Autobiografi SMA

Autobiografi SMA
KALAU DIPANGGIL DIA MENYAHUT KALAU DILIHAT DIA BERSUA


__ADS_3

       Di pukul 14:20 kala hujan masih mengguyur deras, seorang pria muda yang ditunggu-tunggu masuk ke dalam kelas dengan kondisi basah kuyup, Fihan datang sendirian, melenggang masuk layaknya seorang jenderal perang yang baru pulang dari medan perang, senada dengan wajah bonyoknya yang masih terpampang kentara, ditambah raut wajah dinginnya selaras dengan es di kulkas yang tersimpan untuk segelas es teh. Secara mendadak laksana melihat keajaiban atau tepatnya melihat simbol keangkuhan, seluruh teman-teman Fihan langsung tertegun melihatnya, memandang dengan tatapan aneh, mereka rela menghentikan kesenangan mereka hanya demi si anak cuek nan congkak.


“Woy bodoh! Dari mana kau?!” hardik Derka yang telah bangkit dari tidur lelapnya.


Tanpa merasa bersalah bahkan tanpa merasa kelas ini berpenghuni manusia, Fihan masih melenggang dengan kalem menuju kursi kesukaannya, maka tanpa pikir panjang, sebelum Fihan meraih ransel kebanggaannya, Farka sang pemimpin kelas lekas-lekas menghampirinya.


“Fihan tunggu! Kita harus bicara!” pinta Farka dengan lantang tak mau kehilangan kesempatan manis ini.


Namun seperti biasanya, Fihan si laki-laki sedingin es teh, tak menggubrisnya, malah tak menganggap Farka sedang menghentikannya, ia tetap melangkah santai menuju mejanya. Sementara seluruh murid-murid yang ada masih betah membiarkan mata dan telinga berharga mereka hanya untuk menjadikan Fihan sebagai fokus perhatian, mereka menduga-duga dari mana laki-laki dingin itu berasal? Apa mungkin Fihan main berhujan-hujan seperti bocah yang baru tahu bahwa air laut itu asin bukan gurih, dia nampak bodoh harus basah kuyup hanya demi tas gendongnya. Kecuali si wanita paling populer di sekolah ini, Zeni yang dengan sama sikap dinginnya tapi tidak sedingin es teh, dia nampak masa bodoh dengan kehadiran Fihan, Zeni lebih mementingkan gim Harvest Moon-nya ketimbang mementingkan laki-laki kurang ajar itu, karena memang untuk apa juga mengurusi anak orang. Tepat kala Fihan berhasil meraih tas gendongnya, meraih seluruh tujuan yang telah tersemat di tasnya, layaknya merampas kembali mahkotanya yang tak sengaja tertinggal di kamar selingkuhannya, namun sebelum Fihan pergi dengan gembira, Farka berlari dan berhasil menghadang langkah Fihan, menutup setiap kemungkinan jalan untuk kabur, membuat mereka berdiri berhadapan layaknya petarung gulat yang siap sedia berdarah demi sebuah kehormatan, bersamaan dengan itu, silir-semilir angin bertiup lembut namun cukup dingin hingga bulu kuduk Aqada berdiri. Tak ayal kedua netra hitam mereka beradu pandang, hingga kening Farka harus mengernyit heran tapi dia juga geram. Fihan benar-benar basah kuyup, tetesan air jatuh dari dagu serta ujung rambutnya, menegaskan bahwa Fihan benar-benar nekad demi tasnya sendiri, dia layaknya orang yang baru tercebur ke sungai lalu bangkit merasa bangga, jelas udara sangat dingin tapi Fihan sama sekali tidak kedinginan.


“Fihan, kamu dari mana?” cemas Estilia sambil bangkit memandang Fihan dengan tatapan penuh keheranan yang berbalut kekhawatiran sebagai orang yang ikut menaruh hati pada Fihan.


Sekonyong-konyongnya tanpa ragu tanpa malu Fihan langsung menyalip Farka, ia rela menyenggol bahu kiri Farka demi untuk menggeser Farka memberi Fihan jalan kabur, awalnya dia berhasil membuat Farka beringsut bahkan menyenggol bahunya, ia berusaha tak menbuang-buang waktu untuk pulang, namun Farka tak mau buruannya bebas, secara bersamaan Farka buru-buru meraih bahu kiri Fihan, meraihnya dengan hasrat menghentikannya, maka tanpa mampu melawan sedikit pun, Fihan terpaksa harus berhenti melangkah, memutar tubuhnya ke hadapan Farka, mereka kembali berhadapan, tapi kali ini sorot netra mereka tak saling bertemu, Fihan tetap memasang wajah cuek, sorot matanya terarah pada jendela kaca sekolah, sikapnya lebih dingin daripada udara hujan siang ini.


“Guru memintamu untuk menjelaskan masalah Guru Kativia,” ungkap Farka tanpa basa-basi menegaskan dia paham betul watak Fihan.


“Eh tunggu, Eril mana?” sela Estilia terheran-heran orang pertama yang sadar Eril tidak ikut hadir.

__ADS_1


Farka sang ketua kelas pun baru tersadar bahwa Eril sama sekali tak terlihat. Tapi seluruh teman-teman Farka nampak tak peduli, atau mungkin mereka juga baru tersadar.


“Oh mana Eril?” sambung Farka yang keheranan dan merasa harus dicari.


Atas pertanyaan itu, akhirnya sikap dingin Fihan bisa meleleh, bukan karena khawatir, tapi karena heran.


“Aku tidak tahu,” kata Fihan dengan cuek tapi syukurnya dia mau bicara.


“Aku kira dia sudah kemari lebih dulu,” sangkanya memberi kesan peduli namun tidak sama sekali.


“Tasnya saja masih ada kok, tuh lihat,” sanggah Estilia sambil menunjuk kursi Eril menegaskan bahwa Eril benar-benar belum kembali.


“Fihan, Guru Kativia pun pergi entah ke mana, jad...” ucapan Farka terhenti.


Fihan kembali lagi berusaha berpaling pergi masa bodoh.


“FIHAN KALAU ADA ORANG YANG BICARA DENGARKAN DONG!” sentak Areny dengan geram jiwa kepeduliannya jadi bangkit.

__ADS_1


“Enggak menghargai banget sih kamu!” lanjutnya yang menegaskan betapa muaknya Areny.


Namun konyolnya, Fihan mau menyempatkan kaki kokohnya untuk berhenti melangkah, tapi jelas dia memunggungi Farka, tak mau kehilangan momentum untuk menegaskan betapa tidak pedulinya ia.


“Aku mau pulang, besok kita selesaikan,” pungkas Fihan dengan penekanan disetiap kata lantas kembali berjalan pergi acuh tak acuh.


“Eh, kamu mau hujan-hujanan?!” balas Areny dengan cemas namun lebih menjurus keheranan.


Fihan memeluk tas gendongnya layaknya membawa nyawanya sendiri, dia memilih memeluknya, sebab kekalahannya saat bertarung bersama Derka si pria bebal yang cinta kekerasan, telah membuat jiwanya butuh ketentraman, dan pelukan adalah hal yang tepat, meskipun hanya sebatas memeluk tas gendong, tapi dia senang melakukannya, satu hal yang penting, bahwa dia tak menanggapi ucapan Areny yang tedengar begitu omong kosong, ia terus melangkah tak peduli, membiarkan seluruh sorot netra manusia di kelas itu memandangnya dengan aneh, tepatnya kesal, sedangkan ketua kelas sang pemilik kehormatan tertinggi di seluruh manusia di kelas 3, Farka, hanya sanggup membuang napas pasrahnya tak berdaya melawan sikap cuek Fihan, kehormatannya masih ada, tapi, tak dianggap ada, bahkan sama sekali tak berguna.


“ASTAGAAAAAA ANAK ITUUUUUU. MEMANGNYA SEKOLAH INI MILIK NENEKNYA APA...!” gusar Areny tak segan mengumpat mewakilkan kegusaran seluruh teman-temannya.


Sedangkan seluruh murid-murid lainnya kembali fokus pada kesenangannya masing-masing memilih menunggu hujan reda. Mereka tidak peduli pada Fihan tapi ikut kesal kala Fihan bersikap cuek penuh keangkuhan, mereka juga sempat memikirkan di mana Eril berada.


       Hujan terus mengguyur deras, bahkan awan mendung beberapa kali sempat bergemuruh keras, seolah-olah itu adalah suara perut raksasa yang sangat keroncongan. Kini Fihan laki-laki dingin itu tengah melangkah menyusuri jalanan menuju rumahnya, menembus rintikan hujan tanpa beban, guyuran hujan tak menghalangi sikap cueknya untuk bergairah pulang berhujan-hujan seakan-akan dunia adalah miliknya, wajahnya tetap nampak kalem, ia memeluk tas gendongnya, untungnya semua tas yang dimiliki seluruh murid SMA Liliy Kasih adalah tas anti air, sehingga meskipun tas tenggelam dalam lautan, setetes air pun tak akan sanggup menembus ke dalam tas, sama seperti ponsel pintarnya. Jalanan cukup sepi, seluruh manusia seakan lenyap, namun beberapa kendaraan roda dua hingga roda empat rela menembus hujan demi mencapai tujuan, rumah Fihan agak jauh dari sekolah, rumahnya justru lebih dekat pada SMA Pekerti, tapi karena demi sekolah yang jauh, maka Fihan bergabung dengan SMA Liliy Kasih, diikuti oleh Eril sang pecinta yang tak akan rela pangeran tampannya hilang dari sisinya. Sebelum sampai di rumah megahnya, Fihan harus menyeberang jalan raya, lalu menyusuri pinggir jalan ke arah Tenggara setelah tiga ratus meter berjalan, lalu masuk ke dalam gang sempit, melintasi taman, barulah dihadapkan gapura perumahan, ia tinggal di perumahan elite, bertetangga dengan Eril. Rumahnya memiliki halaman luas, kadang Fihan berkemah di halamannya hanya untuk menjauh dari ibu tiri kejamnya, rumahnya selayaknya istana, orang-orang barat menyebutnya sebagai 'mansion' tapi di sini sering disebut rumah bangsawan, gerbang besi hitam yang tinggi tanda awal kemegahan rumah Fihan, untuk bisa masuk ke dalam rumah harus mendapat izin terlebih dulu dari seorang penjaga, jika tidak, urusannya akan rumit dengan polisi, rumah peninggalan sang ayah, yang dulunya adalah seorang wali kota Artana dan tewas dengan tragis, tanpa ada yang tahu kecuali Fihan, dia tahu siapa pembunuh ayahnya, dan masyarakat hanya tahu kebohongannya. Hanya Fihan sang pewaris harta ayahnya, tapi, Fihan menolak mentah-mentah seluruh harta warisan mendiang ayahnya, sebab, bagaimana bisa dia menerima harta dari seorang mafia koruptor, maka sang ibu tiri mengambil alih seluruh warisan ayah Fihan dengan senang hati. Sebenarnya Fihan bisa saja menguasai seluruh organisasi dan geng yang ada di kota Artana ini, menjadikannya anak mafia yang kembali melanjutkan politik kotor sang ayah atau hanya untuk bersenang-senang semata, bahkan jika ia mau hanya dengan satu kalimat perintah, maka seorang anak buah sang ayah yang setia, bisa melenyapkan ibu tiri Fihan tanpa bekas, tapi, Fihan menolak keras seluruh ajakan itu, ia memilih layaknya anak muda biasa. Eksterior rumah tiga lantai Fihan bernuansa putih keemasan, dengan gaya modern, terdapat pula kolam air mancur di tengah halaman depan yang menambah kesan elegan, dengan kolam renang yang ikut menghias halaman belakang, di setiap sudut halaman terdapat taman bunga, mendiang ibunya sengaja membuat taman bunga itu, bukan untuk memperindah rumah, melainkan hanya untuk Fihan sang anak tercinta, tentu saja Fihan dengan riang bembira menerimanya, namun, bukan untuk memandang setiap bunga di taman itu, tapi justru untuk dijadikan teman tidurnya, ia selalu tertidur kala bersama ibunya menyiram bunga atau menikmati citra anggun dari setiap bunga, dan semenjak ibunya wafat, ia akan tidur di taman itu hanya untuk merasakan kembali kehadiran sang ibu. Luas halaman depan seluas lapangan sepak bola sama dengan luas halaman belakang. Mungkin bagi sebagian manusia memiliki rumah mewah layaknya Fihan, itu adalah sebuah kebanggaan, namun bagi Fihan, rumah ini adalah sebuah kesengsaraan, aib dan dosa besar, bagaimana bisa Fihan menerima semua hal berharga ini kala semua kenangan pahit dan manis telah menyatu dengan seluruh lingkungan rumahnya, membentuk simbol yang disebut warisan keluarga, Fihan muak hidup seperti ini.


       Kini tepat kala ia telah berhasil melewati hujan, serta pagar rumahnya, bahkan telah membuka pintu kamar mewahnya, tanpa ragu, tanpa takut, ia masuk ke dalam kamar, tak lupa menutup pintunya, hingga menghasilkan suara 'ngieeeek ceklek' ia menaruh tasnya di samping pintu, kamar Fihan sangat besar, layaknya kamar hotel berbintang, terdapat kamar mandi, dapur mini, ruang pakaian, ditambah pintu menuju halaman belakang. Tapi kesan mewah sama sekali tak menyeruak dalam kamar ini, justru kamar tampak terlihat hambar tanpa hiasan, tanpa foto, seluruhnya bernuansa putih hingga terkesan luas, hanya kasur bernuansa putih polos, serta meja laci yang mengisi kamar, sementara lantai terbuat dari marmer Polished yang mulus nan mengilap, tak ada lemari baju hanya terdapat lemari pendingin di sudut dapur, itu pun dengan berisi sebotol air. Fihan masuk ke dalam kamar mandi berniat untuk mandi.

__ADS_1


       Tepat pukul 20:19 malam hari, kala seluruh lampu gantung di kamar ini telah berpendar cerah melenyapkan seluruh kegelapan, dan langit malam seperti melambangkan aura kelam, Fihan laki-laki dingin nan congkak telah berganti penampilan, kaus oblong hijau polos dengan celana pendek hitam polos menjadi penampilan terbaiknya saat ini, meski terbilang ia anak seorang bangsawan, tapi setiap harinya, penampilannya sangat sederhana, sama sekali tak menonjolkan kebangsawanannya. Fihan tengah duduk di bibir kasur dengan tertunduk merenung, dia menunggu sang nenek tercinta untuk datang, sekaligus pergi bersamanya. Ada hal yang tidak dimengerti oleh orang lain, bahwa Fihan tidak bisa memahami dirinya sendiri, dia tidak tahu apa yang dicintainya, atau apa yang dibencinya, ia tidak benci pada ayah atau ibu tirinya, ia juga tidak cinta pada ibu kandungnya, ia hanya berusaha menemukan bentuk dari perasaannya, hanya agar dia tahu, mana yang layak diperjuangkan dan mana yang layak dimusnahkan, batinnya kini berkecamuk menimbang-nimbang keputusan apa yang harus dilakukannya, karena mulai hari ini, Fihan akan menentukan jalan bagi perasaannya, sebuah jalan yang akan membentuk dirinya terlahir kembali, masyarakat yang budiman menyebutnya sebagai, balas dendam. Ponselnya yang sedari tadi di atas meja berdering beberapa kali, bahkan banyak pesan masuk yang tak dibalasnya, kupingnya seolah tersumbat oleh perasaannya sendiri. Fihan tahu betul orang-orang menyebut dirinya sombong, tapi itu hanya prasangka semata, mereka hanya belum mengenal Fihan dengan sebenar-benarnya mengenal, mereka keliru antara sombong, pendiam dan ingin dimengerti, jelas-jelas seluruh manusia-manusia itu keliru dalam menyimpulkan sesuatu, atau mungkin Fihan memang memiliki ketiga watak itu, otak Fihan terus bekerja untuk menemukan titik yang tepat agar pencarian jati dirinya berakhir.


__ADS_2