Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
BAB 1: AUTOBIOGRAFI SAZAN


__ADS_3

Judul bab ini aku beri nama: Komitmen Pernikahan Estia.


Rasanya senang mengetahui aku terlahir dari orang kaya nan berpendidikan, aku satu-satunya anak dikeluarga ini.


Namun, tangisan pecah, kala kami mengetahui bahwa aku mengidap kanker otak, dan umurku tersisa dua tahun lagi.


“Enggak apa-apa, ini sudah takdir.”


Mamaku menyemangatiku.


“Kamu pasti kuat, harus semangat!”


Papaku pun ikut menyemangatiku.


Tapi entah mengapa, kata-kata itu justru membuatku terpuruk, aku lebih baik mati tanpa mengetahui kapan aku mati.


Saat malam tiba, gemetar sekujur tubuhku, aku merasa sakit, aku ingin sekali menjerit, aku belum mau mati!


Malam itu saat aku tertidur, aku bermimpi aneh, seorang gadis datang menghampiriku, aku tidak mengenalnya, bahkan wajahnya saja tidak terlalu jelas, sinar matahari di padang rumput yang hijau ini sangat menyilaukan mata, ia bertanya padaku.


“Seperti apa rasa sakit itu? Aku tak tahu karena aku selalu di surga. Seperti apa kekecewaan itu? Aku tak tahu karena aku selalu di surga. Seperti apa penyakit itu? Aku tak tahu karena aku selalu di surga. Seperti apa jatuh cinta itu? Aku tak tahu karena aku selalu di surga. Di surga, aku tak mengenal penderitaan, aku hanya kenal kebahagiaan, dan tak ada yang lain kecuali kesenangan semata.”


Saat aku terbangun, mimpi aneh tadi malam selalu terngiang-ngiang dalam kepalaku, seolah mimpi itu menanamkan sihir di hidupku, atau mungkin aku hanya terbawa suasana hati yang gelisah karena memikirkan penyakit kankerku.


Seminggu di rumah sakit dengan bayang-bayang kematian, suara orang-orang seperti panggilan malaikat maut bagiku, kadang aku bertanya pada diriku sendiri apa aku terlalu berlebihan?


Dan di rumah, mamaku bersedih, mama selalu menghawatirkan aku, dia orang yang benar-benar selalu menyemangatiku, tapi entah mengapa aku semakin takut, setiap kali melihat senyuman dan suara mamaku ketakutanku semakin bertambah.


Di sekolah, tak ada hal yang menarik, aku selalu mengingat kematianku, apa yang harus aku lakukan sebelum mati? Apa aku harus bersenang-senang?


Seperti apa rasanya kematian? Ke mana setelah mati? Apakah Tuhan sejahat ini?


Fihan adalah orang pertama yang mengetahui penyakitku, entah dia tahu dari mana. Aku berkata.


“Apakah takdir sekejam ini?”


“Tidak, kau yang membuat takdirmu kejam.”


Ucapan Fihan membuatku bertanya.


“Aku tidak mengerti?”


“Jika kau bisa hidup senang disisa umurmu, maka takdir penyakit itu adalah keajaiban  bagimu, tapi, jika kau berputus asa, maka takdir penyakit itu adalah kutukan bagimu.”


Aku sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Fihan, bukankah penyakit tetaplah penyakit? Bukankah rasa sakit adalah rasa sakit? Dan dia pun pergi tanpa kata.


Tapi, aku selalu merenungi perkataan Fihan, dan selalu memikirkan kalimatnya sampai aku lupa penyakit kankerku.


Keajaiban pertama itu muncul saat ada tetangga baru di depan rumahku, pandanganku tak mampu berpaling saat melihatnya, rambut pirangnya, kulit putih bersihnya, jari imutnya, leher jenjangnya, bulu mata hitam lentiknya, netra biru yang secerah langit hari itu, dan saat bibir merah jambunya mengembangkan senyuman, aku terpaku di halaman rumahku, memandang keindahan senyuman wanita itu.


Namun, senyuman simpul itu ia berikan pada seorang laki-laki berkumis tipis, dia suaminya, dan kepalaku tiba-tiba terasa semakin sakit hingga aku terbaring jatuh.


Saat aku tersadar dari pingsanku, aku melihat wanita itu duduk di kursi di samping kasurku, hanya dia yang aku tatap, Estia Lein, wanita berumur 20 tahun nan elegan itu telah membuatku jatuh cinta, entah jatuh cinta itu apa atau seperti apa? Yang jelas wanita itu membuat otakku terasa beku, dan hatiku terasa hangat, aku tidak peduli dengan usiaku yang lebih muda darinya, aku tidak peduli dengan suaminya, bagiku aku sudah jatuh cinta, dan hanya itu kekuatanku.


Seiring berjalannya waktu, setiap kali dia berbelanja ke toko swalayan, aku selalu mengantarnya dengan mobilku, kami berbagi cerita hidup kami, kami tertawa dan kadang pergi berdua kesuatu tempat, namun Estia tidak pernah tahu penyakitku, tak ada yang memberi tahunya.


Suatu hari, Estia bertengkar dengan suaminya, pertengkaran yang hebat, suaminya berselingkuh, bahkan suaminya pergi tanpa tahu ke mana.


Sejak suaminya pergi, kami selalu menghabiskan waktu bersama, kami nonton film, makan malam bersama keluargaku, bermain gim, piknik ke beberapa negara seperti Amerika, Inggris dan Jepang, kami benar-benar bersenang-senang, aku relakan selama tiga bulan tak masuk sekolah hanya demi bersama Estia.

__ADS_1


Aku telah jatuh cinta terlalu dalam, wanita itu membuatku lupa tentang penyakitku, aku telah membuatnya menjauh dari suaminya, bahkan aku ingin dia meninggalkan suaminya, aku ingin Estia jadi milikku selamanya, aku ingin senyuman manjanya itu hanya untukku, aku ingin belayan tangannya hanya untukku, aku ingin dia bahagia hanya bersamaku, sekali lagi, aku telah jatuh cinta terlalu dalam, aku tidak mau mati, aku ingin jatuh cinta setiap detik bersama Estia.


Saat kami sedang makan-makan di halaman rumahku, suami Estia datang secara mendadak, dia marah, bahkan sampai menarik tangan Estia yang lembut itu, suaminya sempat bertanya padaku dengan nada kasar, dia menghardikku.


“He bocah! Kau mau merebut istriku ha!?”


Aku benar-benar tidak mampu bicara, aku hanya sanggup diam. Tapi, Estia tidak, dia membela diri, dia juga membelaku.


“Kami hanya teman! Jangan salahkan dia!”


Mereka pergi, Estia dibawa ke rumahnya, mereka kembali bertengkar, dan Estia meminta cerai, tapi suaminya tidak mau.


Sejak saat itu, Estia tak mau lagi bicara padaku, dia tak menyapaku, dia tak lagi tersenyum padaku, dia mengelak kala aku menyapanya, dua minggu lebih kami tak lagi saling bicara.


“AKU MENCINTAIMU ESTIA! AKU MENCINTAIMU!”


Aku berteriak di depannya, saat dia sedang bergandengan tangan dengan suaminya, Estia membuang muka dariku, dia benar-benar seperti tak mengenalku, hingga suaminya meradang murka, dia datang memberiku pelajaran, layaknya seorang pria jantan, dia menghajarku tanpa belas kasihan, Estia di sana, dengan gaun biru indahnya, diam memalingkan wajah dariku, aku tersenyum padanya meski aku terbaring di tanah dengan hujaman pukulan bertubi-tubi di wajahku, aku tak merasakan sakit, aku hanya merasa jatuh cinta setiap kali melihat jemari Estia yang imut, aku akan jatuh cinta lagi saat aku memandang rambut pirang bergelombangnya, aku selalu jatuh cinta pada Estia meski dia memiliki suami, suaminya tak berhenti memukuliku, dia seperti melampiaskan semua kekesalannya pada setiap pukulan yang dia hujamkan padaku, tapi, rasa sakit itu semakin membuatku jatuh cinta pada Estia, tak ada rasa sakit! Hanya perasaan cinta yang terus berkembang, Estia tak membelaku, dia seperti marah padaku, dia benar-benar wanita nan anggun yang pernah aku lihat, dan aku baru tahu apa itu cinta, ternyata cinta itu adalah saat aku tak lagi merasakan sakitnya kankerku.


“ESTIA, AKU MENYAYANGIMU! ESTIA LIHATLAH KEMARI!”


“ESTIA LIHAT KEMARI! LIHATLAH AKU!”


Aku berteriak padanya seperti tak punya malu, seakan aku orang bodoh yang tak tahu apa itu bodoh.


“Kurang ajar kau!”


Suaminya menjadi lebih marah, kalimatku justru memberinya semangat untuk memukulku habis-habisan, hingga aku berpikir, aku akan mati ditangan suami Estia, dan ini adalah saat-saat terakhirku untuk memandang wanita itu, wanita yang setiap malam membuatku memipikannya, wanita yang selalu membuatku seperti punya kekuatan untuk melawan kankerku, Estia masih betah berdiri di depan gerbang rumahnya, tanpa memandangku sedikit pun, kenapa dia terdiam? Kenapa dia berpaling? Kenapa Estia enggan bicara?


Namun, tiba-tiba Estia pergi begitu saja, dia meninggalkan suaminya yang masih asyik menghajarku, suaminya berhenti memukuliku saat hidungku sudah patah, saat gigiku telah patah, saat darah sudah cukup untuk menutup semua pori-pori wajahku.


Ini belum selesai, aku meludahi kaki suami Estia kala dia berdiri melihatku yang masih terbaring tak berdaya, dan dia membalas dengan menendang kepalaku hingga aku hampir pingsan.


Semenjak kejadian itu, aku tinggal di rumah Aqada, aku selalu berbagi cerita padanya, Aqada adalah sahabatku, kami sudah berteman sejak SMP, Aqada adalah laki-laki yang paham tentang masalah cinta, awalnya dia kaget saat aku menceritakan bahwa aku mencintai istri orang.


“Wah wah, itu sebenarnya keterlaluan bro... kau yang harus mundur.”


Aku tak bisa mengikuti saran Aqada.


“Sudah terlanjur, aku tidak akan mundur.”


Aku bersikukuh.


“Mereka sudah terikat dengan komitmen, jika kamu menjadi penyebab keretakan hubungan mereka, maka, kamu merusak hakikat cinta, kamu bukan lagi mengandalkan cinta, kamu sudah menggunakan hawa nafsu.”


Aqada membalas tak suka.


“Aku tidak peduli, aku tidak akan menyerah, aku akan mendapatkannya, aku sudah jatuh cinta terlalu dalam.”


Aku tetap berpendirian teguh.


“Hasratmu untuk memilikinya, itu bukan cinta bro... yang namanya cinta, kau ingin dia hidup bahagia bro... kamu sudah mengandalkan perasaan lain, yaitu hawa nafsumu sendiri.”


Aqada menjelaskan perasaanku.


“Ahk kau tahu apa tentang perasaanku?! Aku lebih tahu siapa diriku sebenarnya.”


Tapi aku tidak mengindahkan penjelasan Aqada.


“Bagaimana dengan perasaan suaminya? Bagaimana dengan perasaan Estia? Apa jadinya jika kau merebut istri orang dengan dalih atas nama cinta?”

__ADS_1


Aqada mendesakku untuk lebih memikirkan lagi perasaan orang lain.


“Estia mencintaiku! Iya! Aku bisa lihat dari matanya!”


Aku langsung mengambil kesimpulan, yang aku sendiri belum benar-benar yakin akan kebenarannya.


“Misalkan kau sudah hidup bersama dengannya, memiliki anak yang cerdas dan lucu-lucu, tapi, kau tidak akan bisa melenyapkan kenyataannya bahwa kau merebut istri orang.”


Aqada masih tak bisa menerima keinginanku.


“Jika sudah sama-sama cinta, jika sudah sama-sama mau, maka tak ada yang salah dan tak ada yang perlu disalahkan!”


Dan aku terus meneguhkan benarnya tindakanku.


“Ingat! Sepasang suami istri sudah berkomitmen, artinya, mereka juga sudah bersumpah atas nama cinta, mereka sudah bergelut dalam cinta kasih, semua kesusahan, semua kebahagiaan mereka telan bersama-sama, bahkan, jika terjadi cinta kedua muncul,  maka biarkan cinta kedua itu berlalu, karena, yang namanya cinta tidak akan pernah ada habisnya, di situlah komitmen dan cinta sepasang suami istri itu diuji, sedangkan kau bro... kau itu adalah pengganggu, kasarnya adalah setan.”


Aqada menjelaskan panjang lebar tentang kuatnya hubungan suami istri yang tak mungkin ditembus oleh laki-laki sepertiku.


“Bagaimana jika Estia sudah tak cinta lagi pada suaminya? Dia lebih memilihku?”


Aku berprasangka, berusaha mengokohkan keberhasilanku.


“Sekali lagi aku tegaskan! Mereka sudah berkomitmen, cinta mereka sudah menyatu, tapi, jika itu yang terjadi, maka... kalian telah berjodoh.”


Aqada masih sempat mengingatkanku tentang bahayanya tindakanku, namun ujungnya dia pasrah dengan kecerobohanku, yang menurutku adalah perjuangan cinta.


Aku mengangguk memahami maksud perkataan Aqada, selama aku tinggal di rumahnya, aku mengobati lukaku, dan bermain menghabiskan waktu bersama Aqada.


Tiga hari kemudian, suami Estia datang ke rumahku, dia menegur orang tuaku, dia menyuruh orang tuaku menghentikan perbuatan bodohku, maka papaku langsung menamparku keras-keras seolah aku bukanlah anaknya, tapi, mamaku berdiri di sampingku, merangkulku penuh cinta, menjagaku dari amukan papaku.


“Apa tidak ada wanita lain di dunia ini?!”


Papaku menyentakku penuh amarah dan rasa malu yang besar telah ditanggungnya.


“Aku... aku jatuh cinta padanya, aku tak melihat wanita lain di dunia ini yang mampu membuatku jatuh cinta...”


Tamparan keras kembali melayang, hingga menimbulkan suara 'PLAK' bahkan sampai pipiku berbekas.


“Omong kosong apa itu?”


Ayahku menyindirku, menganggapku main-main.


“Hidupmu itu sudah tidak lama lagi!”


Papaku menghardik, membuatku menunduk merenung dengan kuyu, kalimat papaku itu telah membuat hatiku terluka, umurku memang tak lama, tapi bukan berarti aku tidak boleh merasakan jatuh cinta.


“Cukup Pa, biar mama saja yang bicara!”


Mama berusaha melindungiku, hingga akhirnya papaku pergi, meninggalkan aku dan mama untuk berbicara.


Namun dalam pembicaraan itu sama saja seperti Aqada, yang ujungnya membahas komitmen sepasang suami istri, aku dipaksa menyerah oleh mama, aku dipaksa untuk mencari perempuan lain, tapi tetap saja, aku tidak menyerah.


Aku tidak akan membiarkan cinta pertamaku lenyap, aku sudah melupakan penyakitku karena Estia, aku sudah berdarah-darah demi Estia, aku tidak mau membohongi perasaanku, aku tidak mau berpaling pada wanita lain, aku juga sudah berkomitmen pada hatiku sendiri, bahwa aku bersumpah hanya akan mencintai Estia selamanya, baik sakit maupun sehat aku akan selalu setia padanya.


Tapi, ada yang mengganjal dalam pikiranku, apakah Estia juga jatuh cinta padaku? Apakah dia juga siap hidup denganku? Apakah dia siap menerima kematianku? Apa jadinya jika nanti dia hidup sendiri? Apa jadinya jika nanti dia tak bahagia? Apa jadinya Estia nanti?


Semalaman aku merenungi perbuatanku, apakah memang takdir kejam itu aku yang buat? Seharusnya aku tidak terlahir, dan seharusnya aku tidak jatuh cinta pada istri orang, tapi, aku tak bisa menghindari takdir ini, aku telah terperangkap, terlalu menikmati kejadian demi kejadian di hidupku, Fihan memang benar, takdir ini kejam karena aku menganggapnya kejam, padahal penyakit hanyalah penyakit.


Berbeda dengan perasaanku pada Estia, yang semakin hari semakin tumbuh, aku benar-benar merindukannya, aku benar-benar ingin bersamanya lagi, tapi, hari demi hari dia selalu berpaling dariku, dan aku, aku tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2