Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
USTAZ ALKAN DAN TUMIT ERIL...?


__ADS_3

       Tepat di pukul 22:29 malam hari tak berbintang, di rumah Fihan, kini Fihan tengah duduk bersila di lantai tepat di samping pintu sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Tak lama kemudian, pintu rumah dibuka oleh seorang gadis muda, berpenampilan rapi, dengan kaus oblong warna hitam serta celana jin panjang, tak lupa ia menjinjing tas gendongnya, Eril masuk tanpa ucapan salam, ia langsung melempar tasnya ke samping kiri hingga tergeletak di samping pintu kamar nenek Fihan yang tertutup. Setelah pintu ditutup, ia langsung duduk dengan melipat kedua kaki di hadapan Fihan, raut mukanya bingung dan penuh harap, Eril berharap Fihan bisa membantunya.


“Fihan, kamu sudah baca kan pesanku?” tanya Eril dengan mendesak.


Fihan tak bicara tapi dengan satu anggukkan mantap, Eril percaya.


“Tadi pagi aku dicegat oleh orang tuaku jadi enggak bisa kabur, malahan siang-siang laki-laki itu datang, kami bertemu juga dengan keluarganya, aku cuman bisa manggut-manggut doang, aku takut kalau keluarga laki-laki itu sakit hati, jadi aku menerima perjodohannya, soalnya aku malah teringat kata-katamu dulu bahwa jangan menolak kebaikan orang lain, dan jangan membuat sakit hati orang yang baru dikenal, yang jelas setelah lulus kami akan menikah,” ungkap Eril dengan hati senak dan berat untuk berkata-kata.


Fihan mengangguk mantap tak menanggapi.


“Awalanya aku mencoba berdebat dengan orang tuaku, aku berusaha agar bisa sepertimu, bisa mengalahkan orang dengan kata-kata, tapi... aku gagal,” papar Eril dengan kuyu.


Fihan bersedekap menyilang, memandang Eril dengan cuek dan tidak peduli. Sedangkan pandangan Eril menunduk kuyu, perjodohannya telah menjadi beban pikirannya.


“Kamu bisa sepertiku, tapi apakah otakmu siap?” kata Fihan dengan raut muka datar yang akhirnya mau bicara.


Maka Eril langsung memandang Fihan dengan penuh tanya dan tetap berharap Fihan mau menolongnya.


“Tujuan berdebat bukan untuk mengalahkan lawan bicara, kalau hanya sekadar mengalahkan lawan bicara, kamu hina saja dia, dan bukan berarti kamu manggut-manggut saja agar orang itu tidak sakit hati, justru kebenaran itu menjadi sakit hati, karena kamu menolaknya, sama seperti perjodohanmu ini, kamu sakit hati karena menolak kenyataan di depanmu,” jelas Fihan.


“Terus solusinya apa? Aku enggak mau menikah dengan Usataz itu!” tanya Eril meminta saran.


“Kalau kamu enggak mau menikah, kamu berdebat dengan orang tuamu sekarang, dengan tujuan untuk membuka pikiran mereka, tapi kalau kamu enggak mau sakit hati menerima kenyataan ini, maka kamu harus menerimanya dengan senang...” tutur Fihan yang belum menyelesaikan kalimatnya.


Eril terpegun merenungi perkataan Fihan.


“...lagian ustaz itu pria ganteng,” lanjut Fihan menyanjung calon suami Eril.


“Aku enggak cinta sama dia!” sanggah Eril dengan tegas dan mantap.


“Cinta itu apa?” tanya Fihan dengan raut muka datar.


Eril mengernyitkan keningnya, bingung dengan pertanyaan aneh Fihan, baru kali ini Fihan bertanya begitu, tapi Eril menanggapinya dengan serius, sebab suasana kini juga serius, dan dengan harapan Fihan tahu bahwa, Eril telah jatuh cinta padanya.


“Cinta itu perasaan hangat yang muncul dalam hatimu, dan semakin hangat saat kamu bersama orang tertentu, atau yang disebut orang yang istimewa,” jawab Eril dengan lugas.


Fihan mengernyitkan kening, pandangannya tertunduk, ia berpikir dalam-dalam berusaha menemukan pencerahan dari penjelasan Eril.


“Masa kamu enggak tahu cinta sih,” sindir Eril.


“Apa nanti bisa menjadi panas sampai-sampai kamu bisa memasak air di atasnya?” tanya Fihan berkelakar.


“Eh? Kamu ngelucu ya?” tanya balik Eril.


Fihan mengangguk pelan dengan raut muka datar dan pandangan mata yang menyorot mata Eril hingga mereka bertemu pandang.


“Aku berusaha menghiburmu, tapi... aku gagal,” ungkap Fihan dengan santai.


Mendadak Eril membuka matanya semakin lebar dengan raut kaget, pikiran dan hatinya tersentuh dengan pernyataan Fihan, ia terenyuh, sebab nyatanya Fihan berusaha membuat Eril tersenyum.


“Hahahaha...” tawa Eril tiba-tiba sambil menepuk-nepuk lutut Fihan memberi kesan bahwa Eril benar-benar terhibur dibuat Fihan.


Eril tertawa dengan terpaksa, demi menghargai usaha Fihan, namun ada tetesan air mata yang jatuh ke lantai, bahkan tak disangka pipi Eril telah basah oleh air matanya sendiri.


“Kamu menangis?” tanya Fihan dengan serius.


“Bodoh, dasar bodoh, dasar bodoh,” rengek Eril masih menepuk-nepuk lutut Fihan merasa terenyuh.


“Hiks hiks hiks...” isak Eril tersedu-sedu dengan menunduk.


Eril tertunduk sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya, ia masih senguk-sengak, terduduk dengan dua kenyataan hidup yang terpaksa dihadapinya, mencintai Fihan dan harus menerima perjodohannya. Hatinya sangat bimbang, entah apa yang harus dilakukannya.


“Aku tidak bisa berdebat sepertimu... hiks,” lirih Eril dengan tertunduk kuyu.


“Maka kamu harus menerima perjodohanmu,” balas Fihan tanpa basa-basi.


Sontak Eril mengangkat wajahnya, memandang Fihan dengan raut muka kuyunya, hatinya yang telah tumbuh hanya untuk mencintai Fihan, kini mulai berontak mendesak untuk diakui, hingga tersirat amarah dalam netra hitamnya.

__ADS_1


“Aku enggak cinta sama si ustaz itu!” tegas Eril dengan geram.


“Nanti cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu asalkan kamu selalu bersamanya,” saran Fihan dengan cuek.


Eril mengernyitkan kening memasang raut muka serius, mengapa Fihan bicara begitu? Apakah Fihan tidak mencintai Eril?


“Bagaimana kalau cinta itu enggak pernah tumbuh? Justru malah timbul kebencian?” tanya Eril memberi kesan menolak saran Fihan.


“Pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh suamimu nanti, sebab, perasaan yang kamu tanyakan berhubungan langsung dengan ikatan suami istri,” jawab Fihan dengan lugas.


Eril terpegun mendengar jawaban Fihan, yang sama sekali tak disangka Eril, namun Eril tak mau kalah, ia berusaha mencari tahu kembali, apakah Fihan mencintainya?


“Kalau misalkan kamu suamiku, apa jawabannya?” tanya Eril bersikukuh.


Fihan sempat terdiam dengan sikap dinginnya, ia menimbang-nimbang jawaban yang tepat, agar Eril paham.


“Aku akan mempertahankan hubungan kita, meski kamu membenciku,” jawab Fihan dengan lugas tapi tetap cuek.


Eril menundukkan pandangannya untuk merenungi perkataan Fihan. Suasana di rumah sangat sepi, begitu juga di halaman rumah, para tetangga telah beristirahat dengan damai di rumahnya masing-masing bersama keluarga kecil mereka, bahkan jalan raya di depan rumah pun tampak lengang, telah jarang dilalui oleh mobil atau motor karena memang semua manusia sudah sampai ditujuannya, sedangkan udara cukup dingin hingga angin berembus kencang. Sementara di rumah Fihan ini, sang nenek telah tertidur nyenyak di kasurnya tanpa beban sedikit pun, kecuali Fihan dan Eril yang terjebak dalam dilema. Fihan yang mencari bentuk jati dirinya, serta Eril yang mencari cara untuk menghentikan perjodohannya.


“Kenapa kamu membiarkan aku menikah dengan laki-laki lain?” usut Eril masih menunduk berusaha mencari tahu sejauh mana Fihan mencintainya, atau bahkan tidak sama sekali.


Untuk saat ini Eril belum berani menyatakan perasaannya, ia hanya berpikir dengan memberikan kode atau isyarat bahwa dirinya mencintai Fihan, itu juga sudah cukup, tapi kenyataannya itu tidak cukup.


“Memangnya kamu ingin aku berbuat apa?” tanya balik Fihan sambil memandang rambut hitam Eril.


Maka Eril pun memandang wajah tampan Fihan dengan keseriusan tinggi, menelan ludahnya untuk melenyapkan kegugupan, napasnya pun dibuat teratur, kedua tangannya ditumpukan pada lulutnya, ia berusaha membuat Fihan benar-benar mengerti.


“Aku ingin... kamu datangi orang tuaku dan lamar aku!” ungkap Eril dengan penekanan disetiap kata.


Fihan masih saja memasang sikap dingin tak peduli, raut mukanya pun masih begitu cuek, karena memang Fihan tidak peduli.


“Kenapa harus aku?” selidik Fihan.


“Ka-karena, karena...” kata Eril dengan gugup terbata-bata sambil menundukkan pandangannya dengan jengah.


“...cuman kamu yang dari dulu menemaniku...”  lanjut Eril dengan menatap mata hitam Fihan yang akhirnya tetap memendam perasaannya.


Fihan terpegun dengan wajah cuek, ia sengap. Dan Eril kembali menundukkan pandangannya, pada dasarnya Eril ingin sekali mengungkapkan betapa cintanya ia pada Fihan, tapi ia tahu, Fihan sama sekali tak pernah merespon positif kode-kode yang Eril berikan, sehingga kemungkinan untuk diterima perasaan cintanya adalah mustahil, dan Eril tidak sudi menanggung malu karena ditolak oleh seorang pria yang dicintainya.


“Alasan yang salah, kalau kita menikah dengan alasan konyolmu, maka ujungnya akan bercerai juga,” sindir Fihan.


Eril membuang napas pasrah, menunduk sedih, namun setelah ia mengelap kedua matanya, ia kembali memandang Fihan dengan serius.


“Kalau begitu, tolong ajak orang tuaku bicara, buat mereka menghentikan pernikahanku!” pinta Eril penuh harap dengan sorot mata memelas.


Fihan mengerjapkan matanya, pandangannya menunduk termenung.


“Aku tidak mau ikut campur dalam masalah orang,” ucap Fihan menolak dengan pasti setelah melalui perenungan.


Eril terdiam, pandangannya kembali menunduk dengan raut muka berpikir, ia merenungi perkataan Fihan diawal, bahwa dirinya bisa berdebat seperti Fihan. Lalu setelah tujuh detik berlalu dengan pikiran nan pelik, lengkap dengan hasrat ingin buru-buru mengakhiri perjodohannya, Eril kembali memandang mata hitam dalam Fihan, hatinya telah memutuskan.


“Kalau begitu, ajari aku agar aku bisa menang dalam perdebatan!” pinta Eril sungguh-sungguh dengan penuh harap.


“Di sekolah sudah diajarkan cara berdebat, dan sebenarnya solusinya bukan berdebat,” papar Fihan.


Eril pun mengernyitkan kening penuh tanya.


“Jadi apa solusinya?” desak Eril penasaran.


Fihan termenung sejenak, tetap cuek dan kalem.


“Kamu harus pura-pura bunuh diri,” pinta Fihan.


“Ha?” heran Eril.


“Lakukan seperti Zeni, kamu ungkapkan keluh kesahmu pada orang tuamu, kalau mereka menyayangimu, mereka menghentikan perjodohanmu,” jelas Fihan.

__ADS_1


Mata Eril mengerling memikirkan saran Fihan.


“Tapi... itu artinya aku membantah orang tua?”


“Loh? Bukannya kamu memang dari awal sudah membantah?”


Eril mengangguk pelan, berusaha merenungi perbuatannya.


“Maksudku... apa enggak ada cara lain? Aku tidak mau membantah orang tuaku, aku enggak mau jadi anak durhaka,” tanya Eril mencari tahu dan mengeluh.


“Kalau begitu jadinya... kamu tidak perlu takut, karena pada dasarnya jodoh itu bertemu bersama dan hidup bersama tanpa perlu paksaan, jika sudah dipaksa seperti orang tuamu, maka, kamu sebenarnya dijual dengan harga senilai moral dari calon suamimu, mereka berdalih untuk mengantarmu pada jalan yang benar, padahal mereka ingin harta mereka terus bertambah, jika pun mereka ingin beramal, maka mereka bukan menjodohkanmu, justru mereka mencari seorang guru agama atau seorang teolog, kamu juga enggak usah kahawatir akan durhaka, justru mereka yang durhaka, sebab mereka berusaha menentang hukum Tuhan, karena jodoh itu ditangan Tuhan, bukan dengan paksaan,”


Di sana tepat di wajah Eril yang cantik, senyuman puas mengembang hingga gigi putihnya kentara, dan tentunya mengangguk-angguk paham.


“Wah wah, kamu memang pintar bicara ya...” sanjung Eril dengan rasa kagum yang semakin bertambah dan rasa cinta yang semakin menggebu-gebu.


”Kata-kata akan kalah oleh keegoisan Eril!“ balas Fihan dengan tegas tak mau Eril salah persepsi.


Eril terpegun dengan kaget.


”Kalau orang tuamu tetap kukuh pada egonya, kitab suci yang ada di dunia ini pun bisa dibantah mereka,“ jelas Fihan.


”Terus aku harus bagaimana?“ tanya Eril.


”Serang akal sehat mereka, usahakan untuk membuka hati dan pikiran mereka, dengan satu kalimat kuat, yaitu hukum agama, jika calon suamimu seorang ustaz, coba suruh dia menikahi seorang janda miskin yang memiliki anak, sebab merekalah yang lebih membutuhkan cinta kasih dan tuntunan agama, tapi, jika ustaz itu tidak mau, maka mutlak, dia mencari wanita yang sesuai hawa nafsunya,“ pungkas Fihan.


”Wah, kamu benar-benar hebat dalam berargumen,“ puji Eril tercengang.


”Kayaknya kekuatan argumen ini, diturunkan dari ayahku,“ sangka Fihan.


”Hem!“ balas Eril dengan anggukkan mantap dan senyuman terima kasih mengembang di wajah cantiknya.


”Aku akan mencoba kedua saranmu, soalnya besok malam keluarga dari calon suamiku akan makan malam di rumahku,“ imbuh Eril memberi tahu.


Tak ada senyuman di muka Fihan, ia masih saja betah dengan raut muka cuek tak pedulinya, namun Fihan kurang yakin pada Eril, bahwa Eril bisa melaksankan rencananya dengan sempurna.


”Eh tapi, apa kamu bernafsu dengan perempuan, soalnya kamu kok kayak enggak suka sama perempuan?“ usut Eril.


Fihan mengangguk.


”Eh? Kamu enggak suka sama perempuan?“ heran Eril.


”Bukan, aku juga suka dengan perempuan, kamu kira aku laki-laki bengkok apa,“ bela Fihan.


”Hehehehe... habisnya kamu cuek banget, sudah begitu sombong lagi, hidup lagi, jadinya kan aneh,“ ujar Eril.


Fihan diam tak menanggapi, pandangan matanya tertuju pada dinding bercat biru di belakang Eril.


”Seperti apa sih tipemu?“ tanya Eril penasaran.


”Loh? Bukannya pernah ya kita bicarakan?“ sanggah Fihan.


”Aku ingin mendengar lagi!“ desak Eril.


Maka terpaksa, Fihan termenung sejenak dengan memandang lantai, toh tidak ada salahnya mengungkapkannya kembali.


”Cantik, seksi, dan... tumitnya tidak berbau,“ tutur Fihan dengan memandang alis hitam Eril.


Sontak Eril langsung memandang tumit kakinya, ia bahkan berusaha menyenguk tumitnya, sampai ia begitu bersusah payah, untuk benar-benar menyenguk tumitnya. Tak disangka, ia mendengar tawa renyah dari sang pujaan hatinya, yang memang Fihan sangat sulit tertawa.


”Hahaha...“


”...aku sudah menduga, kamu akan membaui tumitmu,“ ungkap Fihan.


Eril memandang Fihan dengan terkesima dan tercengang, sebab, akhirnya setelah berminggu-minggu, Eril bisa melihat lagi tawa renyah sang dambaan hati.


Hingga saat Fihan telah pergi untuk tidur, Eril masih betah merenungi tingkah Fihan hari ini yang terlihat berbeda, hingga perasaan Eril berbunga-bunga mengingatnya.

__ADS_1


__ADS_2