
Aku sudah bosan dengan kisah cinta, aku pernah dibenci karena mencintai, dan dicintai karena membenci.
Aku bosan dengan kisah fantasi, aku sudah seberangi tujuh alam semesta, dan seribu satu sesembahan manusia telah ku temui.
Aku ingin punya kisah, yang setiap kata perkata, mampu membuat setiap insan mengernyit, tersihir oleh rangkaian ceritaku.
Aku ingin lebih dan lebih, hingga kata-kata menemukan kesempurnaannya sendiri.
“Hahahahaha.... kau terlalu banyak mengkhayal Bung...”
Aku terperenyak kaget dengan kehadiran pria berkumis tebal yang tiba-tiba, berdiri di hadapanku dengan tatapan anehnya, menyindirku dan senyumannya yang miring mengejek harapanku.
“Uang, dan jabatan, adalah yang kita butuhkan.”
Dia menegaskan persepsinya.
“Siapa Anda? Kenapa Anda bisa membaca pikiran saya?”
Aku keheranan, bagaimana bisa dia mengetahui permintaanku, ya! Aku tengah duduk dengan tangan disengkelitkan di muka lutut, menghadap Barat, di tengah rerumputan hijau.
“Memangnya umurmu berapa?”
Pria dewasa berkumis hitam nan tebal itu malah balik bertanya, bahkan serius, dan aku tidak tahu dia datang dari mana.
“Umur saya.... lima belas tahun.”
Aku pun menjawab dengan serius, lagi pula tak ada ciri-ciri penjahat dari gerak geriknya.
“Hem.”
Pria itu hanya mengangguk penuh rahasia, sedangkan aku, hanya mampu tertunduk sedih, jelas aku sedih, karena, sebuah peristiwa mengerikan telah menimpaku, sampai-sampai terlintas pikiran untuk bunuh diri, berharap aku memiliki kehidupan kedua yang indah, betapa tidak, aku telah mengalami pelecehan seksual! Ya! Dan aku hanya sendirian, dibius, tak tahu siapa pelakunya, lalu terbuang bagaikan rongsokan sampah, hingga kini, aku tak sanggup membeberkan pada siapapun, aku malu dan terlalu takut untuk membeberkan kenyataan pahit ini, sekalipun kepada polisi.
“SEJARAH! SEMUA MANUSIA PUNYA SEJARAH!”
Pria misterius itu berteriak, seakan kalimatnya adalah kebenaran mutlak, yang wajib diketahui oleh semua manusia.
“He anak muda! Ini dunia nyata! Bangkitlah dengan kenyataan pahitmu itu! Dan banggalah, bahwa kau masih sekuat kelahiranmu!”
Dari setiap kata yang terlontar, begitu meyakinakanku, terasa kalimat itu memikatku.
”Apa maksud Anda?“
Jelas aku menyelidik maksud aneh pria itu.
”Jiwa manusia, dan lingkungan sekitarmu, jadikan catatan sejarah hebat umat manusia, tanpa perlu mengkhayal! Tulis dan tulis setiap perjalanan hidupmu!“
Pria itu berceloteh begitu yakin, hingga terkesan membeberkan rahasia penting negara.
”Ha? Siapa yang mau membaca cerita konyolku? Malah, aku nggak suka menulis, baca saja malas.“
Aku mengeluh, tak menyukai gagasan pria itu.
”Kau tidak akan tahu siapa yang membaca bukumu, sebelum kamu membuatnya, kalau pun tulisanmu tak dihargai, atau sejarahmu dianggap sampah....“
Pria berkumis itu menggantung kalimatnya, seolah kalimatnya senilai dengan nyawanya sendiri, dia menunduk padaku, menatapku sangat serius, sedangkan aku hanya mampu memasang muka memelas, dan udara terasa begitu menyejukkan sampai-sampai aku lupa kalau sekarang matahari sedang terik-teriknya.
”...setidaknya, kau pernah mengukir sejarah.“
Pria itu melengkapi kalimatnya, namun nyatanya aku tetap tak tertarik.
”Ya sejarah sampah, yang tulisannya penuh omong kosong.“
Aku mengejek, tentunya mencemooh kehidupan susahku.
”Jika sejarah telah dibelokkan, maka bisa dikatakan sebagai penyelewengan mental, sampai bisa disebut pelecehan umat! Karena mengubah sejarah adalah fitnah terbesar umat manusia!“
Pria itu kembali begitu antusias memaparkan sebuah argumen kuat, dengan memberi jeda kalimatnya demi mastikan, apa yang dikatakannya adalah hal yang wajib diagungkan.
”....he anak muda! Kamu ingin mati sebagai sampah? Atau mati sebagai orang yang mendaur ulang sampah? Jadi pahlawan? Atau jadi pecundang?“
Pria itu memberi pilihan, memaksaku, hal yang terasa memanggilku untuk kembali bangkit.
”Aku ingin mati... menjadi manusia biasa.“
Tapi, konyolnya, ucapan putus asaku senada dengan embusan angin yang kini terasa dingin.
”Zaman sekarang tidak ada manusia biasa, kalau memang, kau hanya ingin tergilas oleh sejarah anak-anak muda yang akan datang, maka matilah sekarang, dan biarkan generasi selanjutnya menjadi pahlawan.“
Aku termenung, perkataannya menyindirku, justru bukan untuk membuatku sakit hati, tapi, sebagai pembangkit semangat hidupku.
”Bahkan, para penjahat pun menjadi saksi sejarah penting berdirinya sebuah negara.“
Ia gaungkan kalimat eksplisitnya, tapi aku, termenung begitu dalam.
”Bangun anak muda, ayahmu akan kecewa jika kau mati menjadi manusia biasa, berdirilah, jadi penjahat, atau menjadi penyelamat!“
Lagi-lagi, kalimat pembuncah semangat ia lontarkan, namun nyatanya itu masih tak mengubahku.
”TAPI TAK ADA YANG MAU MEMBACA BUKU BODOHKU! SIAPA YANG MAU MEMBACA TULISAN ORANG BODOH?“
Aku menyentak dan begitu putus asa, angin berembus pelan namun cukup menyedihkan kala pelecehan yang aku alami adalah kenyataan yang tak bisa dihapus.
”Itu bukan hakmu, bahkan kebenaran pun, akan ditolak tanpa perlu melihat warna tintanya.“
Balasan pria itu sangat tegas, dan menggunakan kiasan.
”Hiks hiks.... aku.... ingin mati saja... mati sebagai manusia biasa, lebih baik ketimbang hidup menanggung aib.“
Aku tertunduk terpejam, pipiku mulai dilimbur air mata kesedihan.
__ADS_1
”Ketua kelas!“
Tiba-tiba saja, gendang telingaku mendapat vibrasi suara yang tak asing lagi, seorang gadis berlari dari jauh menghampiriku.
”Pikirlah, apa itu sejarah, dan apa itu jiwa yang berevolusi.“
Pria misterius itu melangkah meninggalkan aku.
”Hiks, tunggu, siapa nama Anda?“
Aku menyelidik, karena bagaimana pun, aku baru pertama kali bersua dengannya, dan berharap pria itu memang orang baik-baik.
”Panggil saja aku ayah.“
Empat rangkaian kata nan dinamis yang dituturkan oleh sang pria, begitu membuatku tercengang.
”Eh?“
Sontak aku buru-buru bangkit berdiri, mengelap air mataku dengan punggung tanganku, memandang pria itu penuh tanya, sayangnya dia melangkah meninggalkanku.
Mengapa dia harus pergi?
Kenapa juga dia tahu pikiranku?
”Tunggu dulu! Apa Anda ayah kandung saya?“
Pria itu hanya membisu, terus melangkah mengikuti arah angin, justru malah membuatku kini jadi bimbang.
”Farka!“
Areny telah berdiri di belakangku, sedangkan aku tertunduk berusaha menutupi wajah muramku, aku berhenti bersedih, karena dua alasan, pertama, suara ceria Areny, kedua, pria misterius itu ingin dipanggil sebagai ayah.
Hingga saat aku berusaha menatap pria misterius itu lagi, namun sayangnya, dia telah pergi, menghilang, layaknya petir yang datang hanya untuk pergi.
”Eh, ada apa Farka?“
Areny menyelidik dan aku masih memunggunginya, tapi sekonyong-konyongnya dia langsung melompat ke hadapanku dengan penuh riang gembiranya.
”Ketua kelaaaaas....“
Areny begitu ceria, berusaha membuatku merespon panggilannya, dan tak ada gadis yang pernah aku temui seceria dia, tentunya aku bersyukur bisa berteman dengannya.
”Loh kamu nangis ya?“
Areny mulai mencurigaiku, dia memiringkan kepalanya dengan mengernyit menyelidik.
”Ya... ta...“
Ucapanku yang belum selesai terpotong seketika oleh kepanikan dari Areny.
”Kenapa kamu kenapa? Laki-laki mana yang berani menghajarmu? Biar aku hakimi dia!“
”Hahahahaha....“
Aku tertawa gembira berusaha menutupi kemalanganku yang nampak tak sehebat keceriaan Areny.
”Loh kok ketawa?“
Meski bakat menutupi kesedihanku tak sehebat Areny, tapi sepertinya dia percaya jika tawaku adalah kebahagiaan.
”Nggak, tadi aku ketemu ayah kandungku.“
Aku menjelaskan dengan singkat.
”Ha? Ayah kandung? Tahu dari mana kalau dia ayah kandungmu? Dari tadi aku lihat... perasaan kamu cuman sendirian?“
Areny celingak-celinguk menegaskan kesendirianku adalah fakta dan pengakuanku terkesan absurd.
”Hmmmmm... aku tahu, matanya, wajahnya, dan suaranya seperti memberi tanda bahwa dia ayah kandungku, dan dia sudah pergi.“
Aku membulatkan maksudku, memberi tahu tentang terkaanku yang fakta adanya.
”Loh... harusnya kamu periksa dulu...“
Areny menyarankan yang terkesan menyalahkanku, tentunya, dia meragukanku.
”Ahk sudah-sudah.... yang jelas... sekarang.... kamu mau nggak membantuku?“
Aku mengibaskan tanganku, menutup topik dan mengganti topik pada fokus utamanya adalah sejarah.
”Bantu? Bantu apa?“
Areny mengusut maksudku.
”Kita.... buat sejarah....“
Aku ucapkan agak ragu, dan memang perkataan itu agak nyeleneh.
”Huahahahaha.... sejarah apa ha? Baru ketemu orang yang kamu anggap bapakmu itu, kamu ini langsung berubah kayak orang stres.“
Areny tertawa puas dengan cibiran meremehkanku.
”Ya sudah.... kalau begitu... kita pulang saja.“
Yang memang aku juga kurang suka dengan pernyataanku, tepatnya ajakan nyelenehku.
”Eh... tuh kan lupa, itu Kahji sudah menunggu di rumah.... aku dari tadi mencarimu... ayo-ayo....“
Maka aku pergi bersama Areny menuju rumahku, aku penasaran, teramat penasaran siapa pria misterius tadi, jika itu memang ayahku, kenapa dia membuangku ke panti asuhan? Meski, jika pun bukan, lalu siapa dia?
__ADS_1
Aku kembali melanjutkan hidupku, melanjutkan sisa napas yang aku miliki, agar semua langkahku tak terbuang percuma, bunuh diri telah aku urungkan, namun sekelumit pikiranku terus bekerja mencari tahu, apa maksud perkataan pria misterius waktu itu?
Dan pada akhirnya, aku menemukan perpustakaan rahasia milik sekolah, Guru Sukada menjelaskan alasan perpustakaan itu tersembunyi, sampai-sampai ia menjelaskan tentang setiap buku yang tersimpan di sini, bahwa semuanya adalah sejarah penting sekolah, anehnya, pemaparannya sangat mirip dengan pria misterius yang pernah aku temui.
Jelas, setelah itu aku berusaha mencari foto-foto alumni terdahulu, menyelidiki setiap kemungkinan menemukan wajah pria misterius waktu itu, aku yakin, pria itu memiliki sangkut paut dengan SMA Lily Kasih, sebab, perkataannya mirip dengan Guru Sukada.
Tada! Aku berhasil menemukannya! Benar! Pria itu ternyata murid SMA Lily Kasih!
Dia bernama Alezius, kakak kelas Guru Sukada, dan sebuah nama yang aneh bagi seorang manusia biasa.
Maka aku langsung mencari autobiografinya, tapi sayangnya aku tak menemukannya, entah memang tidak menulis atau memang tidak pernah ada.
Tapi aku tak menyerah, aku langsung mengusut lewat Guru Sukada, aku menemuinya di ruang Guru.
”Guru, tolong ceritakan kakak kelas guru, yang bernama Alezius.“
Aku mendesak karena ini sangat penting, setidaknya penting bagiku.
”Hmmmm... anak misterius itu, kakak kelas yang diduga dari alam lain.“
Pernyataan Guru Sukada yang ambigu dituturkan dengan serius.
”Eh... alam lain?“
Aku keheranan setengah mati.
”Hem... dia sebenarnya teman bapak juga, entah kenapa, dia sering curhat dengan bapak, ada pengakuan penting yang waktu itu bapak tidak percaya, katanya, dia umat jin yang menjadi manusia, dia ditugaskan untuk membantu menguatkan setiap jiwa manusia.“
Guru Sukada memaparkan kebenaran penting ucapannya, dan itu harus diakui sebagai fakta, meski nyatanya aku ragu tentang itu.
“Kok terkesan dongeng begitu sih?”
Keraguan dan keraguan yang kini menjadi bahan pertimbangan dalam pikiranku yang pelik.
“Iya, guru juga dulu menganggapnya begitu, setelah lulus SMA dia tak lagi terdengar kabarnya, guru saja bertemu dengannya setahun yang lalu, dia tak banyak bicara, tapi sekalinya bicara sarat penuh makna.”
Guru Sukada membeberkan kembali fakta yang memang masih abu-abu, tapi, cukup membuat keyakinanku bertambah.
“Hmmm.... aneh, terus rumahnya di mana? Keluarganya bagaimana?”
Aku menelusuk lagi, berusaha mendapatkan informasi lebih dan lebih demi keraguanku pudar.
“Dia anak yatim, dari masuk sekolah hingga lulus, dia tinggal di sekolah.”
Jawaban Guru Sukada masih membuatku penasaran.
“Apa dulu dia punya pacar?”
Aku kembali menyelidik, bagaimana pun, aku harus tahu fakta pria misterius itu.
“Nah.... justru satu-satunya curhatan yang belum pernah guru dengar adalah tentang kisah asmaranya.”
Aku kurang puas dengan semua jawaban Guru Sukada, setidaknya itu cukup untuk membut hipotesis. Aku hanya sanggup manggut-manggut saja, lalu berpamitan untuk pergi, namun, ucapan Guru Sukada membuatku berhenti melangkah dan memutar tubuhku demi menghadapnya.
“Oh iya, setahun yang lalu, kalau tidak salah dia pernah berkata, bahwa nanti anak kandungnya akan masuk sekolah SMA Lily Kasih, dan anaknya itu akan melanjutkan perjuangannya... entah perjuangan seperti apa, yang jelas itu saja yang guru ingat.”
Aku kembali manggut-manggut dengan kepala yang dipenuhi pertanyaan, dan pergi untuk mengumpulkan bukti-bukti kuat mengenai pria misterius itu, jelas aku harus tahu, pria itu sudah membuatku percaya bahwa dia adalah ayahku, ya, meski itu hanya sekadar asumsi semata, tapi, entah mengapa perasaanku terasa seperti terus ditarik agar mengetahui kebenaran pria berkumis itu.
Dan suatu hari, saat kepala sekolah memberiku sebuah buku yang diyakini sebagai catatan harian pria tersebut, maka dengan senang, aku membawanya ke rumahku, dan langsung membacanya.
Aneh, mengapa semua tulisan dalam kalimat itu hanya tertera, angka 3 yang jika dihitung-hitung mungkin lebih dari seratus ribu angka.
Tapi tunggu dulu! Di bagian akhir buku, telah tertera kalimat nan penting.
Pernahkah terpikirkan seorang pemuda menjadi Raja?
Atau seorang gadis cilik menjadi Ratu?
Atau lebih dari itu? Anak kecil yang menjadi seorang dewa?
Bahkan bisa lebih? Sang penulis kehidupan?
Jika umat manusia masih berperang demi sepetak tanah...
Kami sudah berperang demi sebulat alam semesta...
Jika umat manusia masih berperang demi cinta...
Kami sudah berperang demi jutaan sesembahan...
Dan jika umat manusia masih berperang demi harga diri...
Kami sudah berperang antar sesama dewa dewi...
Kisah fantasi, cinta, sihir, petualangan telah kami lalui....
Seluruh percikan itu membentuk generasi berikutnya....
Bangunlah anak muda....
Hentikan dongenganmu itu....
Torehkanlah sejarah....
Menjadi sang penyakit, atau sang penyembuh, keduanya sama-sama berarti...
“Kami telah berada di depan, hingga kisah kami melebihi dari seluruh dongeng yang dibuat manusia, misteri, cinta, sihir, petualangan, fantasi, dan horor, sudah lebih dari sebiliun kali kami alami, kebahagiaan itu pada dasarnya yang dicari, maka kami menunggu generasi berikutnya, agar kami catat, para manusia, yang mampu menorehkan sejarah terbaik lebih dari kami.”'
Maka, aku berpikir dalam-dalam, berusaha mencerna maksud tulisan Alezius, meski tetap saja, aku malas dan akan terus bermalas-malasan.
__ADS_1