
Rabu pukul 06:00 pagi hari, kala cerahnya mentari terhalang oleh gerombolan awan kelabu yang mencurahkan hujan deras di kompleks Hanataba yang kering ini, seorang gadis muda tengah melangkah sendiri dalam hati senak, rintikan hujan telah membasahi seluruh tubuh padatnya, betapa pilu setiap langkah kaki yang ia tapaki demi tetap bertahan hidup, dalam pikirannya hanya ada bayang-bayang binar netra sang dambaan hati yang mati dalam letupan senjata api, dan semakin pilu kala kenyataannya pria yang dia bunuh adalah orang yang akan menikahinya, hingga rintikan hujan seolah menjadi gambaran hati hancur sang gadis, setiap tetes hujan yang terjatuh di kota Artana ini layaknya jumlah air mata yang jatuh dari sudut mata gadis muda itu.
Mengapa ia yang harus mengalami nasib buruk ini? Mengapa kematian orang yang paling dicintai begitu menyakitkan? Mengapa sulitnya menerima kenyataan pahit?
Gadis lemah itu berjalan dengan lesu sambil menjinjing tas gendong sekolahnya, tulangnya, napasnya, darahnya, dan kulitnya terasa demam, kini dia mulai berpikir untuk melenyapkan pula nyawanya sendiri, betapa tidak, bukankah akan lebih baik jika mati demi sang yang dicinta? Bukankah lebih baik mati bila hidup sudah kehilangan arti?
Eril gadis biasa-biasa saja itu, kini telah tiba di depan pintu rumah Farka, dan setiap rumah yang tadi ia lewati, terasa seperti kekosongan bumi belaka. Tujuannya kemari hanyalah, ingin memberikan autobiografinya sekaligus berpamitan.
'TOK TOK TOK TOK'
Eril menunggu pintu terbuka, maka semenit setelah suara ketukan pintu bergema, syukurnya suara rintikan hujan tak menenggelamkan suara ketukan pintu hingga pintu pun dibuka. Eril disambut dengan senyuman selamat datang oleh Areny, bahkan Eril dipersilakan masuk ke dalam.
Agak kaget kala Areny dan Farka melihat Eril basah kuyup, membuat mereka meminta Eril untuk mengganti pakaian, maka tanpa ragu Eril mengganti pakaiannya dengan pakaian Areny, gaun berwarna biru dengan rok lurus, layaknya gaun yang sama seperti pertemuannya dengan wali kota Artana, betapa manisnya kenangan itu saat bayang-bayang netra hitam Fihan terarah hanya pada Eril.
“Ada apa Eril?” Tanya Areny dengan raut muka serius.
Mereka kini tengah duduk di atas karpet ruang tengah, Farka dan Areny masih mengenakan pakaian main seperti kemarin, tapi kebahagian terpancar kentara dari sorot mata mereka dan agak meredup kala melihat raut muka kuyu Eril.
“A-aku sudah membunuh Fihan,” lirih Eril tertunduk menyesal.
“Ha?!” Areny dan Farka kaget serentak.
Sebuah pengakuan yang sukar dipercaya, apa lagi Areny dan Farka telah percaya bahwa Eril begitu dekat dengan Fihan, hampir-hampir mereka seperti telah mengikat janji sehidup semati untuk selalu bersama.
Mendadak rasa sakit kenyataan, kembali menyeruak dari dalam jiwanya, mengalir lewat darahnya, dan mewujud menjadi isak tangis.
“Hennnnng hiks hiks ...”
Eril tak sanggup membendung perasaan sakitnya, ia kembali menangis sesenggukan dengan tertunduk penuh dosa.
Maka Areny si gadis beraura positif mendadak menatap wajah berkarismatik Farka, menyiratkan pertanyaan apakah Farka percaya pada Eril? Atau resepon apa yang harus Areny berikan?
Di sana, raut muka Farka berubah serius, sorot matanya menyiratkan kebencian dan kebingungan yang menyatu menjadi keraguan, bagaimana tidak, mustahil seorang pecinta membunuh yang dicinta, tapi Farka percaya pada pengakuan Eril, Areny langsung percaya karena Farka percaya.
“Coba jelaskan,” pinta Farka benci pada perbuatan Eril namun bingung mengapa Eril bertindak begitu.
Terasa menyakitkan kala setiap kata yang terucap adalah detik-detik perjalanan kematian sang pujaan hatinya, Eril menangis tersedu-sedu menegaskan tidak siapnya ia nenerima kenyataan pahit ini. Farka mengeleng-gelengkan kepala tak menyangka, namun Areny tertunduk bersedih, ia berempati dengan kejadian Eril, ia pun pasti akan jauh lebih sedih jika ia berada di posisi Eril. Semenit penuh mereka terdiam menunduk berduka cita, Eril tak lelah menangis dan menangis.
“Apa ada yang tahu kasus ini?” Usut Farka.
__ADS_1
“Hiks hiks, cepat atau lambat kota ini akan segera tahu,” tutur Eril tersedu-sedu menyiratkan bahwa belum ada yang tahu.
Setiap tetesan air mata jatuh ke rok gaun Eril, maka Areny meraih kotak tisu yang disodorkan untuk Eril, jelas Eril memanfaatkannya demi mengelap air matanya, berharap tangisannya tak mengotori rumah Farka. Farka mengangguk paham, namun belum mengungkapkan pendapatnya atau sekadar berkomentar, Farka paham betul apa yang kini tengah dirasakan oleh Eril, jadi Farka memberi isyarat tangan pada Areny untuk memeluk Eril, kedua alis Areny sempat terangkat karena dia heran mengapa harus dirinya yang memeluk Eril?
Syukurnya setelah bertanya pada dirinya sendiri, dan paham maksud Farka, maka Areny langsung memeluk Eril tanpa ragu, kedua tangan lembutnya pun sempat mengelus punggung Eril agar jiwa Eril bisa lebih tenang, semenit penuh Eril terdiam pasrah tubuh lemasnya dipeluk oleh si gadis ceria beraura positif, tangisan tetap menyertai Eril meski kini Areny kembali duduk ke posisi semula, memang pelukan itu agak sedikit meralaksasi tubuh Eril, mungkin karena pelukan memberi rasa tenang atau memang meningkatnya senyawa serotonin serta endorfin pada diri Eril, hingga membuatnya kini mulai menyanggupkan diri untuk berhenti menangis, ia juga tahu, bahwa matanya sembap, karena bagaimana pun hanya menangislah satu-satunya cara untuk meluapkan emosi kala kenyataan pahit tak pernah bisa diubah.
Bersamaan dengan senguk-sengaknya Eril, ia meraih tasnya di sampingnya, ia mengambil sesuatu yang penting dari dalam tas, dua buku tulis, yang akhirnya kini ia berikan pada Farka sebagai kado perpisahan. Napas Farka tertahan sejenak kala iris hitamnya di hadapkan pada dua buku harian Eril dan buku harian Fihan.
“Autobiografiku dan autobiografi Fihan, jadikan buku perpisahan SMA kita ...” jelas Eril tanpa senyuman tapi sangat berharap tulisannya bisa memberi kesan baik bagi para pembacanya.
Areny dan Farka memandang kedua buku temannya, cukup menyedihkan kala nyatanya buku itu dari teman yang akan pergi bahkan sudah pergi jauh. Tapi, Farka sempat tertunduk, merenung begitu dalam, batin serta pikirannya kembali mengingat hal terpenting dalam perjalanan autobiografinya, tentang kutukan yang kini memberi bukti nyata, dan betapa menyesalnya Farka bahwa ia gagal menjauhkan teman-temannya dalam kutukan ini.
“Maafkan aku Eril ... ini semua salahku ...” sesal Farka yang tiba-tiba menyalahkan dirinya sendiri berubah murung penuh penyesalan.
Jelas Areny dan Eril terperangah kaget, mereka belum tahu mengapa Farka menyalahkan dirinya sendiri.
“... seandainya aku menjauhi kalian ... kutukan ini pasti tak terjadi ...” lanjutnya tertunduk menyesal.
“Farka ...” lirih Areny yang merasa iba tapi hatinya membantah bahwa ini bukan kesalahan Farka.
“Ketua, aku senang kamu menyesal, hiks ... tapi ... ini pun kesalahanku juga ... jadi ... aku hanya minta ... ketua pastikan buku kami benar-benar dibaca oleh adik-adik kelas kita ...” kata Eril dengan serius penuh harap tanpa muluk-muluk.
“Aku pastikan adik-adik kelas kita membaca autobioagrafi kita! Hem! Aku berjanji!” Ujar Farka dengan penekanan disetiap kata ditambah sebuah anggukkan mantap sebagai tanda tak ada yang mampu menghentikannya.
“Farka ...” panggil Eril dengan lirih dan masam.
Maka Farka menatap lekat-lekat netra hitam bulat Eril dengan serius.
“... apakah guru-guru di SMA kita gagal dalam mendidik murid-muridnya?” Tanya Eril menguji pemahaman Farka tapi lebih menjurus pada mencari pendapat.
Sebuah pertanyaan penting yang diajukan Eril pada Farka, dan Farka meresponnya dengan penting juga, sebab dia paham arah pertanyaan Eril, kecuali Areny yang tak paham.
“Eh? Guru-guru kita sudah berkompeten, jangan menyalahkan guru-guru ...” tegur Areny tanpa ragu.
Tapi, Eril hanya ingin jawaban dari Farka, sehingga jawaban Areny hanyalah dianggap angin lalu bahkan, tak sedetik pun ia memandang wajah manis Areny. Farka menunduk merenung, ia tahu persis Eril mencari jawaban yang bisa mewakilkan pemikiran Fihan, atau setidaknya, menghentikan dendamnya pada para guru karena guru-guru di sekolahannya selalu memarahi Fihan, meski memang salah, Eril menyalahkan orang lain, tapi, Farka tidak ingin menyalahkan siapapun.
“Sekolah kita sudah mendapat guru yang berkompeten, jiwa, fisik dan logika mereka sudah baik, aku pemalas, jadi guru-guru menganggapku anak bodoh, aku tidak melihat kegagalan dari guru-guru kita, bahkan guru-guru di SMP dan di SD-ku dulu, tak ada yang gagal dalam mendidik muridnya ... Fihan pernah berkata padaku, bahwa tak akan ada guru layaknya seperti seorang ayah dan tak ada guru seperti selayaknya seorang ibu,” tutur Farka.
“Nah ... nggak perlu pusing-pusing ... sederhananya kita hidup untuk mencari uang, anak-anak putus sekolah lalu ujungnya mencari uang, setelah lulus, kita kuliah dan mengambil sebuah jurusan, tapi ujungnya mencari uang ... bagiku pendidikan itu adalah sesuatu yang menghasilkan uang, dan guru hanyalah bukti dari pendidikan yang menghasilkan uang,” lanjutnya membeberkan cara pandangnya.
__ADS_1
“Tapi ... Fihan berkata bahwa pendidikan adalah jalan bagi manusia yang ingin membuat uang, dan guru adalah bukti bahwa uang sudah tak sepenting pendidikan ...” sanggah Eril lebih condong menyukai pandangan Fihan.
“Hem ... aku dan Fihan punya cara berpikir yang berbeda, bagiku ... ilmu itu cukup yang pentingnya saja ... yaitu dasar-dasarnya, sedangkan Fihan ... dia bisa mempelajari sampai alasan Tuhan membentuk alam semesta, begini ... jika aku cukup ingin masuk surga, maka Fihan ingin hidup kekal bersama yang menciptakan surga,” jelas Farka.
Namun Eril kembali menunduk sedih, bukan karena perbedaan pandangan Farka dan Fihan, kesedihannya adalah karena, Fihan telah pergi selamanya, orang yang selalu punya celah mematahkan argumen orang lain, kini telah tiada, tepatnya, cukup menyedihkan mengingat orang yang dicintai telah tewas.
“Hiks ... hiks ...” Eril tertunduk merenungi kedua pendapat teman-temannya.
”Waduh ... jangan seenaknya begitu dong ... pendidikan dan harta itu sama-sama penting, jadi nggak perlu saling menyalahkan ... kita mah memang anak pemalas, akui saja kalau kita pemalas dan bodoh ...“ sela Areny yang kurang setuju dengan cara pandang teman-temannya.
”Tadinya ... aku ingin membalas perbuatan para guru yang pernah memarahi Fihan ...“ ungkap Eril blak-blakan sambil mengelap wajahnya dengan dua lembar tisu.
”Eh?“ Areny kaget penuh keheranan.
”... tapi ... saat aku baca kalimat yang tertulis di buku harian Fihan, yang berkata, 'aku dididik keras oleh ibu dan ayahku, dan aku tidak mau guru-guru yang mengajarku hanyalah para pencari uang, karena bagi ayahku, uang yang mengejar seorang guru dan bukan guru yang mengejar uang' bahkan, Fihan menantang semua gurunya berdebat hanya agar dia tahu ... mana guru yang patut dihormati ... dan mana guru yang layak diacuhkan ...,“ kata Eril membeberkan fakta dengan emosi yang mulai stabil, tapi tetap terasa bergejolak karena kenyataan tak bisa dihapus.
”Iya ... tapi dia juga salah ... karena tak menghormati orang yang lebih tua darinya, Fihan terlalu sombong dengan ilmunya ... dan aku terlalu malas untuk sekolah, kita semua salah, jadi ... semua pandangan kita terhadap sekolah dan guru-gurunya, hanyalah gejolak emosi yang muncul dari setiap pengalaman hidup yang kita dapatkan ... anak muda seperti kita masih belum menemukan titik kebenaran sejati, selalu ada yang ingin diperhatikan dan selalu ada yang ingin jadi pusat perhatian, bahkan ada yang ingin selalu hidup sendiri ...“ balas Farka meluruskan.
”Eril ... kamu itu enggak salah, niatmu itu baik, tapi, aku belum tahu karakter jiwamu seperti apa, jadi, menurut pendapatku, kamu sedang kebingungan, antara salah dan benar menjadi satu, itu sebabnya kamu ingin membalas dendam pada guru, satu sisi guru selalu menyalahkan Fihan, satu sisi kamu sudah termakan ucapan Fihan kan, dan di sisi lainnya, kamu tak tahu caranya menangani masalahmu kini, coba kamu datangi Guru Sukada, dia seorang psikolog,“ papar Farka menyarankan dengan berempati.
”Enggak, Fihan sudah menulis ini semua, aku hanya percaya padanya ...“ sanggah Eril menolak mentah-mentah.
”Eh tunggu! Menulis ini semua maksudnya apa?“ Selidik Areny sangat serius.
”Coba kamu baca bukunya, dia sudah memprediksi bahwa umurnya sangat pendek ...“ saran Eril sambil menunjuk buku harian Fihan.
Sontak Areny buru-buru meraih buku Fihan, langsung mencari kalimat prediksi yang Fihan tulis, ia sangat penasaran apa benar Fihan si anak tampan tapi sombong telah mengetahui kematiannya.
”... dan Fihan menuliskan, bahwa aku harus menemui seorang teolog atau guru agama, lalu aku harus datangi ibu Sieren untuk mengakui kesalahanku, tapi, setelah itu aku tidak tahu lagi,“ jelas Eril dengan yakin.
Farka mengangguk-angguk paham, dan agak tercengang juga, tapi, Farka tak ambil pusing.
”Yang kuat ya Eril ... kalau memang kamu butuh bantuan ... datang saja ke sini ...“ kata Farka memberikan dukungan moril agar Eril tetap kuat bertahan hidup.
Eril mengangguk penuh syukur, bahwa Farka memang memahami sisi kejiwaan, lalu Eril bangkit berdiri, bersama seluruh sisa kekuatan mentalnya, sambil mengenakan tasnya, dan raut mukanya benar-benar kuyu, matanya merah tampak lelah.
”Aku akan pergi, selamat tinggal ...“ ucap Eril.
Dan pagi itu telah menjadi saat-saat terakhir Farka dan Areny melihat Eril, dia pergi menghadapi takdirnya, membawa perasaan cinta yang masih berbau pekat di hatinya. Satu hal yang pasti, Areny memberikan bajunya untuk Eril, dan hujan telah berhenti sejak tadi.
__ADS_1
"Untuk dia yang aku cinta, yang mencintaiku ... jangan menyalahkan dirimu karena kamu tidak bersalah, dan jangan menangisiku, karena kematianku adalah takdir yang tertulis, jika jiwamu selalu gelisah, maka temuilah seorang teolog atau guru agama dan pergilah pada ibu Sieren, beberkan detik-detik kematianku padanya, setelah itu ... biar takdir yang membawa langkahmu ... untuk dia yang aku cinta, yang aku cinta adalah dia, tersenyumlah kala udara kebebasan masih bisa merasuk ke paru-parumu, berjalanlah yang kuat demi aku yang kamu cintai dan bernapaslah yang teratur agar tenang jiwamu."