Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
DATANG TIDAK BERJEMPUT PULANG TIDAK BERANTAR


__ADS_3

       Di hari Jum'at jam istirahat sekolah pukul 13:02 siang hari, tepat di kantin sekolah dengan nuansa rumah makan, yang memiliki 9 meja persegi panjang, Zeni tengah duduk sendirian menyantap hidangan siangnya, Zeni nampak lebih ceria hari ini, ia sama sekali tak terlihat murung, namun aura misterius masih memancar pekat, suasana kantin cukup ramai, di meja di depan Zeni, tiga laki-laki kelas 11, tengah membicarakan Zeni, tepatnya, tengah mengagumi Zeni dari jauh, mereka sama sekali tak terpengaruh dengan kejadian kemarin yang menimpa Zeni, bahkan kehidupan di sekolah ini lancar seperti biasanya seakan tak pernah terjadi apapun.


Zeni adalah wanita terpopuler nomor satu di sekolah ini, banyak pria yang menyukainya karena dia cantik penuh misteri, sedangkan laki-laki terpopuler di sekolah ini siapa lagi kalau bukan Fihan, sekarang saja dia sedang duduk di bangku meja makan dengan dikelilingi delapan wanita sekaligus, para pengagum itu dari kelas dua dan tiga, Eril yang duduk di depan Fihan merasa tersaingi terdiam pasrah didempet oleh dua wanita yang duduk seolah berusaha menyingkirkan Eril, meski Eril nampak kesusahan untuk makan, justru Fihan tetap cuek menyantap makan siangnya tanpa merasa terganggu.


“Fihan, minggu nanti jalan bareng yuk!” Ajak Nitia.


“Iya Fihan! Ayo jalan bareng!” Sambung Estilia gadis berambut cokelat bergelombang yang duduk di samping kanan Fihan.


“Iya Han!” Sambung Fikia gadis berambut hitam sepundak dengan poni berjurai rata di dahinya yang duduk di samping kiri Fihan.


Dengan susah payah Eril berusaha menyantap nasi gorengnya, ia kesulitan karena dua wanita pengagum Fihan terus mendepetnya, terkadang menyikut lengan Eril, sementara Fihan masih santai menyantap bubur kacang merahnya, dan mata hitamnya menatap Eril yang geram.


“Kak mau ya nanti jalan-jalan,” pinta Yuwi gadis kelas 11 bertubuh sintal berambut pirang dengan mata biru langit yang duduk di samping kanan Eril.


Fihan menegakkan badannya sambil mengembuskan napasnya, ia masih kalem dan dingin terdiam memandang Zeni yang duduk di meja di belakang punggung Eril. Ternyata tiga laki-laki kelas dua yang tadi hanya berani memandang Zeni dari jauh, kini mereka mulai berani untuk duduk di bangku depan Zeni.


“Kak Zeni, boleh ya kami temani,” kata Ilasa laki-laki kurus bermata belo dengan rambut pendek bergelombang dengan memohon.


Zeni mengangguk tanpa kata mengizinkan, ia masih menikmati hidangan roti isinya. Ketiga laki-laki itu duduk dengan wajah girangnya, mereka menikmati santapan mereka di meja yang sama, mereka bertiga sempat saling menatap untuk sekadar memastikan bahwa mereka cukup berani mendekati Zeni. Konyolnya ketiga adik kelas itu malah saling sikut menyikut memaksa agar mengajak Zeni bicara.


“Lasa cepat,” bisik Ejuda laki-laki berbadan tambun menyikut lengan kiri Ilasa.


“Ahk kau saja, tadi aku sudah,” balas Ilasa menunduk malu.


“Ahk pecundang kalian,” timpal Loth pria bermata sipit berkepala botak dengan berlagak.


Namun baru saja Loth membuka mulut, sekonyong-konyongnya terdengar suara teriakan pria yang tak asing lagi di sekolah. Seorang laki-laki cerewet, bawel, konyol, norak, dan menyebalkan, sampai seluruh gelar kebodohan ditanggung oleh laki-laki ini, dia adalah teman sekelas Zeni, seorang laki-laki kurus berwajah oriental, dengan rambut peraknya, ditambah kulitnya yang putih albino, Aqada laki-laki berpenampilan eksentrik, kemeja putihnya yang tak dikancing, celana panjang hitam sekolahnya yang diubah Cutbrai, rambut peraknya yang bermodel bulu landak, dia berdiri di atas meja kantin sambil tangan kanannya membimbit dua tangkai bunga Mawar merah yang dia angkat ke atas langit-langit penuh energik.


“ZEEENNNNIIIII ...!” Serunya hingga suaranya memenuhi ruangan.


Zeni serta ketiga adik kelas bahkan seluruh pengunjung di kantin ini seketika mengarahkan pandangan mata mereka pada Aqada.


“JADIKANLAH AKU SAHABATMU!” Teriak Aqada.


“Wah wah ...”


Ilasa, Ejuda, Loth ketiga adik kelas itu berdecak keheranan. Eril serta gadis-gadis pengagum Fihan menggeleng berdecak jijik. Sedangkan Zeni tertunduk malu dan gusar.


“Ingin sekali rasanya aku berkata kasar dan meninju wajahnya,” bisik batin Zeni dengan geram.


“ZENI IZINKAN AKU MEMBACAKAN PU ...” ucapannya belum selesai.


“TURUN ANAK NAKAL! TURUN!” Teriak ibu kantin wanita berumur 36 tahun berbadan kurus dengan rambut hitam yang dikucir ke samping kiri.


Ibu kantin datang sembari membawa garpu, ia berusaha menojos-nojoskan pada kaki Aqada agar ia turun dari meja, sontak kejadian konyol itu menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung tapi tak ada yang tertawa karena tak memiliki kesan humor. Aqada melompat-lompat menghindari serangan mendadak dari ibu kantin.

__ADS_1


“Eh Bu! Bu!”


“Turun! Kakimu mengotori meja!” Desak ibu kantin.


Maka Aqada melompat turun ke lantai mendarat dengan dua kaki, berlari menghampiri Zeni. Sang ibu kantin mengelap meja dengan lap yang telah tersedia di atas meja tanpa mengejar Aqada. Saat Aqada telah berdiri di samping meja Zeni dia menaruh bunga Mawar-nya di hadapan Zeni. Perhatian ketiga laki-laki adik kelas Aqada langsung tertuju pada bunga Mawar, namun Zeni duduk tegap sambil bersedekap menyilangkan tangan memalingkan wajahnya dari Aqada.


“Zeni, terimalah Mawar itu, sebagai tanda persahabatan kita, jika tidak, aku akan terlihat bodoh,” pinta Aqada blak-blakan.


Zeni masih bersikap dingin tak peduli, ia tetap memperlihatkan sikap jual mahalnya. Sekonyong-konyongnya Aqada berlutut dengan satu lutut ditambah bernamaskara di samping Zeni, memasang raut muka serius berusaha terlihat keren namun justru terlihat konyol dan memalukan.


“Zeni, aku telah menerimamu apa adanya, jadi, apakah kau mau menerimaku apa adanya,” tutur Aqada penuh harap dan tetap terlihat norak.


“Tidak!” Ketus Zeni.


“Saya mohon untuk dipertimbangkan lagi, mungkin ada yang salah dengan otak Anda,” sindir Aqada dengan menunduk penuh harap.


“Sialan kau!” Balas Zeni.


Maka Zeni bangkit berdiri, tapi, Aqada tak menyerah begitu saja, dia ikut bangkit berdiri, dan seluruh pandangan ketiga adik kelas terfokus pada drama memalukan yang terpampang di depan mereka. Aqada berdiri di hadapan Zeni menghadang jalan yang hendak dilalui Zeni untuk kabur.


“Jangan melarikan diri dari pria tampan sepertiku, kamu bisa anemia nanti,” kelakar Aqada.


Zeni yang sangat terganggu oleh sikap bodoh Aqada, ia enggan memandang wajah mulus Aqada, fokus pandangannya justru terarah langsung pada Farka yang tengah melangkah bersama Areny ke dalam kantin, mereka baru datang sambil tertawa, entah mereka tengah membicarakan apa. Tapi saat Farka masuk, beberapa adik kelas menghampiri mereka menawarkan untuk meneraktir mereka di kantin.


Zeni terdiam cuek, memalingkan muka dengan jijik, namun justru, sikap angkuh serta dinginnya telah menarik minat Aqada untuk terus berjuang menggapai hati Zeni.


”Kau tahu, dulu ada cerita tentang gadis sombong dan pendiam yang mati karena jatuh cinta pada laki-laki yang dulu dibencinya?“ Kata Aqada cari perhatian.


Zeni masih terdiam membisu, ia bersedekap menyilangkan tangan tak peduli, tak ada senyuman atau bahkan tak ada tatapan, Zeni memang tak pernah memberikan senyuman pada orang-orang di sekitarnya hingga terkesan angkuh.


”Oh, atau kau tahu, tentang kisah gadis angkuh dan kasar yang selalu menyiksa seekor anjing milik tetangganya sampai tewas hanya karena gadis itu benci dengan anjing, lalu saat dia menikah, suaminya malah memiliki perilaku layaknya anjing? Tahu kan?“ Lanjut Aqada tak menyerah.


Zeni masih diam tak peduli.


”Atau kau mau aku beri cerita-cerita melodrama lain yang mungkin bisa saja tiba-tiba kamu jatuh cinta padaku,“ imbuh Aqada serius.


Mendadak sorot mata dingin Zeni akhirnya terarah pada kedua netra cokelat Aqada, mata Zeni sempat mengilap memberi kesan akan ada kalimat pedas yang terlontar dari mulutnya.


”Aku bukan bocah, dan aku tak mau mendengar dongengmu,“ ketusnya.


Lantas pandangan matanya kembali tertuju pada Farka serta Areny yang nampak sangat akrab, mereka duduk berdua di bangku meja makan layaknya awan dan air yang jika satu hilang maka tak terjadi hujan. Sebenarnya Zeni memikirkan hal yang harusnya terjadi hari ini, ia yakin bahwa Farka kembali membungkam murid-murid agar tak menyebarkan gosip tentang Zeni, bahkan tak ada pembicaraan mengenai Zeni yang hampir bunuh diri, namun entah bagaimana Farka membungkamnya yang jelas semua masalah seakan tertelan bumi.


Farka ketua kelas yang sebenarnya termasuk juga laki-laki paling populer di sekolah, pesaing berat Fihan, bedanya Fihan populer karena dia pintar dan tampan, sementara Farka, populer karena suka menolong sekaligus perhatian, jika Fihan disukai para gadis maka Farka disukai oleh seluruh manusia, tapi pada dasarnya sekolah ini hanya memiliki murid yang sedikit, jadi populer atau tidak, itu tak menjadi topik utama di sekolah, meskipun tetap saja status kepopuleritasan berpengaruh pesat di sekolah, bahkan di sekolah tetangga yang tak jauh dari sekolah SMA Liliy Kasih ini, sekitar 400 meter terdapat SMA Pekerti yang memiliki jumlah murid yang lebih banyak, hanya saja SMA Lily Kasih-lah sekolah yang paling populer. Penyebab sekolah ini populer bukan lain, dikarenakan murid di sini kompak, pemenang lomba, ditambah kasus-kasus murid yang beragam adanya, ada yang sekolah hanya sebulan sekali, ada yang menikahi gurunya, hingga ada yang menginap di sekolah selama dua tahun, murid di sini tak diberi aturan ketat, mereka boleh mengekspresikan diri sesuka mereka, namun tetap, tak boleh ada narkoba, miras dan sex bebas, selama di sekolah Farka pernah memergoki seorang guru tengah menjual narkoba pada murid-murid namun untungnya ia berhasil melaporkannya pada pihak yang berwajib, dan karena kejadian itulah, murid-murid mulai berani melanggar peraturan sekolah, tapi, untuk hari ini semua peraturan masih aman tanpa ada yang melanggarnya, atau mungkin tidak ketahuan melanggar.


Faktanya, hanya terdapat empat pengajar di sekolah ini, kepala sekolah di sini seorang wanita tua berusia 102 tahun, terkadang Farka bingung bagaimana bisa tangan rentanya masih begitu kuat untuk membuat lingkaran sempurna di papan tulis, bicara saja seperti kucing kejepit, sementara usia para guru jelas di bawah kepala sekolah.

__ADS_1


”Zeni, kau itu bersikap layaknya patung dalam sumur, jadi aku selalu terpikat dengan sisi misteriusmu, nah, jadi ayo kita bersahabat,“ desak Aqada.


Lagi-lagi Zeni membuang muka tak peduli, raut mukanya sangat cuek, dan sorot mata bulatnya masih memancarkan daya tarik yang kuat.


”Oh! Aku tahu! Kau suka pria yang humoris kan?“ Sangka Aqada.


”Hah, sayangnya aku bukan pria humoris, tapi tenang! Aku akan membuatmu selalu gembira dan penuh semangat!“ Lanjutnya penuh energik.


”Perkataanmu dan sikapmu sangat menjijikan!“ Hardik Zeni dengan mendorong bahu kanan Aqada hingga Aqada terpaksa memberi jalan untuk Zeni.


Zeni melangkah pergi dengan kesal. Aqada pun hanya sanggup memandang tak gentar kepergian Zeni.


”AKAN AKU LAKUKAN APAPUN UNTUKMU ZENI...!“ Teriak Aqada hingga suaranya terdengar keseluruh pengunjung.


Farka dan Areny yang duduk di bangku dekat pintu masuk sampai menyempatkan waktu untuk memandang tingkah konyol Aqada. Secara cepat Aqada memutar tubuhnya ke arah tiga laki-laki adik kelasnya.


”Adik-adik ambil saja bunga Mawar itu,“ ungkapnya.


Ilasa, Loth, Ejuda mengangguk serentak dengan ekspresi kikuk. Lantas Aqada berlari menuju pintu keluar laksana mengejar seorang copet. Zeni berjalan cepat meninggalkan kantin, namun kecepatan Aqada mampu mendekati Zeni bahkan ia berhasil mengimbangi langkah Zeni, Aqada nyerocos mengungkapkan seluruh perasaannya pada Zeni, yang tentunya Zeni tetap melangkah menganggap Aqada laki-laki norak itu tak pernah ada. Sementara di meja Fihan, hidangan siang telah habis, sehingga para gadis mulai pergi.


”Dadah Fihan ...“ pamit Nitia.


”Kami ke kelas dulu ya,“ sambung Estilia.


Beberapa gadis-gadis itu mengucapkan salam perpisahannya, sementara gadis lainnya hanya sanggup tersenyum kagum pada Fihan sambil melangkah pergi. Tapi Fihan bersikap dingin, ia fokus pada ponselnya tanpa menatap gadis-gadis itu bahkan tanpa ada senyuman, tanpa ada kata-kata dan tak peduli.


Sedangkan Eril, sang gadis yang paling setia layaknya bulan yang selalu di sisi bumi, ia memasang raut muka senderut, penyebabnya tidak lain, karena Fihan sangatlah cuek, acuh tak acuh, mungkin laki-laki ganteng itu tetap masa bodoh jika Eril memakan pasir. Padahal Eril ingin sekali mendengar suara Fihan yang menaruh perhatian pada Eril, jika Eril mengajaknya berbincang, sudah pasti Fihan hanya berbicara sedikit sekali, bahkan tak ada yang menarik dalam pembicaraan Fihan, dia membosankan dan menyebalkan.


”He Fihan!“ Seru Eril dengan kedua tangan ditumpukan di atas meja.


Fihan tetap fokus pada ponselnya, ia tak mengindahkan panggilan Eril.


”He Fihan! Jawab dong!“ Desak Eril.


Kini Eril berusaha mengorek sisi perhatian Fihan, apa mungkin Fihan sedingin ini?


”Apa kamu suka dikelilingi gadis-gadis norak seperti tadi?!“ Usut Eril dengan serius.


Sekonyong-konyongnya Fihan bangkit berdiri sekaligus memasukan ponselnya ke dalam saku celananya sambil tangan kirinya menyelip ke saku celananya, ia bersikap kalem, namun tak ada balasan apapun darinya. Sontak Eril ikut bangkit dari bangku.


”Fihan jawab dong! Sombong banget sih!“ Sergah Eril.


”Apakah penting menjawab pertanyaan yang tidak penting?“ Sindir Fihan sambil memandang Eril dengan cuek.


Lantas Fihan melenggang pergi dengan santai, maka secara refleks, Eril buru-buru mengejar Fihan demi bisa tetap di sisinya. Meskipun Fihan tampak bersikap kasar, hati Eril tetap saja selalu luluh oleh suaranya, ya, suaranya yang menurut Eril sangat laki-laki, dan meski tak ada perbincangan, Eril tetap bisa menerimanya, karena memang Fihan itu adalah laki-laki pendiam, benar, pendiam nan congkak.

__ADS_1


__ADS_2