Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
GLOCK-19 ...!


__ADS_3

       Di pusat kota Artana, di antara gedung-gedung komersil yang berderet rapi, tepat di depan toko elektronik. Eril, tengah melangkah sendirian menuju pintu toko, setelan formal adalah penampilannya kali ini, setelah pintu kaca toko didedah, Eril melenggang masuk ke dalam toko, -toko elektronik ini seluas lapangan sepak bola- dan tepat di belakang meja kasir, Fihan yang sama-sama berpakaian formal dengan rapi, tengah asyik menghitung uang hasil penjualan hari ini.


Barang-barang di toko elektronik ini sangat lengkap, mulai dari ponsel klasik hingga cermin pintar dijual di sini, sebenarnya terdapat 7 karyawan di toko ini, yang berumur kurang lebih, 20 tahunan, empat diantaranya adalah wanita, bonusnya adalah dua orang satpam yang berjaga di pos samping toko, hanya saja, karena dua jam yang lalu toko sudah tutup, maka kegiatan bekerja dihentikan, dan semua karyawan diperbolehkan pulang. Termasuk Fihan dan Eril, namun, mereka masih tinggal, dikarenakan ada beberapa hal yang mesti dikerjakan.


“Wooooaaammm ...” Eril menguap begitu mengantuk setelah berkegiatan seharian, lantas duduk di kursi di belakang Fihan.


“... tadi aku cari toko yang buka, malah tutup semua, kalau pesan makanan secara online datangnya pasti kelamaan, jadi kita pulang aja yuk ...” keluhnya dengan bersedekap menyilang, mengajak Fihan untuk bergegas pulang.


Tapi Fihan sengap, tetap sibuk menghitung uang. Berkat sengapnya Fihan, Eril seketika bangkit berdiri, menghampiri Fihan dan berdiri di samping kirinya.


“Fihan, setelah lulus nanti, kita liburan yuk ...” ajak Eril menyarankan sambil memandang pipi kiri Fihan.


“... kita ajak juga juga nenekmu ...” lanjutnya bersungguh-sungguh.


Fihan masih terdiam, lalu ia memasukkan semua uang Dollar ke dalam koper warna hitam, sejurus kemudian ia meraih ponselnya dari saku celananya, ia memeriksanya.


“Enaknya ... kita liburan ke mana ya, kalau keluar negeri ... bahasa Inggrisku belum bagus ...” kata Eril dengan merenung.


Fihan masih saja terdiam tak menanggapi, seolah Eril tak pernah dianggap ada, lantas Fihan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


“Erilia ...” panggil Fihan dengan serius sampai-sampai rela berdiri menghadap Eril.


Eril tercengang, menyadari nama panjangnya disebut lagi oleh Fihan, dan dalam keterkejutannya itu, Eril secara spontan menghadapkan tubuhnya pada Fihan, menatap mata hitam dalam Fihan, hingga kembali lagi Eril dibuat terkejut saat melihat raut muka tak biasa yang dipampang oleh Fihan, raut muka Fihan nampak serius, keningnya mengernyit, bibir tipisnya tertutup rapat.


“Aku titip toko sebentar, ingat, jangan keluar dari toko sebelum aku kembali, apapun yang terjadi, tetaplah di sini, kalau ada masalah panggil satpam,” kata Fihan penuh keseriusan.


Eril menelan ludahnya, entah mengapa, tiba-tiba suasana terasa berubah sunyi dan mencekam, kedua tangannya terasa dingin, suara Fihan terasa begitu meyakinkan serta menakutkan, apa yang dibicarakan Fihan nampak sepenting nyawa Eril, ini penting, apa lagi tadi Fihan menyebut nama lengkap Eril.


Eril menelan salivanya, mengangguk pelan, berusaha meyakinkan Fihan bahwa ia akan patuh pada permintaan Fihan.


“Aku ... tidak mau kamu bertindak gegabah, sekali lagi! Jaga toko sampai aku kembali,” tegas Fihan.


Lalu mata Eril mengerling pada tangan kanan Fihan yang meraih gagang koper berisi uang.


“Kamu mau ke mana? Bukannya uangnya kita bawa bareng-bareng ke bank ya?” Selidik Eril dengan serius.


Fihan nampak tertunduk dengan perenungan begitu dalam, sepertinya ada rahasia besar yang disembunyikannya, dan Eril tak pernah boleh tahu. Sepuluh detik berlalu, Eril belum mendapat penjelasan yang terang dari Fihan, seolah menegaskan memang ada rahasia besar yang dipendam Fihan.


Sekonyong-konyongnya tanpa satu kata yang terlontar, Fihan melangkah pergi meninggalkan Eril, Eril terpaku, tak bisa bertindak apapun, kecuali berdiam diri, hingga tak terasa, Fihan telah keluar dari toko, dan Eril masih tertunduk merenung.


Tujuh detik setelah itu, Eril menarik napas panjang lalu mengembuskannya secara perlahan, dia berusaha menenangkan dirinya, entah mengapa perasaan Eril tidak tenang, Fihan memang benar-benar menyembunyikan rahasia penting darinya. Namun karena Eril sudah bertekad akan patuh, untuk tetap berjaga di toko, maka ia putuskan untuk kembali duduk di kursi kasir, duduk dengan gelisah memikirkan, apa yang akan dilakukan Fihan?


Detik demi detik berlalu, Eril masih merasakan keanehan yang tadi terpampang kentara, tapi dia tetap sengap seolah ia telah melakukan hal yang benar, hingga dari menit ke menit telah berlalu, kelopak mata Eril mulai terasa berat, saking beratnya, ia tak bisa menahan untuk tidur, maka tanpa ragu, ia memejamkan kelopak matanya untuk tidur sebentar.


Tak berselang lama, kala angin mengalun lembut, malam terasa kelam, suasana hati terasa gelisah, kala Eril berdiri tegak di depan toko, dia melihat di seberang toko, Fihan tengah melambaikan tangannya pada Eril.

__ADS_1


Tak biasanya Fihan seperti itu, pikir Eril begitu. Maka Eril pun ikut melambaikan tangan menyambut dengan senang kedatangan Fihan kembali, tapi, kala Fihan tengah melangkah menyeberang jalan, tiba-tiba saja dari samping kirinya melesat cepat sebuah mini bus warna putih ke arahnya, dan langsung menabrak Fihan!


“FIHAAAN!” Teriak Eril hingga terbangun dari tidurnya.


Melihat kejadian mengerikan di mimpinya sampai membuat Eril bernapas terengah-engah, ia bahkan berkeringat ketakutan, seolah mimpinya adalah kenyataan, maka ia buru-buru bangkit dari kursi, melangkah buru-buru keluar toko, berusaha mencari Fihan, ia membuka pintu, lalu berlari ke terotoar, kejadian di mimpinya mendorong jiwanya untuk melihat keadaan Fihan. Eril telah berdiri di terotoar pinggir jalan raya yang sepi, tak ada orang bahkan tak ada kendaraan apa pun yang melintas. Namun saat Eril menoleh ke kiri, ternyata Fihan tengah melangkah kemari, koper yang tadi dia bawa telah tergantikan oleh kantong plastik hitam, syukurnya Fihan nampak baik-baik saja, tak terluka sedikit pun, anehnya, Fihan nampak begitu senang dengan menilik plastik hitam tersebut, yang sepertinya berisikan sesuatu yang lebih penting dari uang. Jelas Eril langsung berlari menghampiri Fihan, dan betapa kagetnya Fihan, melihat Eril yang tiba-tiba berdiri di depannya, hingga membuat Fihan terperenyak kaget.


... ... ... ...


“Eril!” Seru Fihan dengan muka kaget.


“Fihan ... itu apa?” Tanya Eril sambil menunjuk kantong plastik yang dibawa Fihan.


Sekonyong-konyongnya Fihan langsung menyembunyikannya di belakang badannya.


“Bukan apa-apa,” jawab Fihan dengan tertunduk penuh rahasia.


Ia melangkah kedekat Eril menuju toko. Jelas Eril menjadi curiga, maka buru-buru ia berusaha merebut kantong yang dibawa Fihan.


“Eril! Eril! Berhenti! Ini bukan ...” sentak Fihan berusaha melindungi kantongnya.


Namun usaha Fihan gagal, Eril dengan cepat berhasil meraih kantong plastik yang dibawa Fihan.


“Eril, Eril, jangan berpikir yang aneh-aneh,” pinta Fihan dengan sikap hati-hati.


Dan kala Eril menilik benda tersebut, tak disangka itu sepucuk pistol, Glock-19, pistol dengan magasin berisi 15 butir peluru, senjata api yang dikembangkan pada tahun 1988 dan pada tahun 1990 pistol mulai digunakan oleh Angkatan Darat Swedia, dengan nama kode 88B. Kini pistol itu digenggam oleh tangan kanan Eril yang mulai gemetar ngeri.


“Kamu gila Fihan!” Sindir Eril.


“Kembalikan!” Pinta Fihan dengan berusaha mengambil pistol miliknya.


Namun Eril enggan untuk memberikannya dia tak mau pujaan hatinya terkena masalah besar. Namun mereka saling tarik menarik, berusaha untuk memiliki pistol tersebut, mereka tarik menarik layaknya perlombaan tarik tambang, namun tangan mereka saling bersentuhan dan tak ada yang mau mengalah.


“Enggak mau! Ini bahaya!” Bentak Eril dengan berusaha melindungi pistol Glock-19, dari tangan Fihan.


DOOR!


“Kamu yang har ...” kata Fihan terpotong dengan terlonjak kaget.


Senjata api meletuskan peluru, Fihan mendadak berlutut dengan wajah kaget, mata terbelalak, dan tubuh lunglai, sambil memegang dadanya yang menghangat karena darah mulai membasahi dadanya. Pistol tergeletak di terotoar. Eril berdiri gemetar dengan menelan ludah karena kaget dan ketakutan, napasnya menghangat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, netra hitamnya terarah pada netra hitam Fihan, pandangan mereka bertemu. Dan seketika, Fihan tergeletak di depan Eril dengan napas megap-megap, layaknya pahlawan perang yang gugur di hadapan pujaan hatinya, maka Eril berlutut dengan hati senak, lalu duduk dengan melipat kedua kaki di hadapan Fihan bersama kedua tangan yang bergetar ngeri, matanya berkaca-kaca, jiwanya ketakutan, pikirannya sangat bingung.


“Ah ... ak ... ak ... ternyata ... kematian ... sangat sakit ... ibu ...” gumam Fihan terbata-bata dengan megap-megap dan mata menyalang ke langit.


“Fihan ...” lirih Eril dengan ngeri.


Bahkan untuk menyebut nama pujaan hatinya saja Eril ketakutan, ia panik, sampai-sampai tak tahu harus berbuat apa. Lalu, Fihan berhenti bernapas dengan mata yang masih terbelalak.

__ADS_1


“Fihan! Fihan! Fihan!”


Eril memegang lengan Fihan sambil mengoyang-goyangkannya agar Fihan tetap bertahan, atau setidaknya mengetahui Fihan masih hidup. Tapi, semua sudah terlambat, kecerobohan Eril atau ketidak-sengajaannya, telah mengantar Fihan keperistirahatan terakhirnya, Fihan telah tewas ditangan gadis pengagumnya.


“Hiks hiks, hiks hiks,” Eril menangis tersedu-sedu dengan tangan gemetar hebat.


Eril menunduk dengan sakit hati yang begitu dalam, ia tak menyangka akhir hidup pujaan hatinya telah berakhir di tangannya, hari ini juga, semuanya terasa berakhir.


“Kenapa? Hiks, kenapa pistolnya sudah dikokang?” Bisik Eril bertanya-tanya dalam kepalanya yang terasa membeku.


Tiba-tiba sebelum hukum bekerja, dia buru-buru bangkit berdiri, berniat untuk memberi tahu perbuatannya secara langsung pada orang-orang yang penting dihidupnya, lalu ia berlari pergi, hanya saja, ia sempat meraih pistolnya kembali.


“AAAAAAAAAAAAARRRRRRRGGGGGGHHHHHHHHHH ...!” Teriak Eril tak sanggup menerima kenyataan.


“Hiks hiks, hiks hiks ...”


Eril terus berlari dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya, hatinya terasa senak, pikirannya mulai mengosong diikuti dengan tatapan hampa, napasnya terasa berat mengetahui Fihan telah tiada, kedua tangannya gemetar ketakutan, wajahnya pucat ngeri, bayang-bayang tatapan terakhir Fihan masih terpatri dalam kepalanya hingga terasa menyakitkan, rasa depresi mulai menyeruak dalam jiwanya, rasa sesal pun mulai mengekang pikirannya, hingga setiap langkah yang dia ambil bagaikan membawa beban berat jasad sang pujaan hatinya.


“Hiks hiks, hiks hiks ...”


Eril tak tahu jika berakhir begini, ia hanya berusaha mengambil pistol itu lalu berniat membuangnya, tapi, nasib berkata lain, kini Fihan sudah tewas, dan hanya bayang-bayang tatapannya yang terus teringat, terlebih, cukup menyedihkan kala kenyataannya, tatapannya itu telah menjadi tatapan terakhir yang mereka lakukan.


Kini Eril harus menghadapi kenyataan di depannya, bahwa dia telah membunuh anak manusia, ia terus berlari menjauh dari jasad Fihan, pistol Glock-19, masih ia genggam erat di tangan kanannya, tak peduli jika ada orang yang melihatnya, toh pada dasarnya dunia akan tahu, bahwa seorang gadis membunuh laki-laki yang dicintainya, persetan dengan sengaja atau tidak, yang jelas dia sudah membunuh manusia.


“Mama ... hiks ... papa ... hiks ...” gumam Eril memanggil orang tuanya berharap merekalah yang bisa memahami guncangan mentalnya.


Kehidupan baru saja dimulai, sampai-sampai Eril melupakan bahwa dia sudah bernapas cukup lama bersama Fihan, namun, hidup baru saja dimulai, semua kata-kata dan dukungan moral yang Fihan berikan telah mengantar jiwanya untuk mampu bertahan sampai sejauh ini, Eril tidak tahu lagi harus bagaimana menyikapi kenyataan pahit ini.


“Eril ... di sekolah ini ... tak ada guru yang peduli pada kita ... kita hanya dituntut untuk pintar, untuk juara kelas, dan punya pengetahuan luas ... jadi ... aku harap kamu paham maksudku.”


Kalimat tiga tahun lalu yang Fihan ujarkan pada Eril, masih terpatri di benak Eril dengan mantap, kini, pikirannya yang pelik, berkelumit, memahami perkataan Fihan sebagai ungkapan yang salah, bahwa guru-gurunya di sekolah telah gagal dalam mendidik, sebab, di sekolah tak diajarkan sikap tak sengaja membunuh orang! Di sekolah tak di ajarkan cara merangkul orang-orang yang kesepian! Di sekolah tak diajarkan cara mendapat teman yang baik! Di sekolah tak diajarkan cara berpilaku yang baik! Di sekolah tak diajarakan apapun, kecuali hanya menghapal tulisan-tulisan membosankan demi bisa lulus mencari uang!


Maka karena itu, Eril bergetar membawa senjata api yang akan ia tunjukkan pada semua orang, bahwa selama bersekolah ia tak mendapat pelajaran apapun! Semua pelajaran hidup bersumber dari Fihan, semua masalah yang dia selesaikan adalah berkat Fihan, entah apa jadinya ia hidup tanpa Fihan, sekolahnya hanyalah terkesan angin lalu, sekadar formalitas hidup, tanpa bentuk absolut masa depan yang cerah, dan Fihan benar, bahwa para guru-guru konyol di sekolahnya akan berkilah, tentang sekolah yang hanya dibentuk untuk memberikan pelajaran secara akademis, sementara pelajaran hidup, hanya didapatkan di luar sekolah, pikir Eril begitu.


Satu hal yang pasti, bahwa Eril tak pernah tahu jawaban apa yang akan diberikan Fihan, tentang perasaan cinta Eril padanya, yang ia tahu, bahwa Fihan adalah jodohnya, tetapi itu hanyalah sebatas permainan tak penting yang mereka lakukan saat SMP dulu, sehingga, ia tak pernah tahu perasaan Fihan yang sebenarnya.


Pikiran Eril benar-benar kacau, mentalnya telah terguncang, sampai-sampai hal benar dan salah terasa samar, pasalnya, Eril telah membunuh orang yang dicintainya! Orang yang selalu membantunya baik saat suka maupun saat duka kini sudah mati.


“Hennnnnng ... hiks ... hiks ... hiks ... hennnng ...”


Air mata penyesalan dan sakit hati menghadapi kenyataan pahitnya telah benar-benar menyakiti jiwanya, hingga kedua matanya memerah, napasnya megap-megap, ia menangis terisak-isak dengan begitu nestapa.


Tak akan ada satu pun manusia yang berempati pada pembunuh, tak akan ada manusia yang memahami perasaan menyesal dari sang pembunuh, Eril tahu betul akan hal itu, hingga rasa lelah saat berlari tak begitu berarti, ia berlari menuju orang tuanya, hanya ingin menunjukkan bahwa ia kesepian dan ketakutan, sebab orang yang dia anggap sebagai pelindung, telah lenyap di tangannya sendiri, dan berharap, bahwa orang tuanya bisa memaafkan kecerobohan anak mereka, syukur-syukur mereka bisa menerima Eril kembali sebagai anak yang baik.


Eril terus berlari tanpa lelah, dan mungkin saja ini adalah kesempatan terakhirnya bertemu mama papanya.

__ADS_1


__ADS_2