Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
ANJING MENGGONGGONG KAFILAH BERLALU


__ADS_3

       Pukul 14:02 siang hari nan panas, SMA Liliy Kasih telah menghentikan jam pelajaran, murid-murid mulai membubarkan diri. Seperti biasanya Farka dan Areny pulang bersama, mereka baru saja keluar dari gerbang sekolah, dan tiba-tiba langkah mereka berdua terhenti kala mendengar seruan seorang gadis. Saat mereka menghadapkan diri pada asal suara, Zeni tengah berdiri dengan ekspresi serius memandang Farka.


“Eh Zeni,” kata Areny dengan tersenyum senang.


Kala netra Zeni bertemu pandang dengan netra Farka, sorot mata penuh syukur tersirat pada binar mata Zeni. Mereka berdiri dalam jarak dua meteran.


“Ada apa?” tanya Farka sambil menyelipkan kedua tangan ke saku celana hitam panjangnya.


“Terima kasih! Terima kasih!” kata Zeni serius penuh syukur.


“Eh?!” heran Areny.


“Ha? Kenapa berterima kasih padaku?” tanya Farka.


Sekonyong-konyongnya Zeni tertunduk malu lalu berlari pergi tanpa ada kalimat penjelasan apapun.


“Loh? Kenapa dia lari?” heran Areny.


“Hah, sudahlah...” sambung Farka.


Lalu Farka memutar tubuh ke belakang melanjutkan langkahnya untuk pulang, diikuti oleh Areny yang begitu senang bisa lebih dekat dengan sang pria yang dikaguminya.


“Kayaknya sehebat apapun kamu menyembunyikan kebaikanmu, orang-orang pasti akan segera tahu,” ungkap Areny.


“Hahaha... aku juga tidak tahu,” balas Farka.


       Udara berembus kencang, lima belas menit telah dilalui Zeni untuk bisa sampai di rumahnya, ia membuka gerbang tak lupa juga menutupnya, ia melangkah menuju pintu rumah yang terbuka, setelah sepatunya dilepas, ia melangkah masuk ke dalam rumah. Namun suasana rumah yang bersih dan tenang justru membuat batinnya gelisah, saat ia menggeletakkan tasnya di atas sofa ruang keluarga, ia melihat di kursi meja makan, ibunya tengah menunduk muram.


“Ibu?” sahut Zeni sambil menghampiri ibunya.


Ibu Zeni lantas menoleh pada Zeni, dengan senyuman kecut, ia lantas memutar tubuhnya ke hadapan Zeni. Kini Zeni telah di depan sang ibu dalam jarak satu meteran.


“Zeni, tadi siang, polisi sudah membawa ayahmu, sekarang ayahmu sedang diwawancara oleh pihak polisi,” ungkap ibu Zeni.


“Apa?!”


Ibu Zeni mengangguk menegaskan ucapannya benar.


“Ta-tapi...”


“Kita hanya perlu menunggu jadwal sidangnya berlangsung,” sela ibu Zeni.


Zeni menunduk, raut mukanya berubah kuyu, sang ibu pun masih memandang anaknya dengan sedih. Namun, Zeni menarik napas panjang berasama dengan hati yang telah menerima kenyataan pahit ini, ia tak bisa menunjukkan kesedihan pada ibunya, ia harus bersikap kuat, siapa lagi yang akan menguatkan ibunya kalau bukan Zeni, meskipun ini berat baginya, tapi, hatinya telah bertekad untuk siap dalam masalah ini. Maka ia melangkah menuju kursi kayu meja makan di sampingnya, ia menarik kursi tersebut, lantas duduk. Sang ibu tetap memandang anaknya lekat-lekat. Di sana di wajah cantik Zeni, ia mengembangkan sebuah senyuman yang tak pernah ia lakukan, sebuah senyuman paling bermakna, senyuman yang akhirnya mengembang kembali, meskipun kemarin ia sempat tersenyum, namun kali ini, ia tersenyum tanpa terpaksa, senyuman ini dikhususkan untuk sang ibu tercinta. Zeni memandang dan tersenyum damai pada ibunya.


“Ibu, tenang saja, semuanya akan baik-baik saja,” kata Zeni menenangkan.


Ibu Zeni tersenyum senang pada Zeni, ia menyambut baik pesan Zeni, raut mukanya pun mulai berubah tenang.


“Oh, kau pasti lapar...” kata ibu Zeni.


Lantas sang ibu beranjak menuju dapur.


“Tidak perlu Bu, di sekolah aku sudah makan,” balas Zeni sambil bangkit dari kursi.


Maka ibu Zeni hanya tersenyum mengangguk. Dan tatkala Zeni berjalan menuju sofa ruang keluarga, ponselnya berdering, ia merogoh saku rok pendeknya, rupanya Aqada menelepon. Zeni sebenarnya tak suka padanya, bahkan benci pada Aqada, laki-laki norak ini selalu mengganggu sejak awal masuk SMA. Jelas Zeni langsung menutupnya. Ia kembali melangkah menuju kamarnya yang berada di dekat pintu masuk rumah. Pintu kamar pun dibuka, Zeni melangkah masuk ke dalam kamar, tak lupa ia menutupnya, kamar sempit ini bernuansa hijau hutan, dengan hiasan yang diwarnai hijau, kamar yang rapi, Zeni duduk di bibir kasur sambil memeriksa ponselnya, sebuah pesan masuk dibacanya.


Dari Huko: “Zeni, aku sudah memesan kamar di hotel Aksara, malam pukul 20:00 datanglah, kau dapat pelanggan.”


Zeni membalas: “Ya.”


Setelah ia membalas pesannya, ia pun merebahkan tubuh lelahnya di kasur, berniat untuk memejamkan mata, agar nanti malam ia bisa bekerja maksimal. Orang tuanya tidak tahu jika Zeni memiliki pekerjaan terlarang, mereka hanya tahu, bahwa Zeni bekerja paruh waktu di sebuah salon.


       Di rumah Farka, yang bernuansa putih dan biru, rumah dengan halaman luas, beraura alami, pukul 15:11 sore hari Farka tengah duduk di sofa ruang tamu sambil melanjutkan tulisannya di ponsel. Penampilannya sederhana, baju warna merah dengan celana jin yang dipotong pendek namun rambutnya masih klimis. Sedangkan Areny tengah duduk di atas karpet depan televisi yang begitu fokus pada ponsel pintarnya. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Dan keheningan pecah kala suara laki-laki di depan rumah memanggil Farka. Sazan datang, lantas dari mulut pintu Farka mengajak Sazan untuk masuk langsung ke dalam rumah, dan dengan senang Sazan membuka pagar tak lupa ia menutupnya, kemudian masuk ke dalam rumah Farka. Sazan pun telah mengganti pakaiannya, ia mengenakan baju pendek yang dibungkus jaket Varsity bernuansa biru kebanggaannya, dengan celana Jogger, ditambah wangi parfum khasnya yang menyengat.


“Duduk kawan, duduk,” kata Farka mempersilakan.


Sazan duduk di sofa yang bersandar di dekat jendela kaca di samping pintu. Senyuman kikuk mengembang di wajah kakunya, ia nampak kurus, mungkin karena kankernya terus menggerogoti tubuhnya. Farka pun duduk di sofanya kembali yang tersandar ke dinding.


“Eh Sazan!” seru Areny yang datang bergabung.


“Wah?! Kamu di sini?” heran Sazan.


“Hem, orang tuaku menyebalkan, jadi aku tinggal di sini sekarang,” jelas Areny sembari duduk di sofa di depan Sazan.


“Loh, apa enggak masalah?” tanya Sazan.


“Enggak, karena ini jalan keluar masalahnya,” sela Farka.


Sazan hanya mengangguk.

__ADS_1


“Nah, kau sendiri ada apa datang ke sini?” timpal Areny masih menggenggam ponsel pintarnya.


Maka seluruh fokus perhatian tertuju langsung pada Sazan. Sazan memandang Farka dengan sorot mata dan aura yang memancarkan sebuah harapan.


“Umurku tidak lama lagi, aku ingin membuat kenangan manis disisa umurku,” ungkap Sazan.


Farka mengangguk pelan, menanggapinya dengan serius.


“Sebenarnya, ada seorang wanita yang aku cintai, dia tetanggaku, awalnya aku berniat untuk menikahinya setelah lulus nanti...” ujar Sazan yang belum selesai.


“Menikah?!” sela Areny tak menyangka.


Sazan mengangguk pelan. Farka hanya diam mendengarkan dengan saksama.


“Tapi, aku tidak yakin dia mau menerimaku, ditambah aku punya penyakit mematikan, jadi... kayaknya nggak jadi,” imbuh Sazan dengan serius.


Farka bersedekap menyilang, sambil menghela napasnya memasang muka serius.


“Hem, jadi kau ingin ada wanita yang menerimamu apa adanya, lalu kau mati dan wanita itu selalu setia padamu?” tanya Farka memastikan.


“Iya begitulah,” balas Sazan.


Farka mengangguk penuh arti, tapi, sekonyong-konyongnya Areny malah tertawa.


“BWAHAHAHAHAHA...”


“Kenapa kamu ketawa?” heran Farka.


“Maaf-maaf, tapi wanita seperti itu enggak mungkin ada, itu kan cuman ada di film,” kata Areny menyindir.


“Iya, aku tahu, itu sebabnya aku datang ke sini,” balas Sazan pasrah.


Sementara Farka memandang ke dinding rumah di depannya sambil termenung begitu dalam.


“Zeni akan berhenti dari pekerjaan kotornya, ia akan jatuh cinta pada seorang laki-laki yang baik dan pengertian, menikah dan memiliki anak yang lucu-lucu, hidupnya berakhir bahagia. Fihan akan menjadi laki-laki yang ceria, ayahnya akan berhenti menyiksa ibunya dan mulai bekerja di perkantoran, tidak ada lagi mabuk-mabukkan bahkan Eril berhasil menikah dengan Fihan, hidup mereka berakhir bahagia. Areny akan melihat keluarga tirinya datang, mereka akan menyesal karena telah menyiksa Areny, bahkan mereka akan meminta Areny untuk pulang, pada akhirnya Areny dianggap keluarga kandung, dan Areny akan menikah dengan laki-laki tampan, kaya raya, hidup mereka akan bahagia. Sazan akan sembuh dari penyakitnya, ia akan menikah dengan wanita cantik yang menerimanya apa adanya, keluarganya menjadi keluarga bahagia,” tutur Farka.


Farka lalu menatap Areny dengan serius kemudian menatap Sazan dengan serius, tapi, Farka kembali memandang jauh ke arah tembok.


“Tapi, semua itu hanyalah harapan dan mimpi semata, khayalan yang humornya sangat kurang,” imbuh Farka.


Farka menatap Sazan dengan tatapan penuh arti.


Maka Farka dan Sazan langsung fokus memandang Areny.


“Maaf ketua, maksud penjelasan tadi itu apa? Otakku kayaknya enggak sampai,” keluh Areny.


“Itu harapan yang kita inginkan, semua orang ingin hidup bahagia bukan?” jawab Farka.


“Ooooooh... gitu ya? Hmmm...” balas Areny sambil mengangguk berusaha mencerna perkataan Farka.


“Jadi, me...” ucapan Farka dipotong.


“Lalu bagaimana dengan akhir hidupmu ketua?” sela Areny penasaran.


“Ahk itu enggak penting,” sanggah Farka.


“Loh?! Tapi tadi kamu menjelaskan semua akhir teman-teman?” sindir Areny.


Farka mendengus geram.


“Itu kan hanya perumpamaan, itu hanya harapan,” tegas Farka.


Areny mengernyit dengan raut muka konyol, berjuang untuk memahami penjelasan Farka.


“Ya ampuuuuuun... masa kamu enggak mengerti sih?!” sindir Farka.


“Aku mengerti, tapi kenapa harapan hidupmu enggak diutarakan?” heran Areny.


“Oke-oke-oke, harapanku cuma satu, jadi orang kaya, yang memiliki banyak rumah, sekarang kamu puas?!” tanya Farka berkelakar.


Areny menggeleng.


“Tapi, masalahnya harapanku enggak seperti yang kamu ungkapkan,” balas Areny.


Farka menunduk dengan konyol, ia lantas menghela napasnya menghadapkan wajah malasnya pada Areny.


“Terus seperti apa harapanmu?” tanya Farka.


“Enggak ahk! Aku malu,” jawab Areny menunduk jengah.

__ADS_1


Hanya rasa malu yang justru terpampang, Areny ingin sekali mengungkapkan harapannya, namun cukup takut untuk melakukannya, ditambah mental yang belum siap, sebab hal itu berkaitan langsung dengan Farka, yang takutnya, malah membuat Farka tak suka, dan akhirnya ia hanya berharap Farka menyadari perasaan Areny yang kagum hingga kini telah berkembang lebih dari itu.


“Hadeeeeh kamu ini ya...” keluh Farka dengan malas.


Areny masih menunduk sambil tersenyum jengah. Maka Farka menegakkan badannya, berusaha mengembalikan suasan menjadi serius.


“Oke kita kembali ketopik,” kata Farka dengan lantang dan mantap.


“Jadi, ada apa kau ke sini Sazan?” lanjutnya memandang Sazan.


“Aku ingin membuat tulisanku, seperti katamu waktu itu,”


“Kenapa? Bukankah menurut teman-teman itu hanyalah khayalan?” tanya Farka menguji keyakinan Sazan.


Sazan terdiam sejenak, lima detik telah berlalu, ia memikirkan baik-baik pertanyaan Farka.


“Aku hanya ingin menuangkan harapanku di dalam tulisan, jika ada yang membacanya, semoga saja mereka akan menambah semangat dalam hidup,” ungkap Sazan.


Farka mengangguk mengiakan perkataan Sazan.


“Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa kau membuat ide itu?” tanya balik Sazan.


“Iya benar, kenapa idemu begitu konyol?!” timpal Areny.


Farka menyandarkan punggungnya pada sofa, ia masih bersedekap menyilangkan tangan, lalu pandangannya jauh menatap harapan di alam pikirnya.


“Aku tahu ini hanyalah tulisan khayalan, penuh imajinasi, tapi, aku ingin tulisanku ini memberi harapan bagi kita, memberi motivasi bagi manusia yang kehilangan harapan, atau setidaknya mereka semangat kembali untuk membangun harapan itu,” ungkap Farka serius.


“Hem, ini memang konyol seperti bocah, tapi, ini dibuat dengan serius dan elegan, jadi ini bukan seperti bocah yang hanya untuk kesenangan semata,” imbuhnya.


Areny mengangguk mengerti.


“Tapi, apa tidak masalah ya kita berkhayal?” tanya Sazan memastikan.


“Kalau begitu pertanyaannya ya... bisa saja khyalan menjadi masalah...” jawab Farka.


Sazan mengangguk paham.


“...tapi, yang aku fokuskan bukan berkhayalnya, melainkan kita tulis kehidupan kita, kita tulis dunia kita di situ, seperti halnya membuat novel fiksi, tapi, kisah kita dari kehidupan nyata kita, lalu digabungkan dengan imajinasi dan harapan kita.”


“Oh seperti buku autobiografi, tapi, kita tambahkan imajinasi kita dan harapan kita yang akhirnya akan membentuk sebuah buku,” sambung Areny meluruskan.


“Nah itu kamu paham!” sanjung Farka.


“Hem!” balas Areny mengangguk bangga.


Sazan pun ikut mengangguk pelan, berusaha memahami penjelasan Farka.


“Lalu, buku kita akan diterbitkan?” tanya Sazan memastikan.


“Tentu! Tapi, hanya untuk di sekolah saja,” jelas Farka.


“Loh kenapa?” heran Sazan.


“Iya kenapa?” timpal Areny.


“Mungkin ini terdengar seperti omong kosong, tapi, aku berharap, saat adik kelasku atau calon adik kelasku di masa depan yang nanti membaca kisah kita, mereka akan mengerti, ya... setidaknya tahu bahwa kakak kelas mereka terdahulu juga memiliki masalah hidup yang berat namun kita terus berjuang, kakak kelas mereka tetap sekolah penuh semangat, kita juga tetap berteman meski saling menjauh...” tutur Farka tersendat.


“...kita tetap sanggup untuk berteman meskipun kita memiliki masalah hidup masing-masing, kita tetap berteman meski kita nanti sudah hidup masing-masing,” lanjutnya dengan pandangan penuh harap.


“Intinya, buku kita nanti, adalah buku perjalan hidup kakak kelas mereka yang penuh masalah... hanya itu, ya! Hanya itu!” imbuh Farka dengan muka serius penuh harap.


Sazan mengangguk pelan, memahami maksud perkataan Farka.


“Oke! Ayo kita buat ketua, siapa tahu adik kelas kita nanti bisa tertawa membaca buku kita,” kata Sazan berkelakar.


“Oke!” balas Farka bersemangat.


Lalu Farka menoleh pada Areny.


“Bagaimana denganmu?” tanyanya.


“Aku sudah menulis sejak pertama kamu mengusulkan itu!” ungkap Areny sambil menunjukkan tulisannya di ponsel pintarnya.


“Wah! wah! Itu keren!” balas Farka tercengang.


“Hehehe.....” tawa Areny dengan jengah penuh bangga.


“Ya sudah... mari kita buat pengalaman manis!” seru Farka.

__ADS_1


__ADS_2