyuman selamat datang, namun bibir tebal itu berubah datar kala mata hitam berbinar layaknya mata Eril, menilik Eril yang ternyata anaknya kembali pulang.
“E-Eril?” Heran mama Eril dengan terkejut hingga keningnya mengernyit.
“Hiks ma-mama...” lirih Eril yang pada nyatanya ia belum siap untuk tegar bahkan tak sanggup menenangkan napasnya.
Tapi, Eril tak melihat kemarahan pada mamanya, padahal Eril telah kabur dari rumah, dan membangunkan tidur nyenyak sang mama.
Mama Eril langsung membuka pintu selebar-lebarnya, ia tercengang dengan kehadiran Eril yang nampak sangat kuyu, tapi tentunya mama Eril sangat bersyukur sebab sang anak pulang dengan selamat.
“Sini masuk dulu,” pinta mama Eril mempersilakan.
Maka entah mengapa, hati Eril tersentuh oleh suara lembut sang mama, dengan langkah yang berat, Eril pun masuk ke dalam rumah megahnya yang telah menjadi saksi masa kecilnya, ia terus melangkah menuju ruang keluarga yang terdapat tiga sofa bernuansa keemasan, yang mengelilingi karpet bergambar kepingan salju, Eril masih ingat, sewaktu SMP Fihan pernah belajar bersamanya di karpet itu, namun kenangan tetaplah kenangan. Eril kini duduk di sofa panjang yang bersandar ke jendela kaca bertirai merah, sedangkan sang mama kembali menutup pintu, karena memang ini masih sangat pagi, ia juga sempat menyalakan lampu agar lebih terang. Mama Eril masih mengenakan piama tidurnya yang bernuansa hijau bercorak bunga mawar.
Hujan gerimis masih mengguyur, dan semakin deras seiring berjalannya waktu, udara cukup dingin, dan gelapnya langit masih terpampang.
“Kenapa kamu enggak pulang Eril?” tanya mama Eril dengan cemas sembari melangkah menuju sofa.
Eril menundukkan pandangannya, ia masih bungkam. Lantas mama Eril duduk di sofa yang diduduki Eril tepat di samping kirinya.
“Eril... harusnya kamu enggak perlu kabur...” kata mama dengan penuh kasih sayang.
Namun lagi-lagi, Eril tak sunggup menahan air matanya kala mendengar suara mamanya yang sangat Eril rindukan, ia kembali mengenang saat-saat bersama sang mama yang penuh perhatian pada Eril.
“Kamu kenapa Eril?” usut mama Eril agak menunduk memandang penuh curiga pada wajah Eril yang kuyu.
“Hiks... mama... apa... mama... tetap akan... hiks... menjodohkan aku?” tanya Eril menunduk penuh kesedihan.
Mama Eril lalu meraih tangan kiri Eril penuh kasih sayang, lalu memangkunya di atas pahanya.
“Sebulan setelah kamu kabur, Fihan tetangga kita itu datang kemari...” ujar mama Eril membuka rahasia.
Sontak Eril terkejut mendengarnya, namun ia tetap bersikap kuyu.
“...dia datang untuk menikahimu,” lanjut mama Eril dengan serius.
__ADS_1
Jelas Eril sangat kaget mengetahui kebenaran itu, matanya pun sampai terbelalak, pandangannya menerawang pada kekosongan sebab pikirannya tengah memutar kembali kehidupan sebualan lalu bersama Fihan, berusaha mengingat apa saja yang telah dia lakukan sebulan kemarin, kenapa Fihan menyembunyikannya? Kenapa Fihan tak membicarakannya?
Hati dan pikiran kacaunya langsung tersentuh dengan kebenaran itu, hingga air matanya semakin mengucur deras dan hatinya semakin senak, betapa tidak, yang disangka Eril bahawa Fihan tak akan pernah menikahinya, tak akan pernah mencintainya bahkan sampai Eril menganggap cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, kini, semua terbantahkan, dengan kenyataan bahwa Fihan akan mengajaknya menikah, Eril masih bungkam tapi mentalnya semakin terguncang.
“Awalnya... mama sama papa ingin menolaknya, karena kami memang mau menantu kami paham tentang ilmu agama, tapi... saat Fihan menjelaskan semuanya tentang kalian, kami mulai berpikir bahwa perjodohanmu memang tidak bagus, mama juga enggak menyangka, kalau ternyata Fihan itu seorang hafiz, malah dia paham betul tentang agama, dari situlah kami mulai percaya pada Fihan, dia juga menceritakan tentang keluarganya dulu, mama juga baru tahu kalau pesantrennya Ustaz Alkan itu termasuk cabang pesantrennya ibu Fihan, nah... dari situ kami yakin... kalau kamu memang cocok sama Fihan...” ungkap mama Eril.
“Hennnng... hiks hiks...” Eril kembali menangis sesenggukan.
Betapa menyesalnya dia telah membunuh Fihan, Eril sempat berkhayal bila saja ia tetap di toko dan tak mengetahui Fihan memiliki senjata api, pastinya Eril kini tetap bersama Fihan bahkan bisa saja ia menikah dengannya, tapi, mengapa juga Fihan harus memiliki senjata api pistol, untuk apa?
“...jadi... mama sama papa berharap kamu menikahnya dengan Fihan, kamu memang benar, anaknya tak sama seperti ayahnya, Fihan sangat mirip dengan ibunya, dia anak yang saleh...” imbuh mama.
Tapi, semua kebenaran itu datang terlambat, kabar bahagia itu kini telah berubah menjadi kabar yang semakin menyakitkan hati Eril, dan Eril benar-benar tak habis pikir dengan masalah hidup yang kini menimpanya, disatu sisi menyesal dan disatu sisi lagi kebingungan. Maka Eril menunduk sekaligus menjambak rambutnya sendiri dengan sangat benci pada kenyataan yang menimpanya, menjambaknya seakan ingin mencabut semua rambut dari kepalanya tapi, itu sama susahnya seperti menghindari kenyataan ini, bahkan ia berteriak kesakitan, sangat sakit untuk seorang gadis seperti Eril yang melihat pujaan hatinya tewas oleh tangannya sendiri tepat di depan matanya.
”AAAAAAAAARRRRRRGGGGGGHHHHH!“ Eril berteriak cukup keras sampai-sampai kedua kakinya meronta-ronta tak sanggup menerima kenyataan pahit ini.
Jelas mama Eril langsung merangkul Eril dengan kasih sayang seorang ibu.
”Tenang Eril... kalau kamu enggak mau nikah enggak apa-apa, mama sama papa cuman ingin kamu hidup bahagia...“ kata mama Eril.
”Hnnnnnnnggg hiks hiks hiks...“ Eril menangis senguk-sengak tak sanggup menerima ujian hidup sebesar ini.
Mama Eril lalu menurunkan kedua tangan Eril agar Eril tak lagi menjambak rambutnya, karena bagaimana pun seorang ibu yang sebenar-benarnya, tak mau anaknya hidup menderita.
”Eril... te...“ ucapan mama Eril dipotong.
Eril sudah putuskan akan bicara apa.
”...aku akan pergi jauh...“ lanjutnya berusaha tegar.
”Kamu mau pergi ke mana lagi...?“ tanya mama Eril yang sebenarnya tak mau lagi melihat anaknya pergi.
”Dengar dulu mama!“ sergah Eril dengan serius karena memang pembicaraan ini menyangkut harga diri keluarganya.
Mama Eril terpegun dengan kaget, ia baru melihat Eril nampak berbeda seperti ini, maka ia terdiam mendengar dengan saksama.
”Hiks... hiks,“
”Mama... aku enggak ingin mama sama papa menangis dan meratapi perbuatanku, mama... anggap saja... aku tidak pernah terlahir, hiks... dan kalau... mama mendengar berita tentang perbuatanku... kuat-kuatlah mama menerimanya... aku juga minta maaf kalau aku belum jadi anak yang baik...“ tutur Eril dengan penuh kesedihan dan rasa pilu.
Mama Eril menatap tangan Eril yang sedari tadi gemetar, pikirnya mungkin Eril kedinginan, tapi, jiwa keibuannya kini telah berkata lain, bahwa anaknya telah menghadapi musibah yang mengguncang jiwanya. Bahkan kini mama Eril telah benar-benar sadar bahwa tangisan Eril dan mata merah Eril bukanlah karena perjodohannya, melainkan adanya masalah yang hanya dapat dimengerti oleh Eril.
”...dan kalau aku tidak pernah pulang... mama jangan cari aku ya, biar saja aku yang menanggungnya...“ imbuhnya.
”Ada apa sebenarnya Eril? Kamu kenapa Eril?“ selidik mama Eril dengan khawatir.
”Aku akan tumbuh dewasa mama... aku akan menjadi wanita terhormat,“ jawab Eril masih tertunduk berusaha meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja padahal tidak.
__ADS_1
”Eril...“ ucap mama Eril dengan suara nan lembut berusaha membuat Eril menjadi tenang.
Lalu Eril bangkit berdiri sambil menghadap sang mama, Eril tak mau mencoreng nama baik keluarganya, ia tak mau menyusahkan orang tuanya, ia akan menghadapi masalahnya sendirian, namun tiba-tiba terdengar suara yang memanggil Eril, suara yang tak asing di telinga Eril.
”Eril,“
Tepat di samping kanan Eril dalam jarak tiga meteran, seorang pria berumur 45 tahun, laki-laki berbadan kurus dengan mata cokelat nan bulat dan rambut kremnya bergaya cepak tentara, papa Eril berdiri penuh tanya, masih mengenakan piama tidurnya yang bernuansa hijau bercorak awan. Sang papa menilik Eril dari ujung rambut sampai ujung kaki dan karena adanya kejanggalan, maka ia buru-buru menghampiri Eril.
”Kamu kenapa Eril?“ usut papa Eril sambil memegang bahu kanan Eril menatap lekat-lekat wajah kuyu Eril.
”Hiks... hiks...“ Eril tertunduk sedih dengan rambut yang acak-acakan dan air mata yang masih mengalir.
”Eril, apa Fihan berbuat macam-macam?“ sangka papa Eril.
”Hiks hiks hiks, enggak papa, Fihan anak yang baik... dia... selalu membantuku...“ ujar Eril senguk-sengak.
”Terus kamu kenapa...? Kayak...“ ucapan papa Eril menggantung sambil menerka-nerka memandang anak tercinta.
Tapi, Eril langsung berpaling pergi, tanpa kata, tanpa senyuman. Percuma dan hanya percuma jika ia bicarakan kebenarannya sekarang, rasa iba pada keluarganya telah memecut jiwanya untuk memendam masalahnya sendirian.
”Eril kamu mau ke mana?“ tanya papa Eril dengan lantang penuh curiga.
”Hennnnngg hiks... hiks...“ Eril terus melangkah sambil bergigit menahan perihnya kenyataan.
Ia harus meninggalkan keluarganya, meninggalkan semua kenangan dan kebersamaan dengan keluarganya, maka ia berharap keluarganya menganggap semua ini tak berarti, ia berharap kehadiran untuk terakhir kalinya ini menjadi kesan bahwa Eril masih hidup dan baik-baik saja, meski terasa menyakitkan, tapi, ini jalan terbaik demi menjaga kedamaian orang tuanya. Gendang telinganya terus dihadapkan dengan suara panggilan papa dan mamanya, membuat setiap langkah yang Eril tempuh semakin terasa menyiksa.
”Eril! Eril! Mau ke mana?“
Kini Eril telah membuka pintu rumahnya, ia di hadapkan dengan guyuran hujan deras dengan udara sedingin air matanya, memandang langit gelap, yang mungkin segelap masa depannya, ia akan menghadapi kenyataan ini sendirian.
”Hennnnnng hiks, hiks,“ tangis Eril tersedu-sedu.
”Eril di luar hujan, jangan pergi dulu...“ kata mama Eril dengan khawatir yang melangkah menghampiri Eril.
Eril menoleh pada mamanya, hanya ingin melihat wajahnya untuk terakhir kalinya, lalu ia kembali menghadapkan wajahnya keluar rumah, layaknya menghadapkan muka pada kematian, dan Eril pun berlari pergi dari rumahnya, berlari demi menjaga perasaan mama papanya, karena akan lebih menyakitkan bila mama papanya melihat pembunuh Fihan adalah anak mereka sendiri.
”Eril! Eril! Eril!“ teriak mama dengan khawatir.
Tapi Eril terus berlari menuju gerbang rumahnya, lalu pergi meninggalkan keluarganya.
Niatnya untuk memberi tahu kecerobohannya pada mama papanya telah sirna, ia merasa kasihan dan takut untuk mengungkapkannya, maka, ia biarkan waktu yang menjawabnya, toh, ia sudah melihat orang tuanya, sehingga membiarkan mereka tetap begitu adalah hal yang tepat, kesepian serta ketakutannya ia akan telan sendiri, ia sudah tak berharap orang tuanya bisa memaafkan kecerobohan anak mereka, kini, Eril hanya berharap, bahwa keluarganya bisa tegar menerima cap pembunuh yang telah terpatri pada anak perempuan satu-satunya.
Tak akan ada yang memahami perasaannya! Tak akan mungkin keluarganya bisa menerima seorang pembunuh seperti Eril, dia hanya tak mau menyusahkan orang tuanya, dan semua kebenaran tentang Fihan yang disampaikan mamanya hanya menjadi penderitaan batin baginya, malah, detik ini juga rasa benci pada dirinya sendiri mulai mengalir dalam dirinya, Eril benci tak pernah mengungkapkan perasaannya pada Fihan, ia benci tak pernah bisa memahami karakter Fihan, ia benci tak pernah bisa sabar dan menunggu agar Fihan yang menyatakan langsung.
Dalam guyuran hujan, Eril berlari dengan isak tangis penyesalan.
”Hennng... hiks hiks hiks...“
__ADS_1