Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
MEMOTONG JARIKU...!


__ADS_3

       Hari Senin hari libur, sebagai waktu istirahat setelah melangsungkan perlombaan yang melelahkan, pukul 09:10 pagi hari yang cerah, hari ketika anak muda berkumpul bersama teman-teman nongkrong mereka, namun karena Farka tak bisa, kecuali dalam angan-angan, maka dia putuskan untuk menghabiskan waktu sendiri di halaman rumahnya dekat dua pohon mangga, suasana kompleks perumahan hari ini sangat sepi, mungkin para tetangga Farka pergi jalan-jalan bersama keluarga mereka. Farka tengah duduk berselonjor di atas tikar pacar, duduk sambil memainkan gitar, menghadap jalanan atau tepatnya menghadap rumah tetangga bernuansa cokelat kayu klasik, tak lupa juga di atas tikar di sampingnya, telah tersaji segelas kopi liberika, serta sepiring kue kering, saat ini ia mengenakan pakaian yang sama seperti saat ia duduk berdua bersama Areny, celana jin yang dipotong pendek serta baju polos warna putih. Angin sepoi-sepoi membelai halus wajah manusia itu, memberi kesan bahwa cuaca lebih cerah ketimbang perasaan dan pikirannya.


Gitar mengalun dan Farka menyanyikan lagu dari band Trunover berjudul, Cutting My Fingger Off.


“...to make you go... to make you go, to make you go, i naver wanted to make you go, you might be a stranger now, and a just wanted to let you know that i meant what i said... and every dream i've ever had has been of myself... and every dream i've ever had's been of a, better view with a ten month summer, losing you is like cutting my fingers off and even with that summer, without you i'd rather cut my fingers off...”


Setelah lagu usai, Farka meraih segelas kopinya, menyesapnya, lalu kembali menaruh gelas ke posisinya. Namun, mendadak kala pandangan Farka terarah pada depan gerbang rumahnya, tak disangka, empat teman sekolahnya telah berdiri di sana memandang Farka dengan senyuman penuh makna. Bahkan Areny kembali membawa koper serta tas gendongnya, seperti akan pindah rumah.


“Ketua kelas!” seru Areny sambil melambai-lambaikan tangan kanannya.


Farka memandang teman-temannya dengan penuh perenungan.


Apa mungkin mereka sudah tahu maksud ucapan Farka?


Farka menaruh gitarnya, ia bangkit berdiri, awalnya, ia berencana untuk pergi, agar rencana autobiografinya tetap berjalan. Tapi justru ia malah menghampiri teman-temannya, mempersilakan mereka masuk, toh, pada dasarnya Farka juga ingin memberi tahu rahasia kedua, sebab kalau tidak, teman-temannya pasti akan terus mendekati Farka.


Kini empat teman Farka berkumpul di halaman rumahnya, duduk di atas tikar pacar untuk menjelaskan kedatangan mereka, tak disangka juga pakaian yang Areny kenakan sama seperti apa yang dikenakan Farka, sedangkan yang lainnya berpenampilan sederhana dengan pakaian main mereka. Tas serta koper Areny telah tergeletak di samping pintu masuk rumah Farka.


“Aku sudah tahu... kamu menyembunyikan hal penting!” ungkap Areny dengan penuh semangat.


“Jelaskan pada kami ketua,” pinta Sazan dengan serius.


Farka menunduk merenung, dugaannya benar, bahwa teman-temannya pasti curiga dengan perubahan mendadak Farka.


“Sebenarnya kita semua harus pergi,” kata Farka tanpa basa-basi dengan pandangan serius tapi sebenarnya sangat kebingungan.


Justru, pengusiran Farka membuat teman-temannya penasaran bukan malah ingin pergi.


“Kenapa sih kamu enggak mau menjelaskan...?” heran Areny mengusut.


Farka terdiam memandang jari jemari Areny yang mencengkram lututnya, ia tak tahu harus memulai dari mana.


“Ketua,” panggil Eril dengan keseriusan tinggi.


Farka pun memandang wajah cantik Eril.


“Bagaimana mungkin kami pergi, kalau ketua menyembunyikan hal penting dari kami, bukankah, ketua yang menyuruh kami bergabung untuk menulis autobiografi? Jadi kami harus tahu agar kami bisa mengerti dan membantu ketua,” tutur Eril mendesak.


Farka menunduk merenungi perkataan Eril, maka setelah tiga detik merenung, dia mengumpulkan energi dalam dirinya agar ucapannya dapat dipahami dengan mudah, Farka menelan ludahnya, ada kemungkinan penjelasannya sangat sukar diterima, lebih dari ajakan Farka waktu membuat buku autobiografi, tapi, ia juga tidak gegabah dalam mengambil keputusan ini, sebulan penuh adalah waktu yang telah dia tempuh untuk merenungi keputusannya, mencari jalan terbaik agar tugas ini bisa dipahami dan sukses bagi teman-temannya. Sementara teman-teman Farka terdiam, berharap sang ketua kelas menjelaskan dengan sejelas-jelasnya. Maka Farka menilik setiap netra yang mengarah padanya.


“Seharusnya kita berpisah...” kata Farka lagi-lagi melontarkan kalimat perpisahan.


Dan teman-temannya hanya terdiam mendengarkan.


“...yang namanya autobiografi seharusnya berasal dari kisah nyata bukan kebohongan, bahkan autobiografi kita juga tidak tepat dalam penulisannya, ada rumus-rumus dalam membuat autobiografi, dan kalau semuanya adalah kebohongan... maka itu bukan autobiografi...” jelas Farka.


“Loh... tapi, tulisan kami memang benar-benar dari kisah nyata kami...” sela Eril merasa penjelasan Farka tidak tepat.


“...autobiografi ada tujuannya tidak seperti buku harian...” imbuh Farka.


“Tapi kan... kamu sendiri yang menyuruh kami membuatnya,” timpal Areny menanggapi.


Keempat teman Farka mengangguk setuju dengan Areny.


“...dan karena kesalahan itu pula, kakak kelas kita terdahulu mendapat kutukan...” ujar Farka dengan serius membuka rahasia.


“Bwahahaha....” Areny mendadak tertawa merasa ucapan Farka adalah lelucon.

__ADS_1


“Kamu mau berkhayal lagi...? Hahahaha....” lanjutnya tak percaya dengan menyindir.


“Memangnya ada... orang yang membuat autobiografi karena isinya kebohongan, terus dikutuk?” sindirnya.


“Hahahaha...”


Namun hanya Areny yang menanggapinya dengan bercanda, pasalnya, seluruh teman-teman Areny memasang muka serius bahkan mereka rela mengernyitkan kening demi merenungi ucapan Farka, sebab, mereka tahu, raut muka dan nada bicara Farka kini menunjukkan keseriusan penuh, maka terpaksa, Areny pun langsung memasang muka serius memandang Farka.


“Eh, benar Farka?” selidik Areny.


“Kutukannya adalah kematian... kata Guru Sukada, semua murid yang menulis autobiografinya salah satu dari mereka pasti akan mati, dan kutukan itu hanya bisa dihentikan, bila selama bersekolah kita saling bermusuhan, maka kutukan itu tidak akan menimpa kita... itu sebabnya aku ingin kita berpisah dulu...” papar Farka.


Keempat teman Farka terdiam dengan serius, mereka nampak percaya dengan perkataan Farka.


“Ahk yang benar?” tanya Areny meragukan.


Farka mengangguk dengan mantap menegaskan benarnya ucapannya.


“Loh... aku pastinya yang akan mati kan...?” tanya Sazan memastikan.


“Aku tidak tahu pasti, yang jelas, aku berani memberi tahu kalian hari ini, karena hal ini memang harusnya kalian tahu, apa lagi... kita sedang menulis autobiografinya,” ungkap Farka.


Suasana masih dalam ketenangan, tapi, semua pikiran manusia-manusia di halaman rumah Farka mulai beroprasi lebih giat, karena alasan Farka memang tak masuk akal.


“Tapi, enggak mungkin kutukan itu ada tanpa ada penyebabnya, karena aneh banget dong, hanya menulis bisa dikutuk...” kata Eril menyindir yang menjurus pada penyelidikan.


Dan semua teman Eril mengangguk dengan mantap setuju dengan pendapat Eril, kecuali Farka, dia mengangguk memahami maksud perkataan Eril.


“Semua berawal dari kakak kelas Guru Sukada, singkatnya, kakak kelas itu di-buly hingga tewas, dan sebelum tewas ia bersumpah, bahwa siapapun yang menulis autobiografi dengan unsur kebohongan akan mati, bukan tanpa alasan dia mengutuk, gadis itu dibuly lalu dibakar buku autobiografinya karena apa yang tertulis sangat berbahaya, Guru Sukada sendiri tidak menjelaskan detil bahayanya...” jelas Farka.


“Tapi, memangnya bisa ya mengutuk orang-orang seperti itu...?” heran Areny.


“Hem,” Sazan mengangguk memiliki pertanyaan yang sama seperti Areny.


“Ya... secara sains sih memang aneh... tapi, secara sisi spiritual itu memang bisa, sederhananya seperti teman kita yang menguap, lalu tiba-tiba kita juga ikut menguap, atau, ketika kita melihat orang disiksa lalu kita semua merasa kasihan padanya... satu yang terjangkit sepuluh yang tertular... begitulah kutukan bekerja,” tutur Farka dengan serius.


Maka semua terdiam dengan mengangguk-angguk pelan, dan mereka semakin percaya pada perkataan Farka. Suasana masih cerah, udara berembus pelan, kompleks perumahan Hanataba masih terasa damai bahkan, terbilang sepi, sampai-sampai tak terlihat satu pun keberadaan manusia di jalan depan rumah Farka. Kini semua teman-teman Farka terdiam penuh perenungan, mereka menimbang-bimbang langkah apa yang harus dibuat, agar bila benar kutukan itu ada, mereka bisa menghapusnya, atau setidaknya menghindarinya.


“Kalian enggak usah khawatir, toh ujungnya aku juga yang mati...” ujar Sazan dengan ceria namun tetap tak mampu membuat suasana ceria.


Mendadak semua sorot mata kuyu tertuju pada netra biru Sazan, dan Sazan hanya mampu mengerjapkan matanya dengan pandangan bingung, ia bingung mengapa teman-temannya menatap aneh padanya.


“Aku bingung...” keluh Areny dengan memandang gitar akustik milik Farka.


Lalu semua teman-teman Sazan menundukkan pandangan, mereka terenyuh pada Sazan yang nampak lebih siap menerima takdirnya, atau sebenarnya teman-teman Sazan kebingungan, mau kutukan itu ada atau tidak, Sazan tetap akan mati karena penyakitnya, sehingga mereka bingung, apa yang harus mereka lakukan sekarang.


“Seharusnya kita berpisah... iya, harusnya kita berpisah,” ujar Farka meyakinkan teman-temannya.


“Kita harus hapus kutukan itu!” tegas Areny dengan penuh ambisius sambil menatap satu persatu teman-temannya berusaha mengajak mereka.


Dan semua teman-teman Areny mengangguk setuju, kecuali Farka yang menunduk merenung.


“Kutukan itu tidak bisa dihapus,” sanggah Farka dengan pandangan serius pada Areny.


Jelas semua terheran-heran pada Farka.


“Loh kenapa?” usut Areny keheranan.

__ADS_1


“Iya, kenapa?” timpal Eril.


“Seperti kataku tadi, bahwa, kutukan itu seperti rasa empati manusia, yang pada dasarnya akan tertanam hingga keturunan kita selanjutnya, hanya saja... ada yang punya empati yang kuat dan ada empati yang lemah, begitu pun dengan kutukan, ada yang kena ada pula yang lolos, jadi untuk menghapusnya itu mustahil...” jelas Farka.


Maka teman-teman Farka kembali menundukkan pandangan lesu dan kuyu bahkan kecewa.


“Kita memang harus berpisah,” tegas Farka meyakinkan bahwa perpisahan adalah satu-satunya jalan terakhir.


“Aku... aku enggak mau...” kata Areny menunduk jengah menolak berpisah.


Areny benar-benar sudah muak dengan hidupnya, tepatnya kesalahannya karena tidak memahami Farka, ia tak mau menjauh lagi darinya, bagaimana pun perasaan cintanya lebih kuat ketimbang ketakutan pada kutukan itu.


“Kami akan bertahan ketua kelas!” timpal Sazan penuh keyakinan.


“Kalau Sazan sudah begitu... maka aku juga ikut bertahan!” sambung Eril dengan percaya diri.


“Hem,” Zeni mengangguk ikut bertahan.


Farka menilik satu persatu teman-temannya, berusaha mencari tahu seberapa yakin mereka untuk bertahan.


“Kalau kutukan itu benar, berarti kita sudah membunuh Sazan secara enggak langsung!” tegur Farka.


Semua teman Farka termakan omongan Farka yang memang ada benarnya juga, dan semua hanya bernapas pasrah dengan raut muka putus asa, namun Sazan tidak mau melihat teman-temannya kuyu hanya karena takut dengan kematiannya.


“AKU PASTI MATI!” sentak Sazan hingga semua teman-temannya memandang Sazan dengan kaget dan bimbang.


“Aku sudah muak dianggap umur pendek! Aku tidak mau jadi penghalang tugas ini bodoh...!” lanjut Sazan dengan bergigit geram.


“...saat aku tahu... bahwa aku diminta menulis autobiografiku, awalnya aku kurang suka, aku enggak suka menulis, itu membosankan, aku juga enggak suka membaca, itu lebih membosankan daripada menulis, tapi... aku senang mengetahui bahwa sebelum aku mati... aku sedang menulis sejarah, penting atau tidaknya... aku enggak peduli, toh... aku pasti mati... dan saat aku juga tahu bukuku ini dibuat untuk adik kelasku, aku bangga! Sangat bangga, karena tulisanku ternyata bisa menjadi motivasi bagi mereka, setidaknya kematianku meninggalkan bekas penting bagi generasi penerus kita...” imbuh Sazan.


Semua teman Sazan nampak merenungi ucapan Sazan dengan pandangan menunduk.


“...lagian juga... kita bukan teman yang akrab, jadi... kalau aku mati... itu memang karena penyakitku! Dan kalian akan kembali hidup normal,” tegas Sazan tak mau teman-temannya meratapi keadaan Sazan.


“Jadi... aku tetap bertahan, meski harus mati sekarang!” lanjutnya bersikukuh dengan lantang dan mantap.


Farka menelan ludahnya, berusaha menerima kenyataan di hadapannya, bahwa ia tak bisa menolak keinginan Sazan untuk bertahan, ditambah kini ia harus siap menerima kutukan itu. Sedangkan yang lainnya nampak mulai menerima keputusan Sazan.


“Sazan,” panggil Farka.


Sazan menatap mata hitam Farka dengan serius.


“Aku harap nanti kamu mati dengan tenang...” kata Farka blak-blakan.


Mendadak teman-teman Sazan pun langsung menatap Sazan dengan pandangan serius, mereka tahu Sazan pasti mati lebih dulu daripada mereka, oleh sebab itu, sebagai teman, mereka merasa harus membuat Sazan tetap ceria, yang pastinya mereka juga berempati, mereka pun tak mau pertemanan SMA mereka sia-sia belaka.


“Iya... terima kasih,” balas Sazan dengan tersenyum penuh syukur.


Sazan sendiri sebenarnya tak peduli juga, temannya mau berempati atau tidak, sebab ia tahu, bahwa, penyakit akan tetap membunuhnya meski ratusan orang kasihan padanya.


“Oke... jadi kita harus nangis-nangisan nih...?” tanya Areny mencoba membuat suasana cair.


Lalu semua terpaku tanpa suara tanpa gerak, suasana menjadi hening, mereka tidak tahu, harus berbuat apa lagi kali ini. Sepuluh detik kemudian, sekonyong-konyongnya Sazan meraih gitar akustik milik Farka.


“Sudah! Jangan banyak drama! Kita nyanyi!” ajak Sazan dengan antusias enggan untuk membuat teman-temannya terlarut dalam kesedihan.


Dan aura positif yang tiba-tiba muncul dari tubuh Sazan, telah menarik hati dan pikiran teman-temannya untuk tetap ceria, hingga semua teman Sazan mengangguk mengiakan dengan penuh semangat, mereka tetap bertahan meskipun kematian harus mereka tanggung. Dan hari itu dilalui Farka tak sendirian lagi, ia berkumpul bersama teman-temannya, bernyanyi dan makan-makan, hingga mereka merasa beban mereka telah menghilang. Yang akhirnya juga Areny kembali tinggal di rumah Farka.

__ADS_1


__ADS_2