
Judul: Akhir Kupu-kupu Malam.
Aku terlahir dari keluarga sederhana, hidupku terasa hambar.
Ayahku meninggal karena kecelakaan. Bus yang dia kemudikan masuk jurang.
“Ayah, kenapa harus pergi dengan cepat?”
Setiap malam aku menangisi ayahku, sejujurnya aku lebih menyayangi ayahku daripada ibuku.
Ayah anakmu ini lemah, dan anakmu ini mudah putus asa.
Namun setahun kemudian, ibuku menikah lagi dengan laki-laki lain, aku benci, tapi tak tahu alasannya apa.
Ayah tiriku memiliki usia yang satu tahun lebih tua dari ayah kandungku, namun sikapnya sangat kasar dan menyebalkan.
Dan saat umurku 12 tahun hal mengerikan terjadi padaku, hal yang sebenarnya malu dan takut untuk aku ceritakan, ayah tiriku melakukan pelecehan seksual padaku.
Aku menangis, dan merasa sendirian, satu hal yang penting! Aku lebih suka mati ketimbang menerima kenyataan.
Kematian baru saja dimulai!
Apa masih ada manusia yang sanggup menggunakan hatinya?
Aku tidak bicarakan kejadian kelam itu pada siapapun, tidak pula pada ibuku, sudah cukup baginya menanggung beban hidupnya.
Tahun demi tahun aku pendam beban itu, saat aku baru menginjak bangku SMA aku mulai menyadari satu hal, bahwa tubuhku sudah tak berharga lagi, tubuhku sudah kotor, maka aku jual tubuhku pada laki-laki yang mau mengeluarkan uang demi tubuh kotorku.
Suatu hari aku berpacaran dengan seorang pria yang lebih tua dariku, dia laki-laki yang sangat baik padaku, dia seorang pengusaha baju, hampir setiap hari dia membelikanku baju, bersamanya adalah hal yang membahagiakan buatku.
Karena kepercayaanku sudah tertanam pada kekasihku, maka aku beranikan diri untuk menceritakan kejadian pahit dengan ayah tiriku, bahkan aku ceritakan juga pekerjaan kotorku.
“Harusnya kamu nikmati saja pelecehan ayah tirimu itu.”
Kalimat itu terlontar dari pacarku sendiri, aku kira dia laki-laki baik, tapi nyatanya, dia sama saja seperti para penjahat.
Kepercayaanku padanya musnah seketika, dia berbeda sikap kala mengetahui siapa aku sebenarnya, laki-laki itu jijik padaku.
Sejak saat itu aku benci laki-laki! Bahkan aku benci ayahku sendiri!
Aku meninggalkan pacarku dengan tangisan penuh kekecewaan.
Apa masih ada manusia yang sanggup menggunakan hatinya?
Pandanganku, hatiku, jiwaku, semuanya terasa sakit, lalu, di rel kerata api malam itu, aku berdiri menerima takdirku, pipiku basah oleh tangisanku.
“Ayah aku datang... aku datang ayah... aku datang.”
Mereka hanya bisa mempermainkan perasaanku, menganggap sakit hati sebagai candaan.
Tapi, niatku untuk mengakhiri hidup sirna, kala aku mendapat pesan lewat ponselku, agar aku segera pulang ke rumah, ibuku demam tinggi hingga harus dibawa ke rumah sakit.
Aku kembali melanjutkan kenyataan pahit, bersekolah dengan bayang-bayang bunuh diri, pandanganku hampa dan jiwaku masih terasa sakit.
Setiap aku pulang ke rumah, aku selalu melihat ayahku bertengkar dengan ibuku, jika tidak bertengkar, ayah tiriku pasti akan mabuk-mabukan dengan teman-temannya di rumah, ditambah dia selalu menamparku jika tak menuruti permintaannya, atau meninju wajahku kalau dia sedang kesal.
Setiap malam aku bekerja sebagai kupu-kupu malam, semua pelangganku selalu baik padaku, sampai-sampai aku lupa untuk bunuh diri, waktu berlalu bersama pekerjaanku yang semakin hari semakin membuatku senang, hingga aku memiliki teman seperjuangan.
Saat aku baru naik ke kelas tiga SMA, berita tentang pekerjaan kotorku mulai tersebar, mantan pacarku adalah pelakunya, dia balas dendam padaku karena aku menolak untuk tetap bersamanya.
Namun saat-saat itu, karirku mulai tinggi, hingga datang seorang pelangganku yang tak aku sangka ternyata adalah teman sekelasku, dia Fihan.
Dan yang jelas dia membayarku, tapi kami hanya berbincang-bincang di kamar hotel, Fihan sangat berbeda, pakaian formalnya membuatnya semakin terlihat tampan, tapi sayang dia bukan tipeku.
“Berhentilah dari pekerjaan ini, aku bisa memberi pekerjaan yang bersih untukmu.”
Fihan berdiri dengan menyelipkan kedua tangan yang tampak sangat keren, dia berdiri di hadapanku, mata hitamnya yang dalam terasa begitu menggodaku.
“Aku suka pekerjaanku.”
Aku berbohong dan Fihan menyadari itu.
“Kenapa kamu membohongi dirimu sendiri?”
Aku diam memalingkan muka, malu dengan Fihan, bahkan malu dengan diriku sendiri.
Namun ujungnya aku menceritakan semua penyebab ini terjadi, aku ungkapan perbuatan keji ayah tiriku, hingga tak terasa air mata telah mengalir, kekecewaan dan rasa ingin bunuh diri itu muncul kembali.
“Aku... hiks hiks sudah ti-tidak pantas hidup... hiks hiks hiks...”
Aku terisak-isak mengeluhkan kehidupanku pada Fihan, entah kenapa aku rela membuka pengalaman pahit hidupku padanya, yang pasti, aku merasa nyaman saat bicara padanya.
“Aku paham perasaanmu, terabaikan, terhina dan ingin mati... tapi... sekali saja... bertahanlah sampai kelulusan berlangsung.”
__ADS_1
Perkataan aneh Fihan justru membuatku termenung sambil mengelap air mataku, entah ini sisi romantis atau rasa kasihan, justru Fihan mengelap air mataku dengan selembar tisu.
“Apa maksud kamu?”
Aku menyelidik pernyataan aneh Fihan.
“Nanti kamu tahu... kadang... menerima kenyataan pahit lebih menyenangkan ketimbang menunggu kebahagiaan...”
Fihan duduk di sampingku dengan memandang ke depan pada ketiadaan, anehnya untuk pertama kalinya, aku merasa kagum pada Fihan, bahkan, bodohnya aku malah menyandarkan kepalaku pada bahunya, dia memang bukan tipeku, tapi, dia memang sangat tampan, perasaanku juga sangat nyaman di dekatnya, dia juga ternyata lebih dewasa ketimbang Farka, pantas saja Eril tergila-gila padanya.
Aku menemukan hal yang penting lagi, bahwa tidak semua laki-laki itu sama, aku tetap menyayangi ayahku, bahkan lebih dari itu.
Selama di sekolah semuanya berjalan normal, begitu pun dengan aku dan Fihan, aku sangat suka menyendiri, setiap ada orang yang mendekatiku, aku pasti menjauh, bahkan bisa menghardiknya, begitu juga yang mengajakku untuk pergi bareng, aku pasti akan menolaknya, sampai-sampai aku dianggap sombong, bahkan ada yang mengatakan bahwa aku adalah Fihan versi cewek.
Aku bukan tak mau punya teman, namun aku takut dan malu jika mereka mengetahui kejadianku dengan ayah tiriku, aku benar-benar depresi berat, tak ada yang mengerti perasaanku, bahkan tak ada yang bisa dipercaya.
Tapi, sepulang sekolah, kala aku tengah berjalan sendirian, terdengar suara 'kring kring'
Bel sepeda itu membuatku berhenti melangkah.
Zery laki-laki berambut hitam, teman SMP ku dulu, datang tanpa aku sadari, entah mengapa auranya terasa berbeda, sudah dua tahun lebih kami tak bertemu.
Zery adalah laki-laki tinggi, badannya tegap, dia punya mata bulat yang menurutku sangat menawan, gaya bicaranya juga sangat keren, tapi aku sangat menyukai suaranya, yang terdengar sangat laki-laki.
Zery menawarkan tumpangan padaku, awalnya aku menolak, namun karena dia terus memaksa, ditambah kita juga sudah lama tak bertemu, akhirnya aku duduk di jok belakang sambil melingkarkan tanganku pada pinggang Zery, kami pergi menuju rumahku.
Zery pria baik, sebenarnya di SMP kami juga tidak terlalu akrab, aku tidak tahu pasti dia laki-laki seperti apa, dia juga baru pindah sekolah ke SMA Pekerti dan cara bicaranya sudah tertular pergaulan SMA Pekerti.
Sejak saat itu setiap pulang sekolah, Zery selalu menunggu di depan gerbang sekolahku hanya agar dia bisa mengantarku pulang, namun terkadang kami tidak pulang, kami pergi kesuatu tempat yang sangat jauh.
Kami pergi ke sebuah pantai, namun kami duduk di atas batu karang sambil memandang lautan dengan debur ombak yang terasa menenangkan pikiran, sudah tiga kali kami ke tempat ini, berbincang tentang berbagai hal, konyolnya, aku tak banyak bicara, aku masih minder dan tak percaya diri dengan kehidupanku sendiri, aku selalu saja teringat masa lalu kelamku.
Sebulan lebih aku berteman dengan Zery, dan aku sudah tahu kalau ternyata Zery laki-laki yang humoris, apapun yang harusnya sedih bahkan serius, dia bisa mengubah menjadi canda tawa, walaupun ada beberapa hal yang terdengar kurang ajar, tapi, Zery mampu membuatku tertawa terpingkal-pingkal.
Hanya Zery laki-laki yang sanggup membuatku tertawa, setiap kali melihatnya aku pasti tersenyum, jadi bohong! Kalau aku tidak pernah tersenyum, bohong juga! Kalau sudah bertahun-tahun aku tidak tersenyum, dia juga yang mampu membuatku melupakan masa lalu kelamku.
Aku sudah dibuat Zery jatuh cinta padanya, setiap hari, wajahnya, canda tawanya, selalu terkenang-kenang di kepalaku, aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku, tapi, saat aku merenungi kehidupanku kembali, aku sadar, Zery pasti akan berpaling pergi, maka aku pendam perasaan ini.
Setelah pulang sekolah, kami kembali pergi jalan-jalan, kami sangat menyukai suasana pantai, duduk di atas batu karang berbincang tentang banyak hal.
“Zery, apa kamu ingin punya istri yang sempurna?”
Aku bertanya yang sebenarnya menyelidik, aku ingin tahu apakah Zery bisa menerima wanita kotor sepertiku.
“Wah wah wah... gue ingin selalu jadi anak muda yang bebas! Gue enggak mau terkekang oleh ikatan keluarga...”
“Oh... gue juga enggak neko neko kalau masalah cewek, yang penting, dia sempurna...”
Imbuhan Zery yang terkesan bercanda membuatku tak nyaman.
“Itu mah sama saja...”
“Hahahaha... enggak, gue bercanda kok, lagian, pertanyaan lo itu enggak perlu dijawab juga sudah terjawab.”
Pernyataan Zery justru membuat anggapan bahwa Zery tak mungkin menerimaku.
Sejak saat itu kami hanya berteman biasa, kami melalui hari-hari bersama-sama, Zery benar-benar tahu caranya membuatku tertawa, baru kali ini aku bahagia memiliki seorang teman, hampir-hampir kami sudah seperti sepasang kekasih.
Zery itu hobi bersepeda, dia tak lelah mengayuh sepedanya lebih dari satu kilometer, dan aku selalu senang saat bisa duduk di jok belakang sepedanya, menjadi bagian perjalanan hidupnya, dia juga suka makanan yang pedas, katanya kalau sedang mengayuh sepeda dia tak akan lelah selama makan makanan pedas, setiap kali bertemu, Zery itu selalu mengacak-acak rambutku dan dia juga mengacak-acak rambutnya, tapi aku tidak tahu alasannya kenapa, setiap aku tanya alasannya dia akan menjawab 'nanti juga tahu' kami juga selalu bertukar jam tangan, sekaligus bertukar alat tulis, namun lagi-lagi, Zery memberi alasan yang sama, ada lagi yang selalu kami lakukan bersama-sama, yaitu, kami selalu menulis tanggal kami bertemu.
Dan tentunya aku baru merasakan hidup yang sebenarnya indah adalah sejak bersama Zery.
Namun, aku tak lagi melihatnya di depan sekolah, sudah lebih dari seminggu dia menghilang tanpa kabar, teleponku dan pesanku tidak dijawab, hingga aku datangi sekolahnya, lalu aku datangi rumahnya, namun, keluarganya telah pindah entah ke mana, tetangganya pun tak ada yang tahu.
Sebulan tanpa Zery, perasaanku kembali kacau, gelisah, takut dan depresi.
Tiba-tiba tukang pos datang ke rumahku, mengantarkan sebuah surat penting untukku, aku membukanya dan membacanya di kamarku.
Zeni, ini aku Zery si laki-laki humoris...
Maaf nih aku balas lewat surat, mudahnya biar kamu ingat aku selalu...
Zeni, saat kamu membaca surat ini itu artinya kamu harus datang pukul 20:00 di pantai biasa kita bertemu, besok!
Zeni aku sudah tahu kau punya masa lalu kelam...
Aku juga tahu kau memiliki pekerjaan kotor...
Sejak SMP kita bertemu aku langsung mengagumimu...
Sikap pendiammu membuat aku jatuh hati...
Zeni, kamu adalah perempuan pertama yang membuatku jadi kikuk dan pemalu...
__ADS_1
Kamu juga adalah orang pertama yang susah aku buat tertawa...
Tapi, saat guru sedang berkelakar, anehnya hanya kamu seorang murid yang tertawa...
Dapat aku simpulkan bahwa selera humormu cukup tinggi, kamu tidak bisa tertawa hanya dengan melihat kucing kejedot kaki meja...
Kamu itu gadis yang unik, misterius dan dingin...
Zeni, bagiku kamu wanita sempurna...
Sampai-sampai aku merasa minder untuk mendekatimu...
Zeni, apapun yang kamu lakukan terlihat selalu istimewa...
Tapi aku laki-laki bodoh yang tak pantas untukmu...
Zeni, kadang aku selalu berharap aku laki-laki sempurna hanya supaya kamu mau tersenyum padaku...
Aku merasa terabaikan setiap kali kamu terdiam...
Namun aku selalu terpikat oleh sikap diammu itu...
Semenjak kita lulus SMP aku selalu mengkhawatirkanmu, terlebih kamu punya kejadian tidak menyenangkan...
Dan saat kita kembali bertemu...
Akhirnya aku bisa membuatmu tersenyum, bahkan kamu bisa tertawa...
Saat-saat seperti itu adalah saat paling menyenangkan...
Tapi aku juga harus pergi, karena waktuku telah tiba...
Tegarlah kamu di sana...
Karena tak ada yang perlu ditangisi...
Kamu tidak perlu tahu, aku tahu dari mana masalahmu...
Oh iya, kamu pernah bertanya mengapa aku mengacak-acak rambutmu...
Sebenarnya agar kamu tahu bahwa aku akan selalu hidup dalam kepalamu...
Lalu tentang bertukar jam tangan...
Sebenarnya hanya agar kita tahu setiap waktu yang kita lalui sangatlah berharga...
Kemudian tentang bertukar alat tulis...
Sebenarnya tak ada yang spesial, singkatnya kita telah berteman...
Dan yang terakhir, tentang kita yang selalu menulis tanggal pertemuan kita...
Sederhananya hanya agar kita selalu mengingat setiap kenangan yang kita lalui...
Jadi kuat-kuatlah kamu mempertahankan napasmu...
Hadapilah kenyataan meski harus bersama air mata...
Kamu tidak butuh simpati...
Hadapilah kehidupan susahmu meski harus gemetar tubuhmu...
Kamu tidak butuh uluran tangan...
Hadapilah masalahmu meski harus terlepas semua kuku-kukumu...
Tetaplah bisa tersenyum meski tanpa aku...
Zeni, datanglah untuk melihatku yang terakhir kali...
Zeni, aku kembali untuk memberimu senyuman yang terakhir...
Dan kalau kamu sudah menerima semuanya...
Anggaplah semuanya tak berarti...
Kita bertemu untuk berpisah...
Aku mohon jangan mencari tahu kenapa harus terjadi...
Sebab kenyataannya...
Aku harus lari dan mati...
__ADS_1
Zeni, kamu istimewa...
Aku terpegun sejenak, berusaha mencerna maksud tulisan Zery yang memang sangat aneh, bahkan terkesan mengerikan.