Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
BAB 8: AUTOBIOGRAFI FIHAN DAN ERIL


__ADS_3

         Dunia tidak tahu siapa ibuku, dan memang tak penting juga, namun bagiku, dia adalah wanita yang menginspirasiku, aku tak berputus asa mencari ilmu sebanyak mungkin, membuat hal-hal remeh menjadi berharga, itu memang sulit, sampai aku bingung dengan perasaanku sendiri.


Ibuku adalah wanita yang sempurna, setiap pertanyaan, yang mengandung ambigu, maupun, pertanyaan sains, dia tahu jawabannya, sampai-sampai aku terheran-heran bagaimana bisa otaknya menyimpan begitu banya ilmu pengetahuan, bahkan apapun yang aku minta, pasti langsung diberikannya, konyolnya aku jarang meminta, malah tak pernah aku meminta dibelikan baju baru, aku cuman ingin selalu didekat ibu, menyenguk aroma bunga melatinya dan dicubit gemas karena aku lucu mirip kura-kura, itu saja sudah cukup bagiku.


Dan kini aku hanya perlu menguak jati diriku, bertindak seperti seharusnya, meski seluruh manusia meludahiku aku tetap bertindak seperti seharusnya.


Namun nyatanya air mataku jatuh, karena mengetahui aku tidak sanggup menguak jati diriku.


Tapi, tak ada yang sia-sia, justru dengan begitu, aku bisa memberikan kesan di benak setiap orang, sekolah ataupun bekerja dengan penuh kesungguhan.


Aku Fihan adalah anak laki-laki pendiam nan angkuh yang kini melihat kematianku dengan tragis, aku pula Eril yang kesepian di bawah selimut barunya.


Aku menjadi orang yang membela Zeni, saat Guru Sukada menuduh semuanya payah, akulah yang membela ketidak tahuan teman-temanku, dan Eril hanya melambangkan gejolak amarah kesendirianku.


Aku tidak akan membiarkan temanku bunuh diri hanya karena putus dengan pacarnya, tapi jika dia memang tak bisa diberi lagi semangat hidup, maka biar aku yang membunuhnya.


Guru Kativia, terlalu mudah bagiku membuatmu bersedih, aku balas dendam bukan demi teman Guru Sukada, itu hanya untuk menutupi alasanku demi melihat sejauh mana kemampuanmu berkembang, dan katakanlah aku memang angkuh.


Ibu Sieren, tak ada yang sia-sia dalam hidup, hanya saja ibu sering menolak kenyataan di depan ibu, sampai semua terasa seperti kegagalan, ibu Sieren, aku tahu penderitaanmu lebih daripadaku, maka aku relakan tubuhku dan wajahku menjadi wadah amukanmu, kau hanya tidak bisa memercayai orang disekitarmu, bahkan Eril pun kebingungan dengan sikapmu.


Nenekku tercinta, bahkan aku tak terlalu akrab denganmu, meski kau selalu saja ada disaat aku membutuhkanmu, aku tetap tak menyukaimu, jadi, biar aku pergi menggantikan ibu, dan Eril menggantikanku.


Sazan, untuk kankermu, aku bisa saja menyembuhkannya, akan tetapi, jiwamu menolaknya, karena memang kematianmu itu adalah kewajiban, tapi tenang, Eril akan membantumu untuk menghadapi kematianmu.


Eril, Ustaz Alkan itu temanku, saat kami masih di bangku SMP kami belajar bersama untuk menjadi seorang hafiz, lalu saat SMA orang tuanya membuka sebuah pesantren, dan kami sudah jarang bertemu, jadi, sebenarnya aku agak terkejut kala kau akan dijodohkan olehnya.


Eril saat SMP dulu kita pernah melakukan permainan, bahwa kalau bunga yang kita bawa warnanya sama, itu artinya, kita berjodoh, tapi, kalau bunga yang kita bawa warnanya berbeda, maka kita akan berteman selamanya, tahukah kamu, kalau sebelum itu aku memeriksa tas gendongmu, melihat bunga apa yang kamu bawa, maka, aku mengambil bunga dengan warna sama dari tasku, membuang bunga yang tak sesuai, lalu saat waktunya tiba, aku datang padamu dan bunga Lily kita sama, berjodoh sejak kecil adalah hal yang mungkin membosankan, tapi, unik, dan menyenangkan, namun kamu menganggap itu permainan semata, hal indahnya adalah aku menganggap serius.


Farka, aku tidak suka dengan kebodohan, dan benci dengan kemalasan, aku melihatmu sebagai sosok berkarismatik yang mampu membuat semua orang menyukaimu, bahkan kau orang yang sangat baik dan dermawan, tapi hanya aku yang tak suka denganmu, entah kenapa aku tak suka, mungkin karena kebaikanmu itu lebih menjurus pada kebodohan, atau mungkin kau masih polos, kita juga tak akrab, namun, aku ingin menjadi temanmu, meski kadang aku tak pernah menghargai jabatan ketua kelas yang kau pegang, aku menghargaimu sebagai manusia yang baik.


Dan saat aku bertemu dengan kedua orang tua Erilia, aku katakan pada mereka.


“Saya akan menikahi putri bapak dan ibu, untuk menyempurnakan kehidupan saya.”


Mereka menolak, dengan puluhan kalimat berkilah yang ujungnya ingin laki-laki bermoral baik, dan paham ilmu agama.


Maka aku buktikan bahwa aku seorang hafiz, bahkan aku buktikan pahamku tentang agama.


“Kenapa kamu tidak menikahi para janda di sana? Bukankah mereka lebih membutuhkanmu?”


Orang tua Eril berusaha menyudutkanku.


“Saya hanya bernafsu dan cinta pada putri kalian, dan hanya Eril yang cinta pada saya.”


Aku membalas dengan sedikit penjelasan.


“Cinta dan nafsu bisa berubah, tidak ada jaminan pasti, bahwa kamu akan tetap menuntun putri kami pada jalan yang benar.”


Mama Eril menyudutkanku, mereka berusaha menguji keyakinanku.

__ADS_1


“Tapi, tidak ada di dunia ini satu laki-laki pun yang memiliki jaminan bahwa wanitanya akan terus mengikuti laki-lakinya, karena setiap individu itu punya cara yang berbeda menentukan jalan benarnya sendiri.”


Aku menyanggah namun belum tuntas.


”Terus kalau begitu, kenapa kami harus percaya padamu?“


Papanya menyindirku.


”Saya punya ilmu, itulah jaminannya, dan saya tahu apa yang membuat Eril senang dan saya tahu bagaimana membuat Eril bahagia.“


Aku bicara dengan percaya diri dan menuntaskan penjelasan awalku.


”Percaya diri banget kamu ya.“


Mama Eril memujiku namun lebih mengarah pada menyindirku.


”Hehehe ...“


Ada hal yang membuatku geli.


”Loh ... apanya yang lucu.“


Mama Eril hingga penasaran dengan sikap anehku.


”Saya tidak tahu cinta itu apa, saya juga tidak tahu bagaimana mencintai wanita secara benar.“


Maka aku utarakan alasannya.


Mama Eril terheran-heran dengan ungkapanku.


”Saya yakin, karena Eril selalu bahagia saat melihat saya, dia akan tersenyum kalau saya tersenyum, dia bisa tertawa kalau saya tertawa, dia akan mengikuti apapun yang saya minta, saya rasa cinta itu adalah tunduk dan patuh tanpa alasan, muncul dari jiwa dan sistem kerja otak, yang hanya muncul karena ada sesuatu yang istimewa, antara nafsu dan hati yang menerimanya.“


Aku mulai beranggapan tentang bentuk perasaanku yang sulit untuk aku lihat.


”Tapi, kesenangan bukan kebahagiaan.“


Papanya menyanggah kalimat awalku.


”Kesenangan adalah urusan saya, dan kebahagiaan adalah urusan masing-masing, ibu saya pernah bercerita, dulu ada kisah sepasang kekasih yang pergi ke dalam hutan, mereka lari dari dunia ini, karena dunia hanya memberikan kekecewaan dan kesedihan, mereka ingin pindah menuju alam lain, sebab dunia penuh kepalsuan, maka mereka mulai berdiri di bawah pohon pinus dengan kedua tangan yang saling bergandengan, mereka siap menghadapi kematian, maka selang sepuluh hari, sang wanita mati duluan, tapi sang laki-laki itu tetap berdiri sambil bersumpah akan ikut menyusul dalam keabadian bersama wanitanya, maka tiga hari kemudian laki-laki itu pun menyusul wanita tersebut, mereka bisa bersama dalam keabadian tanpa rusak tanpa kesedihan, lalu saya bertanya pada ibu saya 'artinya apa?' Ibu saya menjawab 'keteguhan hati, keyakinan murni tanpa campur tangan keinginan lain, maka kamu akan menemukan jalan lurus menuju harapanmu.'“


Tapi aku menjelaskan alasanku.


”Tapi kamu bukan dalam cerita, ini dunia nyata bukan khayalan.“


Mama Eril mengkritik ceritaku tanpa tahu maksud sebenarnya.


“Memang bukan, sebab itu kiasan, karena kepercayaan tidak bisa dibuktikan secara logika, tapi bisa dirasakan oleh hati dan setiap individu berhak memilih sesuai akal sehat, karena ibuku pernah berkata, keteguhan hati serta tingkah laku adalah tujuan kita percaya.”


Dan aku menyangkal pengertian mama Eril sekaligus menjelaskannya.

__ADS_1


“Nah, terus hubungannya sama nikah apa ...?”


Mama Eril menyelidik merasa aneh.


“Kalau kalian ingin bukti, maka biar saya menikahi Eril, karena bagaimana pun sebuah bukti akan muncul kalau sudah ada sebab akibatnya, disitulah kepercayaan bisa dibuktikan.”


Aku memungkas, dan kedua orang tua Eril percaya padaku, mereka relakan anaknya dinikahi olehku tapi, mereka percaya padaku bukan karena kata-kataku, melainkan lebih kepada karena aku seorang hafiz, sekaligus pemilik pesantren, disitulah awal aku sadar bahwa diriku milik Eril seutuhnya.


Ayahku dan ibuku sudah pergi, aku adalah anak yatim piatu, dan sebuah geng sedang mengincarku demi menuntaskan balas dendam kesumat mereka pada keluargaku, aku membeli sepucuk pistol, dengan tujuan untuk melindungi diri, namun Eril akan merampas pistol itu dari tanganku, aku hanya perlu memastikan dia tak menembak dirinya sendiri, seperti itulah kematianku berlangsung, dan aku tidak bisa menghindarinya, sebab hari itu kelupaan akan menjadi penyebabnya, secara sistematis dan fisika, aku bisa memperhitungkan setiap kejadian alam, tapi kurang akurat, maka aku menggunakan sisi spiritualku untuk menentukan momentum setiap atom atau energi yang bisa aku ubah, membuat jiwaku berada disatu di mensi tanpa ruang dan waktu, dengan tujuan untuk melihat masa depanku, tapi sayang, memang benar aku akan mati terbunuh, tak ada jalan untuk keluar dari takdir, segalanya gelap penuh rahasia, bahkan seluruh sistem syaraf dan sel-sel dalam tubuhku sudah memberikanku tanda kematian. Tapi satu hal yang pasti, kematian itu rahasia, tak ada yang mengetahuinya, kecuali, diungkapkannya rahasia itu kepada orang yang dikasihinya, tepatnya orang yang beruntung.


Dan menurut ibuku, aku bukan bisa melihat umur, melainkan diperlihatkannya kemisteriusan kehendak Tuhan, dan ibuku selalu memintaku tetap berada pada hukum, karena itulah satu-satunya yang bisa menyelamatkanku dari makhluk yang namanya iblis.


Tapi, hatiku masih belum siap, dan jiwaku selalu belum puas, aku memang ingin merdeka dari dunia ini, lepas dari segala macam aturan sistem sebab akibat, namun aku selalu saja penasaran tentang siapa jati diriku sesungguhnya.


Kala angin membelai menelusuk ke dalam batinku, aku melihat Eril yang berlulut kesakitan, menangisiku, lalu dia berlari menuju keluarganya, berlari menuju nenekku, dia berusaha mengemas pakaiannya, untuk kabur dari kehidupannya.


“Eril, kamu tidak selemah itu, ambillah buku harianku, dan bacalah tulisannya.”


Energi itu sampai pada syaraf otak Eril, membuatnya masuk ke dalam kamarku, dia mencari buku harianku, yang memang sebulan lalu sudah aku beri tahu tentang buku itu, dia meraihnya dalam ranselku, Eril menangis sesenggukkan kala telah mengetahui tulisanku.


Dia pun buru-buru memasukkan bukunya ke dalam tasnya, dan dalam hujan dia melangkah menuju ketua kelas, agar bisa menunjukkan kebenaran yang kami punya.


Namun, saat Eril telah memberikan buku kami, dia pergi ke jembatan malah berniat untuk bunuh diri.


“Jangan lemah seperti itu! Aku tidak punya teman yang lemah dan mudah menyerah, berlarilah kembali, kejar mimpimu yang terhalang olehku, angkat kakimu dari tempat itu!”


Energiku berhasil menyentuh kejiwaan Eril, dia pun berlari menuju rumah ibu Sieren, mengatakan segalanya, dan ibu Sieren memberikan tempat tinggal agar Eril bisa menenangkan jiwanya.


“Tenangkan jiwamu Erilia! Dan pergilah hadapi kenyataan pahitmu, buka matamu! Bukan seperti ini kamu menghadapinya! Kematian dan ketidak-sengajaan adalah hal yang lumrah.”


..................................................................................


Dan inilah aku, Erilia, terlalu bodoh dalam mencintainya, berhasrat ingin memilikinya, pelajaran hidupnya telah usai, kebersamaanku pun telah usai, namun hidupku tetap berlanjut.


Fihan adalah guruku, dia adalah temanku, dan dia pun calon suamiku, kini, dia mengajari aku untuk bisa merelakan kehilangan hal yang paling berharga, membuat tangisanku harus buru-buru terhapus, agar dia tahu, aku sudah merelakan semuanya.


Fihan tak pernah memaksaku untuk menjadi apa yang dia mau, aku selalu menjadi diriku sendiri, dan semua hal yang aku tanyakan padanya, maka dia akan menjawabnya dengan tepat, ilmu pengetahuan alam, ilmu sosial, ataupun ilmu spiritual, dia bisa menerangkannya sampai aku melongo tercengang dengan pengetahuannya, kadang aku berpikir, seharusnya dia berkuliah, bukan bersekolah, bahkan seharusnya dia menjadi guru.


Kesombongannya, itu sisi buruknya, aku pun membencinya, tapi sialnya aku menyukai seluruh apa yang ada pada diri Fihan, aku pun tak tahu mengapa aku terlalu mencintainya.


Dan, aku kembali ke rumah, kembali pada kehidupanku, alasannya sederhana, aku mengikuti apa yang Fihan tulis dalam bukunya, hingga aku menyadari, bahwa dia selalu bersamaku, dia mencintaiku meski tak diucapkannya, dia menyayangiku meski tak ia tunjukkan, Fihan tidak tahu bagaimana caranya mencintai dan tak tahu caranya menyayangi seorang manusia, dia orang yang tak memahami dirinya sendiri, orang yang lebih condong pada logika, hingga seluruh sebab akibat harus ada bentuk dan alasannya.


Tak ada manusia yang seperti Fihan, jika pun ada, mungkin aku hanya akan tetap mencintai Fihan, sebab cinta pertama bagiku adalah cinta sejatiku, namun jodohku dengannya telah berakhir, jadi, hanya kenangan sebagai tanda kebersamaan kami.


Aku berdiri melanjutkan hidupku, aku gagal untuk bisa selalu bersamanya hingga lulus sekolah, aku hanya teman sepintas Fihan, Fihan memang sudah memprediksi ini semua, dengan tujuan agar aku mudah merelakannya. 


Tapi, aku akan terus bertahan hidup, aku akan menemukan kehidupan yang lebih maju dari kehidupanku sekarang, mungkin mustahil, bahkan Fihan pun tak menuntutnya, tapi, aku akan menjadi wanita terhormat seperti yang pernah Fihan utarakan, malah jika perlu, aku akan melanjutkan perjuangan Fihan, mengungkap jati diri seperti sang ibu.


Aku, sang gadis biasa-biasa ini, memang bukan gadis istimewa, akan tetapi, aku diistimewakan oleh Fihan, karena aku adalah Erilia, dia yang aku cinta adalah aku yang dicinta.

__ADS_1


Catatan: banyak kalimat yang dihapus, beberapa penjelasan tak masuk diakal antara terlalu sulit untuk dipahami, atau penyusunan katanya agak memusingkan.


__ADS_2