
Di pukul 14:57 di hotel Gugur, hotel bintang dua, Fihan dan Areny telah berdiri di depan pintu masuk hotel, memandang anak tangga yang begitu bersih, selain itu, di depan pintu masuk telah berdiri empat orang berbadan kekar lengkap dengan setelan formalnya, mobil sedan Hadra sudah diparkirkan oleh petugas hotel.
“Ayo,” ajak Hadra yang berjalan meniti anak tangga.
Tanpa ragu Fihan pun mulai meniti anak tangga, mengikuti Hadra, semantara Eril nampak begitu gugup, ia melangkah di samping kanan Fihan dengan jari jemari tangan kirinya yang mencubit lengan jas Fihan karena gugup, setiap kali Eril mencubit lengan jas Fihan, Fihan akan buru-buru menepis tangan Eril. Kini mereka sudah melewati penjagaan, bahkan sudah masuk ke dalam hotel. Suasana hotel cukup ramai, beberapa orang dewasa tampak berbincang-bincang di lobi hotel, setelan mereka sama rapinya dengan Fihan. Hadra juga penampilannya masih sama rapi nan wangi seperti awal bertemu. Mereka kini melangkah lebih masuk ke dalam hotel, menuju sebuah pintu besi dengan dua penjaga yang berdiri sigap di samping pintu. Eril masih dalam kegugupan dengan mengaitkan kedua tangan ke belakang. Setelah Hadra menunjukkan kartu identitasnya, seorang penjaga pria membuka pintu mempersilakan untuk mereka masuk ke dalam. Tak disangka, di dalam ruangan sebesar aula ini telah dipadati oleh manusia-manusia dewasa, tak lupa terdapat panggung, serta meja bundar yang tertata rapi di sini, semua manusia berpenampilan rapi, wangi dan elegan, satu hal yang pasti, di sini cukup berisik, bahkan suara merdu sang penyanyi terdengar saru. Tapi Fihan tahu, penyanyi perempuan itu tengah menyanyikan lagu band The Automatic berjudul Monster. Fihan serta Eril terus melangkah menuju ke arah panggung mengikuti Hadra, mereka menyelinap lewat sisi dinding. Memang agak sulit untuk berjalan karena banyaknya orang yang hadir, Eril sendiri tidak tahu ini acara apa, yang jelas dia akan mendapat pekerjaan dari para pejabat. Tiba-tiba saat mereka sudah sangat dekat dengan panggung, mereka dihentikan oleh laki-laki berbadan bedegap, rupanya dia seorang pengawal, atau mungkin seorang ajudan. Namun syukurnya mereka boleh lewat, karena Hadra menunjukkan kartu identitasnya.
Tepat di meja kaca berbentuk oval dengan empat sofa warna merah yang mengelilingi meja, telah duduk seorang pria berumur 41 tahun, pria terhormat di kota Artana, pria nomor satu di kota ini, dia Aseda, seorang wali kota dengan pembawaan yang tenang layaknya air danau, tapi dia bukan seorang yang idealis.
Fihan, Eril serta Hadra telah berdiri di depan sang wali kota sambil menunduk penuh hormat, tapi tidak ada jabat tangan.
“A-Anda... bapak wali kota kan?” tanya Eril dengan gugup tercengang-cengang.
Aseda sang wali kota tak bicara, hanya mengangguk dengan mantap sambil tersenyuman simpul menegaskan benarnya ucapan Eril.
“Waaaaah... beruntungnya aku,” gumam Eril dengan bangga.
Aseda pria yang memiliki badan tegap, garis kerut di keningnya menyiratkan pikirannya yang pelik, dengan mata sipit hingga iris hitamnya nampak seperti sebuah bercak pena, rambut hitam pendeknya yang klimis membingkai dengan kokoh wajah berbentuk perseginya, dia memiliki kulit seputih kertas berminyak, meski usianya terbilang tua, namun dia cukup tampan, tapi tak setampan Guru Ganza, dia juga berwibawa nan berkarisma, ramah pada setiap orang, tinggi badannya hanya sealis Hadra, penampilannya juga sangat rapi, dengan setelan formal, kemeja lengan panjang yang dilipat bagian lengannya sampai rambut-rambut halus di punggung tangannya nampak kentara, agak konyol kala Eril mengira Wali Kota Aseda adalah kakak kandung dari Hadra, sebab mereka agak mirip. Aseda duduk tegap sembari bersedekap menyilang, memandang Hadra dengan senyuman penuh makna. Tapi tiba-tiba, tangan kanannya menunjuk Eril.
“Ganti dulu pakaianmu,” pinta Aseda dengan suaranya yang dalam dan terdengar berwibawa.
Eril mengangkat alisnya dengan kaget, mendadak, salah satu perempuan berseragam nuansa putih yang berdiri di belakang Eril, maju mendekat, hingga berdiri di samping Eril, mengajak untuk mengganti pakaian, Eril sempat menoleh pada Fihan untuk memastikan apa yang harus dilakukan, namun Fihan hanya berdiri dengan cuek memandang wali kota, maka Eril pasrah dibawa untuk mengganti penampilannya.
Eril tiba di sebuah ruangan yang sebenarnya ini adalah kamar, dan pelayan hotel itu membuka sebuah lemari besar.
“Pilih saja pakaian yang Anda suka, dan taruh seragam Anda di kasur, nanti saya akan kemas,” ujar pelayan hotel.
Eril mengangguk mengiakan, ia melangkah ke depan mencari pakaian yang cocok dengannya.
“Saya tunggu di luar,” pamit sang pelayan lalu pergi keluar kamar.
Kini hanya Eril di kamar bernuansa emas itu sendirian, memilih baju.
“Ini sih percuma saja, orang aku belum mandi...” gumam Eril sambil berpikir mencari ide.
Lalu sebuah ide muncul, sembari memandang sebuah pintu di ujung kamar yang sepertinya kamar mandi.
Fihan dan Hadra telah duduk di sofa di depan Aseda, tak ada orang lagi yang duduk di sofa, tak lupa empat gelas kopi panas telah tersaji manis di atas meja, namun di sisi kiri sofa terdapat tiga pelayan wanita yang berdiri penuh kesiapan bila sewaktu-waktu dipanggil Aseda, semua orang di sini nampak sibuk dengan perbincangan mereka.
“Nanti kalau bisnis ini lancar, kau ambil saja semua bagian bapak, ya...” ungkap Aseda dengan lugas.
Fihan hanya mengangguk dengan mantap, bisa berbincang atau bertemu dengan wali kota Artana, sama sekali tak membuat Fihan bangga atau pun senang, ia tetap saja dingin tak peduli, karena baginya memang tak ada yang istimewa dari Aseda, Fihan tahu bahwa Aseda adalah lawan politik sang ayah, bahkan mereka sempat berseteru demi mendapat jatah kursi di parlemen, dan konyolnya adalah mereka malah ujungnya berteman, hingga berhasil mendapat jabatan di kota Artana, Aseda sebagai wakil wali kota sedangkan Ayah Fihan sebagai wali kota. Sang ayah hanya menjabat selama tiga tahun yang harusnya bisa menjabat sampai tujuh tahun, lalu Aseda meneruskan perjuangan ayah Fihan, sampai kini ia terpilih lagi menjadi wali kota. Kebijakan dari Aseda serta ayah Fihan membuat rakyat memilih mereka, meskipun sebenarnya itu hanyalah kelicikan mereka saja, Hadra menyebutnya sebagai 'permainan politik' sehingga rakyat merasa beruntung telah memilih mereka, padahal rakyat telah ditipu. ada satu pesan penting yang Fihan ingat dari sang ayah, tapi, Fihan sendiri tidak tahu maksudnya.
“Pak Aseda,” panggil Fihan dengan menatap mata sipit Aseda.
__ADS_1
Wali kota pun langsung memusatkan perhatiannya pada Fihan.
“Apa Anda tahu maksud dari kalimat ayah saya, yang mengatakan... 'tak perlu berjanji di hadapan rakyat, cukup hukum para pencuri di depan mereka dengan wajah serius, maka hati rakyat bisa kamu raih'?” usut Fihan.
Sekonyong-konyongnya, Aseda malah terkekeh tertawa.
“HEHEHEHE...”
“Haaah... kalimat itu yang membuat saya mau mengikuti ayahmu....” ungkap Aseda dengan mendongak mengingat kembali masa-masanya bersama ayah Fihan.
“Ayahmu sangat cerdas, licik, bermuka dua tapi, aku bersyukur berteman dengannya....” lanjut Aseda dengan memandang Fihan penuh syukur.
“Dan katanya juga, bahwa politik itu seperti roda kehidupan, jadi, kebijakan pertama akan berkembang mengganti kebijakan yang lama, kecuali kebijakan itu punya dasar yang kuat dari zaman ke zaman, atau sudah terbukti kemutlakannya, jadi, kamu menangkap pencuri yang sebenarnya pencuri itu adalah orang-orangmu sendiri, tapi orang-orangmu adalah teman-teman lawan politikmu, dan teman lawan politikmu melihat orang-orangmu sebagai lawan,” imbuhnya dengan tegas nan lugas.
“Kamu paham tidak maksudnya?” tanya Aseda memastikan.
Fihan terdiam merenungi penjelasan Aseda.
”Dan cara tadi mungkin tidak akan berfungsi sempurna untuk zamanmu... karena rakyat mulai pintar.“ ungkap Aseda.
Fihan masih merenung, dia masih tidak mengerti penjelasan Wali Kota Aseda.
”Rakyat mengira kota ini sejahtera, padahal, si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin,“ tambah Aseda blak-blakan.
”Mungkin saat ini kamu tidak tertarik untuk menjadi wali kota, atau sejenis dengan jabatan, tapi, dikemudian hari kamu bisa sangat ingin, dan sebaiknya kamu fokus saja dulu bersekolah,“ pesannya dengan santai namun tetap terlihat berwibawa.
”Aku cantik kan?“ tanya Eril sambil memandang Fihan.
”Hem, mirip Cinderella,“ jawab Fihan memalingkan muka.
”Wah yang benar Fihan?“ tanya lagi Eril memastikan dengan antusias.
”Maksudnya kayak pengantar kereta kudanya yang kakinya empat,“ jelas Fihan berkelakar.
”Eh...? Itu mah kudanya!“
”Hehehehe... kamu ini...“ gumam Wali Kota Aseda terkekeh.
Eril pun dengan kesalnya memukul pundak kanan Fihan yang nyatanya seperti menepuk.
”Ayo, silakan duduk,“ kata Wali Kota Aseda mempersilakan.
Maka Eril pun duduk di samping Fihan dengan senderut, dia masih kesal dengan candaan Fihan, padahal Eril sudah capek-capek berdandan bahkan sampai harus mandi, namun malah dianggap seperti kuda. Dan tentunya, Fihan tetap cuek duduk dengan santai. Kini, Hadra, Fihan serta Eril telah duduk siap menerima perintah dari sang wali kota.
__ADS_1
”Sebenarnya acaranya akan dimulai sejam lagi...“ ujar Aseda.
”Maaf Pak, kalau boleh tahu ini acara apa?“ selidik Eril.
”Hanya konsolidasi, sekaligus mengembangkan bisnis baru,“ jawab Aseda dengan lugas nan mantap.
Eril mengangguk-angguk mengiakan.
”Oh iya, kamu itu Eril kan?“ tanya Aseda memastikan.
”Iya Pak,“ balas Eril membenarkan.
Aseda tak bicara lagi, anggapannya benar dan hanya mengangguk-angguk. Kegugupan Eril mulai hilang, penyebabnya mungkin karena dia sudah mandi, berdandan, yang tentunya wangi, sementara Fihan sedari tadi pun tak ada rasa gugup, jiwanya selalu siap menghadapi apapun, sekalipun itu adalah presiden. Selama mereka menunggu acara dimulai, perbincangan-perbincangan kecil sempat berlangsung, seperti membicarakan wakil Aseda yang belum datang, pengalaman-pengalaman unik selama Aseda menjabat, serta petuah-petuah penting yang menjadi penutup perbincangan. Acara segera dimulai, semua orang bersiap di posisinya masing, jumlah tamu yang hadir sekitar tiga ratus orang lebih, semua yang hadir adalah anggota parlemen, atau para pejabat tinggi, Wali Kota Aseda pun di arahkan pada meja khusus di depan panggu, dia duduk bersama wakilnya, yaitu, pria tambun berusia 43 tahun, bernama Rodin. Sementara Hadra, Fihan serta Eril juga diarahkan pada meja khusus, mereka duduk di kursi tepat di samping kanan meja wali kota. Kini seluruh pandangan terarah langsung pada panggung. Maka seorang pembawa acara wanita muncul dari atas panggung, memberi sambutan yang menegaskan bahwa acara sudah dimulai.
Tepat pukul 21:01 malam hari cerah nan berbintang, dengan silir-semilir angin yang berembus pelan, di pusat kota Artana ini, jam-jam malam seperti ini adalah jam pulang bekerja, sehingga jalan raya cukup padat oleh kendaraan roda dua hingga roda empat. Beberapa jam telah dilalui untuk memulai berbisnis dengan wali kota, kini Eril dan Fihan, tengah di dalam mobil Hadra untuk pulang.
”Aku kira bisnis apa ternyata, cuman mengurus toko barang elektronik,“ ungkap Eril penuh kelegaan sambil membuka ikat rambutnya lalu mengibas-ngibas rambut hitam panjangnya.
Fihan langsung beringsut karena terganggu oleh tindakan Eril.
”Sudah begitu, baju mahal ini jadi punyaku lagi.... waaah senangnya...“ kata Eril sambil mengagumi pakaiannya.
Sedangkan Fihan hanya duduk bersandar, memandang ke depan, ia kelelahan dan ingin segera tidur, namun pikirannya masih berkutat pada jati dirinya, langkah kedua ini memang unik, demi sebuah tujuannya dia rela mengorbankan apapun, tak disangka matanya mulai berat, ia benar-benar mengantuk, suara-suara mulai terdengar samar. Mendadak, Fihan terlonjak kaget kala seseorang menepuk pundak kanannya.
”Wahahaha... kamu ngantuk ya?“ tanya Eril sambil membuka pintu mobil.
”Sudah sampai,“ lanjutnya turun dari mobil sambil menjinjing tas belanja yang berisi seragam Eril.
Fihan mengucek matanya, hingga ia menguap. Eril buru-buru berlari menuju rumah Fihan, ia membuka pintu sambil mengucap salam, namun setelah ia mengambil tas gendongnya, ia kembali menuju mobil, dan Eril sempat berpapasan dengan Fihan.
”Dadah Fihan...“ pamit Eril dengan tersenyum sembari berlari menuju mobil.
Fihan tak menjawab, ia cuek, bukan karena ngantuk, tapi memang karena tidak peduli. Fihan masuk ke dalam rumah, sambil mengucap salam, lalu pintu ditutup. Eril pun telah berada di dalam mobil, tak lupa menutup pintu mobil, Hadra kembali menginjak pedal gas, mengantar Eril menuju rumah orang tuanya.
”Asyik nih... besok tanggal merah...“ gumam Eril dengan senang sembari memeriksa ponsel pintarnya.
”Nanti pulang, kamu katakan pada orang tuamu, kalau kamu sudah bertemu dengan wali kota, ditambah kamu dapat pekerjaan dari wali kota langsung,“ saran Hadra.
”Oooh... memangnya kenapa harus diberi tahu?“ usut Eril sambil memandang telinga kiri Hadra.
”Mereka akan senang dan bangga padamu,“ jawab Hadra dengan yakin dan senyuman simpul mengembang di wajah kakunya.
”Hmmmm... begitu ya...“ kata Eril mengangguk-angguk pelan dengan merenungi perkataan Hadra.
__ADS_1
”Iya... bapak kan orang tua juga... jadi bapak merasakan itu,“ jelas Hadra dengan pasti.
”Hem, iya juga sih... papa mama pasti kaget mendengarnya...“ balas Eril setuju dengan antusias.