Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
TAMPAN VS GANTENG....?


__ADS_3

       Bulan April, hari Sabtu, pukul 09:39 pagi, hari yang cerah untuk melangsungkan lomba Cerdas Cermat, benar! Hari ini adalah Grand Final lomba Cerdas Cermat nasional. Yang diselenggarakan pada pukul 10:00 pagi dan disiarkan langsung di stasiun TV lokal kota Artana. Acara sendiri akan dilakukan di dalam gedung lantai satu di pusat kota Artana. Sementara itu, para peserta serta para pendukung menunggu di halaman depan gedung acara, tepatnya di tenda-tenda yang sudah disiapkan, kira-kira terdapat tiga tenda untuk tiga sekolah, sebab akan diadakan langsung penerimaan piala untuk juara satu hingga juara tiga, luas tenda sekitar setengah lapangan sepak bola. Grand Final ini mempertemukan SMA Liliy Kasih dengan SMA Pekerti, dua sekolah itu adalah rival sejak dulu, bahkan sudah tak asing lagi mereka bakal beradu di Grand Final ini, satu hal penting, semua murid masih mengenakan seragam sekolah mereka.


Gewa si laki-laki penakut tengah berjalan sambil membawa nampan yang tersaji tiga gelas jus jeruk, dia berjalan sendiri menuju tenda SMA Lily Kasih, yang sedikit lagi hampir sampai. Sedangkan teman-teman Gewa sedang asyik ngobrol sana-sini di dalam tenda dengan duduk di hamparan tikar. Tiba-tiba nampan yang dibawa Gewa jatuh ke tanah, sampai-sampai gelas kaca berbunyi 'krompiang' karena pecah. Rupanya, dua orang laki-laki dari SMA Pekerti menyenggol dengan sengaja nampan Gewa. Sontak murid-murid SMA Liliy Kasih yang melihat kejadian tersebut, bangkit berdiri karena tersulut emosi. Derka sang pria petarung langsung berlari dan berdiri di samping Gewa, maka Gewa si pria penakut bersuara cempreng bersembunyi di belakang bahu kiri Derka, Gewa ketakutan setengah mati, bahkan kakinya bergetar, sebab dua murid yang menyenggol Gewa, adalah pria berbadan bedegap, tinggi dan sorot mata mereka menyiratkan kematian, dua pria itu kembar, dan mereka adalah dua anak pengacau yang hobinya membuat rusuh sama seperti Derka. Dan kini seluruh murid SMA Lily Kasih telah berdiri di belakang Derka, bersiap berperang jika hanya itu yang mampu membungkam sikap kurang ajar dua murid SMA Pekerti.


“He, cecunguk! Maksudnya apa?!” tanya Derka dengan sorot mata mengintimidasi berdiri tegap layaknya menantang maut, tak takut, tak gentar sedikit pun.


Meski tinggi dua murid itu melebihi Derka, namun keberanian Derka sebanding dengan jumlah murid yang hadir, dan suasana tenang kini berubah menjadi tegang.


Jelas salah satu pria merasa tersulut amarahnya mendengar ucapan kasar Derka. Dia maju sedekat mungkin pada Derka, hingga jarak hidung Derka dengan pria itu kurang dari sejengkal saja, mereka bisa saja bersentuhan jika mereka mau, dan sorot mata mereka menyiratkan perlawanan, mereka siap baku hantam bila angin telah memberi tanda. Lalu Fihan yang berdiri di belakang Gewa, maju ke depan, tepat di samping kiri Derka berusaha membela Derka.


“Jangan Derka, mereka hanya mencoba mengintimidasi, agar lomba nanti aku menjadi gugup,” ungkap Fihan dengan pandangan ke depan pada seorang murid yang datang.


“He, aku tahu,” tukas Derka masih memandang penuh amarah pada laki-laki kembar itu.


“Cukup! Temo, cukup! Tome!” tegur seorang murid tampan dari SMA Pekerti.


Pria itu adalah ketua kelas dari kelas 12 SMA Pekerti, jurusan IPS sekaligus ketua OSIS SMA Pekerti, dia pria tampan dan terpopuler di SMA Pekerti, rival Fihan, yang bernama Rama. Tak hanya itu saja, rupanya di belakang sang ketua OSIS telah berdiri puluhan murid SMA Pekerti yang mengikuti ketuanya, mereka seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Dan kini, murid-murid SMA Liliy Kasih mendapat perlawanan yang setimpal, sebab dalam jarak 12 meteran murid-murid SMA Pekerti telah berdiri siap siaga untuk perang bila sewaktu-waktu itu dibutuhkan, namun kenyataannya, hampir seluruh gadis terkesima memuji-muji Fihan dan Rama karena ketampanan serta kepintaran mereka.


“Wah... itu kan Fihan... ternyata dia memang ganteng ya...” ucap sang wanita berkerudung putih murid SMA Pekerti.


“Fihaaaaaaaannn...!” seru gadis berambut hitam murid SMA Pekerti sembari melambai-lambaikan tangan.


Kini Fihan serta Rama berdiri saling berhadapan, memandang netra hitam mereka satu sama lain.


“Eh, itu Rama, dia tampan banget ya...” bisik Nitia pada Estilia.


Estilia hanya tersenyum jengah memandang ketampanan Rama.


Rama sendiri memiliki perawakan tinggi setinggi Farka, kulitnya putih bersih, sorot mata hitamnya nampak tajam dengan alis hitam yang tegas, sekaligus bibir tipis nan menawan, rambutnya hitam pekat nan mengilap dengan model tersisir ke belakang yang membingkai dengan kokoh wajah mulus berbentuk ovalnya, dia seperti model pria Inggris, penampilannya agak berbeda dari Fihan, kemeja sekolah Rama berlengan panjang, sehingga Rama melipat lengan kemejanya hingga ke siku, ia juga melingkarkan syal warna biru laut di lehernya, satu hal yang pasti, selain kepintarannya hampir sama dengan Fihan, tapi, Rama lebih ramah dan sopan ketimbang Fihan, sikap Rama justru lebih mirip dengan Farka, hanya saja ini versi lebih tampannya.


Tapi tak ada yang bisa memastikan siapa yang lebih tampan, Fihan parasnya yang seperti model pemain film negara Korea, atau Rama parasnya yang seperti model majalah negara Inggris, keduanya memiliki pengagum masing-masing, sehingga mereka cukup imbang jika beradu paras, hanya saja, soal watak baik, Rama menang, namun soal harta, Fihan menang, sebab Rama hanyalah murid biasa yang masih mendapat uang jajan dari orang tuanya, berbeda dengan Fihan yang notabene sudah bekerja.


Rama berdiri dengan menyelipkan kedua tangan ke saku celana panjangnya, dengan tersenyum ramah pada Fihan. Dan semua gadis SMA Liliy Kasih langsung terpukau melihat senyuman manis Rama, hingga hampir semuanya ikut tersenyum kagum. Kecuali Eril yang buru-buru melangkah ke samping Fihan menegaskan bahwa Fihan adalah miliknya. Namun tak disangka, seorang gadis berambut hitam panjang yang membingkai dengan indah wajah mulus berbentuk hatinya, dari SMA Pekerti datang juga dan berdiri di samping Rama, ia juga mirip seperti Eril, ingin menegaskan bahwa Rama hanya milik gadis itu. Gadis itu bernama Seriva, dia gadis terpopuler di SMA Pekerti, memiliki wajah semulus penyanyi idol negara Jepang, wajahnya imut, tapi sangat tidak cocok dengan sikapnya yang garang, dia anak dari Wali Kota Aseda, dia pintar tapi tak sepintar Eril, hanya saja, Seriva lebih cantik nan seksi ketimbang Eril, bahkan seharusnya, keanggunan Seriva hanya bisa ditandingi oleh Zeni, kecantikannya hampir sama, namun watak dewasa masih lebih unggul Zeni, bahkan harta kekayaan pribadi masih lebih unggul Zeni, sebab Seriva itu gadis manja yang hanya bisa mengemis pada orang tuanya, tak ada yang spesial dari Seriva, mungkin hanya orang bodoh yang mencintainya.


“Ya ampun... kenapa semua gadis jadi norak gara-gara si Fihan dan si Rama...” keluh Hurta sambil menepuk jidat.


“Maaf ya... teman gue emang begini...” sesal Rama dengan serius.

__ADS_1


“Bersihkan, dan ambil kembali minuman kami,” balas Fihan dengan raut muka cuek sambil menunjuk pecahan gelas.


Rama mengangguk mengiakan, lalu dua laki-laki kembar pengacau itu hanya menyingkir tidak mampu berbuat apapun, mereka tak berani melawan ketua OSIS. Maka Rama membersihkan gelas kaca yang pecah, sementara tanpa ada kata terucap, Fihan kembali ke dalam tenda, disusul oleh murid laki-laki lainnya, begitu pun dengan Derka serta Gewa yang ikut masuk ke dalam tenda, Derka sebenarnya ingin sekali menghajar dua murid kembar SMA Pekerti, tapi, semua sudah terbalas dengan si ketua OSIS yang membersihkan gelas pecah. Eril pun mengikuti Fihan layaknya seekor anjing yang mengejar tulang.


“Lo semua bakalan kalah!” gertak salah satu laki-laki kembar itu.


Lantas dua murid kembar itu melangkah ke belakang menuju tendanya.


“Ih Rama, lo nggak usah ngikutin perintah dia,” tegur Seriva dengan berdiri memandang risih pada Rama.


Rama dan Seriva kini menjadi pusat perhatian para murid SMA Liliy Kasih, bahkan para murid SMA Pekerti masih berdiri menunggu Rama. Tak ada guru atau orang dewasa yang hadir, mereka sibuk di dalam gedung acara. Sekonyong-konyongnya Seriva menarik tangan kanan Rama untuk berdiri, berusaha menghentikan perbuatan bersih-bersih Rama yang menurut Seriva sangat memalukan. Maka terpaksa Rama berdiri berhadapan dengan Seriva, memandang Seriva dengan malas.


“Ahk basi, drama-drama...” sindir Fikia dengan mengibaskan tangannya di depan wajah sambil berpaling pergi ke dalam tenda.


“Udah kita cabut dari sini...” kata Seriva sambil menarik tangan kiri Rama.


Namun Rama berpijak dengan kokoh, tak bergerak sedikit pun.


“Seseorang yang melakukan kesalahan dan tidak membetulkannya telah melakukan satu kesalahan lagi, itu kata filsuf Tiongkok,” ujar Rama.


Rama lalu melepaskan genggaman tangan Seriva, dan Seriva hanya sanggup membiarkan.


“Ini kesalahan gue juga, karena gue ngebiarin temen-temen gue ngelakuin kesalahan, dan sudah seharusnya gue sebagai ketua OSIS bertanggung jawab pada temen-temen gue,” jelas Rama.


”Omong kosong...“ umpat Seriva dengan bersedekap menyilang.


Lantas Rama kembali berjongkok membersihkan pecahan gelas. Sedangkan Seriva hanya sanggup berdiri membuang muka dengan gengsi, tapi ia tetap menunggu Rama hingga usai. Dan kejadian itu membuat para gadis semakin kagum pada Rama. Kejadian itu ditutup dengan Rama yang membawakan tiga gelas jus jeruk untuk peserta yang akan ikut lomba, tak ada baku hantam, yang ada hanya pujian pada keramahan Rama, bahkan meski Rama serta teman-temannya telah pergi, nama Rama masih harum disanjung-sanjung.


      Kini tak terasa, jarum jam telah berputar, seluruh peserta telah berada di dalam gedung bahkan telah memulai perlombaan, rupanya Fihan, serta dua adik kelasnya melawan Rama, dengan dua pria kembar yang tadi membuat kekacauan. Mereka berdiri di atas panggung, berdiri di belakang podium saling berhadapan, sementara 5 dewan juri berada di depan panggung, bersama para pendukung yang duduk di kursi yang tersedia di belakang para juri. Para pendukung kebanyakan dari teman sekolah peserta lomba, sang pendamping adalah Guru Sukada, tapi tak menutup kemungkinan, keluarga dari para peserta lomba juga ikut datang untuk mendukung. Kru stasiun TV pun berdiri di pinggir panggung, kamera menyorot para peserta dari jauh.


Sekor kini imbang, 490:490 dan satu pertanyaan lagi untuk dapat memboyong piala juara pertama. Laki-laki berusia 25 tahun berpenampilan formal, berdiri di tengah panggung bertindak sebagai pewara. Jelas saat ini, semua orang sedang tegang-tegangnya.


“Baiklah... pertanyaan rebutan, pertanyaan penentu!” kata pewara sambil membuka amplop berisi pertanyaan.


Seluruh murid sangat serius memandang sang pewara dengan berharap-harap cemas. Kecuali Fihan yang nampak cuek dan kalem. Saat-saat seperti ini para suporter dilarang bersuara, jika terdengar saja berbisik, maka nilai tim peserta lomba bisa berkurang.


“Pengetahuan umum dan pertanyaannya adalah...” ujar pewara menggantung kalimatnya dengan mengerling pada peserta lomba.

__ADS_1


Fihan dan Rama bersiap memencet bel sambil memandang sang pewara.


“...apa arti dari singkatan WC?”


'Teeeet' suara bel berbunyi, maka seluruh perhatian langsung tertuju pada asal suara, kecemasan semakin bertambah kala mengetahui, kedua tim memencel bel secara bersamaan, hingga akhirnya menimbulkan kericuhan.


“SMA LILIY KASIH DULU!”


“SMA PEKERTI DULU!”


“Harap tenang! Harap tenang!”


Maka kerusuhan berhenti saat para dewan juri mengambil tindakan tegas yaitu mengurangi poin kedua tim. Dan poin kedua tim kini menjadi, 350:350. Maka sang pewara pun mengganti pertanyaannya, ia membuka amplop baru dan mulai membacakan isinya.


“...Siapakah penemu pensil pertama di dunia?” tanya pewara dengan lantang.


Namun setelah pertanyaan terlontar, kedua tim terdiam, padahal mereka hanya punya waktu lima detik untuk berpikir, mereka saling berbisik satu sama lain, berusaha mencari tahu jawabannya, hingga waktu telah melebihi 2 detik dan saat semua kembali tegang, hampir-hampir kehilangan momentum, bahkan hampir saja pewara akan mengganti pertanyaannya, di sana tepat di samping kiri pewara, bel berbunyi 'teeet' sampai-sampai seluruh pandangan mata, kamera TV, mulai tertuju pada anak laki-laki tampan itu, Fihan tanpa ragu, tanpa takut menekan bel dengan cuek. Yang untungnya waktu masih ada, dan sang pewara mempersilakan pemencet bel untuk menjawab.


“Jawabannya... Nicolas Jacqeus Conté,” kata Fihan dengan penuh percaya diri.


Maka seluruh pandangan, tertuju pada pewara, SMA Pekerti berharap jawaban Fihan salah, sedangkan SMA Lily Kasih berharap jawaban Fihan benar, dan sisa para penonton hanya berharap, lomba ini ada pemenangnya. Stasiun TV menyiarkan secara langsung perlombaan Cerdas Cermat ini, hingga nenek Fihan menonton lewat ponsel pintarnya, siang ini udara terasa hangat, mentari bersinar terang di atas langit biru tak berawan. Gedung acara telah dipadati oleh manusia-manusia yang ingin melihat perlombaan secara dekat, ada lebih dari 300 orang yang hadir dan kini, semua sedang dalam ketegangan, namun tiba-tiba ketegangan pecah kala pewara mengucapkan kata-kata yang telah ditunggu oleh semua orang.


“Jawabannya... benar!” seru sang pewara dengan lantang.


“HOREEEEEEEE....!”


“YEEEEEEEEAAAAAH...!”


Mendadak seluruh suporter hingga para guru SMA Liliy Kasih berdiri bersorak-sorai kegirangan. Kecuali para pendukung SMA Pekerti yang hanya mampu terdiam gigit jari karena kalah.


“Yeeeeaaaaah....! Fihan menang!”


“Iya Fihan menang!”


“Kita menang woy! Kita menang lagi!”


Guru Sukada pun nampak bertepuk tangan, memberi kesan bangga pada tim sekolahnya. Tim Fihan sempat berjabat tangan dengan tim Rama sebagai tanda sportifitas. Dan hari itu ditutup dengan pemberian piala serta hadiah bagi para juara. SMA Lily Kasih lagi-lagi berhasil mempertahankan gelar sebagai juara bertahan Cerdas Cermat se-nasional.

__ADS_1


__ADS_2