Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
AIR DI DAUN KELADI


__ADS_3

       Namun kala Farka dan Areny baru sampai di samping mulut pintu, mereka terpaku di sana, dikejutkan oleh dua manusia yang tengah berlari keluar kelas, Fihan serta Eril tengah berlari dengan kondisi wajah lebam.


“Eh!?” heran Areny dengan memandang menyelidik.


Maka buru-buru Farka berlari ke dalam kelas, yang ternyata Derka, Kahji, Sazan serta Erka tengah berdiri di depan kelas seolah baru saja mengurus masalah besar. Sedangkan teman-teman lainnya berkumpul di meja Eril, wajah mereka serius namun kecemasan tersirat dari sorot mata mereka.


“Itu ketua kelas!” seru Juvi dengan lantang memberi kesan bahwa sang pemimpin telah kembali maka masalah akan selesai.


“Ada apa?!” usut Farka dengan khawatir.


Farka kini telah berdiri di depan kelas dengan raut muka bingung, tak lama berselang Areny ikut masuk ke dalam kelas sama-sama kebingungan.


“Tadi, Fihan berkelahi dengan Derka,” ungkap Kahji.


“Eh...?” Areny terkejut.


Farka mengernyitkan kening dengan serius.


“Iya benar ketua! Sampai Eril kena pukul Derka!” sambung Juvi dengan serius.


“Ha?” Areny terperangah kaget.


“He! Si Eril itu memang menghalangiku jadi wajar kalau dia kena pukul,” timpal Derka membela diri.


Derka lantas duduk di bangkunya tanpa masalah, hebatnya dia nampak baik-baik saja.


Farka pun melangkah mendekati Derka, dia tahu betul bahwa Derka pasti yang memulainya, hingga seluruh sorot mata langsung tertuju pada mereka.


“Kenapa Derka?” selidik Farka.


“Hahahaha.... orang sombong terkadang memang harus diberi nasehat keras... jadi wajar kalau tangan yang berbicara,” jawab Derka menjelaskan dengan kiasan dan tetap santai.


“Tapi... itu tidak tepat, kekerasan itu sikap anak-anak,” balas Farka tak setuju.


“Ya... aku memang seorang anak muda.... huahahahaha....” kata Derka membela diri dengan tertawa merasa bangga yang justru perkataannya terkesan mengejek sang ketua kelas.


Farka terdiam dengan serius, ia tak menanggapi, karena memang tak ada gunanya juga menanggapi orang seperti Derka.


“Intinya, otak kalah oleh otot, dan si Fihan tumbang hanya dengan tiga pukulan... hahahaha....” sindir Derka sambil tertawa dengan bangga.


“Ketua kelas, apa harus kita memberi tahu orang tua mereka?” tanya Juvi menyarankan.


Sekonyong-konyongnya Derka bangkit dari kursi kembali emosi.


“He bodoh! Orang tua siapa yang kau maksud?!” sergah Derka.


“He, santai saja dong!” balas Juvi.


“Iya, santai saja!” sambung Juva yang berdiri berkacak pinggang berusaha melindungi saudaranya.


“Jadi laki-laki jangan kasar dong!” timpal Nitia.


“Iya booooooooooo....”


Seluruh wanita mulai menyoraki Derka, kecuali Zeni yang sedari tadi tetap kalem, begitu fokus pada ponsel pintarnya, masih duduk di kursinya seakan-akan tak pernah terjadi apapun.


“Cukup! Cukup!” kata Farka dengan lantang.


Derka kembali duduk, sedangkan sisa murid-murid lainnya mulai memandang Farka.

__ADS_1


“Kita sudah pernah bicarakan ini! Ingat! Apapun yang terjadi, masalah kita, akan kita selesaikan sendiri!” tegas Farka memandang teman-temannya.


Maka tanpa ada bantahan, beberapa murid mengangguk mengiakan, dan Farka memandang keluar kelas, menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.


       Tepat di belakang sekolah, di belakang gedung aula, dengan pemandangan hijaunya pohon cemara, Fihan serta Eril tengah duduk berselonjor di atas rerumputan hijau dengan bersandar ke dinding aula bercat merah sambil mengobati luka mereka, sebotol air mineral ikut tersaji di samping kanan Fihan. Lubang hidung kiri Fihan telah disumbat oleh kapas agar darah tak mengucur lagi, Eril senguk-sengak air matanya telah berhenti mengalir, namun kesedihan masih terpampang di wajah manisnya.


“Hiks hiks, hiks hiks.”


Fihan lalu menyodorkan sebungkus tisu pada Eril yang tadi dibelinya, Eril hanya meraih tiga lembar tisu, lantas ia mengelap wajahnya menggunakan tisu tersebut. Fihan pun memberikan sebotol air mineralnya pada Eril, Eril menerimanya dengan senang hati, ia meneguknya hingga tersisa setengah botol air, mereka minum secara bergantian dan kembali menaruh botol kosong itu ke posisinya semula. Silir-semilir angin bertiup lambat seakan membelai pipi mereka dengan mesra.


“Seharusnya kamu tidak perlu bertindak bodoh,” kata Fihan sambil memandang pohon cemara.


Sontak Eril langsung mendilak pada Fihan, memandangnya penuh amarah namun rasa kasih sayang pun tersirat di sorot matanya.


“Kenapa sih kamu enggak pahama juga!?” geram Eril.


Fihan sengap masih memandang pohon cemara di depannya dengan sikap acuh tak acuhnya.


“Aku akan melindungimu apapun yang terjadi!” tegas Eril memandang wajah Fihan dengan serius.


Kemudian Eril berpaling, napasnya sudah kembali normal, wajah cantiknya telah kembali cerah walaupun tak secerah seharusnya, sebab wajahnya telah terkontaminasi oleh memar, ia ikut memandang sederetan pohon cemara yang menghiasi belakang aula sekolah, pohon-pohon itu sangat tinggi seolah mereka berusaha mencapai langit, saat angin berembus, dedaunannya seperti menari-nari, apa lagi di sini udaranya sangat segar sekaligus tempat yang bersih meskipun jarang didatangi manusia.


“Fihan, baru pertama kalinya kamu berani menggandengku membawaku ke tempat yang kamu tuju,” ungkap Eril dengan senang.


Gadis berumur 17 tahun ini telah menyukai Fihan sejak SMP ia tak pernah berpisah hingga sekarang, Eril sebenarnya adalah gadis yang tegas, perhatian dan cantik walaupun tak secantik Zeni namun lebih cantik ketimbang Areny, ia memiliki mata hitam berniar nan besar, bibirnya tipis merah jambu, kening lebar, dengan alis hitam tegas nan alami, kulitnya putih cerah begitu bersih, rambut hitam panjang agak bergelombag kala rambutnya bertemu di pundak hingga ke dada, rambut tebal itu membingkai dengan indah wajah berbentuk ovalnya, ditambah sebuah jepitan bermotif bunga Mawar yang menghias pelipis kanan kepalanya, Eril lebih pintar daripada Areny namun tak lebih ceria dari Areny.


“Dulu di kelas dua aku pernah membawamu ke atap gedung kantor ibuku, aku menarikmu karena hari itu hari ulang tahunmu kan?” sanggah Fihan.


Eril tersenyum penuh makna, ia begitu senang kala Fihan masih ingat kenangan paling menyenangkan itu. Awan-awan mulai menggulung kelabu, hujan sepertinya akan turun, namun mereka berdua hanya duduk berselonjor menikmati udara hari ini.


“Kayaknya mau hujan,” sangka Eril sambil menengadahkan wajahnya ke langit.


“Fihan, apa kamu pernah jatuh cinta?” tanya Eril.


Fihan masih memandang jauh ke depan tanpa bicara.


“Ya sudah, kalau kamu tidak mau menjawab...” timpal Eril dengan senyuman senang.


Fihan tetap cuek tak bicara.


“Fihan, kalau dulu kamu menarikku karena ulang tahun, sekarang kenapa kamu membawaku ke sini, harusnya kita ke UKS kan?” usut Eril.


Fihan terdiam, namun kali ini wajahnya merenung, Eril pun terdiam masih menunggu jawaban Fihan, satu detik terlewati, hingga di detik ke empat saat Eril sudah menyerah untuk banyak bertanya, sekonyong-konyongnya wajah tampan Fihan melirik pada Eril, Fihan memandang Eril dengan tatapan tajam, sontak dengan jengah Eril pun balas memandang Fihan, hingga kedua netra hitam mereka bertemu pandang. Eril menelan ludahnya entah mengapa ia gugup, ada sesuatu yang terpancar di kedua bola mata Fihan, perasaan itu tersampaikan hanya lewat tatapan mata, bagi Eril ini adalah pengalaman pertamanya Fihan menatap dengan serius pada Eril, angin terasa berembus mesra, waktu terasa melamban kala mereka bertemu pandang.


“Aku kagum padamu Erilia,” ungkap Fihan dengan serius terkesima.


Mendadak Eril tertegun, ia tercengang dengan pengakuan Fihan, matanya terbuka lebar, darahnya terasa mengalir cepat, napasnya nampak melamban, untuk pertama kalinya, gendang telinga Eril bergetar mendengar ucapan yang membuat Eril sangat senang. Fihan kembali memandang ke depan pada deretan pohon cemara. Maka kedua mata Eril mengerjap bersama perasaan senangnya yang tersimpan di kalbunya, Eril menundukkan wajahnya, ia meresapi pernyataan Fihan.


“Untuk pertama kalinya, kamu menyebut nama panjangku,” kata Eril menunduk senang.


Fihan masih betah memandang ke depan, seolah menerawang jauh pada perasaannya kini.


“Kamu adalah wanita kedua yang melindungiku dari sebuah pukulan,” sanjung Fihan.


Mendengar pernyataannya, membuat Eril seketika memandang dengan serius penuh tanya pada wajah Fihan.


“Wanita pertama siapa?” tanya Eril.


“Nenekku,” jelas Fihan.

__ADS_1


Eril mengangguk pelan mengerti. Angin tiba-tiba berembus kencang membawa dedaunan terbang, beberapa detik kemudian desiran angin kencang itu lenyap bersama renungan Fihan.


“Bagiku, kau wanita yang kuat...” sanjung Fihan.


Eril terpegun dengan senang mendengar pernyataan Fihan.


“Namun, jika kamu kuat hanya demi melindungi hal yang kamu sayangi, maka kamu akan menjadi lemah ketika yang kamu sayangi lenyap dari kehidupanmu,” imbuh Fihan dengan serius.


Eril pun tertunduk merenungi kata-kata Fihan.


“Meski begitu...” ucap Fihan.


Maka Eril kembali memandang Fihan penuh arti.


“Aku kagum padamu, kamu masih mau melindungi orang sepertiku, kamu masih mau terluka, masih mau menemaniku.”


Namun Eril masih dengan wajah datarnya, ia senang tapi tak tersenyum.


“Sayangnya, kamu melakukan itu demi satu orang sepertiku, kamu egois, kamu hanya ingin aku menjadi milikmu,” imbuh Fihan.


Eril menarik napas panjang, lalu mengembuskannya bersama emosi yang bercampur aduk, Fihan sulit untuk Eril tebak, setelah memuji, dia menghina, tapi setelah menghina dia memuji, Eril benar-benar tak habis pikir, laki-laki yang dikaguminya sangat sulit dimengerti.


“Eril, perasaanmu akan berubah kala bertambahnya usia, perasaan itu akan berkembang mencari tempat yang tepat, namun bukan tempat yang benar, nanti saat orang itu membuat perasaanmu berhasil pindah padanya, kamu akan membenciku, atau mungkin kamu akan menjauhiku, Eril, tadi itu kamu melindungiku bukan karena kamu menganggap aku temanmu...” papar Fihan.


Eril hanya sanggup terdiam memandang jauh ke depan, berusaha menerawang perasaan apa yang tersimpan dalam hati Fihan, hingga Fihan berani merangkum hal-hal yang mungkin terjadi pada Eril, telinganya dipasang lekat-lekat, bagaimana pun Eril harus tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Fihan sampai Fihan mengelak dari perasaan Eril.


“...kamu melindungiku karena kamu menginginkan aku, kamu hanyalah teman sepintas, suatu hari nanti ka...” ujar Fihan dipotong.


“Cukup Fihan! Cukup!” sergah Eril dengan gusar.


Hatinya kembali terluka oleh prasangka Fihan yang berlebihan, wajah Eril berubah marah namun ia marah karena agar orang yang disayangnya keluar dari paranoidnya. Fihan sengap sambil menatap pohon cemara di depannya.


“Hentikanlah prasangka bodohmu itu yang sama sekali tidak pasti! Kamu hanya perlu hadapi dan terima semua kenyataan yang akan terjadi! Enggak perlu kamu harus takut dan menghindar, seakan-akan semuanya enggak berarti!” tegas Eril dengan serius.


Fihan terdiam cuek tak menanggapi.


“Ketakutanmu itu terlalu berlebihan! Kalau memang kita teman sepintas lalu apa masalahnya?! Kalau memang kamu ingin kita berteman selamanya, kamu hanya perlu menjadi teman yang baik dan enggak perlu takut kehilangan seorang teman, sebab ada saatnya kita melepas semua yang hidup dengan kita, yang namanya hidup pasti selalu berevolusi!” imbuh Eril dengan geram.


Lantas Eril bersedekap menyilangkan tangan, menatap jauh ke depan dengan emosi geramnya pada sikap Fihan.


“Jadi tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini kecuali diri sendiri? Kamu pun akan pergi bersama orang lain,” keluh Fihan dengan raut muka datar.


”Kamu itu orangnya enggak mau kalah ya?!“ ejek Eril sangat jengkel.


Fihan hanya sengap tak peduli, tiba-tiba Eril bangkit berdiri, bangkit bersama emosinya yang menyelimutinya, memandang penuh amarah pada Fihan.


”Oke! Aku akan buktikan, kalau perasaanku tidak akan berubah seperti ucapan bodohmu itu!“ sentak Eril.


Namun Fihan tetap betah memandang ke depan dengan raut muka datar dalam sikap dinginnya.


”AKU AKAN SELALU MENEMANIMU SETELAH LULUS SMA, BAHKAN KITA AKAN TERUS BERASAMA SELAMANYA SAMPAI MATI!“ imbuhnya dengan lantang penuh keyakinan.


Tapi sekali lagi, Fihan tetap bersikap masa bodoh, baginya memang tak ada orang yang tepat dijadikan teman, bahkan tak ada yang tepat untuk dipercaya, semua orang adalah simbol keegoisan demi keuntungan pribadi, pikir Fihan begitu. Lantas angin kembali berembus kencang bersama Eril yang pergi meninggalkan Fihan sendirian, desiran angin itu menemani hati dingin Fihan, menimbulkan pohon cemara nampak bergoyang-goyang, awan mendung semakin bertumpuk-tumpuk membuat siang hari semakin gelap, tapi Fihan tetap betah di posisinya, ia cuek, kalem dan tetap santai.


       Akhirnya hari itu Guru Sukada menggantikan Guru Kativia yang pergi entah ke mana, pelajaran tetap berlanjut, namun dua orang tak hadir dalam kelas, Fihan serta Eril melewatkan kelas mereka, sebenarnya Guru Sukada ingin meminta Farka dan Fihan untuk menghadap ke ruang Guru, supaya menjelaskan masalah yang tadi terjadi dengan Guru Kativia, tapi, karena Fihan tak hadir maka Farka harus menunggu di kelas sampai orang itu datang, ransel Eril serta Fihan masih tersimpan rapi di kursi mereka. Dan kala sekolah telah dibubarkan, dalam hujan yang deras di pukul 15:08 siang hari, beberapa murid menunggu di kelas masing-masing, sedangkan murid lainnya dijemput oleh anggota keluarga mereka. Farka, Zeni, Areny, Sazan, Derka, Gewa, Estilia, serta Aqada masih di dalam kelas menunggu hujan reda.


”Farka, apa sudah ada balasan dari mereka?“ tanya Eril yang duduk di kursinya dengan tas gendong yang telah melekat sigap di punggungnya.


”Belum, teleponku tidak diangkat pesanku juga tidak dibalas,“ jawab Farka yang duduk di kursinya dengan fokus pada ponsel pintarnya.

__ADS_1


Sementara teman-teman yang lain fokus pada kesenangan mereka sendiri, Derka yang tidur, Zeni memainkan gim di ponselnya, Gewa di luar kelas memandangi hujan, Estilia sibuk menulis di buku hariannya, dan Sazan serta Aqada yang sibuk menggambar di papan tulis.


__ADS_2